
"Ada apa dengan Nasya, Tante?" Bias bertambah bingung saja.
Setelah kamu menghancurkan Nasya, bisa-bisanya kamu seolah bingung, Bias!
"Hahh ... mbak Dona lama!" Utari mengarahkan pandangnya pada Bias setelahnya. "Bias! Tante nggak mau tau kamu harus bertanggung jawab dan menikah dengan Nasya!" gusar Utari.
"Meni-kah? Tante ma-af, Bias memang sayang Nasya, tapi Tante tau kan kalau Bias dan Nasya punya cita-cita yang ingin kami capai dulu!"
"Menikah! Jalan satu-satunya hanya menikahi Nasya, titik!"
"Pasti! Suatu saat pasti Bias menikah dengan Nasya, tapi tentunya nggak sekarang. Tante lupa kami masih sekolah?"
"Lihat anakmu, Mbak! Mau senangnya saja dia! Kalau nikahnya nanti, ya apa kata orang tentang anakku! Telfon! Aku akan telfon mas Libra!"
"Mbak ... tenang dulu! Papanya anak-anak sedang ada meeting! Ja-ngan hubungi mas Libra!" ucap Dona terus menggelengkan kepala. Hubungan mereka baru membaik, Libra kini jarang ke luar kota dan semakin hangat dengannya dan anak-anak. Dona sangat khawatir masalah ini akan menggoyangkan rumah tangganya.
"Jadi kita harus bagaimana? Anakmu itu harus digetok biar sadar salahnya. Papanya Nasya sedang di perjalanan dan dia nggak akan membiarkan anakmu tenang setelah kelakuan bejatnya!"
"Iya, iya Mbak!"
"Papa Nasya mau datang? Wah ... pasti Nasya senang."
Sudah berbuat salah, malah membahas Nasya akan senang bertemu papanya bukannya takut!
"Bii, sebelum papa Nasya atau papamu tahu, jujur sama Mama! Apa kamu sama Nasya sering be-gitu se-lama i-ni?"
"Kan Mama tau sendiri Bias sayang Nasya, Bias main ke rumah tante Utari hanya menemani Nasya supaya nggak kesepian!"
Pintar juga anak ini berkilah! Dia sering ke rumah. Ya Tuhan ... bagaimana ini? bagaimana kalau mereka nyatanya sering berbuat itu padahal masih sekolah ....
"Nakal kamu, Bii! Jadi kalian sering bersama!" Dona memukuli dada Bias.
__ADS_1
"Ma, sakit! Apa salahnya menemani sih, Ma? Sebelum jam sepuluh Bias juga sudah sampai rumah kan?"
"Berkilah terus kamu! Jangan fikir kami belum tau perbuatanmu dan Nasya yang kelewat batas. Nikah! Persiapkan pernikahan karena Tante nggak mau Nasya hamil tanpa suami!"
"Hah!"
Bias yang sedang menatap Dona seketika langsung mengalihkan tatapannya. Bias melihat wajah Utari tidak sedang main-main dan sangat serius. Otak itu mencerna lagi kata yang baru saja didengar.
Ha-mil? Apa aku salah de-ngar?
Dada itu langsung sesak, Bias berjalan mendekat ke arah Utari. "Tan-te, si-apa ya-ng ha-mil?"
"Masih nanya kamu! Nasya! Puas sudah merusak putri Tante!"
Hati itu hancur seketika, Bias bergeming beberapa saat baru menatap lagi Utari. Banyak hal yang dipertanyakan otaknya.
"Bagaimana Nasya bisa ha-mil?" tanya itu spontan terlontar dan wajah Utari semakin memerah. Dona mendekat.
"Ma, tapi Bias nggak pernah menyentuh Nasya! Berbuat melampoi batas maksudnya."
"Lihat kan! Ini lelaki masa kini, habis manis sempah dibuang! Tega kamu Bias!"
"Mama, Tante ... Bias jujur dan nggak sedang menyangkal! Tunggu__ Nasya ha-mil? Bagaimana Bisa ... Bias sangat menjaga Nasya, la-lu Nasya berbuat i-tu dengan siapa?"
"Terus! Terus saja berkilah! Kamu takut harus bertanggung jawab, hah? Sadar Bias! Kamu punya adik perempuan! Harusnya kamu tau apa arti menyayangi dan menjaga!"
"Ma, Mama harus percaya Bias! Bias tau batasan itu! Nggak pernah Bias melakukan yang terlarang! Bias juga takut sama Pencipta kalau sampai melakukan itu! Bias juga sadar punya Dara dan nggak akan senang kalau ada yang menyakiti Dara! Sung-guh, Ma! Percaya Bias!" Bias terus menatap Dona, pun sebaliknya Dona juga memandang Bias. Ada kebahagiaan di satu sisi hatinya karena putranya berucap tidak pernah melakukan itu, tapi tak dipungkiri ia takut jika putranya sedang berbohong.
Bias, dia putraku yang baik. Aku pribadi tidak membayangkan Bias bisa melakukan hal itu. Tidak! Bias jujur dan tidak bohong! Ia lugas bicara tanpa rasa takut.
Dona mendekat dan memeluk raga Bias. "Terima kasih, Mama percaya Bias!"
__ADS_1
"Ma ...."
"Lho Mbak, lalu siapa yang menghamili Nasya?"
"Bias! Kamu kan pacarnya! Bagaimana kamu membiarkan Nasya jalan dengan lelaki lain! Sekarang jawab, Nasya hamil dengan siapa? Ng-gak! Ini pasti akalan kamu untuk tidak menikahi Nasya! I-ya, kan?" Utari terlihat sangat bingung dan kacau.
"Tante, sungguh bukan Bias! Bahkan tau kenyataan Nasya hamil saja Bias sakit. Nasya bermain dengan siapa di belakang Bias! Kenapa Nasya bisa melakukan itu?" Bias menarik napasnya panjang berusaha menyingkirkan sesak yang menyergapnya dengan kuat.
Baik Dona maupun Utari kini bergeming. Utari masih menangis dan Bias menghampiri.
"Izinkan Bias bertemu Nasya, Tante. Bias perlu bicara dengan Nasya. Bias perlu tau siapa lelaki baji*ngan yang menghamili Nasya dan akan menariknya ke hadapan Tante!"
"Rumah Sakit Shangrilla. Pagi tadi Nasya yang pusing sejak kemarin sore terpeleset di kamar mandi. Darah mengucur dan bibik membawa Nasya ke Rumah Sakit."
"Bias akan ke sana!"
Tanpa aba-aba Bias berbalik.
"Bii ... ganti seragammu dulu, Nak!"
Teriakan Dona bak angin lalu, Bias tak sabar ingin mendengar semua penjelasan Nasya.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Like, komen, vote kalian adalah Moodbooster Bubu. Big hug🤗🤗❤️❤️
🥀Ini karya sahabat literasi Bubu, mampir yuk!
__ADS_1