
Bowo Permadi, lelaki 25 tahun yang sudah menang taruhan nyatanya masih tak henti mengganggu Risya. Ia merasa rugi melewatkan gadis manis dan lugu yang kerap ia lihat lewat di depan kamarnya, maklumlah mereka bertetangga. Hingga pembicaraan dua lelaki itu terjadi. Bowo dan Priyo, lelaki yang hidup tanpa bekal agama dan kurang mendapat perhatian orang tua itu memang sudah lama hidup semaunya. Bermain wanita, minum-minum, ngobat, buat mereka adalah jalan ninja untuk merasa tenang dan bahagia.
Bahagia nyata atau semu sudah samar, mereka hanya tahu mereka senang dan itu cukup, toh mereka masih muda, begitu pikir keduanya.
Keduanya membuat rencana, membuat Risya tak sadar dan mereka bisa bersenang-senang dengan Risya. Berikan trik ancaman dan mereka yakin Risya yang lugu pasti tidak berani menceritakan semua pada keluarga.
Sepulang kuliah Bowo sudah bertugas menjemput Risya. Dilanjut Priyo yang hari itu sedang malas bekerja sudah siap dengan jus strawberry yang sudah dicampur obat pusing di dalamnya. Obat pusing bukan obat sembarangan, obat pusing yang akan membuat Risya merasa fly dan tidur cantik.
Hari menjelang sore saat Bowo sampai di kossan setelah sebelumnya membuat Risya senang dengan jalan-jalan area Jogya dan mengisi perut di bakulan gerobak pinggir jalan. Sebetulnya Risya juga sedikit terpaksa, mau gimana lagi ia merasa takut dan akhirnya menurut saja.
Bowo yang kerap menanyakan mengenai Zee atas perintah Priyo juga membuat Risya tidak nyaman. Bukan tidak nyaman karena Risya cemburu pada Zee, tapi ia takut Priyo atau Bowo akan menyakiti Zee yang notabenenya adalah sahabatnya. Oleh karena itu, Risya membalas pesan Zee dan meminta Zee tidak menemuinya lagi dan tidak pulang melewati kossannya lagi. Risya takut Bowo akan macam-macam pada Zee.
Sepulang berkeliling sore itu, Bowo yang sudah memiliki rencana buruk tak membiarkan Risya masuk ke kamarnya sendiri. Jurus pemaksaan lagi-lagi ia lakukan hingga akhirnya ia bisa duduk manis di kamar Risya, tak berselang Prio tiba berdalih sedang lewat daerah sana, ia pun mampir. Tiga buah jus ia bawa, satu untuk dirinya, satu untuk Bowo dan satu lagi jus spesial untuk Risya tentunya.
Melihat Risya yang sudah mulai bicara tak karuan, Prio menutup pintu. Priyo dan Bowo tak membuang waktu langsung membuka kaos mereka, namun belum lagi aksinya dilakukan, sebuah ketukan terus terdengar. Risya yang masih setengah sadar melihat dua pria bertelanjang dada panik. Mendengar suara ketukan pintu, Risya berusaha berteriak tapi tangan Bowo dengan sigap membekapnya.
Dua lelaki tampak bingung setelahnya di dalam kamar mendengar ancaman Johan. Mereka yang tak ingin aksi mereka tertangkap pihak berwajib memilih membuka pintu di detik terakhir.
_____________________
"Bagaimana kondisi Risya?" tanya Johan berdiri di muka kamar kos Zee.
"Mending laporin aja deh orang yang buat temen kamu sampai begini, Zee!" Mbak Lastri yang sejak tadi ikut sibuk berupaya agar Risya sadar berpendapat. Beberapa saat lalu memang Zee menemukan Risya dalam kondisi tak sadar di kamar kossnya.
"Mereka sudah aku buat jera kok, Mbak!" utar Johan menghadap Lastri. Johan memang sudah membuat dua lelaki itu babak belur dan berjanji tidak mengulangi aktivitas semacam itu baik pada Risya atau gadis mana pun lagi.
"Apa gak sebaiknya kita panggil dokter, Bang?" ucap Zee melihat Risya tak juga sadar padahal satu jam sudah berlalu.
"Kita tunggu dulu aja, Zee. Nanti dokter malah nanya macem-macem lagi," kata Johan. Zee mengangguk.
"Buatin minum tuh teman kamu, Zee! Biar Risya ini mbak yang jaga!" kata Lastri.
"Baik, Mbak. Terima kasih."
__ADS_1
Zee berjalan setelahnya ke dapur dan membuatkan kopi untuk Johan. Ia berjalan ke teras setelahnya. Johan memang merasa sungkan masuk ke kamar kos wanita, terlebih ia tahu itu adalah kamar Zee yang merupakan istri orang. Kini Johan duduk di teras memandang langit malam sambil merasakan sejuknya angin. Ia menoleh saat Zee tiba membawa secangkir kopi untuknya.
"Diminum, Bang!"
"Terima kasih," ucap Johan.
"Untung kita nggak telat ya, Bang," kata Zee.
"Iya, Alhamdulillah, hampir saja. Ini juga buat pelajaran kamu Zee, banyak orang baru yang gak selalu kita temui baik, apalagi sama lelaki. Harus hati-hati!" Zee mengangguk.
"Makasih ya, Bang! Udah bantu aku menyelamatkan Risya. Gak tau deh kalau gak ada Bang Jo!" Zee berucap sungguh-sungguh. Untuknya Risya tak sekedar teman. Usia Risya yang dibawah darinya dua tahun itu membuat Zee manganggap Risya sudah seperti adik.
"Menurutku sementara Risya di sini dulu! Dua hari lagi aku off nanti aku bantu cari kossan untuk Risya."
"Makasih sekali lagi, Bang. Sebetulnya aku sih maunya Risya tinggal di sini aja sama aku, tapi kak Bias gak setuju," lirih kata itu terucap. Sesaat Zee memikirkan bagaimana nanti bicara pada Bias ada Risya di kamarnya, tapi ia meyakinkan diri bahwa Bias akan paham, toh cuma 2 hari saja Risya bersamanya.
"Aku paham sama pemikiran Bias kok. Wajar! Apalagi kalau sewaktu-waktu Bias datang, ada Risya pasti juga gak enak. Apalagi kamu itu kan istri, yang harus kamu dengar ya apa kata Bias." Zee menatap wajah itu. Wajah Johan yang bisa begitu tegar membahas hubungannya dan Bias. Ada rasa takjub.
"Eh, maaf!"
"Oh iya untuk barang-barang Risya, besok sepulang kerja aku bantu nyicil bawain ke sini." Mendengar lagi kata Johan, Zee semakin tersentuh saja dengan kebaikan Johan. Zee mengangguk.
"Makasih banyak ya, bang! Oh ya, maaf aku pernah nyakitin Bang Jo!" kata maaf itu terlontar lagi dengan lirih. Ya, melihat Johan serasa tak akan cukup rasa penyesalan dan maaf ia ucapkan.
"Apa sih Zee, udah lama juga, kan? Aku udah gak mikirin masa lalu, kok! Anggap aja memang belum jodoh! Santai lah! Kita teman, kan?" Zee tersenyum bangga, ia mengangguk setelahnya.
"Eh, bang Jo sebentar, ya!" Zee seketika masuk ke dalam rumah dan muncul dengan kotak P3K di tangan.
"Kamu mau a-pa, Zee?"
"Itu bibir bang Jo luka! Biar aku obatin!"
"Eh, jangan ... jangan Zee!"
__ADS_1
"Bang! Bang Jo terluka begini tuh karena aku! Anggaplah aku lagi bales kebaikan bang Jo!"
"Zee, gak perlu!" Johan masih menolak, tapi Zee berkeras. Zee merasa tak enak hati melihat wajah Johan terluka karenanya.
Zee perlahan mendekat dan mulai membersihkan luka Johan. Menatap wajah Zee sedekat itu, jantung Johan memacu cepat, namun berusaha keras ia netralkan.
Zee masih fokus pada luka di bibir itu saat sebuah suara terdengar dan membuat ia seketika tercekat.
"Yang!"
...______________________________________...
🥀 Happy reading😘
🥀 Big hug untuk kalian yang masih mengikuti kisah Zee dan Bias ini❤️❤️
🥀Ada promosi karya sahabat bubu lagi nih guys. Beliau salah satu pemenang YMYB juga. Yuk mampir ke karyanya😍
Judul : Heavanna
Napen : SRN 27
Blurb
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zia memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
__ADS_1