
..."Hal yang tak ternilai dalam kehidupan adalah keharmonisan dan kebersamaan dalam keluarga!" (Zee)🥀...
"Ibu, kenapa ibu ajak kak Bias ke rumah kita sih?"
Setelah Bias masuk ke dalam kamarnya untuk beribadah, Zee mendekati ibunya yang sedang merapihkan bantal-bantal di sofa kayu di ruang tamu.
"Kamu kenapa sih, Zee. Ini juga, ganti baju doang bukannya mandi sekalian sana!"
"Ibu ... Zee serius! Ngapain ibu ajak-ajak kak Bias ke rumah kita? Kalau penyamaran Zee ketahuan gimana? Untung tadi Zee langsung lari duluan pulang dan langsung singkirin foto-foto Zee, kalau nggak__ pasti kak Bias tau semuanya."
"Itu kan urusan kamu, bukan urusan ibu!"
"I-buu ... kok gitu sih? Ibu tuh harusnya melindungi Zee!"
"Melindungi dari apa?" Zee mengerucutkan bibir dan bergeming. Ia bingung juga menjawab tanya Farah.
"Eh Zee, jujur aja deh, kamu sebetulnya seneng kan kak Bias i-tu mampir ke rumah kita?" Farah menarik alisnya menggoda Zee, wajah Zee seketika merona.
"Apaan sih i-bu ...?"
"Ibu kan pernah bilang, anak itu__ walau menyembunyikan sesuatu dan nggak cerita sama ibunya, ibunya bisa tau!"
"Ihh ibu, sok tau banget!"
"Biarin! Habis anaknya nggak mau cerita sih! Ibu tuh merhatiin kamu yang diam-diam ngeliatin kakak basket itu. Muka kamu nggak bisa bohong kalau kamu su-ka sama Bias!"
"I-buu!"
"Huss diem! Noh pangeran udah ke luar kamar." Zee melirik ibunya dan diam seketika. Ya, beberapa saat lalu, Farah memang menyuruh Bias sholat di kamar Zee. Kini Bias sudah selesai beribadah dan menuju ruang tamu tempat Zee dan ibunya berada.
"Tante," sapa Bias sambil mengangguk.
"Duduk! Duduk dulu, Bias. Bias kan tadi nama kamu?" Bias mengangguk.
"Bagus namanya, unik." Ibu terus saja bicara tak terjeda, hingga terdengar ucapan salam dari arah luar. Seluruh penghuni di dalam rumah termasuk Bias langsung menjawab salam itu. Farah berdiri dan membuka pintu. Tampaklah kini Joy dan Zaa yang baru pulang mengaji kaget melihat sosok asing di rumah mereka.
"Joy, Zaa, salim dulu sama temen kakak sana!" lontar Farah. Joy dan Zaa menurut dengan mata terus memperhatikan sosok lelaki dewasa sambil sesekali melirik ke arah kakaknya yang diam mematung.
__ADS_1
"Ka-k Bias, sudah selesai sho-lat ka-n? Kakak bo-leh pu-lang!"
"Zee, kamu kok begitu sih? Itu nggak sopan namanya, biarin Bias istirahat dulu, masih sore juga kan!"
"Iya kan, Nak Bias?" Ibu mengarahkan pandang pada Bias setelahnya, Bias memaksa tersenyum.
"Bias, ini adik Zee yang pertama, namanya Zola tapi kami di rumah memanggil dia Joy. Nah, kalau ini anak bungsu ibu, adik Zee yang kedua, namanya Zalikha kami biasa panggil Zaa." Bias lagi-lagi memaksa tersenyum.
"Ini pacar kak Zee ya, Bu?" tanya itu terlontar spontan dari bibir Joy.
"Eh, bukan ... bu-kan! Jangan sembarangan bicara kamu, Joy!"
"Ma-afin a-dik a-ku, Kak!" Zee langsung mengarahkan tatapannya pada Bias dan merasa tak enak hati. Bias menggelengkan kepalanya.
"Kak Bias ganteng, kak Bias jadi pacar aku aja!" Kini Zaa yang tampak berceloteh semaunya.
"Eh, ini anak masih kecil ngomong pacar-pacar! Kakak cubit, yaaa!"
"Ampun ... ampun, Kak Zee! Oh i-ya, Kakak masih hitam sih, jelek! Sana Kakak mandi yang bersih, biar kak Bias nggak takut lihat Ka____
Dengan cepat Zee menutup mulut adiknya, "Maaf Ka-k, Zaa memang senang mengejek aku!" ucap Zee, Bias tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu.
"Tapi aku nggak ngejek Kakak, kok." Dengan wajah bingung Zaa berceloteh lagi. Ya, Zaa yang sangat polos tidak paham yang terjadi sebetulnya.
"Iya, foto kakak yang di sebelah dapur juga sudah ng-gak ada!"
Joy dan Zaa saling bersahutan dengan wajah bingung. Keduanya begitu asik membahas foto Zee yang mendadak hilang padahal Zee sendiri yang tadi sudah menyingkirkan foto-foto itu.
"Oh, tadi kata ibu rumah kita mau diganti warna catnya, jadi foto Kakak dilepas dulu," lontar Zee dengan cepat.
"Kenapa diganti catnya, Bu? Inikan masih bagus, itu pemborosan!" kata Joy mendekati Farah yang tampak sibuk merapikan hasil jahitannya. Farah memilih tak menjawab daripada ia harus berbohong.
"Duh kalian mendingan belajar di kamar sana! Kalian bicara terus nanti kak Bias bingung," utar Zee menatap Joy dan Zaa sambil menaikkan dagunya ke arah kamar.
"Kakak ma-u pacaran takut kami ganggu, ya?"
"Joy, sudah Kakak bilang, kan. Dia bukan pacar Kakak, dia senior basket di sekolah Kakak!"
"Senior itu apa, Kak?" Zaa kini bertanya.
__ADS_1
"Joy, Zaa ... Kak Zee benar, kalian ke kamar dulu sana kerjakan PR!" ucap Farah sambil berjalan ke ruang tamu.
"Tuh denger kata Ibu, kalian ke kamar sana!" Mendengar perintah itu dari mulut Farah, Joy dan Zaa seketika menurut.
"Nak Bias makan malam bersama kami, yuk! Pasti Nak Bias belum makan, kan?"
"Ma-af, Bu. Saya langsung pulang sa-ja!"
"Pamali menolak rezeki lo, a-tau Nak Bias nggak suka masakan orang miskin seperti kami, ya?"
"Bu-kan begitu, Bu. Saya masih ada urusan," jawab Bias sambil menatap ke arah Zee.
"Bu, kita dilarang memaksa orang lain lho, kak Bias kan sudah bilang ada urusan!" Zee yang melihat gelagat Bias, membantu bicara pada Farah.
"Lain kali saya akan makan di sini, Bu!"
"Hmm ... begitu, ya? Ya sudahlah. Makasih banyak ya Nak, sudah antar Zee pulang tadi." Bias mengangguk sambil bernapas lega.
"Jangan bosan-bosan mampir ke sini lho, Nak Bias!" ucap Farah lagi.
"Iya iya Buu. Sana Ibu masuk aja, biar aku yang anter kak Bias ke depan!" Farah melirik Zee sambil tersenyum simpul.
"Ibu paham!" bisik Farah. Zee menggelengkan kepala.
"Kak, ma-af perilaku keluar-ga a-ku!"
"Santai aja Zee, gue seneng kok keluarga lo ramah."
"Makasih tumpangannya ta-di ya, Ka-k!"
"Sama-sama, gue juga makasih udah dibolehin sholat di rumah lo."
"Assalamu'alaikum."
"Wa-'alai-kumsalam, Ka-k ...."
Keluarga yang unik, semua bersikap apa adanya, tulus dan hangat. Hmm ... btw, Nasya lagi apa, ya? Mampir sebentar ah ke rumah dia ...
..._______________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Apa kalian masih menunggu kelanjutan kisah ini??