ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TIDAK AKAN MELEPASKAN


__ADS_3

Dengan kecepatan penuh Bias mengendarai motor besarnya hingga kini sampailah ia di bangunan dominasi biru dan putih yang seperti biasa tampak sepi. Kakinya langsung melangkah menuju pintu utama. Belum lagi jarinya menekan bel, pintu kayu berwarna coklat terang itu terbuka. Wanita Paruh baya yang bekerja di rumah Nasya langsung bergegas ke luar saat didengarnya motor yang ia sudah hapal pemiliknya datang.


"Den Bias!"


"Bagaimana Nasya, Bik?"


"Ayo ikut Bibik ke atas, Den!" Bias mengangguk.


Dalam keheningan keduanya melangkahkan kaki hingga ke lantai atas. Dibukanya pintu dominasi pink yang cantik oleh ART itu hingga tampaklah kini gadis muda yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Bias mendekat. Ia menatap pilu Nasya, gadis yang sejak beberapa hari lalu tak ingin menemuinya. Disugar lembut rambut bagian depan yang menutup sebagian wajah Nasya, Bias menatap wajah itu penuh kasih.


"Sebenarnya bagaimana kejadiannya, Bik?" tanya Bias.


"Bibik seperti biasa ke kamar non mau ambil pakaian kotor. Pas masuk Bibik kaget non tergeletak di lantai. Tadi Bibik minta bantuan Ujang bawa non ke kasur. Bibik baru mau telfon dokter eh non sadar. Non ngelarang Bibik telfon dokter dan minta Bibik hubungi den Bias saja." Bias menghela napas, ada kelegaan dia rasa, bahwa disaat terpuruk Nasya nyatanya mengingatnya.


"Apa yang terjadi setelahnya?"


Bibik terlihat menggeleng, baru berucap. "Non Nasya diam saja, nggak lama dia tertidur lagi."


"Tapi Nasya sudah makan kan, Bik?"


"Itu dia Den, seperti hari-hari sebelumnya itu lho Den, Non banyak menyendiri di kamar dan Bibik nggak boleh masuk. Pas malem Bibik masuk, nasinya sering masih utuh."


"Ya Allah, kamu tuh kenapa sih, Yang?" lirih Bias.


Bias masih mengusap-usap lembut kepala Nasya saat didengarnya adzan magrib berkumandang. Ia mendengar seksama lafadz adzan itu hingga akhir.


"Den ... Den Bias."


"Eh i-ya, Bik?"


"Bibik tinggal dulu, sudah ada panggilan ibadah." Bias mengangguk.


"Eh Bik, Bibik ...!"


"Saya, Den?" Baru mau menutup pintu, Bibik menoleh.

__ADS_1


"Saya juga mau ibadah, ada sajadah?"


"Oh, ada Den." Bibik masuk lagi ke kamar Nasya, ia membuka lemari dan mengambil benda yang dibutuhkan Bias di bagian lemari paling bawah.


"I-ni, Den!"


"Apa saya tidak apa-apa sholat di-sini?"


"Iya gpp, Den. Kalau sama Den Bias, Bibik percaya." Melihat Bibik bicara dengan semringah padanya, Bias ikut tersenyum.


"Bik, nutup pintunya jangan rapat-rapat, ya!"


"Oh, iya, Den."


________________


Nasya, gadis cantik itu terbangun. Ia menatap seksama tubuh tegap yang beribadah dengan khusyuk di samping ranjang tempat ia berbaring. Ada kesedihan lagi-lagi ia rasa telah menyakiti Bias, tapi ia sadar segalanya tak bisa diputar. Bagaimana pun ia bukan gadis suci lagi. Nasya yang tidak bisa jujur pada Bias hanya bisa menangis dan termenung hingga dirasanya sebuah jemari meraih jemarinya. Nasya spontan mendangak.


"Kamu sudah bangun?" Nasya masih menatap wajah Bias dan mengangguk lirih setelahnya.


"Kenapa?" Nasya lagi-lagi menggeleng.


"Yangg ...," lirih kata itu terucap. Bias masih berusaha meyakinkan Nasya.


"Aku lagi nggak mau sholat dan aku nggak mau kamu maksa aku!"


"Hmm ... Oke oke ... sorry!" Merdengar suara Nasya meninggi. Bias yang tidak ingin Nasya marah memilih mengalah.


Bias masih menyapu kepala itu, berusaha meredam kemarahan Nasya. Nasya menatap Bias tak berkedip, ia senang dengan perilaku manis Bias. Nasya senang disayangi.


Ma-af, Yang. Aku kotor! Aku malu menghadap Pencipta! Aku lebih baik nggak sholat. Aku gadis pendosa.


"Yanggg?" Panggilan itu mengaburkan angan Nasya, Nasya berusaha keras memaksa diri untuk tersenyum.


"Bii, kenapa kamu sayang aku?"

__ADS_1


"Yang, please kenapa nanyain ini, sih?"


"Jawab aja!"


"Jawabannya akan selalu sama, karena kamu orang yang membuat aku nggak bisa tidur, mengenalkan aku tentang rindu, membuat aku takut dengan kehilangan, juga membuat aku merasa ada dan berharga." Nasya tersenyum kecil.


"Tapi aku nggak pantas kamu cintai!"


"Kenapa nggak? Please dong Yang, kamu tuh aneh. Kita udah 3tahun bareng-bareng dan kamu sekarang ngomong begitu! Kamu nggak pinter bohong! Aku tau kamu tuh sayang aku!"


"Pede!"


"Iya aku pede, karena hati aku tahu cuma kamu yang ada di dalemnya dan sebaliknya hati kamu udah ada labelnya 'punya Bias' jadi yang lain cukup jadi penonton aja nggak bisa masuk ke dalem sini." Bias mengarahkan telunjuk ke dada Nasya tanpa menyentuhnya. Baik Nasya maupun Bias sama-sama tersenyum.


Kamu selalu bisa buat aku senyum, Bii .... aku seneng! Andai kamu nggak sibuk sama ekskul dan semua kegiatan kamu itu, aku pasti nggak akan jalan sama yang lain. Lelaki yang cuma mau nidurin aku dan pergi setelahnya.


Apa yang harus aku lakuin sekarang? Apa aku harus jujur sama Bias? Tapi dapat dipastikan Bias nggak respect lagi dan kemungkinan besar benci aku kalau itu sampai terjadi ...


Nggak! Aku nggak mau itu terjadi! Aku nggak mau kesepian! Aku bahagia dengan cinta Bias! Aku nggak akan ngelepas kamu, Bi. Kamu akan selalu jadi sayangnya aku! Masalah kehormatan aku .... toh kamu juga nggak tau. Aku juga nggak akan hamil. Ya, walau aku telat minum pil itu, tapi aku udah langsung minum beberapa butir. Aku nggak akan hamil!


Nasya seketika mendekatkan tubuhnya dan memeluk Bias.


"Yang?"


"Aku sayang kamu, Bi. Aku akan lebih pengertian sama setiap aktivitas kamu! Aku nggak mau kamu pindah ke lain hati!"


Bias mengangguk.


"Terima kasih! Aku juga akan lebih care sama kamu!"


..._________________________________________...


🥀Happy reading😘


__ADS_1


🥀Nasya


__ADS_2