
Pukul 14:30 saat itu, Zee masih masih bersantai di kamarnya. Farah yang tak ingin Zee terlambat bekerja akhirnya mendatangi kamar putrinya itu. Ia tersentak melihat sang putri masih asik dengan gadget di tangan.
"Zee, kamu nggak kerja?"
"Eh ibu, kerja Bu," jawab Zee mengangkat tubuh dari pembaringan.
"Tapi sudah jam segini, kok masih santai-santai?"
"Hari ini Zee masuk jam 4, Bu."
"Lagi di rolling?"
"Nggak tau, iya mungkin Bu. Zee lupa tanya." Mengetahui Zee masih punya cukup waktu di rumah, Farah mendekat, ia duduk di tepi ranjang di samping Zee duduk.
"Zee, kamu pasti capek kerja sampai pulang malem terus," lirih Farah. Ia memijat-mijat kaki Zee.
"Em enak, Bu." Zee tersenyum. Ia meluruskan kakinya saat ini.
"Kamu betah kerja di Kafe itu?"
"Hemm___
Sesaat Zee seolah berfikir, namun ia mengangguk setelahnya.
"Kayak ragu gitu, sih?"
"Betah kok, Bu!"
"Nggak ada tamu yang suka mabok gitu, kan di Kafe? A-tau yang suka ganggu kamu gitu?"
"Alhamdulillah nggak a-da, Bu." Farah menatap wajah putrinya itu, ia terlihat ragu menjawab. Farah bingung tapi ingin Zee bercerita sendiri tanpa ia berkeras.
__ADS_1
"Zee, apapun yang kamu alami, jangan sungkan cerita ke ibu, ya Nak!" Zee menatap wajah ibunya seksama. Ia ingin menceritakan tentang kemunculan Bias, tapi melihat kedekatan ibunya itu dengan Johan, akhirnya ia urungkan.
Kalau ibu tau kak Bias anak pemilik Kafe tempat aku kerja, pasti ibu minta aku berhenti supaya jaga perasaan bang Jo. Tapi nyari kerja gak gampang, sedang Zee juga ingin bantu perekonomian keluarga kita. Uang les sih ada, tapi hasil les gak sebanyak gaji di Kafe ....
"Zee, kamu nggak mau apa ke sekolah kamu lagi dan minta rekomendasi sekolah untuk daftar kuliah lewat program beasiswa tahun ini?"
"Hmm, belum Bu. Tahun ini Zee masih ingin mengumpulkan uang dulu. Kuliah lewat jalur beasiswa memang gratis, tapi untuk keperluan lainnya, uang kos, biaya hidup semua menggunakan uang, Bu. Apalagi jurusan yang Zee mau adanya kampus di luar kota."
"Iya sih. Maaf ya, Sayang. Kamu harusnya sekolah hingga ke tingkat tertinggi, tapi ayah sama ibu belum mampu."
"Gpp, Bu. Kalau Pencipta meridhoi suatu saat Zee pasti bisa kuliah." Farah memeluk putrinya itu.
"Makasih, Sayang. Makasih sudah memahami kondisi keluarga kita." Ya, 3 tahun lalu sebetulnya Zee mendapat beasiswa, tapi karena banyak pertimbangan, Zee akhirnya tidak mengambil beasiswa itu, terlebih kondisi Farid yang masih di penjara, belum bisa bergabung dengan keluarganya dan satu-satunya mata pencaharian hanya dari menjahit Farah.
"Ibu, Zee siap-siap, dulu!"
"Oh, iya."
"Ayah, itu di depan ambil kiri!"
"Kamu yakin di daerah ini tempatnya? Atasan kamu kok aneh sih nyuruh kamu ke sini?"
"Zee nggak tau Ayah, katanya akan diberitahu tugas Zee kalau sudah di Butik!"
"Gantiin karyawan di Butik itu begitu?"
"Nggak tau juga!"
"Tapi kalau pemilik Kafe sama pemilik Butik satu orang bisa aja sih begitu." Farid tampak berfikir sambil mengemudikan angkotnya.
"Iya mungkin juga sih begitu, Yah!"
__ADS_1
Melihat nama Butik yang sesuai dengan alamat pemberian Kemal, Zee meminta Farid menghentikan lajunya. Ya, berhubung Johan sedang masuk shift sore jadi tidak bisa mengantar Zee.
"Hati-hati ya, Sayang. Nanti hubungi Ayah mendekati pulang, Ayah akan jemput Zee."
"Gak usah Ayah, bang Jo yang akan jemput!"
"Oh, ya sudah."
"Semangat ya, Sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Saat angkot Farid mulai menghilang, Zee mulai melangkahkan kaki ke bangunan dominasi cream nan elegan itu. Baru berdiri di muka butik, seorang pegawai langsung membukakan pintu untuk Zee. Perlahan kaki itu melangkah ke dalam. Netra Zee langsung terkesima pada setiap gaun-gaun dan pakaian yang tergantung cantik di Butik itu. Wallpaper motif bunga-bunga dan berjejer guci-guci indah di beberapa sisi Butik menjadikan Butik itu begitu nyaman dan cantik.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang pegawai pada Zee.
"I-ni, Kak. Saya diminta ke Butik ini oleh atasan saya di My Donna Cafee."
"Anak buah Pak Kemal, ya?" Zee mengangguk.
"Ayo ikut saya!" Seorang pegawai membawa Zee ke sebuah ruangan seperti ruang kerja. Ia meminta Zee menunggu di sana. Zee menurut.
Sepuluh menit berlalu, seorang pegawai masuk membawakan jus orange untuk Zee. Meminta Zee untuk meminum itu sambil menunggu seseorang yang juga belum datang. Zee mengangguk. Dalam hatinya dipenuhi tanya, tapi ia tetap berprasangka baik, apalagi itu tempat terhormat, Butik ternama jadi tidak mungkin ada hal aneh-aneh di sana. Pun Zee juga berfikir Kemal tidak mungkin memiliki niat buruk padanya.
Lima menit berlalu lagi, pintu di belakang Zee duduk terbuka. "Sudah lama sampai?" Suara itu terdengar membuat Zee menoleh dengan cepat. Degup jantung itu seketika berdetak cepat.
Kenapa kak Bias di-sini?
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Senin manis jangan lupa votenya yaa❤️❤️