
Pukul 4 sore itu keduanya sampai ke rumah minimalis Eyang Ratri. Setelah memarkirkan mobil, Bias dan Zee masuk ke dalam rumah. Seperti Biasa wajah menyenangkan dan tulus Ratri tertangkap Bias dan Zee. Kedua mencium tangan dan kini duduk di ruang tamu.
"Kamu nggak bilang sih kalau kamu mau kesini, Bi! Kalau tahu kan Eyang bisa suruh mbak Nah masak makanan kesukaan kamu," ucap Ratri lembut.
"Iya, tiba-tiba aja Bias terfikir kesini. Kami juga gak lama, Eyang gak usah repot." Ratri terus mengangguk.
"Eh, udah pada ashar-an belum? Sana pada sholat dulu. Zee ke kamar yang kemarin aja, ya!"
Setelahnya, kedua insan menuju kamar dan menjalankan ibadah. Mereka kembali ke ruang tamu lagi setelahnya.
"Langsung makan dulu yuk!" ucap Ratri melihat zee menuruni tangga.
"Kak Bi-as, mana E-yang?" Zee terlihat bingung tidak melihat keberadaan Bias di ruang tamu.
"Dia sudah di ruang makan." Bibir Zee membulat. Ia ke ruang makan dan makan bersama Bias, baru setelah makan Bias mengajak Ratri berbincang.
"Apa, mau cerita apa sama Eyang, hem?" Ratri mengarahkan wajah menyenangkannya ke arah Zee dan Bias.
"Eyang, Bias mau menikah!" Ratri kaget, ia memusatkan pandangannya pada Bias kini.
"Menikah? Menikah berumah tangga maksud kamu?" tanya Ratri memastikan sebab ia tak menyangka kata-kata Bias itu akan terlontar.
"I-ya, Eyang." Ratri belum melepaskan tatapannya. Ia memandang Bias dan Zee bergantian.
"Memang kalian tahu apa itu menikah?" Kini Bias dan Zee yang saling menatap.
"Menjalani kehidupan bersama kan, Eyang?" ucap Bias.
__ADS_1
"Iya, tapi kurang tepat!" Netra Zee dan Bias menatap serius wajah Ratri.
"Pernikahan itu maknanya luas, bukan hidup dan tinggal satu atap aja. Banyak hal yang kalian harus persiapkan." Zee dan Bias tersenyum getir.
"Karena pernikahan itu butuh ilmu dulu biar kapalnya nanti nggak gampang goyah____
"Dalam pernikahan, bukan cuma 2 orang aja yang bersatu, tapi dua keluarga, dua sifat, dua kebiasaan, dua kepribadian, 2 pemikiran. Sampe sini Eyang tanya, kamu berdua yakin sudah saling kenal? Sudah mantap? Sudah bisa mengikis ego satu sama lain? Rumah tangga itu ujiannya banyak loh Bi!"
Bias dan Zee kini saling menatap. Bias dan Zee membenarkan ucapan Ratri, tapi pinta Farid mendominasi semua. Bias berfikir menyatukan dua dua sifat dan kepribadian itu bisa mereka jalani sambil berjalan.
"Oh ya, kemarin Eyang ada bicara sama Dona. Kata Dona kamu belum ada pacar lagi tuh. Memang Dona belum tahu hubungan kalian? Eyang jadi bingung, hari ini kamu bilang mau nikah tapi kok mamamu sendiri belum kenal Zee!" lugas Ratri. Bias terdiam. Seketika Bias ingat belum bercerita perihal perkembangan hubungannya dengan Zee. Dona memang sudah bertemu Zee, tapi yang Dona tahu Zee sekedar teman saja.
"Kayaknya banyak hal yang harus kamu luruskan dulu, Sayang! Eyang pribadi suka sama Zee kok. Masalah nikah muda, Eyang dengan almarhum Kakung dulu juga dinikahkan saat masih muda dan kami bisa menjalaninya. Tapi memang keluarga Eyang sama kakung dulu selalu bantu setir kami. Jadi kami selalu diarahkan!"
Bias merasa mendapat banyak hal sepulang dari rumah Ratri. Ia membenarkan ucapan eyangnya itu. Banyak hal yang harus ia bereskan termasuk restu orang tuanya. Bias semakin bersemangat dan merasa harus tetap gigih mempertahankan Zee dan melaksanakan pinta Farid.
____________________
"Kamu baru sampai, Bi?"
"Iya, Ma." Setelah menjawab tanya Dona, Bias menatap Libra.
"Pa, bagaimana dengan keinginan Bias kemarin?" Libra masih fokus membalik koran di tangan, ia mengabaikan ucapan Bias.
"Pa, itu Bias sedang bicara sama kamu!"
"Hm." Bias kecewa dengan kediaman Libra, ia menatap Dona kini.
__ADS_1
"Ma, apa besok malam Bias boleh undang pacar Bias makan malem di rumah kita?"
"Pacar?"
"Iya, rencananya juga Bias mau menikah sama dia. Bias sudah bicara sama Papa."
"Benar itu Pa?" Dona bicara pada Libra dan menghadap Bias setelahnya. "Kamu mau nikah? Kamu masih muda loh, Bi?"
"Jangan lupa kamu Bi, Papa nggak bilang setuju!" lugas Libra tiba-tiba.
"Pa!"
"Kamu mau nikah sama siapa, Bi?" Dona terlihat bingung.
"Mas Bias mau nikah?" sela Dara tiba-tiba. Bias mengangguk.
"Mama udah pernah ketemu kok sama dia. Nanti malem Bias mau ajak dia ke rumah!"
"Memasukkan orang asing ke rumah harus atas izin Papa. Dan Papa nggak mau ya, kamu bawa perempuan itu! Papa nggak setuju kamu menikah muda!"
"Tolong kasih kesempatan Bias ngenalin dia, Pa! Bias yakin Papa akan suka dia, Mama juga!" Dona bergeming menatap putera dan suaminya bergantian. Ia tidak berani menyela Libra yang sudah bicara meninggi.
"Kalau kenalkan sebagai teman oke aja! Tapi untuk menikah nggak! Belum saatnya kamu nikah!" tegas Libra lagi.
"Nunggu apa, Pa? Apa aku harus buat kesalahan kayak Nasya dulu baru aku boleh nikah?"
"Bias!"
__ADS_1
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘