ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TEMAN BARU


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Sayang."


"Wa'alaikumsalam, Yang."


"Yang ... kamu dimana? Ada jawaban kok aku gak lihat kamunya?"


"Hai Sayang, muach ... muach ... muach. Maaf aku sambil siap-siap ya, Yang!"


Zee beberapa saat lalu memang menjawab panggilan video Bias tapi langsung meletakkan ponselnya bersandar meja di samping ranjang. Ia tampak mondar-mandir kini menyiapkan isi tasnya sambil sesekali menghadapkan wajahnya ke ponsel.


"Mau diapain rambut kamu, Yang?" tanya Bias melihat Zee menyisir rambutnya dan membaginya menjadi dua bagian.


"Disuruh kuncir 2, Yang!"


"Duh, istri aku kayak anak kecil aja!"


"Iya nih, aku lagi ospek, Yang. Tau gak, aku berasa jadi Zaa." Zee tertawa sambil kini memberi pelembab di wajahnya.


"Harus dandan apa, Yang?"


"Biar gak pucet!"


"Heh tunggu-tunggu! Lipstiknya warna apa itu?" tanya kembali Bias sesaat Zee ingin memberi warna bibirnya.


"Nude, Yang! Nggak mencolok kok!" Zee setelahnya terlihat di tepi ranjang menggunakan ketsnya. Bias terus tersenyum kini melihat penampilan istrinya dengan kaos putih berlogo kampusnya, celana jeans, dan rambut kuncir dua dengan pita putih itu.


"Yang, kita lanjut ngobrolnya setelah aku pulang, ya! Aku harus berangkat ini!"


"Kok pagi banget sih, ini masih setengah 6 loh, Yang!"


"Jam 6 aku harus udah di Kampus, Yang! Udah dulu ya, Yang! Sorry! Love you, Yang. Muach. Assalamu'alaikum."


Seketika panggilan terputus.


"Wa'alaikumsalam," lirih Bias menjawab salam Zee, ia menggelengkan kepala dan tersenyum setelahnya.


Baik-baik ya, Yang ... love you too, Yang ... Ayo Semangat Bias!


_____________________


"Na-ma kamu siapa? Boleh aku i-kut ber-gabung?" Seorang gadis dengan kuncir dua juga tampak mendekati Zee yang tengah menyantap makan siangnya.


Setelah berbagai aktifitas fisik yang dimulai dari pukul 6 dan dilanjut dengan berbagai game kekompakan yang diadakan para mahasiswa senior jurusan hukum kepada maba (mahasiswa baru) yang berjumlah total 80 orang itu akhirnya mereka diberikan waktu untuk beristirahat. Ya, waktu memang sudah menunjukkan pukul 12 bertepatan dengan jam makan siang.


Zee menatap lekat gadis manis yang sepertinya masih baru lulus SMA tahun ini terlihat dari cara memandang dan bicaranya yang masih takut-takut, juga wajahnya yang polos tanpa make up.


"Hei, nama aku Zee, Zivanya. Nama kamu siapa? Sepertinya bukan asli Jogya juga, ya?" utar Zee sambil memasukkan nasi ke mulut.


"A-ku Risya. I-ya betul aku bukan asli sini. A-ku merantau. Ke-luargaku asli Lampung."

__ADS_1


"Oh, kita sama berarti. Keluargaku di Jakarta. Aku juga merantau. Eh, kamu kok nggak makan?" ucap Zee melihat Risya hanya duduk tanpa memesan apa pun.


"A-ku ... aku sudah makan ba-nyak tadi pagi, Zee. Masih kenyang." Zee mengangguk-angguk.


"Oh ya, di Jogya ini kamu tinggal sama siapa?" tanya Zee setelahnya.


"Aku ngekos."


"Kos di mana? Aku juga kos," jawab Zee. Terlihat mata Risya berbinar saat mengetahui Zee juga tinggal di tempat kos sepertinya. Risya merasa memiliki teman senasib dan seperjuangan. Ya, keduanya memang jauh dari orang tua dan siapa pun. Seperti halnya Risya, Zee juga merasa senang mendapat teman pertama di kota yang baru untuknya itu.


"Kos-an aku yang berjejer bercat kuning di jalan Maharani," ucap Risya.


"Kos-an aku juga di jalan Maharani, aku kos di 'Pondok Putri'. Kos-an aku yang terlihat seperti rumah bercat biru," jelas Zee.


"Oh itu aku tau, aku pernah ke sana juga waktu cari kos sama bapak, tapi kos-an itu mahal. Bapakku gak sanggup bayarnya." Seketika ada rasa iba saat Zee mendengar ucapan Risya. Iya pernah mengalami itu, merasakan itu. Sekarang hidup Zee terbantu juga karena ada Bias, Bias yang berjuang memperbesar bisnisnya, Bias orang yang tekun dan kini menjadi penopang hidupnya, lelaki yang memfasilitasi cita-citanya.


"Eh, aku duluan ya Ris, aku belum sholat!"


"Iya. Oh ya Zee!" panggil Risya seketika.


iya?"


"Nanti pulang bareng, yuk!"


"Boleh."


Beberapa saat setelahnya Zee sudah selesai menjalankan ibadah. Zee mengambil foto selfie dan mengirimkannya pada Bias. Tak menunggu lama Bias mengirim pesan.


📤Kamu sama siapa tetapi?


📥Mama. Dia maksa nganter.


📤Bagus kalau begitu, kamu nggak sendirian!


📥Iya juga. Tapi aku merasa seperti anak kecil.


📤Positif aja. Oh ya, aku harus ke kelas, tadi ada tugas membuat Essai dan aku belum selesai. Bye Yang, muach."


_____________________


Di jam pulang, seperti janji keduanya Zee dan Risya pulang bersama. Keduanya terus mengobrol mengenai kehidupan keluarga mereka sepanjang perjalanan. Jarak kampus dan kosan keduanya memang terbilang dekat, ya sekitar 100 meter dan mereka memilih berjalan kaki saja.


Ternyata benar dugaan Zee, Risya baru saja lulus SMA, dia anak bungsu dan terbiasa dimanja. Kini bertemu Zee ia merasa senang, Risya yang dua hari yang lalu merasa bingung bagaimana bersosialisasi dengan teman baru kini ia merasa nyaman berbincang dengan Zee.


"Ini kosan aku Zee!" ucap Risya saat bangunan bertingkat bercat kuning dengan banyak kamar berjejer itu berada di hadapan mereka.


"Banyak ya kamarnya, rata-rata anak kuliah seperti kita juga kah yang tinggal?"


"Aku belum banyak kenal tetangga aku Zee. Aku baru datang 3 hari lalu dan aku sibuk mengurus beasiswa di kampus. Dua hari Kemarin aku juga melihat kamu dengan ayah kamu kayaknya, makanya tadi aku berani sapa kamu. Karena kamu penerima beasiswa juga seperti aku." Zee tersenyum.

__ADS_1


"Iya, saat itu aku memang ke Kampus bersama ayah dan kemarin ayah sudah kembali ke Jakarta. Baik, aku duluan ya Ris. Hampir ashar juga. Sampai ketemu besok!"


"Bye Zee ...."


_____________________


"Sayang ... Bagaimana hari ini? Sudah mulai ada teman yang kamu kenal?"


"Iya ada. Dia asal Lampung, Yang. Baru lulus SMA. Dia ngekos gak jauh dari tempat kos aku!"


"Hmm, seneng dengernya."


"Sekarang kamu yang cerita terapi kamu tadi, juga tentang Kafe kita!"


"Kafe kita seperti biasa Alhamdulillah ramai, Yang. Mama ikut ke Kafe juga tadi."


"Dan terapi kamu?"


"Jujur aku agak takut mulai berjalan tanpa tongkat, Yang. Tapi aku akan berusaha lebih keras lagi. Tadi aku juga diminta Rontgen sama dokter dan hasilnya tulang aku katanya udah bagus dan sudah bisa untuk berjalan."


"Oh ya? Semangat Sayang! Ini terapi pertama kamu untuk berjalan tanpa alat, normal kalau kamu khawatir dan masih takut. Jangankan kamu, aku aja mbayangin tulang yang patah disatuin agak ngeri dan kini harus dibuat jalan."


"Terima kasih, Yang! Aku akan mengusahakan yang terbaik!"


"Santai, Yang! Yang terpenting mental kamu dulu yang harus melawan rasa khawatir dan takut kamu."


"Kamu bener banget, Mama juga ngomong begitu tadi. Coba kamu ada di sini, Yang!"


"Yang___


"Maaf!" Sesaat Bias lupa tak seharusnya ia mengucapkan itu. Kata yang seketika muncul di otaknya saat ini. Harapannya, harapan yang harus ia pupus karena keputusan harus dipegang.


"Oh ya, kata kamu besok pak Alaric mau dateng ke Kafe pagi-pagi, kan? Kita tidur ya, Yang!"


"Kamu udah sholat?"


"Udah."


"Iya aku juga udah. Ahh Yang ... aku kangen banget sama kamu."


"Baru 4 hari loh, Yang! Belum 4 tahun."


"Jangan sampai 4 tahun dong, Yang!" Zee tersenyum.


"Tidur, Sayang! Kamu peluk aja guling dan bayangin itu aku!"


"Ahh, kamu tuh! love you, Yang! Nice dream!"


..._____________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘😘


__ADS_2