
Jam di dinding rumah besar itu menunjuk pukul 19:30. Setelah menjalankan ibadah dan makan malam. Semua raga tampak berkumpul di ruang keluarga. Dara dengan buku-bukunya tampak sedang memanfaatkan keberadaan kakak iparnya. Ia terus saja minta dijelaskan penjabaran penyelesaian soal matematika yang sulit ia mengerti dan Zee dengan sabar menjelaskan dan menjawab soal-soal itu.
Bias duduk di samping Dona, Bias tak membiarkan tangan mamanya diam. Bias terus menyodorkan lengannya kanan dan kiri bergantian untuk dipijat oleh Dona. Dona seorang ibu tentunya akan melakukan apapun untuk anaknya. Dona kini begitu serius memijat-mijat tubuh Bias. Lengan tampak sudah selesai. Dona memiringkan badan memijat bahu Bias saat ini. Bias senang merasakan setiap sentuhan sayang Dona.
"Kalau sudah punya istri, ya minta dipijat istrimu dong, Bi!" lugas Libra.
Tak jauh dari Dona duduk, Libra juga tengah duduk di ruang keluarga itu. Tangan dan wajahnya memang fokus dengan surat kabar di tangan tapi mata itu nyatanya memperhatikan aktivitas Dona yang terus saja memanjakan putra sulung mereka. Hal yang dimanfaatkan Libra untuk menyindir Zee.
"Sudah hentikan, Ma! Biar Zee nanti di kamar yang pijat kak Bias," ucap Zee setelah mendengar ucapan tegas Libra.
"Tidak apa-apa. Mama senang kok pijat suami kamu. Kapan ya Bii terakhir kamu minta dipijat begini?"
"Waktu mas ditinggal nikah mbak Nasya, Ma!" seloroh Dara.
BUG
"Ah, Mas!" Mendengar ujaran Dara bantal sofa mendarat cantik ke kepala Dara.
"Sakit tau, Mas!"
"Lo yang mulai!"
"Yee tapi kan emang bener! Mas gak ke luar kamar dan sekalinya ke luar minta pijetin mama. Pegel kayaknya mas habis nangis semaleman."
"Ngomong lagi awas ya, Ra!" Bias menarik alisnya ke arah Zee, mengingatkan Dara ada Zee di sana.
"Mau dong diceritain lagi tentang kak Bias dan kak Nasya, Ra!" Zee yang melihat Bias bermain mata dengan Dara justru ingin mengetahui lebih banyak tentang kisah masa lalu itu.
"Padahal mbak, sebelum mbak Nasya hamil dan mereka masih jadian. Hari-hari Mas habis latihan ya nemenin mbak Nasya sampe malem. Eh nggak taunya mbak Nasya hamil sama cowok lain. Huuu. How pity you are, Mas! Sekalinya sedih baru mas Bias inget mama!" Zee tersenyum getir mendengar ucapan Dara, sedang Bias sangat geram melihat Dara tak juga berhenti bicara, sebuah bantal dilempar bias lagi ke arah Dara.
"Yee ... nggak kena!"
"Ha-hhh! Kalian ini berisik saja!" Libra seketika naik ke kamarnya di lantai atas.
"Tuh kan, kalian sih bercanda terus! Ziva jangan di masukin hati ya ucapan Dara! Bias walaupun sering di rumah Nasya, dia jagain Nasya aja kok. Bias bukan penganut pergaulan bebas," ujar Dona. Bias mengangguk menatap Zee di kejauhan.
"Oh ya, Bi. Kata kamu pak Alaric mau main, jadi?"
"Jadi, Ma. Katanya dia masih di jalan."
"Kamu ganti kemeja gitu kek, biar rapian mau ketemu investor!"
"Gausah lah, Ma. Dia juga tau Bias lagi sakit. Apa adanya aja! Emang begini kan hari-hari di rumah!"
"Iya, sih. Tapi jaga image dikit boleh lah!"
"Investor dan Direktur itu kan adanya di kantor, Ma. Kalau di luar ya atas nama pertemanan aja," kekeh Bias.
"Ya udah, terserah kamu, lah! Eh, itu kayak ada suara mobil, ya? Ra, belajarnya pindah ke kamar sana!"
"Udah, udah gpp, Ma! Bias aja yang ke ruang tamu! Paling juga pak Alaric sendiri." Mereka masih berbincang saat Bibik tiba-tiba masuk.
"Permisi Bu, itu ada tamu cari mas Bias."
"Kamu sudah suruh ke ruang tamu?" Bibik mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah kamu buatkan minum, ya!"
"Iya, Bu!"
Dona dan Zee ikut beranjak ke ruang tamu menyambut Alaric. Mereka menyangka Alaric datang sendiri tapi nyatanya Sashi dan ketiga anaknya juga ikut. Dona yang sejak pulang dari arisan terus memikirkan memiliki cucu kini matanya langsung berbinar melihat 3 bocah menggemaskan yang Alaric bawa. Zee pun demikian, walau ini pertemuan ketiga mereka, tetap saja ia terkesima melihat wajah-wajah lucu itu.
"Eh ayo-ayo duduk! Silahkan! Jadi ini yang namanya pak Alaric, Mama kira pak Alaric itu sudah tua, tapi ternyata masih muda ya, ini istrinya juga masih muda banget," ucap Mama antusias.
Alaric tersenyum. "Ibu bisa saja, panggil Aric saja, Bu. Tidak perlu pakai bapak," ucapnya kemudian.
"Duh, ya ibu nggak enak dong!" ucap Dona lagi.
"Santai saja, Bu. Ini bukan kunjungan audit kok, pure persahabatan," ujar Alaric, Bias mengangguk.
"Tiga ini anak-anaknya, kah?" tanya ibu lagi. Alaric dan Sashi kompak mengangguk.
"Wahh hebat, masih muda anaknya sudah banyak, suaminya sukses berbisnis dan istrinya sukses mendidik anak-anak. Ini istrinya apa kuliah juga?" Ibu lagi-lagi bertanya dengan antusias.
"Sashi sempat kuliah, tapi cuti saat melahirkan, eh malah keterusan. Sekarang Sashi fokus dengan anak-anak saja, Bu," jawab Sashi. Bibir Dona membulat. Ia tak menyangka jika orang se-sukses pak Alaric membiarkan istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga.
"Eh ini siapa namanya?" Dona berpindah duduk ke sebelah Sashi mengusap lembut kepala Shiza.
"Shiza, Eyang," celoteh Shiza menggemaskan.
"Kamu lucu banget sih, Sayang! Sudah sekolah belum?"
"Sudah play grup, Eyang."
"Cup ba, cup Ba." Setelah menjawab tanya Dona. Shiza menghadap ke arah Shilla dan mengajak main adiknya sambil menciuminya. Dona senang melihat aktivitas itu.
Bias mengajak Alaric bicara di teras. Sebelum ke luar, Alaric mengusap kepala Shiza.
"Kakak bantu mami jaga adik ya, Sayang!" Shiza mengangguk.
"Aku bicara di luar," ucap Alaric setelahnya kepada Sashi.
"Iya," jawab ibu muda itu sambil tersenyum.
"Ini tehnya diminum dulu, Kak!" Zee yang sejak tadi terdiam, melihat Bibik datang membawa teh segera membantu menyajikan teh itu pada Sashi.
"Ditaruh di sana saja Zee, takut kesenggol anak-anak," ucap Sashi menyadari perihal anak-anaknya yang aktif. Bibik dibantu Zee memindahkan teh ke meja di sudut.
"Mami, Tayya mau minum!"
"Sama Tante Zee, yuk!" Zee menawarkan diri, Tayya menatap Zee seksama dan beralih menatap Sashi, setelah Sashi mengangguk baru Tayya mengulurkan tangan pada Zee.
"Hei, pelan-pelan Sayang ... ini masih panas! Kita ke dapur dulu yuk ambil sendok nanti minum tehnya pakai sendok." Tayya mengangguk. Zee yang sejak tadi gemas langsung meraih tubuh Tayya dan menggendongnya.
"Ini yang besar usia berapa?"
"Memang ada keturunan kembar ya?"
"Kamu repot gak mengurus ketiga anak di rumah?
"Mama kamu pasti masih muda, ya?
__ADS_1
Dona terus saja memberondong pertanyaan pada Sashi yang kini sedang memperhatikan Shilla makan biskuit. Sashi menjawab setiap tanya Dona ramah sambil tangannya dengan cekatan mengelap bibir Shilla yang kotor. Tak jauh dari mereka duduk, Shiza terus berlari-lari ke teras dan ke dalam menggoda papanya. Sesekali ia berkeliling area rumah.
"Za, jangan masuk-masuk ke dalam, Sayang!" Sashi bicara pada Shiza tapi Shiza seolah tak mendengar.
"Sudah gpp, paling juga di situ-situ aja!" lontar Dona, Sashi mengangguk.
Dari arah dapur Zee datang menggendong Tayya, tak lama kemudian dengan sabar Zee menyuapi teh dengan sendok untuk Tayya. Tayya terus memperhatikan Zee yang sabar dan selalu tersenyum padanya.
Dona diam-diam memperhatikan interaksi Zee dan Tayya, ia merasa senang. Ia membayangkan jika Zee memiliki anak. Dona juga berkayal jika cucu-cucunya lah yang sedang berlari ke sana-ke mari meramaikan rumahnya saat itu.
Hap
"Haii ... kamu siapa? Cantik banget sih!" Dara yang masih menyelesaikan tugasnya di ruang keluarga merasa ada gadis kecil yang memperhatikannya. Dara bersembunyi dan kini menangkap tubuh gadis kecil yang sejak tadi terus mengintipnya.
Shiza memang bukan gadis pemalu dan penakut. Ia menjawab tanya Dara dengan lantang. "Aku Shiza!"
"Hai kenalkan aku kak Dara." Shiza tersenyum.
"Shiza sama siapa? Kenapa ada di rumah Kakak?"
"Sama papa, mami dan adik-adik."
"Oh jadi ini kakak Shiza. Mana adik-adik Shiza?" tanya Dara ramah.
"Di depan."
"Yuk kita ke depan, kakak mau lihat apakah adik-adik Shiza juga menggemaskan seperti Shiza?"
Dara tampak menggandeng Shiza mendekat pada mamanya.
"Ini mami Shiza, Kak! Ini Shilla adik Shiza, itu juga adik Shiza namanya Tayya. Kalau papa ada di luar!" Shilla memperkenalkan anggota keluarganya dengan penuh semangat. Zee yang duduk agak jauh mendekat menggendong Tayya sambil membawa gelas di tangan.
"Harusnya nggak usah digendong-gendong Zee! Tayya kan udah bisa jalan," ucap Sashi.
"Gpp Kak, aku seneng kok. Anak Kakak gemesin."
"Ma, mbak Zee udah pantes tuh gendong anak!"
..._______________________________________...
🥀Happy reading 😘
🥀Promosi Karya sahabat literasi bubu hari ini. Di jamin bikin ketagihan bacanya. Kisah ini sedih, perjuangan orang tua memulihkan trauma putrinya,🤧🤧❤️❤️
JUDUL : MALENA
AUTHOR : KHADIJAH RAHMAN
Blurb
"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!
Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya beru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.
Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan pindah dari Napoli ke Firenze.
__ADS_1
Akankah Malena sembuh total dari traumanya? Akankah Malena bertemu dengan laki-laki yang mampu menghilangkan traumanya?