
"Bii, kamu sudah ingin ke Kafe?"
"Iya, Ma. Eh, sini dulu, Sayang! Biv ayo ke mari!" Melihat putrinya yang dipanggilnya semakin menjauh dan kini justru menarik kotak mainan dari tepi jendela, membuat Bias terus menggeleng. Sesaat ia sadar masih bertelepon dengan Dona, mamanya.
"Eh maaf, Ma! Ada apa Mama menelepon Bias?" tanya Bias.
"Tentang Biv, Bii. Bawa Biv ke mari saja saat kamu ke Kafe, Sayang! Kasihan Biv pasti lelah, kalau hanya Kafe di Jakarta sih no problem. Tapi kamu juga bawa Biv ke Bekasi juga Bandung. Itu bukan perjalanan dekat, Nak! Biv bisa sakit!" ucap Dona.
"Bias bisa menjaga Biv, Ma. Jika Bias rasa Biv letih, kami akan istirahat dan bermain-main. Biv sudah 3 tahun. Mama lupa apa yang mama bilang saat Biv bayi? Kata Mama, jika Biv sudah berusia 3 tahun, kamu baru boleh membawa Biv kemana pun dan Bias menurut, Ma. Sejak bayi hingga Biv 3 tahun, Bias tepati janji untuk tidak membawa Biv bepergian jauh, Bias akan titipkan Biv saat Bias ke Kafe. Kini Biv ada dalam pengasuhan Bias. Hanya Biv yang Bias miliki setelah Mamanya pergi. Bias tidak mau kehilangan sedetikpun kebersamaan bersama Biv. Please percaya Bias, Ma! Hanya kebaikan yang Bias ingin, bukan justru mempersulit Biv!"
"Hah, terserah kamu lah! Tapi awas saja kalau Biv Sampai sakit!" gertak Dona.
"Siap, Ma!" Baru saja Bias ingin mematikan panggilan, Dona memanggil lagi.
"Iya ada apa, Ma?"
"Jangan lupa pakaikan minyak telon agar Biv tidak masuk angin dan kirimkan foto Biv pagi ini!" lugas Dona sampil berjalan menuju lantai bawah.
"Siap, Ma. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Hap ...
"Biv tertangkap. Ayo bersiap dan temani Papa bekerja, oke!"
__ADS_1
"Oke Pa-pa!"
"Pintar."
Seperti itulah hari-hari Bias, setelah menginjak usia 3 tahun Biv selalu ikut kemanapun bias pergi. Dia tidak pernah membiarkan Biv sendiri. Untuknya Biv adalah segalanya, berada di dekat Biv membuat Bias merasakan kehadiran Zee selalu. Biv memang tidak membuang sedikitpun wajah Zee. Hidung mancung, kulit bersih juga mata bulatnya. Wajah Biv benar-benar fotokopi Zee, bahkan senyum Biv sekalipun tak membuang wajah mamanya. Hal yang membuat Bias begitu cinta Biv.
Hari itu aktivitas Bias memang padat. Setelah dari Kafe Jakarta, ia langsung menuju ke Bandung. Bias sampai pukul 2 siang. Biv yang tidur siang dengan pulasnya membuat bias dengan tenang bisa berbincang dengan seorang klien. Beberapa hari belakangan memang ada seorang pengusaha muda yang begitu antusias untuk bekerja sama dengan Bias. Pengusaha asal Surabaya itu sangat menyukai konsep Steak Kafe Bias.
Pertemuan keduanya kali itu adalah untuk menyepakati perjanjian kerjasama. Pertemuan itu terbilang alot, kendati sang pengusaha bukan hanya ingin menanam saham melainkan ingin mengembangkan Kafenya sendiri. Intinya menjual belikan konsep. Bias tertawa, bahkan resep rahasia Steaknya pun sang pengusaha ingin mengetahui.
Bias yang tahu pentingnya brand dan ciri khas rasa akhirnya menolak mentah-mentah kerjasama tersebut. Ia bukan orang bodoh yang karena imbalan materi tertentu akan menjual resep andalannya. Sang pengusaha pergi dengan gusar dan mengatakan Bias pengusaha yang sombong tapi Bias tak peduli.
Jam analog di tangan menunjukkan pukul 8 malam saat bias menepikan mobilnya ke pelataran rumah di bilangan Bintaro miliknya. Perjalanan Bias memang memakan waktu cukup lama, karena hampir setiap jam Biv meminta beristirahat. Namun Bias tidak mempermasalahkan itu. Selama Biv senang maka bias pun akan bahagia.
Di tengah malam, tidak biasanya Biv sangat resah saat tertidur, ia berulang kali terus membalikkan badan ke kiri dan ke kanan seolah tidak tenang. Bias yang merasakan pergerakan Sang putri akhirnya memeriksa keadaan putrinya itu. Bias meletakkan tangan ke dahi Biv dan kaget. Biv nyatanya demam. Bias langsung berdiri menuju kotak obat bias dan memberikan obat itu ke mulut Biv.
Bias melangkahkan kaki dengan cepat menuju UGD tempat Biv akan diperiksa. Dokter yang saat itu bertugas menggantikan sang teman berjaga malam tampak tidak asing dengan Bias. Dadanya seketika sesak melihat Bias. Sosok suami yang tiga tahun lalu pernah memakinya lantaran sedih sang istri meninggal di meja operasi. Dan Putri kecil yang dibawanya malam itu pun membuat sang dokter tercekat.
Putri cantik dengan tanda cinta di dahi itu kini sudah beranjak besar. Jantung sang dokter seketika berdetak cepat, menimbulkan sesak yang semakin kuat. Melihat wajah itu teringat ia bahwa Putri yang ia keluarkan dari perut sang ibu hari itu mengalami nasib malang. Ibunya yang tidak bertahan membuat sang putri dapat dipastikan tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu seumur hidupnya.
✨FLASHBACK
Bias mendekatkan bayinya ke wajah Zee, Zee menangis haru. Bias membiarkan bayi cantik itu seolah memeluk wajah Zee, ia menahan bayinya agar tidak jatuh. Bayi cantik itu sangat tenang, Ia memainkan bibirnya di hidung Zee seolah sedang menyusu. Zee hanya bisa menangis sebab ia merasa pandangannya semakin jauh, ia merasa begitu lemah, ia menggerakkan bibirnya baru setelahnya pandangannya mendadak gelap.
"Tuuttttttt." Dokter seketika kaget mendengar bunyi dari layar di sisi ranjang pasien.
"Dok, mengapa istri saya tidak sadar?" gusar Bias mengangkat tubuh bayinya dari wajah Zee. Bayi itu menangis.
__ADS_1
"Ma-af, Pak!"
"Maaf? Kenapa ma-af?"
"Tuhan lebih sayang pada istri, Bapak."
"Ng-gak ... ini gak mung-kin!" Bias menggeleng-gelengkan kepala. Ia berlari menuju wajah Zee.
"Yang, please jangan tinggalin a-ku, Yangg! Bangun Yang! Kamu harus bangun! Aku dan anak kita butuh kamu, Yang ... Yangg!" Melihat Zee tak merespon, Bias berlari menuju Dokter bedah lelaki.
"Dok, katakan semua tidak benar! Istri saya masih hidup kan, Dok? Ayo jawab, Dok! Anda bohong, kan?" ujar Bias menghentak-hentakkan tubuh dokter.
"Ma-af, tapi semua benar!" ucap dokter lagi membuat Bias semakin hilang kontrol. Dia menghampiri dokter kandungan yang sebelumnya menangani Zee, Dokter Aira.
Bias mengikis jarak keduanya dan seketika mencengkram lengan Aira. "Dokter, anda yang sebelumnya menangani istri saya! Mengapa semua ini bisa terjadi? Anda harus bertanggungjawab, Dok! Semua kesalahan anda! Anda sibuk mengurus pasien lain dan mengabaikan istri saya! Istri saya sejak tadi merintih, ia kesakitan tapi di mana anda? Ini semua kesalahan! Tidak! Saya tidak bisa kehilangan istri saya! Dia orang tercinta sa-ya!" Tubuh Bias beringsut ke lantai. Ia menangis dan tampak begitu sedih. Hingga beberapa saat ia berdiri lagi. Ia menuju Zee.
"Yang ... please bangun! I really love you, please don't leave me! we will grow old together and raise our children, so plea-se don't leave me! I love you, Yang. I need you, I can't live without you. Come on! wake up ...! wake up, Yang!" lirih Bias menciumi wajah yang sudah tak bergerak.
"Yang, bukankah ka-mu cinta a-ku? Kenapa per-gi? Ja-ngan per-gi!" Bias kini terus menghentakkan bahu itu, membuat Dokter lelaki yang menangani pembedahan khawatir akan hal buruk dengan jasad pasien, penutupan bekas sayatan bahkan belum selesai.
"Suster, bawa bapak ini ke luar dahulu! Kita perlu menyelesaikan operasinya!" ucap sang Dokter.
Dua suster beserta dokter Aira sendiri kini menuntut Bias ke luar dari ruang operasi. Bias melihat wajah Aira bertambah geram saja. "Jangan sentuh saya, Dok! Anda ingat! Anda harus bertanggungjawab! Ini salah anda! Tolong kembalikan istri sa-ya, Do-kk!" Suara yang sebelumnya memekik berubah lirih, Bias mengiba memohon istrinya kembali. Jelas emosi itu sedang tidak baik.
...______________________________________...
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Level Zee naik, galau kayaknya mau kejar 60k🤧🤧