
Putri cantik dengan tanda cinta di dahi itu kini sudah beranjak besar. Jantung sang dokter seketika berdetak cepat, menimbulkan sesak yang semakin kuat. Melihat wajah itu teringat ia bahwa Putri yang ia keluarkan dari perut sang ibu hari itu mengalami nasib malang. Ibunya yang tidak bertahan membuat sang putri dapat dipastikan tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu seumur hidupnya.
"Dok! Dok! Kenapa termenung? Cepat cek kondisi anak saya!" ujar Bias menggelengkan kepala.
"Oh, maaf!" Aira langsung mengecek kondisi Biv, hingga beberapa saat ia berucap lagi. "Sejak kapan demamnya, Pak?"
"Saya tidak yakin tepatnya, tapi jam 8 malam tadi semua baik-baik saja," ujar Bias mengusap-usap kepala Biv yang masih tertidur tidak tenang.
Aira bergerak mendekati mejanya setelah pengecekannya selesai. Bias masih di ranjang itu menciumi Biv.
"Putri Bapak sepertinya kelelahan. Apa belum lama ini kalian melakukan perjalanan jauh atau anak anda menghabiskan banyak waktu bermain, atau mungkin pula habis terjatuh?" tanya Aira tenang.
Bias terdiam sesaat. "Kami baru kembali dari Bandung malam tadi," lirih Bias. Ia membuang napas kasar, otak Bias sudah dapat menebak Biv kemungkinan besar kelelahan dan itu secara tidak langsung karenanya.
"Kalau begitu jelas, ya. Ananda___
"Biv, Bivanya Dok, sela Bias cepat.
"Ya, ananda Bivanya kelelahan. Saya sarankan beberapa hari ini jangan ajak anak anda berpergian jauh dahulu!" lirih Aira. Masih ada rasa sungkan di otak Dokter itu mengingat emosi Bias di ruang operasi. Aira tidak ingin ayah pasiennya itu akan salah paham padanya lagi jika ia berucap meninggi.
Bias menunduk sesaat dan mengangguk setelahnya, ada rasa bersalah di hati itu karena sang putri menjadi kelelahan lantaran mengikuti aktivitasnya. Kini bias bingung.
Haruskah aku menitipkan Biv kembali pada Mama? Tapi aku tak ingin meninggalkannya, aku ingin selalu dekat Biv. Ahh ... tapi kesehatan Biv yang utama.
Bias masih bicara dalam diam dengan jemari terus mengusap kepala Biv. Hingga Aira beberapa kali memanggil namanya, akhirnya Bias sadar.
"Eh, maaf, Dok!"
"Ini obat untuk putri anda, pastikan diminum teratur sesuai petunjuk yang tertulis, ananda Biv tidak telat makan dan jangan terlalu letih dulu," lirih Aira.
"Pa-pa ... hiks ... hiks ...." Seketika terdengar Biv mengigau, Bias langsung berdiri, meraih tubuh Biv dan mengayun-ayunkannya.
"Cup ... cup, Sayang ... nanti di rumah kita minum obat dan Biv akan membaik. Oke!" lirih Bias berusaha menenangkan Biv.
"Bisa letakkan di ranjang lagi putrinya!"
"Oh i-ya, Dok." Bias mengikuti perintah Aira.
Aira memiringkan tubuh Biv. "Saya akan beri penurun panas melalui du bur agar anda tenang pulang ke rumah." Bias mengangguk. Aira menurunkan pakaian dalam dan celana popok untuk menampung pipis Biv, dan dengan cekatan memasukkan obat demam tersebut. Biv yang kaget sontak bangun dan menangis.
"Sebentar ya, Cantik!" ucap Aira memasangkan lagi celana dan popok Biv. Setelah aktivitasnya selesai Aira menyerahkan Biv pada Bias.
"Bye, cepat sembuh, Sayang! Sehat selalu!" Biv langsung terdiam masuk ke dekapan Bias, namun ia terus menatap wajah Aira.
"Terima kasih banyak, Dok!" ucap Bias sembari menganggukkan kepala.
"Sama-sama, semoga pak Bias selalu diberi kemudahan membesarkan putrinya." Mendengar namanya disebut, Bias yang baru saja beranjak seketika berbalik. Ia merasa heran mengapa dokter bisa tahu namanya.
"Apa kita saling mengenal, Dokter?" Aira terdiam sesaat. Ia membuka masker yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Bias kaget melihat wajah dokter yang baru saja menangani putrinya yang tak lain adalah dokter yang 3 tahun lalu membantu persalinan Biv. Bias terdiam sesaat, ia mengingat pada hari kelahiran Biv pernah memaki dokter wanita itu.
"Saya dokter yang dulu mengeluarkan Biv dari perut mendiang ibunya," lirih Aira. Bias menunduk mendengar kata mendiang untuk Zee. Tiga tahun memang berlalu, tapi Bias masih merasa Zee hidup, walau sejatinya ucapan sang dokter adalah benar.
Mengingat peristiwa 3 tahun lalu tentang dia yang menyalahkan Aira atas meninggalnya Zee, ada keinginan di hati Bias untuk meminta maaf. Bias sadar kematian tentunya kehendak Sang pencipta dan bukan kesalahan dokter, namum kata maaf yang ingin diucap terasa begitu kelu. Ego itu terlalu tinggi terlebih kondisi Biv juga harus segera dia bawa pulang.
Bias menatap sekilas wajah Aira dan mengangguk sebagai tanda ia pamit pulang. Aira membalas anggukan Bias dan kembali ke ruang UGD.
Syukurlah obat yang diberikan Aira cocok untuk Biv. Dalam dua kali minum Biv sudah tidak demam. Kendati demikian, Bias tetap memutuskan untuk bekerja dari rumah. Ia merasa harus memastikan kondisi Biv.
__ADS_1
Minggu di akhir pekan tiba, keluarga Farah dan juga keluarganya membuat rencana menghabiskan waktu bersama di Kafe Bias di bilangan Fatmawati. Dua keluarga tampak begitu ceria, tertawa dan bahagia melihat polah menggemaskan Biv yang sedang bermain mandi bola.
Zaa kini sudah berusia 11 tahun ikut masuk ke wahana mandi bola menjaga keponakan kecilnya, sedang Joy dan Dara saling beradu melempar bola basket ke keranjang.
Di meja lesehan tepatnya di posisi sudut 4 orang paruh baya menikmati hidangan steak dengan sangat nyaman dan damai. Dendam masa lalu itu benar-benar sudah lebur, kedua keluarga kini harmonis setelah kepergian Zee. Mereka sadar harus memberi bahagia pada Biv dan memberi semangat hidup untuk Bias.
Dona mengedarkan pandang mencari di mana putranya berada. Bias beberapa saat lalu memang meminta izin untuk ke lantai atas sebab ada telepon penting dari distributor bahan baku keperluan Kafenya. Namun beberapa saat berlalu Bias belum juga turun, Donna pun meminta Dara memanggil Bias.
Dara yang kini bertambah cantik di usianya yang menginjak 21 tahun menurut perintah Dona. Ia bergegas ke lantai atas mencari kakaknya berada.
"Ada apa Ra?" kata bias melihat sosok Dara di muka tangga.
"Mas dipanggil mama tuh, katanya lama banget teleponnya!" Bias tersenyum.
"Ya udah lo turun duluan sana, nanti gue nyusul." Dara mengangguk, Dara pun turun berbaur kembali dengan yang lain di lantai bawah.
•
•
"Kadang aku tuh kasihan lo mbak sama Bias, Bias maunya ngurusin Biv sendiri. Biv dibawa ke sana ke mari dan kemana pun Bias pergi. Apa aku egois, jika menginginkan Bias mencari pendamping lagi!" ucap Dona di tengah acara makan.
Farah dan Farid kompak menunduk, dua raga yang merupakan orang tua dari mendiang istri Bias sebetulnya masih terlalu berat jika laki-laki yang begitu dicintai putrinya harus bersanding dengan wanita lain. Farid meraih jemari Farah dan meletakkan di pangkuannya. Kedua paruh baya itu sedang saling menguatkan.
Ucapan Donna sebetulnya hal yang wajar, 3 tahun sudah berlalu. Biv akan bertambah besar dan pintar, saat ia akan melihat anak-anak lain memiliki keluarga yang sempurna, sedangkan ia hanya memiliki seorang Papa, ia akan mulai bertanya. Kini dua raga itu bingung harus menanggapi apa lantaran Donna.
"Maaf ya Mbak, bukannya aku tidak memahami perasaan kalian." Dona yang sensitif melihat wajah Farah dan Farid mendadak berubah seketika sadar kata-katanya beberapa saat lalu agaknya kurang tepat diucapkan.
Respon tak terduga diperoleh Dona. Farah seketika menggenggam jemari Dona. "Mbak Donna benar, seperti halnya Bias, kami harus move on dan melihat segalanya ke depan. Benar Biv akan bertambah besar dan akan menanyakan perihal mamanya, Saat itu tiba Biv pasti akan sedih karena ia tidak memiliki mama seperti anak lainnya." Dona mengangguk.
"Tentunya ini bukan perihal Bias. Kita tahu sendiri Bias begitu cinta Zee. Ia akan sulit membuka hatinya untuk wanita lain. Tapi Kita tidak boleh mengenyampingkan Biv. Sepertinyakami pun harus membuka pikiran kami. Ya, mungkin sudah saatnya bias mencari istri lagi." Netra Farah berkaca. Jelas itu sangat sulit terucap.
"Apa Mbak Donna sudah punya calon? Maaf, maksudku sudah ada bayangan gadis yang sekiranya cocok menjadi ibu untuk Biv?" tanya Farah. Dona menggeleng.
"Sudah lah, Ma! Biarkan saja putramu itu menemukan kembali jodohnya sendiri yang sesuai hatinya!" ucap Libra.
"Mama setuju, Pa. Tapi setidaknya jika kita menemukan seseorang yang cocok, kita bisa mengarahkan Bias, memberi masukan untuk kehidupannya, bukan?" ucap Dona.
"Hai ... ada apa ini, Ma?" Bias yang baru turun dari lantai atas bingung melihat wajah-wajah serius empat raga paruh baya di hadapannya. Bias kini terus tersenyum melihat Biv di kejauhan. Biv terlihat senang bermain dengan Zaa. Tak hanya itu, Bias pun mengedar pandang melihat Kafenya yang tampak ramai merasa senang. Usaha yang dibangun dari 0, kini dipadati pengunjung selalu.
"Bukan apa-apa, Bi. Kami hanya sedang membicarakan Biv," ucap Dona.
"Terima kasih karena kalian selalu men-support Bias!" ucap Bias lagi setelahnya.
"Sudah sudah! Kita lanjutkan dulu makannya!" ucap Libra menengahi.
"Ra, tolong ambil Biv, ya!" Dara langsung berdiri mendekati wahana. Baru saja hendak meraih Biv, ia langsung menangis.
"Mas, Bivnya nggak mau nih!" teriak Dara saat Biv kekeh masih ingin bermain. Bias melambai ke arah Biv, seketika Biv langsung membuka tangannya pada Dara, meminta gendong Dara. Bias tersenyum di kejauhan. Biv menurut padanya.
Mereka pun mulai menyantap makanan yang dihidangkan. Bias makan sembari menyuapi Biv, hingga tiba-tiba putri kecilnya itu berteriak memanggil seseorang.
"Bu-Dokter!" teriak Biv membuat semua raga di sana menoleh ke arah tatapan Biv, tak terkecuali Bias.
Seseorang yang merasa memiliki profesi seperti panggilan itu pun tampak menoleh. Wanita cantik dengan seorang gadis kecil seusia Biv tampak baru saja masuk ke Kafe Bias. Ia mengedar pandang mencari siapa yang memanggilnya hingga tiba-tiba Biv berteriak lagi.
"Bu Dokter ...."
Kini wanita yang adalah Aira itu menemukan orang yang memanggilnya. Ia tersenyum di kejauhan melihat putri cantik dengan tanda itu juga tengah tersenyum padanya.
__ADS_1
"Itu bukan-nya____
"Dokter yang menangani persalinan Biv?" sela Farah melanjutkan kata-kata terbata Dona.
"I-ya, be-nar," ujar Dona.
"Dia pernah membantu keluarga kita, ajak saja ia bergabung!" utar Libra.
"Tidak usah lah, Pa!" lugas Bias. Ia masih tak enak hati pernah berucap keras pada Aira.
"Papamu betul, Bi. Mama rasa tidak ada salahnya mengajak ia membaur dengan kita. Mama masih ingat ia mempermudah kita mengeluarkan jenazah Zee saat itu dari Rumah Sakit. Ia membantu bicara pada pihak administrasi untuk mendahulukan kita sebab Zee saat itu perlu segera di makamkan," utar Dona.
"Ajak saja dia ke mari! Ayah juga ingin berterima kasih. Ayah juga ingat saat jenazah Zee baru ke luar dari Ruang Operasi dan Dokter lelaki itu bicara yang sangat menyakitkan tentang psikis Zee yang begitu panik dan menyalahkan kondisi itu, Dokter wanita itu membela."
"Betul Bi, ibu juga dengar semua. Walau jelas semua ketetapan Pencipta, dokter wanita itu berani menyalahkan dirinya yang beberapa saat lalu sibuk mengurus pasien lain. padahal kita tau, dia begitu karena sedang menjalankan tugasnya!"
"Bu Dokter, si-ni!" teriak Biv seketika.
Ya, belum lagi hasil kompromi diputuskan, Biv sudah mengajak Aira bergabung. Di kejauhan Aira menganggukkan kepala pada seluruh raga di sana.
Kini terlihat gadis kecil di samping Aira terus menarik lengan Aira menuju wahana mandi bola di samping meja keluarga Bias duduk. Aira berusaha membujuk agar sang gadis kecil tidak ke sana, tapi gadis kecil justru menangis. Kini mau tidak mau akhirnya ia menurut. Aira berjalan mendekat ke arah wahana yang artinya ia menuju kearah keluarga Bias berada.
"Bu Dokter," ucap Biv lagi-lagi ketika ada orang yang dikenalinya semakin mendekat. Aira lagi lagi menganggukan kepala menatap satu persatu anggota keluarga dari pasiennya itu.
"Pa-pa, Biv mau ke sana mau main dengan Bu Dokter!" pinta Biv menatap lekat Bias.
"Tidak, Sayang, habiskan dulu makan Biv baru boleh main, ya," ucap Bias lembut. Ia menyodorkan nasi dengan potongan daging dengan saus teriyaki ke mulut Biv, tapi Biv menutup rapat mulutnya.
"Sayang ...."
"Biv hanya main se-bentar," ucap Biv lagi kali ini menampilkan wajah memelasnya.
"Hanya sebentar biarkan lah, Bias!" ujar Dona. Farah ikut mengangguk tak tega melihat cucunya memberengut. Bias membuang napas kasar.
"Hanya sebentar dan segera kembali, Sayang!" Wajah Biv seketika berbinar, ia langsung berlari.
"Biv masih mengingat wajah Dokternya kayaknya aneh. Apa kalian pernah bertemu lagi sebelumnya?" ucap Dona to the point.
"Oh, itu Ma, Biv pernah demam dan dia menangani Biv," terang Bias.
"Kapan itu? Biv sakit dan kami tidak kamu beri tahu?" tanya Farah kaget.
"Dua Minggu lalu, Bu. Maaf. Tapi kondisi Biv lekas membaik, kok."
"Pasti dia kelelahan kamu ajak bekerja mondar mandir Bekasi Bandung, iya kan?" sela Dona.
"Ma, Bias juga tidak setiap hari ke Bandung!"
"Tapi tetap saja, Bi! Biv masih kecil. Kasihan kesehatannya kamu pertaruhkan!" ucap Farah.
"Mama setuju!"
"Jangan egois Bias! Biv bukan hanya milikmu, ia juga cucu kami. Apa salahnya menitipkan Biv ke rumah Mamamu atau ke rumah kami sesaat!" lugas Farid. Bias menunduk.
"Biv milikmu itu tentu saja, Nak! Tapi sikap over protective-mu juga tidak baik untuk Biv!" tambah Dona.
"Ma-af, jika Bias ke Bandung, Bias akan menitipkan Biv pada kalian!"
..._____________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘