ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
CINTA MELEMAHKAN ZEE


__ADS_3

"Siapa namamu, Nak?"


"Namanya Zee, Eyang." Melihat Zee menatap ke arahnya, Bias spontan menjawab tanya Ratri, ibunda Libra. Ratri adalah satu-satunya orang tua Libra dan Dona yang masih hidup, ia disapa eyang oleh Bias dan Dara.


Eyang Ratri ini adalah nenek yang sangat memanjakan Bias, sebab Bias pernah tinggal bersamanya saat kecil selama 2 tahun saat Libra dan Dona sedang fokus pada bisnis kulinernya di Medan. Bias yang sering sakit-sakitan saat kecil membuat Dona yang diajak Libra mendampinginya memutuskan menitipkan Bias pada Ratri. Bias yang saat itu berusia 2 tahun memang dilarang dokter berpergian jauh.


"Ahh, sakit Eyang ...." Bias berteriak saat Ratri menarik hidungnya.


"Eyang sedang bertanya pada temanmu, kenapa juga kamu yang jawab, hem?" Bias tersenyum.


"Eyang mau dengar suara kamu, siapa namamu, Anak cantik?" Eyang menghadapkan wajahnya pada Zee kini.


"Zi-vanya, Eyang. E-yang bisa panggil Zee."


"Namamu bangus, secantik orangnya." Zee tersenyum kecil.


"Bi, antar temanmu ini ke kamar atas sana! Kamar yang biasa ditempati Dara! Kalian habis perjalanan jauh pasti capek, suruh teman kamu istirahat dulu!" Bias mengangguk menatap Zee.


"Eyang permisi ke kamar dulu, ya!" ucap Ratri berjalan perlahan menuju sebuah kamar di sudut lantai bawah.




Flashback off


Zee menatap jam tangan yang melingkar di lengannya. Jam saat itu menunjukkan pukul 5 sore. Zee yang tertidur di kamar itu cukup lama langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sesaat ia mengingat awal perkenalannya dengan Ratri beberapa saat lalu.


Hati itu tak karuan, saat itu ia berada di rumah yang asing untuknya, bahkan berkenalan dengan anggota keluarga Bias tak pernah terlintas di otaknya selama ini. Ia masih termenung menatap sekitar kamar yang tampak cantik dengan berbagai aksesoris dan ornamen hiasan berbentuk hati. Ya, kamar itu memang milik Dara.


Sesaat Zee lupa pada anggota keluarganya, Johan kekasihnya dan kehidupannya. Ia hanya terlarut dalam kebingungannya. Satu yang ada di otaknya saat ini, ia sedang berada di rumah eyang dari lelaki yang telah lama dipujanya, disukainya. Lelaki yang selalu ia damba dan seakan tak tergapai, kini ia ada di sekitar lelaki itu.


Zee masih mematung berdiri di tepi balkon yang tampak asri dan sejuk, menampilkan pemandangan perbukitan dan taman-taman di sekitar rumah itu yang tampak cantik. Ada tanaman-tanaman sayuran yang menghijau di belakang rumah bersekat dinding dengan sebuah lapangan basket dan kolam renang.


Netra Zee membulat, ada seseorang yang berenang di sana, berenang dengan sangat tenang. Zee mengamati setiap pergerakannya, hingga sosok yang ia amati tiba-tiba berhenti bergerak dan mematung, mata lelaki itu kosong, entah apa yang ia fikirkan dan seketika sepasang mata itu menatap ke atas. Ternyata ia menyadari ada Zee di sana. Ia tersenyum dan melambai tangan meminta Zee turun, namun Zee hanya menggeleng.


Bias naik dari permukaan air dan masuk ke dalam rumah. Beberapa saat setelahnya, sebuah ketukan terdengar di balik pintu kamar yang Zee tempati. Zee membuka kamar dan kaget Bias dengan pakaian lengkap sudah berdiri di muka kamarnya.

__ADS_1


"Ngobrol di taman, yuk!"


"A-ku____


"Ayook!" Jari Bias sudah menarik kuat lengan Zee.


"Ka-k, aku bisa jalan sendiri!" Bias tertawa melepaskan jemarinya dan memindahkan lengannya ke bahu Zee.


"Kak, jangan begini!"


"Kenapa?"


"Gpp si-h ...," lirih kata itu terucap. Bias tidak sadar setiap sentuhan kecil saja berpengaruh untuk hati Zee. Kini Zee tampak terdiam menetralkan degup jantung yang memompa kuat di dalam sana sambil sesekali melirik lelaki yang selalu membuatnya terpesona.


"Mau minum apa? Biar gue minta buatin bibik!"


Keduanya sudah berada di taman. Udara menjelang malam sangat sejuk, kabut mulai menutupi lukisan perbukitan nan indah tapi hiasan bunga-bunga di taman itu begitu mendominasi kecantikannya.


"E-yang Kakak ma-na?"


"Ada di kamar. Kenapa? Lo mau ngobrol sama Eyang?"


"Ka-k!"


"Pantes Bibik di rumah gue nemuin noda hitam melingkar setelah gue nganter lo malem itu dulu. Ternyata itu pewarna palsu yang lo pake buat nutupin kulit putih lo!"


Zee mengangguk lirih.


"Kenapa harus berpura-pura jelek, hem? Begini Lo cantik, kenapa menutupi diri lo yang sebenarnya?"


"A-ku____


"Coba gue tau lo secantik ini, pasti gue bakalan lari ke lo saat Nasya nyakitin gue!"


"Ka-k____


"Gue bakalan gak sesusah ini move on dari Nasya."

__ADS_1


"Ja-di ... Kakak bakalan suka aku saat itu kalau ta-hu a-ku cantik?"


Bias mematung menatap Zee. "Bisa dibilang begitu! Tapi berhenti bicara masa lalu, yang penting sekarang gue seneng ketemu lo seperti ini. Lo cantik Zee! Lo jadi pacar gue ya!" ucap Bias sambil mengusap-usap pipi Zee.


"Ka-k, a-ku____


"Lo nolak gue?"


"Bu-kan!"


"Oke, deal kalau begitu! Mulai saat ini lo pacar gue!"


"Ka_k___


Zee lemah karena cinta di hatinya. Bahkan mengatakan dirinya sudah milik Johan sangat sulit terucap. Zee terdiam. Satu sudut hatinya sangat bahagia. Rasa yang lebih besar dari rasa bersalah pada Johan menutupi segala akalnya. Zee yang dulu ingin mencari ketulusan yang tidak berdasar pada kecantikan wajahnya kini seakan lupa itu semua. Tubuh itu melemah bahkan saat Bias mulai mendekat dan memeluknya.


"Aku akan berusaha mencintai kamu, Zivanya."


Bias berucap lirih, sangat lirih hingga burung di sekitar tak bisa mencuri dengar. Kedua insan yang pernah merasakan perihnya cinta sendirian kini seolah menemukan sandaran, keduanya saling membalas pelukan tak menghiraukan rintik hujan yang mulai bertambah deras membasahi tubuh keduanya.


"Lho Bias, Zee! Kalian itu ngapain, ini mulai hujan lo! Ayo masuk! Kebasahan kok gak berasa!"


Bias dan Zee yang kaget atas kehadiran tiba-tiba Eyang Ratri langsung memberi jarak tubuh keduanya. Keduanya saling menatap merasa bodoh dan tersenyum. Keduanya akhirnya mengikuti eyang Ratri ke dalam rumah.


"Baju Zee basah, Bias kamu cari baju Dara di kamar atas sana, kayaknya badan Zee sama Dara gak beda jauh!" Setelah mendengar ujaran Ratri, Bias langsung berlari ke arah tangga.


"Kamu sudah mengabari orang tuamu kalau kamu sedang di sini kan, Nak?" tanya Ratri duduk di samping Zee.


"Sudah Eyang!" Seketika terdengar teriakan Bias dari anak tangga. Netra Zee membulat menatap Bias. Orang tuanya bahkan tidak tau ia sudah pergi ke ujung Jakarta mendekati wilayah Bekasi saat itu. Di kejauhan Bias mengangguk, meyakinkan Zee semua akan baik-baik saja.


...__________________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Bubu nulis di dalam Bis otw Bekasi guys. Maaf up-nya telat❤️❤️


🥀Mampir juga ke karya sahabat literasi Bubu ini, yuk!😍😍

__ADS_1



🥀Makasih yang masih menantikan kelanjutan Romansa Bias dan Zee ini🌹Keep calm untuk Bang Jo fans😁😁😜


__ADS_2