ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
BERTEMU MASA LALU


__ADS_3

Tak terasa tiga bulan berlalu. Zee sudah mulai kuliah normal walau mata kuliah yang ia pelajari masih bersifat umum dan belum meniti pada hukum secara detail, mata kuliah Zee saat ini antara lain : Pengantar Hukum Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Ilmu Negara, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia.


Selain di kampus, hari-hari Zee ia habiskan di kos untuk membaca. Mata kuliah yang belum dipelajari pun sudah dilalap habis oleh Zee. Zee memang suka membaca. Tapi itu aktivitas jika ia tidak sedang diganggu oleh panggilan Bias. Komunikasi Zee dan Bias memang berjalan normal, jika Bias tau Zee tidak ada jadwal kuliah, ia bisa berjam-jam menelepon istrinya itu baik dari Kafe, tempatnya terapi atau di mana saja.


Bias sudah mulai berjalan tanpa alat, tapi masih tidak diperbolehkan berlari dan bermain basket. Bias selalu berlatih menyempurnakan jalannya, ia sangat bersemangat, membuang rasa takut dan khawatir yang sebelumnya selalu hinggap. Ia bersemangat karena Zee. Ia tidak ingin selalu Zee yang datang menghampirinya. Dalam tiga bulan itu memang Zee sudah ke Jakarta 2 kali, itu pun Zee harus membawa serta tugas dan buku-bukunya ke Jakarta.


Hubungan Zee dan Risya semakin akrab, Risya yang sangat irit menjalani hari-harinya dalam hal ekonomi sering dibantu Zee. kosan Risya yang bebas membuat Risya tidak nyaman dan kerap menginap di kossan Zee. Risya senang berteman dengan Zee, Zee yang sifatnya kini pemberani membuat Risya nyaman saat mendapat gangguan dari lawan jenis.


______________________


"Sayang ... masih banyak ya tugas kamu?"


"Sebentar lagi, Yang! Oh ya, nanti aku mau belanja bulanan sama Risya!" Zee menatap tepi laptop sekilas di mana ada wajah Bias, baru setelahnya melanjutkan mengetik.


"Kamu yakin Risya baik?"


"Baik, Yang. Aku kalau lihat Risya tuh suka inget aku dulu yang berpenampilan cupu dan item, suka gugup juga kalau ketemu kamu. Oh ya satu lagi, kondisi ekonomi Risya juga mirip kayak kondisi aku dulu, pas-pasan."


"Maaf ya, Yang ... semua karena Papa!"


"Jangan sensitif, aku lagi nggak bahas Papa kok, lagipula kalau kamu ngomong begitu, sama aja kamu lagi buka luka yang udah aku tutup."


"Sorry. Eh iya, lanjut tentang Risya. Kamu gak kepikiran kalau Risya mungkin aja cuma manfaatin kebaikan kamu aja, Yang?"


"Nggak. Aku gak mikirin itu! Aku ikhlas aja ngajakin dia makan bareng atau sekedar beli buku yang dia gak punya. Gak tau juga sih dia manfaatin aku apa nggak, yang jelas aku senang ngelakuinnya. Aku niatin sodaqoh aja. Biar rezeki kita makin banyak!"


"Kamu itu baik banget sih, Yang! Tapi inget kamu harus selalu hati-hati juga loh!"


"Iya, Sayang! Maaf aku nyambi ngetik ya Yang, jangan berpikir kalau aku cuekin kamu!"


Bias tertawa, ia memamg sering berprasangka pada Zee. Mau gimana lagi punya istri jauh dan hari-harinya disibukkan dengan tugas sekolah dan belajar membuat Bias merasa di nomer kesekiankan. Tapi semua tak berlangsung lama. Bias akan sadar bahwa mereka sudah memutuskan dan semua yang terjadi adalah konsekuensinya. Maklumlah keduanya masih di usia muda yang rentan dengan sifat labil.


"Iya gpp, aku juga seneng walau cuma sekedar lihat kamu!" Zee tersenyum tapi tidak memindahkan matanya dari lembar kerja yang sedang ia kerjakan.


Kini Zee tampak fokus mengetik sambil sesekali menatap Bias, Bias di sana juga berusaha memahami dan tak mempermasalahkan kesibukan Zee. Ia hanya terus tersenyum-senyum melihat raut serius Zee mengetik. Sampai beberapa saat kemudian.


"Yeaa, Alhamdulillah kelar juga, Yang! Tinggal aku cek ulang."


"Eh kamu mau ke mana?" ucap Bias melihat Zee yang katanya ingin mengecek ulang justru bangkit dari kursi.


"Ambil makan! Tadi aku buat nasi goreng belum sempat aku makan."

__ADS_1


"Oh."


"Sebentar, Sayang!" teriak Zee bersamaan dengan raga yang tiba-tiba hilang.


"Yang ... Sayang, kenapa lama banget?" Bias terus memanggil-manggil seolah mereka berada pada satu tempat saja hingga beberapa saat setelahnya Zee datang dengan sebuah wadah makan. Bias tersenyum.


"Maaf aku lama! Mulai dingin jadi aku angetin dulu!" ucap Zee sambil tersenyum. Kini ia tampak sedang mengecek ulang hasil ketikannya sambil menyuap nasi goreng yang ia buat beberapa waktu lalu.



"Makan yang banyak dong Yang, biar kamu gemukan!" ucap Bias membuat Zee tertawa.


"Aku dari dulu mau makan banyak sekalipun susah gemuk, Yang!"


"Padahal ayah dan ibu kamu gak ada yang kurus, ya?" seloroh Bias.


"Karena kamu lihatnya sekarang, kalau lihat foto-foto ayah sama ibu waktu muda mereka juga kurus-kurus lho, Yang! Kalau dari cerita ibu, ibu tuh mulai gemuk setelah nikah sama ayah," terang Zee dan memasukkan lagi suapan ke mulut setelahnya.


"Terus kita udah nikah kok kamu gak gemuk?"


Zee mengerucutkan bibir. "Hmm, aku juga gak tau, Yang!"


"Apa mungkin karena kita jarang begitu ya, Yang!" Zee menutup wajah dengan tangan, malu dengan ucapan Bias.


"Omongan kamu mesum! Bikin aku malu," lirih Zee.


"Lho kita kan memang udah nikah, ngapain malu sih?" Bias mendekatkan wajahnya sangat dekat ke layar. Ia menatap serius wajah Zee. Bias senang menggoda Zee.


"Kamu ngeliatnya ih, Yang! Mukanya mesum!" Bias semakin tertawa mendengar lontaran spontan Zee.


"Oh ya, besok ada tanggal merah 4 hari kamu ke Jakarta kan, Yang! Aku mau ke sana tapi udah diwanti-wanti duluan sama dokter katanya belum boleh naik pesawat! Kamu saja yang pulang ya, Yang! Striker mau buka puasa!"


"Yang ihh kamu ngomongnya!" Bias semakin tertawa.


"Gimana, bisa pulang nggak?" tanya Bias dengan serius kini.


"Hmm ... emang sih ada libur 4 hari, tapi seninnya aku ada tes, Yang! Banyak materi yang harus aku hapal! Maaf kayaknya aku baru bisa ke Jakarta bulan depan, Yang!"


"Hahh ... nasib, nasib!"


"Kenapa, Yang?"

__ADS_1


"Gpp!"


"Yang, udahan ya video call nya, ya! Kayaknya Risya dateng deh. Aku izin ke luar dulu ya, Yang! Cari kebutuhan bulanan! Bye Yang, love you, Assala____


"Eh, tunggu tunggu!"


"I-ya?"


"Mana kiss-nya!" Zee tersenyum. "Sorry lupa!"


"Muach ... muach ... muach ...," ucap Zee sambil memajukan bibirnya. "Udah ya, Yang. Keburu sore! Assalamu'alaikum, Sayang!"


___________________


Pukul 17:00 saat Zee ke luar dari bangunan kos-annya. Di akhir pekan seperti hari ini, suasana jalan terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak mahasiswa ke luar sekedar mencari angin dan menghabiskan waktu, atau juga seperti Zee dan Risha saat ini. Mereka ke luar untuk mencari kebutuhan yang dibutuhkan.


Jarak kos-an ke mini market berjarak 100 meter. Keduanya tampak asik bercengkrama sepanjang jalan sambil melihat matahari mulai menepi dan menikmati sejuknya hawa sore menjelang malam itu.


Kini keduanya sudah sampai di sebuah toko retailer yang tampak bersih dan rapi. Zee mengambil sebuah keranjang dan mulai memasukkan apa yang ingin ia beli. Zee dan Risya tampak berpencar, keduanya memutari area toko yang cukup luas dengan barang kebutuhan sehari-hari yang lumayan cukup lengkap. Zee masih asik memilih hingga tiba-tiba sebuah panggilan didengarnya.


Zee menoleh dengan cepat dan kaget. Tak menyangka melihat wajah yang sudah lama tidak dilihatnya. Wajah yang dulu sering menemani harinya, mengisi sosok lelaki yang saat itu tidak ada dalam keluarganya. Ia yang telah Zee sakiti dan seketika tak terdengar kabarnya. Kini keduanya bertemu di tempat yang sangat jauh dari tiap jalan yang dulu mereka sering lewati. Orang-orang berbeda, suasana berbeda dan keadaan berbeda. Mereka dipertemukan, dua insan tampak masih saling menatap kaget, tak menyangka akan bertemu. Rasa bersalah dan rasa sakit mungkin sudah berusaha dikikis tapi kebersamaan itu tak bisa disangkal pernah terjadi.


"Bang Jo____


..._______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Ada karya sahabat literasi bubu nih, yuk mampir dan tinggalkan komen dan support terbaik kalian yaa😍❤️❤️


Napen : Emy


Judul : It's me


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingha membuat sebagian wajahnya terluka.


Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan samg kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.


Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?

__ADS_1


Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?


__ADS_2