ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PENGHARAPAN ZEE


__ADS_3

"Bang Jo!"


"Eh ...."


Lelaki yang sebelumnya asik berbincang mengenai basket dan berbagai hal bersama kedua adik Zee, Joy dan Zaa seketika menoleh saat didengar sebuah suara memanggil namanya.


Ia menatap pancaran cantik seorang gadis yang kini berdiri di hadapannya. Gadis dengan tinggi dan garis wajah yang ia kenal namun seketika membuat jantungnya seakan berloncatan tak menentu tatkala raganya kini muncul dengan warna berbeda, putih.



"Kak Jo, Kakak kenapa nggak kedip?"


"Kak! Jangan lihat kakak aku seperti itu!" Setelah Zaa berceloteh, Joy kini ikut menimpali.


"Eh, iya. So ... sorry ...! Eh."


Setelah menyahut ucapan Zaa dan Joy, Johan menghadap ke arah Zee. "He-i, Zee____


Johan menyapa Zee dengan terbata, sosok yang biasanya enjoy dan santai berhadapan dengan siapapun mendadak gugup. Ia berkali-kali menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal sambil tak mengalihkan wajahnya dari wajah Zee.


"Bang Jo, a-ku aneh, ya?"


"Cantik! Eh sorry, mak-sud gu-e__ lo beda." Johan tersenyum. Zee mengambil posisi duduk di ruang tamu pula setelahnya.


"Kak Jo suka kak Zee."


"Ah, he ... bu-kan, bukan be-gitu!"


"Kalian berdua jangan asal bicara! Sudah semua masuk kamar sana! Tuh lihat sudah jam setengah 9 malam."


"Kak Jo nggak pulang?" Bukan langsung masuk kamar, Zaa berceloteh lagi, membuat Johan tak enak hati.


"Eh iya aduhh sampe lupa nggak lihat jam, iya nih sudah malam kak Jo harus pulang. Nanti kalau lain kali kak Jo ke sini, kakak janji akan ajari kalian basket!"


"Yeaaa ...." Zaa langsung berteriak.


"Bener lho Kak, jangan bohong!" timpal Joy.


"Iya dong, ini Sya Allah. Eh bunda mana? Kakak mau pamit."


"Sebentar Zaa panggil ibu." Farah yang sebelumnya sedang menjahit orderan pouch untuk suvenir pernikahan di kamarnya tampak keluar.


"Udah mau pulang, Nak Jo?"


"Iya, Bunda."


"Eh Zee, sampai lupa kan, nggak ditawari makan temannya tadi."

__ADS_1


"Nggak usah, Bunda. I-ni sudah malam."


"Oh begitu, ya. Ya sudah makasih ya sudah mau main ke gubuknya Zee."


"Ah Bunda bisa aja. Sama-sama, Bunda. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Zee anter bang Jo dulu, Bu."


"Iya," jawab Farah. Farah menghadap ke arah dua anaknya yang lain setelahnya.


"Zaa, Joy, buku PR-nya cek lagi ya, nanti ibu koreksi!"


"Iya, Bu."


_______________________


"Jadi Bias pernah ke rumah lo juga?" tanya Johan saat keduanya berada di luar. Keduanya sudah berdiri di samping motor Johan, tapi Johan agaknya masih ingin berbincang.


"Iya pernah, Bang."


"Wow, keren dong yayang pujaan hati pernah mampir," ucap Johan yang diam-diam sejak tadi terus mencuri pandang Zee.


"Waktu itu ada insiden kecil, jadi kak Bias antar aku."


"Orang di sekolah yang tau baru bang Jo!" Jo mengangguk-angguk.


"Waktu SMP lo begini juga?"


"Nggak."


"Hmm ... Yaudah, gue pulang."


"Bang Jo jangan lupa udah janji jaga rahasia ini!"


"Iya. Eh, besok mau ke sekolah bareng nggak?"


"Hah?"


"Iya, gue ada kuliah pagi besok, kita kan sejalur, gue jemput dan gue anter lo ke sekolah gimana?"


"Ng-gak usah, Bang. Terima kasih. Aku naik angkot aja."


"Ohh. Yaudah deh. Assalamu'alaikum, Zee ...."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


__________________


Esok paginya, berita kemenangan Tim Basket putri langsung tersebar di sekolah. Pada upacara seluruh Tim diminta maju ke depan. Kepala sekolah mewakili seluruh guru dan murid melontarkan rasa bangganya dan mengapresiasi kemenangan itu. Zee yang sudah terkenal sebab kemenangannya di even lomba matematika kini makin dikenal setelah ia termasuk dalam tim basket putri yang membawa piala kemenangan pertama kalinya ke sekolah itu.


Berhubung even lomba sudah berakhir, maka latihan basket yang sebelumnya diadakan setiap hari kini tidak diadakan lagi. Latihan ekstrakulikuler kembali normal hanya diadakan setiap hari Minggu, sedang kegiatan di sekolah hanya ada kegiatan belajar mengajar saja.


Seminggu akhirnya berlalu. Hati Zee kian tak menentu, ia sungguh menunggu respon Bias atas surat yang diberi. Bukan tidak pernah ia bertemu Bias di sekolah, tapi reaksi biasa Bias yang membuat Zee bingung. Bias bersikap seolah tak pernah ada ikatan hati diantara keduanya. Cuek dan santai saja berhadapan dengannya, tak pernah membahas mengenai surat terlebih perasaannya pada Zee. Zee sering melihat Bias di kejauhan, Bias yang kini sibuk dengan persiapan kegiatan LDKS yang akan diadakan seolah mengabaikan surat pemberiannya.


Nasya menjalani hari-harinya dengan normal di sekolah. Ia kini giat belajar, sebagai luapan penyesalannya pada kedua orang tuanya, Nasya ingin menunjukkan prestasinya. Nasya juga kini menjaga jarak dari Helen, ia sudah memutuskan melupakan hal buruk yang terjadi, termasuk menjauhi orang-orang yang berhubungan di dalamnya.


Nasya kini memahami Bias dengan setiap kesibukannya di OSIS. Bias juga lebih care pada Nasya. Bias akan selalu ada jika Nasya membutuhkan dirinya. Jika tidak ada aktivitas sepulang sekolah, Bias dan Nasya sering jalan dan menghabiskan waktu bersama. Sebaliknya jika Bias sibuk, walaupun sekedar mampir sesaat, Bias akan luangkan waktu main ke rumah Nasya menemani kekasihnya itu.


Reno benar-benar menghilang dan Nasya sudah tidak mempedulikan itu. Ia ingin hilangkan sosok Reno, seperti halnya Reno yang hanya mengambil manfaat darinya dan pergi.


Seminggu ini sudah 3x Johan menampakkan wajah di rumah Zee. Johan senang berbaur dengan kedua adik Zee yang polos dan apa adanya. Johan mengajari Joy dan Zaa basket di lapangan dekat rumah Zee. Zee sering ikut dan merasa terhibur dengan perilaku Johan yang menyenangkan.


___________________


Hari itu di kelas 10 IPA 1. Seperti biasa Siska dan Ayu langsung menodong jawaban PR Zee. Zee dengan sukarela memberikan jawabannya. Zee bahagia memiliki Siska dan Ayu sebagai sahabat, karena dibalik sifat mereka yang seolah memanfaatkannya untuk mendapat jawaban tugas, mereka adalah orang-orang yang tak membedakannya dan menerima kekurangan wajah jeleknya.


"Zee ... lo lihat apa sih? Menghadap jendela terus?" Kedua sahabat kini melihat arah pandang Zee dan saling berpandangan setelahnya. Keduanya menelan saliva kasar saat menyadari siapa yang diperhatikan Zee, Bias.


"Zee, udah sih jangan lihat kak Bias terus!" utar Siska.


"Iya, Zee. Ngapain juga mikirin orang yang nggak mikirin kita," tambah Ayu.


"Kalian inget nggak, kak Bias pernah kirim surat cinta ke aku? Aku bingung, kadang kak Bias begitu perhatian ke aku, tapi kenapa dia nggak pernah nyatain rasanya, ya?"


"Zee, please jangan bahas surat itu! Masih banyak cowok lain! Jangan kak Bias!"


"Kalian kenapa sih, jelas kok di surat i-ni kak Bias suka aku." Zee mengeluarkan sebuah amplop pink dari dalam tasnya yang tentunya sudah diketahui Ayu dan Siska.


"Ya, ampun Zee ... lo masih simpen surat itu?" Wajah Ayu menyernyit menatap Siska, ada rasa bersalah ia rasa.


"Sini Zee suratnya! Buang aja! Itu pasti surat dari orang iseng, bukan dari kak Bias!"


"Iya, lupain surat itu, Zee!"


"Kalian apaan sih, kalian nggak tau aja, kak Bias itu care sama aku, dia beberapa kali juga Anter aku pulang, kak Bias nggak malu bonceng aku!"


"Zee ...."


Ayu dan Siska hanya saling berhadapan tanpa berani mengutarakan yang sesungguhnya. Mereka menyesal, tapi sayangnya menyesal itu mudah tapi imbas setelahnya akan selalu ada. Mereka tak tahu jika Zee sudah mengambil langkah besar dan membalas surat itu tanpa sepengetahuan mereka.


...________________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Terima kasih dukungannya selalu❤️❤️


__ADS_2