ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
TAWARAN JOHAN


__ADS_3

"Ris-ya? Kamu di-sini?"


"Iya tadi bang Jo ajak aku!"


"Oh ya?" Zee dan Bias saling berhadapan sesaat dan tersenyum.


"Kalian di sini juga?" Johan yang tadi jalan di belakang Risya menghampiri.


"Iya, Bang. Zee libur dan gue pikir diajak ke sini pasti seneng. Eh malah doi nangis tadi pas pertandingan," seloroh Bias, mata Zee langsung membulat.


"Apa sih, Yang!" Bibir Zee mengerucut. Ia tidak suka Bias menceritakan perihal yang terjadi beberapa saat lalu pada Johan.


"Eh, emang kenapa? Kamu bener nangis tadi?" tanya Johan penasaran menatap Zee.


"Nggak, nggak Bang! Gue bercanda aja. Zee seneng banget tadi lihat pertandingan, teriak-teriak pula di atas tadi."


"Tapi kamu juga kan, Yang?" ucap Zee.


"Iya, aku juga, Sayang!" Bias tertawa. Johan menggeleng-geleng.


"Kalian berdua lucu ya, pasti rumah tangga kalian menyenangkan," ucap Risya.


"Kata siapa Sya? Kamu nggak tau aja ada yang posesif banget!" Kini mata Bias yang membulat mendengar pernyataan Zee.


"Oh ya?"


"Hee, nggak aku bercanda aja, kok." Zee langsung merevisi kalimatnya. Maklumlah usia Zee masih muda, sering spontan mengucapkan hal yang ada di otak. Tetapi untunglah semua tidak lama, sesaat kemudian Zee langsung ingat tidak baik membuka sesuatu perihal rumah tangganya.


"Habis ini kalian mau ke mana?" tanya Johan.


"Belum tau, Bang," jawab Bias.


"Udah jam 11. Gimana sambil nunggu adzan kita makan siang bareng?"


"Boleh."


Ketiganya baru saja hendak ke luar stadion, namun langkah mereka terhenti saat melihat seorang wanita tengah berkumpul dengan para pemain basket yang belum lama tadi bertanding.


"Itu tetangga kossan kamu kan, Yang?" tanya Bias.


"Itu mbak Lastri," ucap Risya dengan cepat.


"Eh betul. Mbakk!" Zee memanggil wanita berusia 24 tahun itu dan Lastri mendekat. "Kalian di sini?" tanyanya.


"Iya, kami lagi nonton pertandingan. Mbak kok di sini?" Zee balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu inget kan Zee aku pernah cerita nyambi ngajar basket di sekolah SMU. Nah, sekolah yang habis bertanding itu adalah peganganku.


"Oh ya, wahh ... Mbak keren banget," ucap Zee.


"Kamu ngajar?" Johan yang sejak tadi terdiam melontar tanya.


"Iya, Mas."


"Mbak Lastri ikut yuk, kami mau makan siang bareng," kata Bias kini.


"Duh sorry, aku langsung ke SMU, nyerahin piala. Lain kali, ya."


"Yah, Mbak." Raut kecewa tergambar di wajah Zee.


"Lain kali, Zee. Udah dulu, ya, itu anak-anak udah nunggu aku! Bye all!"


"Yauda yuk kita cari tempat!" utar Bias setelahnya.




"Jadi gimana, tinggal dua hari, kan?" Johan bertanya sambil memasukkan menu gudeg, krecek dan telur bulat ke mulut.


"Nggak tau nih, Bang. Gue juga pusing. Nanti malem muter lagi lo mau kan, Bang?"


"Setuju aja, Yang! Aku kasihan kamu capek di sini mondar mandir terus gak ada istirahatnya. Aku janji akan jaga diri dengan baik kok," ucap Zee menatap netra Bias sungguh-sungguh.


"Tapi aku harus tau dulu bagaimana lingkungannya, Yang. Kamu itu tanggungjawab aku! Kalau kamu kenapa-napa nanti malah aku yang nyesel dan aku nggak mau itu terjadi." Zee paham maksud Bias, kini ia hanya bisa mengangguk dan mensupport pemikiran suaminya.


"Oh ya, kontrakan yang kata lo kosong di daerah mana? Jauh gak dari kampus Zee, Bang?" tanya Bias.


"Hmm, di sebelah kontrakan gue! Sekali lagi gue cuma jawab apa yang lo tanya, gak maksa juga kalo lo gak nyaman Zee tinggal deket gue!" utarJohan berucap apa adanya. Bias terdiam berpikir, sedang Zee memilih pura2 tak mendengar. Ia lagi-lagi memasukkan suapan gudeg ke mulut. Ia tahu hal ini akan sangat berat diputuskan Bias, bagaimana pun pernah ada hubungan antara dirinya dan Johan. Kini ia tak ingin campur tangan dalam keputusan Bias, ia ingin tahu pemikiran Bias.


"Gue akan pertimbangin dulu, Bang," ucap Bias.


Beberapa saat setelahnya suasana tampak hening. Semua raga fokus pada makanan di hadapan mereka, hingga semua selesai bersamaan adzan Zuhur berkumandang. Bias mohon izin mengantar Zee pulang, baru setelahnya ia menjalankan sholat Jum'at.


_______________________


"Gimana menurut kamu, Yang?" tanya Bias kini duduk mendekati Zee di sofa, ia baru saja pulang menjalankan ibadahnya.


"Gimana apanya?"


"Tawaran kontrakan dekat bang Jo."

__ADS_1


"Gak gimana-gimana! Aku serahin semua sama kamu. Tempat yang kamu setujui adalah yang terbaik," ucap Zee menatap netra yang tampak gamang itu.


"Tapi apa perasaan kamu tinggal dekat sama mantan pacar, orang yang pernah dekat sama kamu di masa lalu!"


"Gak ada perasaan gimana-gimana, biasa aja!"


"Bukannya melupakan masa lalu kamu bilang sulit?" kata Bias lagi, ia menarik kepala Zee bersandar di bahunya, ia merangkul bahu Zee.


"Masa lalu bersama orang yang dicinta akan sulit dilupa. Tapi nggak antara aku sama bang Jo." Zee memiringkan tubuh menghadap Bias. Diusap-usap rahang lelaki yang saat ini juga tengah menatapnya penuh tanya.


"Jujur, aku memang deket dulu sama bang Jo, tapi aku cuma anggap dia kakak, gak lebih! Aku gak pernah taruh bang Jo di dalam sini!" Zee membawa jemari Bias ke dadanya. "Di dalam hati aku cuma ada ka-mu, Yang! Gak ada yang la-in! Dari dulu." Bias tersenyum, ia membuang napas kasar, jelas Bias merasa tenang. Ia lantas dengan cepat memindahkan jemarinya mengusap kepala Zee dan menahan kepala itu setelahnya. Bias mendekatkan bibirnya. Bibir manis Zee selalu membuat candu untuknya.


"Terima kasih selalu jaga cinta kamu selama itu," bisik Bias sebelum kembali mencium Bibir Zee.


"Jadi gimana? Apa nanti malam kita akan cari kontrakan lagi seperti sebelumnya atau kamu mau ambil kontrakan dekat bang Jo aja?" tanya Zee sembari mengusap bibir basah Bias.


"Aku capek muter-muter Jogya, Yang! Belum lagi kamu juga pasti capek, pulang keliling langsung belajar!" Zee tersenyum.


"Aku akan ambil kontrakan di samping bang Jo aja! Aku percaya kamu. Lagipula aku tahu bang Jo sayang kamu, dia akan jaga kamu!"


"Kamu gak cemburu sama bang Jo?" Zee mendangak menatap Bias. Bias menggeleng. "Aku memilih percaya sama kalian!" Zee yang merasa senang memeluk erat tubuh Bias.


"Kapan kita mau lihat kontrakan yang kosong itu? Apa nanti malem aja?" tanya Zee lagi.


"Waktu aku udah gak lama di Jogya. Sekarang sampe besok pagi aku mau peluk kamu terus!" lirih Bias mengeratkan lengannya di pinggang Zee, ia menjatuhkan kepalanya ke bahu Zee. Bias jelas sedih sudah akan berpisah lagi.


Zee mengusap-usap kepala Bias. "Maaf ya, Yang ... kamu dateng jauh-jauh mau kangen-kangenan malah aku gak bisa ngelayanin."


"Aku kurang beruntung." Zee merasa kasihan pada Bias sebetulnya tapi merasa tak bisa berbuat apa pun. "Ma-af ...!"


"Gpp, temenin aku tidur yuk!"


"Katanya kamu mau telfon mama Dona."


"Telfonnya nanti aja, mau peluk kamu dulu!"


..._____________________________________...


🥀Happy reading 😘


🥀Promo karya hari ini😍


Judul: Bukan sebatas impian Author: Nadziroh


blurb

__ADS_1


Renata Nicholas, gadis yang berumur dua puluh dua tahun dan berprofesi sebagai cleaning service tertangkap basah menyembunyikan foto Bagas Ankara, CEO di tempatnya bekerja. Berawal dari sebuah iseng menyimpan foto yang ditemukan di gudang, kini malah membuatnya menjadi bahan ejekan bagi mereka yang membencinya.



__ADS_2