
"Sayang sekali kalau konsep bagus disertai menu yang memanjakan lidah tidak diperluas! Saya siap berinvestasi!"
"Hah?"
Bias kaget, sesaat ia bimbang. Bagaimana pun Alaric adalah mantan investor papanya. Apa jadinya jika papanya tahu kini Alaric bekerja sama dengan dirinya setelah melepaskan kerjasama dengan Libra.
"Pak Bias! Bagaimana tawaran saya?"
"I-tu, saya akan mempertimbangkannya, Pak!" Alaric tertawa, ia baru menemukan pengusaha muda yang baru merintis menyatakan butuh pertimbangan saat ia menawarkan kerjasama.
"Anda tidak percaya saya?"
"Bukan, bukan itu! Bagaimana pun Bapak ex-insvestor papa saya. Sepertinya akan tidak baik jika saya seolah mengambil Bapak dari papa," lugas Bias.
"Kita tidak akan berhasil jika selalu menggunakan empati, Pak Bias. Mungkin jiwa anda merasa ini salah, tapi bukannya seorang ayah akan ikut bangga jika anaknya berhasil? Lagipula bukan Pak Bias yang meminta, tapi saya yang berinisiatif. Saya tentunya berhak menggandeng penguasa mana saja yang saya suka untuk saya ajak kerjasama. Saya pun berhak terikat lebih dari satu perusahaan. Oke saya tunggu kabar baik dari pak Bias!"
_____________________
"Kamu belum tidur juga, Yang?" tanya Zee merasakan Bias terus mengganti posisi tidur.
Bias bangkit. "Aku nggak bisa tidur. Sudah dua hari ini aku membuat pak Aric menunggu, tapi sampai sekarang pun aku masih belum bisa mutusin. Aku seperti rumput yang makan tanaman kalau menyetujui permohonan pak Aric. Tapi di sisi lain, ini kesempatan aku. Investor menawarkan diri, Yang! Yang ... aku harus bagaimana?" Bias terus menatap netra Zee, ia butuh saran Zee, solusi Zee, kekuatan dari Zee.
"Saran aku masih sama kayak kemarin, Yang. Aku membenarkan ucapan pak Aric. Papa kamu pasti bangga lihat kamu sukses. Kamu khawatir papa kamu marah? Lho, bukannya emang dari beberapa bulan lalu papa kamu udah marah. Lagi pula kamu sendiri yang bilang kalau yang terjadi pasti terselip hikmah, kayak kamu pergi dari rumah dan kamu jadi mandiri. Menurut aku pertemuan kita di resto sama pak Aric ya untuk ini. Sang pencipta sedang membuka jalan kamu!"
Bias terus menatap wajah Zee, ia mencerna setiap kata itu. Sudut hatinya membenarkan, tapi otaknya seolah menahan dan terus mengingatkan bahwa libra adalah ayahnya, hati Libra akan terpukul jika tau semuanya. Bias masih dilanda dilema. Ia memilih diam menatap tanpa titik pasti.
"Yang, kamu kok bengong terus, sih? Sini lihat aku aja, Yang! Kamu boleh kok natap aku! Katanya kamu suka wajah aku yang cantik. Yang____
Zee menangkup rahang Bias. Menghadapkan wajah bias ke wajahnya. Zee tersenyum setelahnya. Zee berharap senyumnya akan menenangkan Bias. Beberapa saat akhirnya Bias membalas senyum itu. Senyum yang agak dipaksakan tapi Zee memaklumi.
"Peluk aku, Yang!" lirih Bias setelahnya. Zee mendekat dan memeluk Bias erat. Zee terus mengusap kepala Bias yang begitu nyaman berada di bahunya.
"Yang ...."
"Hem?" Decak Bias.
"Kamu boleh tidur di bahu aku kalau kamu ngantuk!"
__ADS_1
"Terima kasih, tapi kayaknya mata aku belum bisa merem, Yang."
Zee meraih jemari Bias dan mengarahkan jemari itu ke asetnya. "Aku nggak suka kamu sedih, kamu boleh kok main-main i-ni, Yang!"
"Terima kasih, tapi lain kali, Yang!"
"Striker juga boleh membobol gawang lagi. Kiper malam ini pasrah," lirih Zee menggoda Bias, Bias tersenyum sekilas. Ia mempererat dekapannya.
"Striker sedang galau, lagi gak mood main bola! Mau peluk kiper a-ja!" lirih Bias. Zee mengangguk-angguk, ia terus mengusap bahu dan kepala Bias.
"Yang____
"Hem?"
"Aku ada saran mungkin kamu mau dengar!" Bias merenggangkan tubuh menatap Zee.
"A-pa?"
"Minta pendapat ayah! Biasanya ayah akan kasih solusi bijak!" Netra yang masih menatap wajah Zee itu mengangguk.
"Saran kamu boleh juga. Oke besok kita berangkat pagi, Yang! Sebelum ke Kafe, kita mampir ke rumah ibu. Kamu juga belum ke sana lagi kan seminggu ini?"
______________________
Lima bulan berlalu, setelah pagi itu Farid meminta Bias fokus pada bisnis yang dijalani, tidak goyah pada mimpi yang ingin dicapai dan meyakinkan bahwa tidak ada orang tua yang benar-benar akan membenci anaknya, Bias akhirnya menyetujui penawaran Alaric.
Hingga kini lima bulan berlalu, Bias sudah memiliki 3 cabang Kafe, Satu di Jakarta, Bekasi juga Bandung. Semua Kafe sama persis dari Kafe pertama di Jakarta, tidak ada yang dirubah. Zee dan bias sebagai pemilik juga sudah tidak ikut menjadi karyawan lagi. Mereka khusus memimpin, mengendalikan, bertanggung jawab dan memutuskan setiap tindakan yang akan diambil. Si kembar anak Bu Romlah sekarang juga sudah menjadi manajer di cabang berbeda. Kinerja keduanya diacungi jempol Bias dan Zee. Kerjasama Bias dan Alaric sangat lancar. Bias selalu memberi laporan Alaric dan tanggap memberi hak Alaric sesuai berkas kerjasama.
Pagi itu tampak cerah. Berita kesuksesan Bias mulai menjadi sorotan media sosial dan khalayak. Rumor bagai angin yang tak perduli badai. Angin tetap berhembus, seperti rumor yang dengan cepat sudah didengar Libra. Libra berulang kali melihat akun berita yang menampilkan wajah sang putra dan Zivanya yang didaulat sebagai istri Bias di postingan sebuah media.
Libra yang awalnya merasa bangga pada keberhasilan sang putra mendadak menarik kata-katanya saat seorang pengusaha yang masih setia menjadi investornya mengabarkan bahwa perusahaan Bias didukung oleh perusahaan Alaric. Libra geram, seperti kekhawatiran Bias dahulu, benar saja Libra merasa Bias menjadi musuh dalam selimut. Ia yang tidak tahu duduk perkara sebetulnya berasumsi Bias sengaja ingin menjatuhkannya. Bias dengan tipu muslihat membuat Alaric membatalkan kerjasama dan menarik Alaric pada bisnisnya. Menurut Libra, cara yang dipakai Bias adalah cara kotor. Ia yang tersulut emosi segera mencari tahu keberadaan Bias.
______________________
Bias sudah memiliki rumah saat ini di sudut Jakarta. Rumah kavling yang dibeli dengan dicicil itu memang sesuai angan Bias. Rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat asri, di bagian depan dan samping terdapat halaman luas. Bagian depan rencananya ingin ia buat taman dan wahana bermain untuk anak-anaknya kelak. Untuk halaman samping rencananya ia akan rubah menjadi lapangan basket bersisian dengan kolam renang mini untuk sekedar merefresh diri dan bermain anak-anaknya.
Hari itu di bulan maret bertepatan dengan hari kelahiran Zee. Tanpa sepengetahuan Zee dan Bias, Farid dan Farah berencana membuat kejutan untuk Zee di rumah minimalis anak dan menantunya. Farah memang tau Zee yang pelupa memiliki kunci duplikat rumah yang diletakkan dibawah salah satu pot rumahnya. Sepasang paruh baya beserta kedua anaknya yang lain tampak sibuk kini menghias rumah Bias dan Zee.
__ADS_1
Hari itu sebuah mobil mewah berhenti di pelataran rumah Bias. Siapa lagi kalau bukan Libra yang datang. Libra memang membayar seorang informan untuk mencari di mana alamat rumah Bias. Libra yang sedang marah pada Bias masuk ke rumah minimalis dengan langkah cepat. Sampai di muka pintu ia mengetuk keras pintu.
Joy dan Zaa sedang menghias area ruang tamu. Mereka yang mendengar pintu diketuk langsung berinisiatif membukanya.
"Siapa kalian?" Libra mengangkat ponsel dan menghubungi informan yang memberinya alamat itu, memastikan alamat itu benar sebab yang menyambutnya adalah dua orang anak. Informan itu menyatakan yakin itu rumah orang yang Libra cari.
"Bapak mau cari siapa?" tanya Zaa.
"Siapa kalian? Ini rumah Bias, kan?"
"Betul. Bias kakak kami," ucap Joy.
"Omong kosong apa ini! Mengapa kalian mengaku-ngaku sebagai adik anakku!"
"Bi! Bi! Bias! Keluar kamu!" teriak Libra memasuki rumah tanpa permisi.
"Bapak ... Bapak! Kak Bias nggak ada, Pak! Jangan masuk sembarangan!" ucap Joy menahan tubuh Libra.
"Jangan sentuh saya!"
"Ah!" Libra spontan mendorong tubuh Joy hingga jatuh.
"Jaga kelakuan kamu Libra!" Sebuah suara tiba-tiba terdengar memenuhi seantero rumah. Libra menoleh.
"Ka-mu?"
...______________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Maaf untuk hari ini Bubu up 1 bab, ya. Besok ada double up🙏🙏❤️❤️
🥀Mampir juga yuk ke cerpen Bubu, klik profil bubu, scroll ke bawah paling kiri yang ada [GAME] SEBUAH RENCANA.
🥀Untuk yang sebelahnya "DIKERJAI SAHABAT" itu cerpen Bubu yang sudah di bukukan. Itu Kiblat novel "ROMANSA BIAS DAN ZEE" (Novel Zee pengembangan dari cerpen itu)
🥀Jangan lupa tap love ❤️ dan komen yaa😁😁
__ADS_1