ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
SIKAPI DENGAN KELEMBUTAN


__ADS_3

Adzan Maghrib berkumandang 30 menit yang lalu. Di kamar isolasi tampak semua raga yang baru selesai menjalankan ibadah itu mematung, Nasya dan kedua orang tuanya, juga Bias bersama kedua orang tuanya pula.


Utari dan Keenan kompak menatap Nasya yang sejak kehadiran kedua orang tua yang selama ini selalu sibuk dengan aktivitasnya terus menangis seakan air mata itu tak ada habisnya. Utari tampak duduk di tepi ranjang diam seribu bahasa, sedang Kenan berdiri di sisi ranjang tanpa suara pula. Rasa marah tentu mereka rasa, tapi mencari penyelesaian adalah hal utama yang berusaha mereka fikirkan.


Dona dan Libra duduk bersebelahan di sofa. Keduanya tampak santai menatap pemandangan di hadapannya. Mereka tenang dan merasa tak berhubungan dengan keadaan Nasya, toh bukan Bias pelaku sebenarnya. Mereka di sana hanya mendampingi putra mereka yang masih enggan diajak pulang dan masih ingin memberi support Nasya. Mereka yang sangat tahu besarnya rasa sayang Bias pada Nasya berjaga jika putranya itu terbawa empati berlebih dan mengambil keputusan yang merugikan Masa depannya sendiri.


Bias yang melihat kedua orang tua Nasya hanya terdiam sejak tadi kini mendekat. "Om, Tante, izinkan Bias mencari pelaku yang menghamili Nasya!" lugas kalimat itu terucap. Libra yang mendengar penuturan putranya seketika berdiri.


"Jangan sok pahlawan Bi, duduk! Biar mereka mencari jalan untuk anak mereka sendiri!"


"Tapi, Pa___


"Papa benar, Bi!" sela Dona. Bias langsung diam.


Kenan melirik Bias. Walau ia tadi sempat terbawa emosi, namun sejak dulu ia sudah menyukai pribadi Bias. "Papamu benar! Anak ini saja yang begitu murahan, sembarangan memberikan kehormatannya! Memalukan!"


Tangisan Nasya semakin pecah. Ia sadar sudah merusak masa depan juga nama baik kedua orang tuanya. Ia menangis sambil sesekali melirik Bias. Nasya sangat ingin Bias memahaminya. Ya, Nasya tahu selama ini hanya Bias lah orang yang tulus menyayanginya.


Bias yang berdiri di sisi Kenan melihat pancaran mengiba Nasya lagi-lagi tidak tega. Ia mendekati ranjang Nasya dan menggenggam jemari itu.


"Jangan takut! Anak kamu akan punya ayah!"


"Bias!"


"Pa, Bias tahu kekhawatiran Mama dan Papa. Tapi Bias merasa memiliki tanggung jawab juga pada Nasya!"


"Tanggung jawab apa? kamu bukan ayah bayinya, Bi!"

__ADS_1


"Tapi kejadian itu terjadi saat Nasya masih menjadi kekasih Bias!"


"Anakmu sudah tidak waras, Ma! Dia dihianati, tapi mati-matian mencari solusi untuk orang yang menghianatinya! Stop menjadi bodoh, Bias! Ayo pulang!"


"Nggak, Pa!"


"Bi, jangan keras kepala, Sayang! Turuti Papa!" lirih Dona.


"Yang, ja-ngan per-gi!"


"Pulang saja Bias! Om yang akan mencari lelaki baji*ngan itu!"


Bias menatap Nasya sekilas. "Bias akan temani, Om! Kita akan dapatkan bersama lelaki yang telah merusak kehormatan orang yang kita sayang!"


Libra menggelengkan kepala. "Hah, anak keras kepala! Jika Bias berkeras ikut mencari, aku akan ikut juga!"


"Terima kasih, Mas!" ucap Keenan, Libra membuang wajah.


Nasya bukannya menjawab justru memalingkan wajah. Ia masih ingat bagaimana Reno memberinya pil pencegah kehamilan. Ia sedih dan sangsi Reno akan bertanggung jawab.


"Jawab Nasya!" teriak Utari.


"Mbak, Mbak ... jangan keras! Nasya sedang terpukul, tanya dengan baik!" Dona yang sejak tadi iba mendekat dan mengusap-usap kepala Nasya.


"Nasya sayang, semua di sini sayang Nasya, kami tidak akan membiarkan Nasya menghadapi ini sendirian. Untuk mempermudah segalanya, sekarang Nasya bilang ya, siapa lelaki itu." Dona berucap dengan sangat lembut. Nasya merasa terharu dengan perilaku Dona, ia spontan memeluk Dona.


"Terima kasih, Tan-te!"

__ADS_1


Utari terdiam, ia menyaksikan segalanya, ada rasa sedih dia rasa karena Nasya bisa dekat dengan Dona. Tapi ego Utari terlalu tinggi. "Jangan manja, Nasya! Tinggal menyebut nama saja susah!" pekik Utari membuat Nasya semakin menenggelamkan wajahnya pada dada Dona. Nasya bahkan takut dan tidak nyaman pada ibunya sendiri.


"Jaga bicaramu Tari, harusnya kamu belajar bersikap lembut dalam situasi seperti ini!" decih Kenan.


"Kamu menyalahkan aku, Mas?"


"Tentu tidak, tapi melihat perilaku mbak Dona aku seketika sadar, kita harus segera menemukan penyelesaian semuanya dan psikis Nasya perlu kita fikirkan juga!"


"Sama saja kamu menyalahkan aku, Mas! Kalau kamu menyalahkan aku, kamu fikirkan di mana kamu selama ini, meninggalkan keluarga demi berbakti pada masyarakat bawah. Ingat! Nasya juga tanggung jawab kamu, Mas!"


"Bicaramu ke mana-mana!"


"Memang begitu, kok!"


"Tapi memang peran suami mencari nafkah untuk keluarga! Sedang kamu, peran kamu harusnya lebih banyak di rumah untuk anak-anak!"


"Lho, kamu nggak pernah mempermasalahkan karirku selama ini! Kenapa kamu tiba-tiba membahas ini!"


"Karena nyatanya Nasya kesepian____


"Sudah! Sudah ...! Ma__ Pa___!" Nasya menutup kedua telinganya. Dona mendekap kuat tubuh yang ketakutan itu.


"Menurutku besok saja kita cari lelaki itu! Biar Nasya malam ini beristirahat dengan tenang," utar Libra. Bias mengangguk. Ia menatap wajah papanya. Papanya yang keras kini sedang menjaga dirinya. Bias paham itu. Pun ia juga bahagia Libra memikirkan kondisi Nasya.


...__________________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Ayo berikan komentar terbaik kalian❤️


🥀Terima kasih yang selalu menanti kelanjutan kisah Bias dan Zee😍🙏🙏


__ADS_2