ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
WAJAH TAK ASING


__ADS_3

Lima hari berlalu sudah dari terakhir Bias mengantar Zee pulang. Bias yang memaksa mengantar sampai rumah ditahan Zee. Zee merasa perlu bicara lebih dulu pada ibu dan ayahnya baru mendatangkan Bias. Zee merasa kedua orangtuanya akan kaget jika Bias tiba-tiba muncul menyatakan diri sebagai kekasihnya.


Selama 5 hari itu, diam-diam Zee selalu bertemu Bias. Setelah Maghrib, sepulang dari kantor Bias selalu menunggu Zee di gang rumahnya, ia membawa Zee berkeliling seperti halnya malam ini. Setelah keduanya puas berkeliling, Bias menepikan motornya di sebuah kedai bakso. Bias memang akhir-akhir ini senang membawa ducatinya. Kini keduanya tampak menyantap bakso sambil saling bercerita aktivitas hari itu.


Bias perlahan mulai memasukkan Zee ke hatinya, ia kini sadar selalu terbayang masa lalu tidak lah baik, ia harus bangkit dan menata hidupnya ke depan. Keceriaan dan ketulusan rasa Zee saat bersamanya membuat Bias nyaman. Bias sadar Zee gadis baik, ia mendapat cinta dari Zee, cinta lawan jenis yang selama ini hanya terpaut pada Nasya yang nyatanya telah menikah dan akan melahirkan anak keduanya pula.


Bias menatap Zee yang tampak lahap memasukkan suapan bakso ke mulutnya. Zee sadar masalahnya belum selesai selama Johan belum kembali dan ia mengungkapkan segalanya. Tapi pernyataan Bias yang akan memperjuangkan hubungan keduanya membuat Zee tenang.


Beberapa saat berlalu, mangkuk Bias sudah kosong, sambil menunggu Zee menghabiskan makannya ia tampak menepi menghisap gulungan tembakau di tangan sambil menatap wajah itu. Wajah gadis yang harus selalu ia ingat mulai saat ini. Kini Bias mendekat melihat Zee sudah menyelesaikan makannya.


Bias langsung meraih jemari itu. "Besok bang Jo pulang, bagaimana perasaan kamu?" tanya Bias.


"Biasa saja!"


"Jam berapa ia biasa ke rumah? Kita sebaiknya bicara di rumah kamu atau di luar?"


"Di luar saja."


"Ja-di?___


"Aku akan minta bang Jo datang ke suatu tempat dan kita akan menunggunya di sana!" ucap Zee tak melepas tatapan Bias.


"Begitu baik."


"Tapi Kakak serius ka-n sama aku?"


"Kalau aku tidak serius, kamu akan kembali sama bang Jo?"


"I-ya, mungkin." Zee menunduk, tak suka membayangkan itu.


"Aku serius! Kamu tetap di sisi aku aja!" Senyuman itu tergambar. Zee senang.


"Sudah jam 8, kita pulang! Hari ini please jangan larang aku mampir ke rumah kamu."


"Kakak serius?"


"Serius! Kamu juga selalu nggak bisa kan bicara tentang kita sama ibu?" Zee perlahan mengangguk.

__ADS_1


"Aku gak bisa selamanya seperti pencuri, menjemput kamu sembunyi-sembunyi di gang, aku nggak suka seperti itu! Aku juga ingin kenal keluarga kamu!" Zee mengangguk. Ia tersenyum menatap Bias setelahnya.


"Tapi hubungan aku dan bang Jo belum selesai!" ucap Zee setelahnya.


"Akan selesai!"


Setelah membeli martabak manis untuk dibawa ke rumah Zee. Kini Ducati Bias mulai mengarah ke rumah itu. Berhubung jarak mereka tak jauh, 10 menit Ducati Bias sudah terparkir di depan rumah sederhana Zee. Motor Farid belum ada, menandakan ia belum kembali. Zee dan Bias berdiri kini di muka pintu, keduanya saling menatap sebelum akhirnya Zee membuka pintu seraya mengucap salam.


Mendengar ucapan salam Zee, Zaa dan Joy seketika menghampiri.


"Kak Zee bawa apa?"


"Martabak."


"Yeaa ... Apa kak Jo yang bawa ini? Kak Jo paling tahu kesukaan Zaa!"


"Aku juga kangen kak Jo. Mau bertanding basket lagi sama kak Jo!" Joy menimpali ucapan Zaa. Keduanya menuju ke arah pintu dan kaget dengan sosok lain yang berdiri di sana. Kedua raga seketika memundurkan tubuh. Walau dulu mereka pernah bertemu, tapi semua sudah lama dan mereka agaknya lupa dengan Bias.


"Zaa lupa dengan kak Bias? Ini kak Bias teman kak Zee yang dulu pernah main." Zee berusaha mengakrabkan Zaa dan Bias. Zaa agaknya mulai ingat, ia tampak malu-malu di hadapan Bias.


"Kak Zee kenapa pergi dengan kakak ini? Kakak kan pacar kak Jo!" Joy yang kini mulai dewasa dan duduk di bangku 1 SMP melontar kata yang membuat Zee dan Bias bingung. Keduanya saling bertatap.


"Ayo masuk, Kak! Aku panggil ibu dulu." Bias mengangguk ragu, ia duduk di ruang tamu. Hatinya mulai berkecambuk, baru melihat reaksi Joy ia merasa agaknya akan susah menggeser posisi Johan yang sudah begitu akrab dengan anggota keluarga Zee.




"Kamu datang sama siapa?" Nada suara Farah meninggi mendengar nama yang Zee lontarkan. Farah seakan ingin memastikan lagi yang ia dengar.


"Kak Bias, Buu."


"Zee, jangan bilang selama Johan pergi kamu main belakang dengan Bias! Ingat segala kebaikan Johan pada keluarga kita, Zee! Dan Bias! Ngapain juga dia tiba-tiba datang dan mau dekat sama kamu? Apa karena dia sudah tau kamu cantik!" Farah menggeleng-geleng, ia takut semua asumsinya benar.


"Bu__ Zee dan kak Bias sa-ling sa-yang!"


"Zee, diam! Ibu nggak mau dengar lagi omongan gak masuk akal ini! Dulu Bias sama sekali nggak melirik kamu, Nak! Bagaimana bisa kamu dengan mudahnya luluh begini! Di mana harga diri kamu, hah!"

__ADS_1


"Bu, tolong pelanin sedikit suara ibu, nanti kak Bias dengar!"


"Begitu pedulinya kamu sama perasaan Bias, Zee? Tapi kamu lupa dengan perasaan Jo-han!" lirih Farah tak habis fikir dengan pemikiran putrinya itu. Ia tampak duduk lesu di tepi ranjang. Farah bingung bagaimana jika Johan tahu semuanya. Johan yang begitu serius dan tulus pada Zee dan keluarganya selama ini.


____________________


Rumah itu begitu sederhana, hingga suara Farah tertangkap pendengaran setiap orang dalam rumah itu. Zaa yang duduk di ruang tamu dengan Bias seketika berlari ke kamar Joy mendengar ibunya sedang memarahi kakaknya. Bias tak kalah resah. Jika bisa, ia ingin ikut masuk ke kamar Farah dan membantu Zee bicara, tapi mengingat tata kesopanan, kini ia hanya terdiam dan berdoa semoga Zee bisa meyakinkan ibunya itu.


Pria paruh baya baru saja pulang. Ialah Farid yang setelah memarkirkan motor buntutnya, melirik ducati yang baru pertama ia lihat terparkir di halaman rumahnya. Ucapan salam lirih itu tak mendapat sahutan karena Bias sedang bergeming dengan fikir otaknya. Farid melewati pintu rumah yang terbuka, ia menoleh ke ruang tamu kaget ada seorang lelaki di sana.


Dada Farid seketika sesak, sisi samping lelaki yang duduk di rumahnya mengingatkan ia pada seseorang. Ia menarik napas, memastikan semua hanya angannya, tidak mungkin orang dalam otaknya ada di dalam rumahnya.


"Permisi!" lugas Farid membuat Bias seketika menoleh.


"Eh, ma-af bapak cari siapa ya?" ucap Bias pada Farid. Bias memang tak pernah tau perihal ayah Zee. Ia yang beberapa tahun silam pernah ke rumah itu hanya mendapati Farah dan kedua adik Zee, Bias sama sekali tak berfikir lelaki yang baru tiba itu ayah Zee.


"Lho, kamu yang siapa? Ini rumah saya!" tegas Farid membuat Bias seketika berdiri.


"Om?"


Melihat lelaki itu seusia Zee, Farid mulai berasumsi. "Kamu teman Zee?"


"I-ya, Om!" Farid mengangguk-angguk.


"Saya ayah Zee!"


"Oh, ma-af saya fikir Om orang asing tadi. Perkenalkan saya Bi-as, Om."


Farid memundurkan tubuhnya, nama itu tak asing. Ia kembali teringat dugaannya sesaat lalu saat melihat Bias dari samping. Farid menatap penampilan Bias dari atas ke bawah dan menarik napas. Farid menyentuh dadanya dan seakan lemas hingga tubuh itu ambruk ke sofa.


"Om ... Om kenapa?"


...________________________________________...


🥀Terima kasih untuk kalian yang masih mengikuti cerita ini, sampai 80an bab saja ya❤️❤️


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Mampir juga yuk, ke karya sahabat literasi bubu ini😍



__ADS_2