ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
APA INI TOPENG?


__ADS_3

Hemm ....


"Eh Bi-bik ...." Bias melepaskan pelukannya.


"Nah gitu dong, Bibik seneng kalau lihat den Bias sama non Nasya rukun, nggak kayak kemarin itu, yang satu di kamar yang satu di luar, diem-dieman, marah-marahan."


Bias dan Nasya sama-sama tersenyum mendengar penuturan ART di rumah itu.


"Tapi wajar sih, den Bias sama non Nasya memang masih labil, tapi sebisa mungkin kalau ada masalah dibicarakan baik-baik pakai kepala dingin!"


"Ihh Bibik sok tau banget!" celetuk Nasya.


"Emang iya, Non. Ini aden sama non kan masih sekolah, nanti kuliah dan menikah ... Bibik maunya lihat kalian baik-baik dan sayang-sayangan terus. Coba kalau berantem kayak kemarin, yang satu nggak mau makan, yang satu terlihat sedih banget nggak boleh ketemu! Bibik kan ikutan sedih lihatnya."


"Emang kamu begitu kemarin, Bi. Sedih nggak ngeliat aku?" tanya Nasya mengusap wajah Bias. Bias mengangguk.


"Maaf!"


"Iya."


"Yaudah, mumpung Non Nasya sudah bangun, Non sekarang makan ya! Makan yang banyak Non, jangan sampai sakit, kasihan nanti den Biasnya sedih."


"Pembantu aku sekarang pro kamu banget, Yang. Jadi curiga ... kamu sogok pakai apa, Hem?" Nasya menggoda Bias. Bias tersenyum saja.


"Kalau sama model den Bias mah Bibik nggak usah disogok Non, lihat senyum den Bias aja Bibik udah bahagia banget!"


"Hah? Kamu sering senyum-senyum di depan bibik ya, Yang?" Bias menjawab hanya dengan senyuman. Ia menarik hidung Nasya setelahnya.


"Iya, nggak bisa ketemu kamu, aku goda Bibik aja!"


"Ihh nakal kamu." Cubitan itu mendarat di perut Bias.


Keduanya saling tertawa dan bercanda setelahnya. Bias tampak dengan telaten menyuapi Nasya, pun Nasya juga meminta Bibik memberinya sendok juga. Nasya ikut menyuapi Bias. Kini keduanya saling bersuapan sambil melempar senyum seolah masalah tidak pernah ada sebelumnya. Ya, setidaknya semua saat ini baik-baik saja dan keduanya menikmati kebersamaan itu.


_____________________


"Manyun terus Zee, masih sedih Bias cabut duluan?"


"Zee ...!"


"Eh iya, apa Bang?"


"Muka lo tuh di tekuk terus, jelek!" ucap Johan merangkul bahu Zee dengan santainya. Ya, setelah makan tadi sore, mereka sholat magrib di sebuah masjid dan Johan memaksa Zee setelahnya masuk ke sebuah Mall dan mereka masih berputar-putar Mall saat ini.


"Kita pulang, Bang!"


"Kenapa? Kayaknya lo nggak suka banget jalan bareng gue!"

__ADS_1


"Bukan begitu, Bang ... takut ibu sama adik-adik aku khawatir," ucap Zee sambil menaik-naikkan sebelah bahunya ke atas. Zee tidak nyaman ada tangan Johan di sana. Johan yang sadar, terus tersenyum, ia melepaskan rangkulannya setelahnya.


"Emang lo punya adek berapa?"


"Dua, Bang."


"Enak ya punya adek?" Zee mengangguk.


"Gue pengen banget dari dulu punya adek, sayangnya gue anak tunggal."


"Oh."


"Eh kita nonton dulu yuk! Ada film thriller baru dan kayaknya seru."


"Maaf nggak, Bang!" Rahut wajah Johan tampak kecewa Zee menolak ajakannya. Johan masih melirik wajah Zee, banyak tanya setiap melihat wajah itu, tentang paha putih itu dan berbagai asumsi yang ada di otaknya.


"Yaudah temenin gue minum aja kalo gitu!"


Tanpa bertanya lagi Johan menarik tangan Zee ke sebuah food court. Keduanya duduk di sebuah cafe dan Johan langsung memesan minuman untuk keduanya.


"Bang Jo kenapa sih seneng banget maksa?"


"Hee ... sorry!" jawabnya sambil terkekeh.


Tak menunggu lama minuman keduanya tiba. Johan langsung memberi minuman pada Zee yang duduk di sampingnya.


"Setelah minumannya habis kita pulang, let's enjoy it!" Sambil mengerucutkan bibir Zee mengangguk. Tiba-tiba terlintas sebuah cara di otak Zee.


Tanpa bernapas, Zee menghabiskan satu gelas jus orange dengan cepat dan menghadap ke Johan setelahnya.


"Bang, minuman aku udah habis! Ayo pulang!"


"Hahh!" Johan yang baru saja mendekatkan bibir gelas ke mulut sontak kaget.


Lo itu ya, Zee!


"Oke minuman punya lo udah abis, tapi punya gue kan belum!" Zee bergeming, bibir itu kembali mengerucut.


Zee ... Zee ... lo itu lucu banget!


"Bang Jo minumnya lama banget!"


"Baru juga jam 7, masih sore Zee."


"Tapi badan aku udah lengket mau mandi!"


"Haa ... iya bentar lagi ya!" Zee tidak tahu jika banyak hal di otak Johan yang ingin ia ketahui kebenarannya. Diam-diam Johan mengatur siasat dan ia berharap mendapat jawaban akan tanya di otaknya selama ini.

__ADS_1


Johan masih menatap wajah yang menatap lurus ke depan sambil berkali-kali mengubah posisi duduk tidak tenang. Johan merasa ini waktunya. Tanpa sepengetahuan Zee, Johan menumpahkan jus orange miliknya ke tangan Zee.


"Ehh ...," ucap spontan Zee langsung mengibaskan tangan. Zee kaget tangannya tiba-tiba dingin dan basah.


"Sorry, sorry ... Zee!"


Berdalih merasa bersalah, Johan langsung menahan lengan Zee dan mengusap-usap lengan Zee yang basah dengan tisu.


"Bang Jo, jangan Bang! Udah! Lepasin tangan aku! Bang!"


Dada Zee sesak, ia sangat takut penyamarannya terbuka. Ia berusaha melepaskan tangan Johan tapi eratan tangan Johan sangat kuat, hingga akhirnya_____


"Zee ... tangan lo putih!" Zee langsung menarik tangannya dan meletakkan tangan itu ke belakang tubuhnya.


"Apaan sih Bang Jo! Aku mau pulang!"


Johan menahan tangan Zee yang lain dengan cukup kuat kembali, ia menatap seksama wajah itu.


"Zee, apa mungkin wajah lo ini cuma topeng?"


"Bang Jo ngarang!"


"Lo aslinya putih, Zee! Gue udah lihat!"


"Lepasin tangan aku, Bang! Aku mau pulang!"


"Apa tujuan lo sebenernya begini, hem?"


"Semua nggak seperti yang bang Jo fikir!"


"Masih berkelak juga sih! Jujur sama gue dan gue akan tutup rapat semua rahasia lo. Gimana?"


..._________________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Like, komen, vote selalu Bubu tunggu❤️


🥀Jangan lupa ya, pertengahan bulan nanti ada misteri give away dari Bubu untuk 3 top fans dan 2 komentar yang memiliki like terbanyak, jadi berikan komentar terbaik kalian yaa😍


🥀Makasih support kalian semua, BIG HUG🤗🤗


🥀3 Top fans sementara😃



🥀Dua komen like terbanyak sementara

__ADS_1



🥀Semangat untuk kita semua💋💋


__ADS_2