ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MAMA DONA SURPRISE


__ADS_3

Pukul 18:40 saat itu dan Bias masih duduk di Butik Cindy dengan sabar. Beberapa saat lalu Zee memang baru mau di make up setelah menjalankan ibadah magrib, karena alasan itu tepat Bias menyetujui.


Bias berkali melihat jam. Sebetulnya acara di mulai jam 7, tapi mundur sedikit ia fikir tidak apa-apa. Sepuluh menit berlalu, Zee ke luar dari sebuah ruangan bersama Cindy. Masalah penampilan Zee tentu tidak perlu disangsikan, cantik sekali. Terlebih setelah Cindy menambahkan aksesoris sebuah kalung panjang dengan liontin batu nan indah. Cindy meminta Zee juga menggunakan jam tangan miliknya dan membawa sebuah dompet yang cantik.


"Gimana? Puas dengan kreasi tangan Mbak?"


"Perfect. Aku bener-bener gak salah bawa dia ke sini."


"Haa, sebenernya bukan tempat ini atau tangan Mbak yang nolong kamu. Tapi semua karena kamu sendiri! Kamu nggak salah memilih gadis itu untuk dibawa ke acara Nasya. Bias tersenyum.


"Udah kita jangan ngobrol terus! Sana berangkat!"


Keduanya meninggalkan Butik. Bias meminta Zee naik ke mobil sportnya yang terparkir tak jauh dari Butik. Zee menurut.


Suasana di dalam mobil hening. Bias yang biasanya mengajak bicara lebih dulu mendadak bungkam. Ia hanya terus melirik Zee saja yang duduk dengan tenang menghadap jendela.


A-ku bersama dengan kak Bias. Aku dengan wajah asliku tanpa kepura-puraan. Ya Tuhan, mengapa memberi ujian seberat ini padaku.


Zee melirik lelaki dengan kemeja putih dan blazer yang sedang memainkan kemudi yang tanpa diduganya juga sedang menoleh ke arahnya. Keduanya sama-sama salah tingkah dan membuang wajah.


Kak Bias menggunakan kemeja dan blazer kelihatan berbeda, tambah ganteng dan keren, seperti pengusaha muda, dewasa. Eh, astagfirullah ... sadar Zee! Fikirkan perasaan bang Jo.


"Eh, lo gpp kan pergi sama gue begini? gak ada yang marah? Maksud gue ... cowo lo nggak marah, ka-n?"


"A-ku kan profesional kerja. Aku lagi kerja. Kalau aku nolak bisa kehilangan pekerjaan."


"I-ya, lo bener." Bias yang ingin mencari tahu gadis di sampingnya sudah memiliki kekasih atau belum, tak mendapat jawaban yang ia mau.


"Bo-leh aku tau kita mau ke-mana?"


"Ke acara seorang teman."


"Kenapa gak ajak pacar Kakak? Kenapa justru ajak a-ku?" Bias melirik Zee.


"Jangan lupa tugas lo cuma berdiri di samping gue dan bukan jadi wartawan yang banyak nanya ini itu!"


"Eh, sorry!" Zee memalingkan wajah ke jendela lagi.


"Iya."


Tak berselang lama mobil sport Bias masuk ke basemen sebuah hotel terkemuka. Acara Nasya memang diadakan di ballroom hotel itu. Keluarga mereka yang sibuk lebih senang melempar semua acara pada even organizer saja.


"Kita turun!"

__ADS_1


"Di-sini acara-nya? Kenapa ho-tel?"


"Iya di sini! Kalau kenapa hotel? Lo tanya aja nanti sama tuan rumahnya kenapa ngadain di hotel!" Zee memberengut, ia tak suka jawaban Bias.


"Lo bawa ini, nanti kasih ke tuan rumah!" Bias mengambil kotak dari jok belakang dan memberikannya pada Zee. Bias ingin hadiah untuk Nasya gadis di sampingnya yang memberikan.


Zee bingung. Bias mengajak turun, namun raga itu tak jua bergerak. Bias masih bergeming di mobil. Wajah di Kafe kembali Zee lihat, wajah seperti bingung dan kosong. Zee melihat Bias terus menarik napas dan menghembuskannya. Baru setelahnya ia membuka pintu mobil.


"Ayo!"


"Eh, i-ya."


Keduanya berjalan dalam keheningan, hingga pintu Ballroom itu mulai terlihat dan ada banyak orang yang ingin masuk ke dalam. Kedua orang tua Nasya yang terpandang membuat bangunan gedung itu begitu dipadati.


"Kakak baik-baik saja?" Walau dari wajah jelas terlihat ia tidak baik, tapi Bias mengangguk. Otak Zee masih terus menerka siapa teman yang hendak mereka datangi hingga membuat Bias sangat panik. Ya, di Butik tadi Zee tidak mendengar seksama saat Cindy beberapa kali menyebut nama Nasya.


"Elo!"


"Eh, iya, Kak?"


"Genggam tangan gue!"


"Hah? Nggak, Kak!"


"Lo nggak mau kerja lagi besok di Kafe?"


"Kalau hari ini lo gak kerja bener, gak ada alasan mempertahankan lo di Kafe!" Dengan cepat Zee meraih lengan Bias.


"Aku masih mau kerja," bisik Zee. Hembusan napas Zee begitu hangat di telinga Bias.


"Ba-gus!"




Bias mengedar pandang hingga ia melihat raga kedua orang tuanya, ia mendekat.


"Ma, Pa!" sapa Bias di belakang punggung itu yang membuat kedua raga paruh baya berbalik dengan cepat.


"Syukurlah kamu akhirnya datang, Bii. Eh ... siapa ini yang kamu bawa?" Dona tercengang terlebih melihat keduanya saling menautkan jemarinya. Bias melepaskan tangan Zee. Dona tersenyum sebaliknya Zee merasa tak enak hati.


"Hai Cantik, kenalkan tante Dona mamanya Bias, ini om Libra papanya Bias."

__ADS_1


"Hai Om, Tantee," ucap Zee menganggukkan kepala sangat sopan.


"Bii, Mama mau bicara sebentar sama kamu!"


"Sebentar, ya!"


Dona tersenyum melihat Bias sudah ada di hadapannya, Dona langsung menarik hidung bangir itu. "Nakal! Punya pacar cantik seperti itu tapi terus di sembunyikan dari Mama!"


"Ah, Ma, sakit! Mama salah paham! Dia bukan pacar Bias! Hanya teman!"


"Sudah ketahuan masih ngeles! Pantesan foto anak-anak teman Mama nggak digubris. Lho memang sudah punya pilihan sendiri ternyata diam-diam!"


"Nggak begitu, Ma!"


"Apa?"


"Cuma teman!"


"Ah kamu tuh, kecewa Mama. Tapi gpp lah setidaknya kamu masih punya teman perempuan. Mama tenang anak Mama masih normal!" Dona menggoda Bias. Bias menggelengkan kepala.


"Ya udah yuk balik, nggak enak teman cantiknya ditinggal lama-lama! Mama juga mau lebih kenal!"


"Ma, jangan aneh-aneh lho!"


"Apa sih, kamu?"


Keduanya sudah berdiri di hadapan Zee lagi. Dona menatap Zee dari atas ke bawah. Walau tahu gadis di hadapannya itu tidak memiliki status apapun dengan putranya, tapi Dona puas dengan gadis yang dibawa Bias.


"Kamu ikut Tante, yuk!" Dona melontarkan ajakan pada Zee. Wajah Zee bingung, tapi Dona langsung meraih bahu itu. "Kita coba makanan di sana, Sayang! Makanannya enak-enak! Ada adik Bias juga di situ, ayo Mama kenalkan!"


"Maa, mau dibawa ke mana teman Bias!"


"Kamu di sini aja sama Papa!"


Bias mengedar pandang dan menemukan bayang Nasya, hati itu mendadak sesak, rasa cinta, penghianatan, kehilangan langsung memenuhi hatinya menciptakan perih. Rasa perih yang nyatanya tidak bisa menyingkirkan rasa cintanya. Nasya adalah cinta pertamanya, gadis yang dengan susah payah dan penantian panjangn akhirnya ia dapatkan. Bias memang menyukai Nasya lebih dulu dan lama memendam rasanya, diabaikan baru akhirnya saat di Sekolah Menengah Atas Nasya menerimanya.


Bias menunduk dalam, ia sadar semua rasa harus ia singkirkan karena nyatanya Nasya sudah terlihat bahagia dengan suaminya.


Bias mengedar pandang lagi dan kini ia kaget Mamanya sudah membawa gadis yang beberapa saat lalu bersamanya ke depan Utari. Dona yang senang dengan kehadiran Zee seakan ingin menunjukkan bahwa putranya sudah bisa melupakan Nasya dan kini memiliki seseorang yang spesial.


Ahh Mama ....


..._________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading,😘😘


🥀Cover Zee diganti Entun guys, tapi pucet! Bubu mau ganti lagi nggak bisa, udah dikunci sama entun😩😩😥


__ADS_2