ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
PERTEMUAN SAHABAT LAMA


__ADS_3

Pukul 7 malam saat dua raga paruh baya masuk dengan tergesa. Keduanya langsung menuju meja resepsionis dan bertanya perihal pasien bernama Bias yang siang tadi menjadi korban kecelakaan dan dibawa ke Rumah Sakit itu.


Wanita resepsionis tampak menelepon pesawat lain dalam Rumah Sakit tersebut dan menulis sesuatu di kertas. Setelahnya ia menatap pasangan yang berdiri dengan rahut cemas di hadapannya.


"Apa Bias yang Bapak Ibu maksud bernama lengkap Bias Putra Samudra?" tanya resepsionis ramah.


"Betul, betul Mbak. Itu nama anak kami!"


"Kalau benar nama itu. Orang yang Bapak Ibu cari memang di rawat di Rumah Sakit ini dan saat ini sedang menjalani operasi."


"O-pe-rasi? Operasi apa Mbak? Di lantai berapa ruang operasi berada?" tanya Farah dengan cepat.


"Di lantai 3, Bu."


"Baik, terima kasih banyak, Mbak. Kami akan ke sana."


_________________


Baru ke luar lift, netra Farah langsung menemukan wajah putrinya. Ia bersama Farid seketika mendekati Zee yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Beberapa saat lalu memang Dona bergantian menjalankan ibadah, Dona yang berpikir Zee pasti belum makan, mampir ke mini market Rumah Sakit membeli biskuit dan beberapa roti untuk Zee.


Libra sendiri menyusul pengacaranya ke kantor polisi. Ia yang mengetahui dari pengacaranya sopir truk galon nyatanya mengemudi saat mengantuk merasa geram dan ingin memberi pelajaran pada sopir itu atas kelalaian yang membuat anaknya cilaka.


"Zee!" panggil Farah seketika yang membuat Zee langsung berdiri. Keduanya langsung berpelukan menguatkan satu sama lain.


"Ibu ... terima kasih sudah datang!" lirih kata itu terucap. Zee yang sejak tadi menahan air matanya tidak tumpah kini dalam pelukan ibunya bulir itu tak dapat dibendung.


"Iya, Sayang. Sudah sudah jangan menangis!" Farah merenggangkan pelukannya, ia menghapus air mata Zee. "Bagaimana kondisi Bias sekarang?" tanya Farah setelahnya.


"Kak Bias masih di dalam sana, Bu!" Zee menunjuk ke ruangan dengan lampu di bagian atasnya. Zee yang merasakan usapan di bahunya seketika menoleh. Wajah itu kembali sendu melihat bayang ayahnya yang baru sembuh juga ada di sana.


"A-yah." Zee mencium tangan ayahnya.


"Berhenti menangis, Zee!" utar Farah tak ingin Farid yang melihat Zee bersedih kembali colaps.


"Aku baik-baik saja, Bu!" kata Farid tak ingin Farah khawatir.

__ADS_1


"Ma-af, Ayah! Zee akan tegar!"


"Doakan suamimu, tangisan tidak ada artinya!" lugas Farid. Ketiganya tampak bercengkrama setelahnya sambil menunggu operasi itu selesai.


Di lantai bawah Dona baru saja masuk ke dalam lift, raganya memang berjalan ke sana ke mari tapi otak itu tak berhenti memikirkan putranya yang masih berada di ruang pembedahan. Rasa takut hal buruk terjadi terus mampir di otaknya, namun seketika Dona enyahkan. Ia tidak mau berasumsi dan menduga-duga. Ia memilih mempercayakan semua pada dokter. Ia yakinkan di otak itu dokter akan bisa memulihkan kondisi putranya.


Pintu lift terbuka dan Dona ke luar. Dona langsung mengedar pandang mencari Zee. Dona memicingkan mata, berkali pula ia mengedipkan mata memastikan apa yang dilihatnya. Dua raga yang kini sedang bercengkrama bersama Zee memiliki wajah yang tak asing.


Jantung Dona seketika berdetak cepat. Dona merasa sesak. Ia melihat lelaki yang bersama Zee tengah menoleh. Kini ia meyakini satu hal.


"Faro!" panggil Dona seketika. Pria yang merasa memiliki nama kecil itu menoleh.


Dona!


Dona yang melihat gerak bibir itu menyebut namanya dengan cepat mendekat.


"Kamu benar Faro sahabatku?" Dona memastikan lagi. Dona agak aneh melihat rahang sahabatnya kini ditumbuhi rambut-rambut halus. Farid mengangguk datar. Dona mengusap bahu kelar itu.


"Aku senang melihat kamu lagi, Far! Maaf untuk kejadian dulu. Libra memang kelewatan dan bodohnya aku tak bisa berbuat apa pun untukmu.


"Kamu sudah membantuku! Jangan pikir aku tidak tahu bahwa pengacara bernama Boby itu adalah suruhanmu. Berkat bantuannya, hukumanku yang awalnya 5 tahun dikurangi jadi 3 tahun!"


"Sudah, lupakan saja. Toh semuanya sudah selesai kulalui!" ucap Farid.


"Kamu sahabat terbaikku. Tapi suamiku amat membencimu. Keluargamu pun ikut menderita. Andai aku tahu rasa cemburu Itu begitu besar!"


"Sudah, lupakan!"


"Hem ...." Melihat dua raga asik berbincang tak mempedulikan kehadirannya, Farah berdeham.


"Eh, he-i Fa-rah, maaf aku tidak lihat kamu," ucap Dona canggung. Farah tersenyum.


"Oh ya, dunia begitu sempit ternyata. Apa ada sanak saudara kalian dirawat di sini juga?" tanya Dona.


"Suami putri kami sedang dirawat di sini!" ucap Farah sambil mengusap bahu Zee.

__ADS_1


"Maksudmu, Ziva___


"Zee adalah putri kami."


"Benar itu, Far?" Dona menghadapkan wajah ke Farid dan Farid mengangguk. Dona begitu terkejut.


"Astaga Far, kita berbesan? Aku sangat bahagia. Jadi Ziva adalah putrimu?" Dona mendekati Zee, mengusap-usap Pipi Zee.


"Putrimu memang sangat cantik, ia mencuri hati putraku. Ahh, Sayang, Mama bahagia. Kamu ternyata anak sahabat Mama." Dona mencium kening Zee.


Dona terus bicara dengan semringahnya. Dona memang sedang bahagia bertemu sahabat lamanya dan mengetahui kebenaran tentang Zee. Namun, aktivitas berbincang seketika terhenti saat raga tegap Libra seketika muncul.


"Wah wah ramai sekali di sini? Apa sedang ada reuni, Ma?" ucap Libra dengan tatapan mematikan.


"Eh, Pa-pa." Dona mendekati Libra. "Pa, kamu tahu, ternyata kita berbesan de-ngan Fa-rid. Dunia begitu sempit, Pa. Pencipta pasti merencanakan ini untuk memperbaiki kejadian masa lalu," lirih Dona berucap.


"Cih, jangan bodoh, Ma! Semua pasti rencana lelaki itu yang ingin membalas dendam padaku! Ia menggunakan putrinya untuk membuat Bias meninggalkan kita! Trik murahan!"


"Jangan bicara sembarangan bapak Libra yang terhormat! Anak-anak bertemu dengan sendirinya. Tidak semua orang berfikir licik sepertimu!" pekik Farah. Memang itulah yang terjadi, tidak ada yang tahu Zee akan satu sekolah dengan Bias, banyak interaksi antara keduanya hingga keduanya saling membuka hati di masa kini akhirnya. Walau memang ada keinginan Farid untuk menjauhkan Bias dari Libra, tapi nyatanya kedekatan itu sudah ada. Bukan Farid atau Farah yang menyodorkan Zee untuk menggoda Bias.


"Jangan lugu, Ma! Mereka sedang menyangkal perbuatannya!


"Kami bukan orang yang pandai menyangkal sepertimu bapak Libra!" geram Farah. Farid memilih diam. Ia sadar jika ia terbawa emosi keadaannya akan memburuk.


"Ibu sudah, Bu. Tante, Zee dan Bias bertemu di sekolah tanpa campur tangan Ayah dan ibu! Zee tidak tahu hubungan masa lalu kalian! Andai pun tahu Zee akan memilih menjauh dari kak Bias. Zee juga tidak sudi memiliki mertua jahat yang menghancurkan keluarga Zee!"


"Zee, sudah!" Farid bersuara dengan lirih. "Mereka keluargamu saat ini. Jangan bicara buruk tentang mereka!" ucap Farid lagi.


"Ma-af, Pa."


"Lihat kelakuan menantumu, Ma!" Hal itu dijadikan Libra untuk memancing Dona membenci Zee. Di kejauhan Farid terus mengusap bahu Zee, ia menggeleng ke arah Dona. Menyatakan Zee tidak bersalah.


"Sudah Ma, ayo kita tunggu di sana! Gerah aku dekat-dekat dengan keluarga lelaki itu. Zee kalau kamu memang istri Bias, ikut kami!" Suara bariton Libra membuat Zee bergidik, ia kaget dan bingung. Mana mungkin ia meninggalkan orang tuanya yang sudah jauh-jauh datang untuknya.


...______________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


🥀Terima kasih supportnya selalu. Doakan bubu lancar crazy up seminggu ini❤️❤️


__ADS_2