
Sepasang insan masih saja terpaku. Matahari yang menyingsing, desir angin, pemandangan indah sekitar juga sepasang mata yang sejak tadi menatap heran di kejauhan menjadi saksi pertemuan keduanya. Ia yang ditinggalkan duduk sendiri di kejauhan hanya bisa menatap diam dengan asumsi otaknya. Menatap sepasang insan berhadapan yang sepertinya belum juga bicara padahal menghitung menit dipastikan langit akan gelap.
Johan duduk di hadapan Zee. Ia menatap lagi wajah cantik yang mendiami hatinya, namun telah tega memilih yang lain. Bibir itu memang mudah berkata ikhlas tapi sejatinya membuang sosok yang pernah mengisi hati tak akan semudah membalik telapak tangan. Hati itu jelas perih, wanita yang dijaga berlalu ke hati lain. Tapi ia sadar tak bisa memaksa. kini sosok yang selama ini ia hindari entah mengapa sore menjelang malam itu masuk ke toko retailer yang diembannya. Ia kaget tentu saja. Terlebih setelah panggilan yang ia lakukan sang gadis menoleh, itu benar namanya, itu dia. lelaki itu tak salah.
Zee kaget, lelaki yang pernah begitu tulus mencintainya tiba-tiba terlihat muncul di hadapan. Rasa bersalah itu tentunya masih ada. Tapi bagaimana lagi, saat itu bahkan hatinya tak bisa dipaksa. Berusaha keras mencinta nyatanya tetap tidak bisa. Ia memang salah tidak bisa tegas itu benar. Tidak bisa menolak sejak awal dan seolah memberi harapan. Ia yang akhirnya menerima pernyataan cinta sang lelaki namun berpaling setelahnya saat sang pemilik hati kembali muncul. Ia yang sadar sudah menyakiti kini tak bisa menolak saat sang lelaki mengajaknya berbincang. Sebuah Kafe tak jauh dari retailer berada menjadi pilihan. kursi berhadapan berada di rootroof menjadi tempat keduanya duduk saat ini.
"Apa kabar?"
Tanya itu akhirnya terlontar dari bibir Johan. Ya, sejak tadi hati itu bimbang mencari kata yang paling tepat untuk mengawali perbincangan setelah sekian lama keduanya tak bertemu. Sebuah cincin melingkar telah tertangkap netra, hati itu bertambah sesak, sudah jelas ikatan itu sudah terbentuk.
"Ba-ik, Bang," jawab Zee dengan degup jantung tak kalah bertalu. Ia gugup karena sadar sudah menyakiti hati dalam rongga lelaki di hadapan.
"Jadi juga akhirnya melanjutkan kuliah." Zee mengangguk. Terlihat Johan meneguk cappuchino di tangan sambil sesekali melirik wajah Zee. Tak dipungkiri ia rindu wajah itu. Rindu yang ia simpan sendirian.
"Bias juga pindah ke Jogya?" Berat pastinya menyebut nama rival yang telah merebut raga kekasih, tapi mendapat jawaban tanya yang menelisik jauh lebih penting untuk Johan.
"Nggak," jawab Zee singkat.
"Kos?" Zee mengangguk.
"Oh ya, selamat," ucap Johan tiba-tiba.
"Ah?" Sesaat Zee tak fokus dengan yang didengar, matanya membulat memastikannya ulang.
"Udah nikah, kan?" Zee tersenyum getir dan mengangguk. Ia merubah posisi tangan sebab tak nyaman melihat Johan terus menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Setelah pulang kuliah memang Bias meminta Zee memakai cincinnya.
"Long distance?" Zee mengangguk lagi. Johan tersenyum getir. "Pasti berat untuk Bias!" Zee memaksa tersenyum.
"H-mm, Bang Jo ... pe-gang toko di sini?"
"Iya, toko yang kamu datengin tadi itu tanggung jawab aku." Bibir Zee membulat.
"Oh ya, bagaimana kabar ibu, ayah, Zaa dan Joy?" tanya Johan mulai menyamankan diri.
"Ba-ik. Semua baik, Bang!" jawab Zee sambil menatap Risya yang duduk di sudut terus menatap ke arahnya.
"Oh ya, Bang. sebentar lagi Maghrib, aku pamit pu-lang!"
"Kos di mana?"
"Di situ!" Zee menunjuk arah kostnya.
"Yang kossan cat kuning atau bukan?"
"Bukan!"
"Oh," decak Johan menganggukkan kepala. Ada rasa lega di hati itu, sebab ia sering dengar kossan bercat kuning adalah kossan bebas di mana laki-laki dan perempuan bercampur baur di sana.
__ADS_1
"Jaga diri selalu! Nomor aku masih yang lama, kalau butuh sesuatu hubungi saja, tetapi setelah minta izin Bias tentunya," ucap Johan lagi.
"I-ya, Bang."
Keduanya lantas berpisah di Kafe itu. Johan berdiri di tepi rootroof dan memandang punggung Zee yang semakin menjauh dan tak terlihat. Ia membuang napas kasar. Otaknya dipenuhi tanya. Mengapa harus Jogya. Mengapa harus bertemu lagi. Hal yang ia sendiri tahu jawabnya. Ya, segala sesuatu bukan manusia yang menentukan tapi Pencipta. Zee sendiri juga tentunya tak pernah tahu Johan yang sebelumnya bertugas di Semarang kini sudah dipindahkan ke Jogya.
•
•
"Tadi itu pacar kamu, ya?" tanya Risya seketika membuat Zee menoleh cepat dan menggeleng. "Bukan!" ujar Zee.
"Tapi dia ngeliatin kamu dalem banget. Atau cinta bertepuk sebelah tangan, ya?" Zee lagi-lagi menoleh. Ia terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontar Risya. Gadis yang selama ini terlihat lugu bahkan bisa membaca raut wajah Johan. Zee tersenyum getir.
"Dari senyum kamu pasti jawabannya iya."
"Eh." decak Zee sambil tersenyum kaget.
"Kenapa kamu nolak dia? Kamu punya gebetan lain, ya?" Suara itu terdengar polos tapi tebakannya selalu benar. Zee akhirnya mengangguk.
"Padahal aku cuma nebak-nebak aja lho, eh bener," ucap Risya membuat Zee kini tersenyum.
"Aku seneng lho kalau kamu mau berbagi cerita. Ngelihat kalian tadi aku tuh jadi penasaran sama hubungan kalian."
Zee menatap wajah Risya sesaat sebelum akhirnya memutuskan bercerita. "Hmm .... Dia itu pelatih basket aku waktu SMA. Maaf aku gak bisa cerita banyak, intinya aku udah nyakitin dia. Dia lelaki baik." Zee menunduk, jelas rasa bersalah itu masih ada. Rasa yang terbingkai harap agar Johan cepat menemukan pengganti dirinya. Berfikir pengganti seketika otak Zee langsung dipenuhi tanya.
__________________
Adzan Maghrib terdengar berkumandang saat bangunan bercat biru berada di hadapan Zee. Zee sudah sampai kossannya. Tak menunggu lama ia membuka pintu. Dua orang penghuni kossan tampak sedang duduk di ruang keluarga di mana ada televisi besar di sana, sedang satu orang sedang memakai sepatu sepertinya ia hendak ke luar.
"Baru pulang belanja, Zee?" tanya seorang penghuni kamar ramah.
"Iya, Mbak."
"Nanti malam kita-kita mau ngumpul di kafe Wong Deso di ujung jalan itu kamu mau ikut?" ucap wanita bertubuh pendek dan sedikit berisi itu, ia bernama Lastri berusia sekitar 25 tahun. Ia perantauan Semarang, kuliah di UGM juga mengambil jurusan kedokteran hewan.
"Maaf nggak, Mbak. Aku di kamar aja!"
"Nggak bosen kamu? Atau mau ada yang dateng ngapelin malem Minggu?"
"Eh, nggak Mbak." Mbak Lastri mengangguk-angguk.
"Yaudah kalau nggak mau ikut. Tapi mbak pesen aja, kalau ada cowok yang deketin kamu jangan langsung mau aja, harus hati-hati. Nggak semua yang terlihat baik itu baik," lontar mbak Lastri lagi. Zee mengangguk, tapi dalam hatinya terus tersenyum.
Cowok? Nggak lah, Mbak! Aku juga sudah bersuami.
Batin Zee.
__ADS_1
Zee masuk kamar setelahnya, membersihkan badan dan langsung bergegas melaksanakan sholat. Setelahnya Zee merebahkan diri ke ranjang sambil memeriksa pesan masuk di ponselnya. Ada banyak chat ternyata, dari ibunya, mama Dona dan Bias tentunya. Zee menjawab tanya orang-orang tercintanya satu persatu. Hingga akhirnya ia pun menjawab tanya Bias yang menanyakan apakah ia sudah pulang atau belum.
📤Aku pulang Maghrib tadi, Yang! Maaf baru ngabarin. Kata ibu, kamu mau main ke rumah, ya?
Zee mengirim ketikan tersebut dan tak menunggu lama sebuah panggilan video seperti biasa diterimanya. Bias memang tipikal malas mengirim pesan, ia lebih senang langsung menelepon atau melakukan panggilan video. Seperti saat ini contohnya, mengetahui Zee sudah di rumah tak membuang waktu Bias langsung melakukan panggilan.
"Sayang ... belanja apa saja tadi?" tanya Bias seketika.
Zee dengan cermat menjelaskan apa saja yang tadi dibelinya plus berbagai mie kemasan berbagai rasa ia sebutkan pula.
"Aduh, kok banyak banget beli mie instan sih, Yang."
"Iya, habis kalau masak cuma dimakan sendiri mending yang gampang aja, yang penting pakai nasi, kenyang deh."
"Kamu tuh! Oh ya, Risya temen kamu belanja juga? Dia belanja apa aja?"
"Belanja tapi nggak banyak. Aku mau bayarin sekalian tapi dia nolak." Bibir Bias terlihat membulat.
"Terus ada kejadian apa lagi saat jalan-jalan tadi?" Bias yang terlihat sedang berada di lantai atas Kafenya menampilkan wajah antusias menunggu jawab Zee.
"Hmm____
"Kayak ragu gitu mau cerita, pasti ada sesuatu yang terjadi deh!"
"Kamu lama-lama kayak pakar telematika, Yang," ucap Zee tersenyum getir, ia agak ragu menceritakan tapi ia tak ingin menyembunyikan apa pun pada suaminya.
"Yaudah cerita dong!'
"Tadi aku gak sengaja ketemu seseorang____
"Siapa?"
"Dia____
"Yang?"
"Hmm ... Di-a ba-ng J-o, Yang!"
"Hah? Bang Jo?"
..._____________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Semoga kalian masih nunggu cerita ini yaa❤️❤️
__ADS_1