
Empat hari berlalu, sudah beberapa orang menghubungi dan tertarik dengan Ducati Bias, tapi mereka menawar dengan harga yang tak sesuai. Bias akhirnya masih menahan motor itu.
Siang itu akhirnya ia berkeliling dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya yang tergolong elit untuk menawarkan Ducatinya, namun Bias pulang dengan tangan hampa. Teman-temannya nyatanya sudah memiliki motor besar setipe itu pula.
Hatinya gamang, otaknya mulai tak tenang. Bias yang hari kemarin bersemangat mendadak pesimis. Rasa takut memutari otak. Takut tidak bisa merealisasikan angannya, takut motornya tidak laku, takut tidak bisa membuka usaha, takut gagal menikahi Zee, takut dipisahkan. Bias yang biasanya akan mampir ke rumah Zee, 2 hari ini absen. Ia memilih menetralkan rasanya dan langsung ke pulang ke kontrakan.
Zee bingung dua hari ini Bias tidak datang. Bukan hanya itu, Bias yang selalu meluangkan waktu mengobrol dengannya setiap malam hingga dini hari, 2 hari ini seakan menghindari panggilannya berdalih sedang letih dan ingin tidur lebih cepat.
Zee tidak tenang, Zee yang tahu Bias hidup sendiri dan tidak memiliki siapa pun lagi selain dirinya akhirnya memutuskan mendatangi rumah kontrakan tipe 21 yang terdapat beberapa tanaman asri di bagian depan.
Zee memesan ojek online sore itu, berhenti di sebuah penjual mie ayam baru ke tempat Bias setelahnya. Zee sebetulnya membawa nasi serta lauk yang dititipkan Farah untuk diberikan pada Bias, tapi Zee berfikir nasi dari ibunya bisa dimakan Bias nanti malam. Sore itu ia sedang ingin makan mie ayam bersama kekasihnya itu.
10 menit perjalanan Zee akhirnya sampai, ia mengetuk pintu kayu berwarna putih di hadapannya dan tak lama Bias keluar.
"Sayang, kamu ke-sini?" Bias yang sedang kalut, kaget dengan kehadiran tiba-tiba Zee. Ia terus memperhatikan Zee.
"Iya, kamu nggak ada kabar, Yang." Zee langsung masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu dengan sofa sederhana di sana.
"I-ya, aku agak capek. Maaf aku nggak mampir," kilah Bias yang masih dipenuhi fikir negatifnya.
"Kamu sakit?" Zee mendekat meletakkan jemari ke dahi. "Kamu anget lho, Yang!"
"A-ku ... Zee____
"Eh____
Zee kaget tiba-tiba Bias memeluknya.Bias yang sedang merasa down, kurang percaya diri dan takut kehilangan Zee melakukan apa yang ada di otaknya saat ini.
"Ka-mu ke-napa?" bingung Zee.
"Yang, alami nggak mau berpisah sama kamu! Gimana kalau sebulan ini aku masih belum kerja, motor aku belum laku juga dan aku gak bisa merealisasikan usaha yang mau aku jalanin! Aku gak mau kehilangan kamu, Yang...!" Sangat lirih kata itu terucap.
"Ya ampun, kok kamu jadi down gini, sih?" Zee terus mengusap kepala Bias yang sedang terlihat lemah bersandar di bahunya.
"Aku juga gak ta-u ...."
Zee merenggangkan tubuh dan menangkup wajah Bias. "Ayo semangat lagi dong! Cinta aku, kan? Kamu nggak boleh nyerah! Masih 26 hari lagi kok! Masih panjang! Gak Ada yang tau yang terjadi esok! Usaha dulu! Aku selalu support kamu, Ya-ng! Jangan down, plea-se!" Kalimat bertubi itu terucap dengan banyak pengharapan. Bias terus menatap wajah Zee. Ia senang Zee memberi semangat untuknya, mengingatkan tujuannya.
"Terima ka-sih." Bias tiba-tiba memindahkan tangan ke tengkuk Zee, mendekatkan wajah dan bibir keduanya. Bias sedang ingin melakukan itu, meluapkan rasanya. Rasa yang mulai dalam dan dipenuhi harapan untuk selalu bersama. Zee yang awalnya hanya bergeming, akhirnya tidak kuasa menolak ingin Bias. Keduanya saling berbalas meluapkan sayang sesuai hasrat mereka. Hingga beberapa saat keduanya saling melepas pagutan dan saling menatap.
__ADS_1
"Yang kedua," lirih Bias. Zee mengangguk.
"Semoga yang ketiga nanti pas kita udah nikah!" ucap Bias lagi mengusap Bibir Zee.
"Makanya kamu yang semangat!" lirih Zee. Bias membuang napasnya kasar. "I-ya." Zee tiba-tiba mencari ponselnya.
"Eh, aku bantu posting motor kamu juga ya, Yang! Kalau dua orang yang post, yang ngelihat akan lebih banyak. Zee langsung mendownload beberapa aplikasi jual beli dan matanya tak teralihkan dari layar 6in itu. Ia terus memposting gambar dan memberi keterangan tentang motor Bias di sana.
"Oh ya, kita masuk ke komunitas jual beli motor besar juga yuk, Yang! Di FB kayaknya ada deh___
___Eh, betul nih ada, Yang. Anggotanya juga lumayan banyak. Kalau di grub komunitas begini isinya orang yang hobi sama moge dan biasanya berduit. Semoga motor kamu banyak yang suka, motor kamu limited edition, kan?"
Bias mengangguk. Ia tersenyum, terharu dengan semangat Zee. Berkali ia mendaratkan kecupan di kening Zee.
"Oh ya Yang, kamu belum masuk grub alumni SMA kita, ya?" Bias menggeleng.
"Oke aku masukin kamu di grub itu, ya! Nanti aku posting motor kamu di grub itu! Sekolah kita kan sekolah elit. Apalagi semua kenal kamu. Cowok idola di sekolah!" Zee mengedipkan sebelah matanya menggoda Bias. Bias tak tahan menarik gemas hidung itu.
"Ah sakit!"
"Mata kamu sih genit barusan!" Zee tersenyum.
"Idola yang sekarang jatuh ke pelukan gadis item dan jelek di sekolah!" Zee mencebik.
"Sorry aku becanda!"
"Iya, aku tahu!" Zee tersenyum.
Mereka terus sibuk hingga adzan magrib berkumandang, Bias menjalankan ibadahnya. Zee yang sedang berhalangan memilih meraih laptop Bias, ia tercengang melihat perencanaan usaha yang sangat detail dibuat Bias. Zee sangat bangga, dalam hati itu meng-aminkan setiap rencana Bias semoga lekas terwujud. Sebelum Bias ke luar dari kamar, Zee sudah menutup laptop itu.
Ia mengedar pandang dan berkeliling ke rumah kontrakan yang memang tidak besar, tapi sangat bersih. Bias memang lelaki yang rapi dan terlihat orang yang teliti dan detail. Zee ke dapur melihat ada satu piring yang kotor, ia mencucinya.
"Eh, kamu lagi ngapain? Kok jadi nyuci di rumah aku!"
"Gpp! Lagi membiasakan diri sama rumah kamu." Bias tersenyum.
"Oh i-ya, kok aku lupa sih, aku kan tadi bawa mie ayam. Sebentar!" Zee langsung ke depan.
"Yah, udah dingin, Yang! Hmm, aku angetin dulu kuahnya, ya!"
__ADS_1
Bias tersenyum melihat Zee yang seketika berlari ke dapur, Bias mengikuti ke dapur dan mengambil dua mangkuk.
"Aku yang siapin mie-nya, ya!" ucap Bias.
______________________
Hari semakin malam, seperti biasa Bias memilih duduk di teras dengan secangkir kopi di tangan. Ia masih terus tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Zee ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Halo ini Bias, kan?"
"Eh, siapa nih?"
"Duh Bias, gue Dito! Temen SMA lo!"
"Hei Dit, gimana kabar lo?"
"Baik, gue lihat di grub kata Zee si dekil lo mau jual Ducati lo?"
Duh rese nih anak ngatain calon istri gue dekil!
"Bi!"
"Eh, iya bener Dit!"
"Gue mau ambil Ducati lo, bawa ke rumah besok!"
"Hah serius!"
"Iya lah!"
"Masalah harga gimana?"
"Gue setuju harga lo!"
Alhamdulillah
...______________________________________...
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Maaf dikasih manis-manis sedikit😇🙃