ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MELEPASKAN DIRI


__ADS_3

"Bang, coba hubungi Zee atau kak Bias lagi!" ucap lirih wanita yang duduk di sebuah sofa dengan napas tersengal sebab baru saja kabur dari kejaran dua pemuda dalam perjalanan pulang setelah berbelanja di Mini Market. Syukurnya ia berhasil lolos, ia berlari cukup kencang dan berbaur dalam barisan sekumpulan ibu-ibu yang baru pulang pengajian, hingga mendekati kossannya ia kembali berlari masuk kedalam gerbang.


Beberapa gadis langsung berkumpul di ruang keluarga dan saling berdecak takut. Risya meminta izin pada Lastri untuk menghubungi Johan. Lastri yang merasa mereka membutuhkan kehadiran lelaki saat ini akhirnya menyetujui keinginan Risya.


Tak berselang lama Johan yang baru menutup toko datang. Ia kaget atas peristiwa yang baru saja dialami Risya. Seketika Johan khawatir pada Zee dan Bias. Pasalnya lelaki yang mengejar Risya dan berjumlah 4 orang itu tidak asing untuk Risya. Mereka adalah Bowo, Priyo dan dua teman mereka lain yang dulu sering menginap di kossan Bowo.


Johan mulai mengerti, Bowo rupanya ingin membalas dendam sebab ia sudah mempermalukan dirinya, memukulinya hingga babak belur, juga membuat ia dikeluarkan dari kossan itu.


Johan berdecih gusar, Bowo nyatanya tidak jera setelah ia hajar. Kini Johan merasa khawatir pada Zee. Ia ingat betul Bowo pernah memperingati dirinya dan Zee dan berucap semua belum berakhir, itu semua terucap sesaat setelah ia diusir dari kossan.


Kini Johan bingung saat ponsel Zee tak bisa dihubungi, bahkan ponsel Bias juga tidak diangkat. Ia khawatir pada kedua insan yang sudah ia anggap sahabat tersebut. Pasalnya ia tahu betul Bias belum lama mengalami patah tulang dan gerakannya kini terbatas. Jika Bias sehat tentu ia yakin Bias akan bisa melindungi Zee, tapi dengan kondisi Bias pasca patah tulangnya, Johan ragu Bias bisa menghadapi 4 lelaki yang mungkin saja akan menyakiti Zee.


Johan tak patah semangat, berulang kali ia terus menghubungi ponsel Bias tapi lagi-lagi tak ada respon. Ia akhirnya pergi ke homestay yang ia ketahui menjadi tempat menginap Zee dan Bias, namun Johan lagi-lagi bingung mendapati keduanya belum kembali ke kamar. Johan menelusuri jalanan Jogya setelahnya, berharap ia bisa menemukan Zee dan Bias.


_____________________


CITTT ....


Dua motor menyerempet motor Bias, membuat kendali Bias tak terarah dan ia seketika menghentikan laju motornya.


"Kamu gpp, Yang?" lirih Bias berucap.


"Gpp," jawab Zee sebelum akhirnya menyadari 4 orang mendekat ke arah matic mereka.


"Hai cantik, senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi!"


"Kamu kenal mereka, Yang?" tanya Bias ke arah Zee.


"Mereka yang tempo hari hampir melecehkan Risya."


"Gak usah ngobrol aja kalian! Ayo turun! Terutama kamu cewek sok pahlawan!" ucap Bowo.


"Jaga bicara lo!" gusar Bias, melihat Bowo berkata kasar pada Zee.


"Hayo aku bantu kamu turun, Cantik!" Priyo mendekat dan berusaha meraih lengan Zee, tapi langsung ditepis Bias.


"Jaga tangan lo!" ucap Bias membuat Priyo berdecih. prio menaikkan dagunya dan seketika 2 pemuda yang bersama Bowo dan Priyo menarik matic yang masih dinaiki Bias. Bias dan Zee akhirnya turun.


"Mau apa kalian? Kami nggak ada urusan sama kalian, jadi jangan macam-macam sama kami!" pekik Bias.


"Dia itu siapa kamu, Cantik? Pacar? Kamu itu tempatnya bukan di samping dia, tapi di samping aku!" ucap Priyo menarik lengan Zee menjauh.

__ADS_1


"Yang!" teriak Zee.


"Jangan sentuh dia! Atau lo akan nyesel!" Bias berusaha mendekat, namun kondisi kakinya membuat ia kesulitan bergerak cepat. Bias sangat ingin berlari dan menarik lelaki yang telah menyentuh Zee paksa, tapi ia ingat ucapan dokter ortopedinya. Bias berjalan cepat kini ke arah Zee berada, tidak bisa berlari.


"Yang, ingat kondisi kaki kamu! Lepas! Lepasin aku!" Zee berusaha keras melepaskan cengkraman Priyo dari lengannya, ia memukul-mukul dada Priyo dan menghentakkan kakinya hingga kaki Priyo terinjak dengan cukup kuat.


"Ahh, tenaga kamu kuat juga, Cantik!" Merasa Zee terus melawan, Priyo akhirnya menarik dua lengan Zee kebelakang dan mendorong tubuh Zee ke sebuah tiang listrik besar.


"Hai Cantik, aku sejak awal Suka kamu, kamu itu tipeku!" Priyo berusaha mencium Zee, tapi Zee terus mengalihkan wajahnya.


"Jangan sentuh dia!" pekik Bias yang sudah mulai dekat dengan posisi Zee dan Priyo berada. Bias langsung menarik kerah kaos Priyo. Tapi Priyo yang sadar kondisi bias tidak normal mendorong tubuh Bias dengan cukup kuat ke belakang.


BUG


Ahhh ....


"Yang!"


"Awas kamu kalau menyakiti suamiku!" gusar Zee membuat Priyo seketika menoleh.


"Kamu bicara apa, Cantik? Suami? Halah ngarang kamu, nggak akan ada yang percaya kamu sudah nikah!"


"Tapi kami memang sudah nikah!" teriak Zee lagi.


Bias yang sadar ia tidak akan bisa menghadapi ini sendirian, akhirnya meraih ponselnya. Ia mulai paham mengapa Johan terus menghubunginya, dengan cepat Bias mengirim pesan mengenai keberadaannya. Bowo yang melihat Bias menggenggam ponsel di tangan menarik ponsel Bias dan melemparnya.


"Ngubungin siapa kamu tadi, hah?" Bias bergeming. Bowo serta merta mengajak dua temannya yang lain memukuli Bias. Bias yang hanya bisa memukul dari jarak dekat tampak menjadi bulan-bulanan Bowo dan teman-temannya. Mereka memukuli Bias bergantian.


"Yang ... Yang! Bertahan, Yang!" teriak Zee.


"Kamu gak usah mikirin cowokmu yang lemah itu. Urusanmu sama aku!"


"Lepas! Lepas! Kamu mau bawa aku ke mana? Kurang ajar! Jangan sentuh aku!"


"Yang ... tolong Yang! Yanggg!!" Bias geram tapi tak bisa berbuat apapun. Pukulan demi pukulan bahkan terus menghantam wajahnya. Ia berdecak frustasi dan merasa sedih melihat Priyo menarik Zee ke semak-semak tanpa bisa menolong. Bias semakin tercekat merasa tak bisa menjadi suami yang melindungi istrinya. Bias yang sebelumnya berusaha melawan kini tampak pasrah. Kemampuannya terbatas, ia tak bisa. Jangankan menolong Zee, menyelamatkan dirinya sendiri ia bahkan tak mampu.


Bias masih merasakan sebuah pukulan mendarat di matanya baru setelahnya ia merasa seseorang memeluk raganya. "Lo gpp?"


Bias berusaha membuka mata, memastikan sosok di sekitarnya. "Ba-ng Jo. Lo dateng? Makasih. A-bai-in gu-e! Zee! Se-lamatin Zee, Ba-ng!"


"Di mana Zee?"

__ADS_1


"Di-sa-na!"


Johan seketika berlari ke arah yang ditunjuk Bias. Bowo dan dua lelaki yang sebelumnya memukuli Bias tampak mengejar Johan.


"Ming-gir! Ja-ngan! Baji-ngan! Ya-ng ... to-long!" Suara Zee melemah, tapi tenaganya masih ia kerahkan untuk melepaskan diri dari Priyo. Priyo memang sudah biasa mendapatkan yang ia mau. Ia terus memaksakan inginnya dengan kasar, cakaran, pukulan dan tendangan Zee justru membuatnya semakin bersemangat menyalurkan hasratnya. Kemeja rayon yang Zee pakai dengan mudah dirusak Priyo membuat pembungkus dad* berenda itu mulai terlihat. Beruntung Zee menggunakan celana jeans ketat sehingga Priyo kesulitan melepasnya.


Priyo masih berusaha menjajaki tubuh Zee saat sebuah tendangan tiba-tiba membuat tubuhnya berguling.


"Bang Jo!"


"Pakai ini dan temui Bias!" Johan melepas jaket yang ia pakai, meminta Zee memakainya.


Johan dengan cepat meraih tubuh Priyo dan memukulinya. Melihat Zee hampir dilecehkan, ia marah dan tak terima, ia tidak suka Zee disakiti apalagi sampai diperlakukan seperti tadi. Ia memukuli Priyo membabi buta hingga Priyo tak sadarkan diri. Dua orang yang sebelumnya membantu Bowo mendekati Johan, mereka ingin membantu Priyo. Di kejauhan Bowo tampak mencegat Zee yang akan mendekati Bias.


"Hei lo, Wo! Awas lo sentuh Zee! Kalau lo emang cowok maju lawan gue! Banci lo beraninya sama cewek!" teriak Johan sambil tangannya terus menangkis pukulan dua raga di hadapannya.


Bowo tak menggubris Johan, ia kini mencengkram lengan Zee. "Lelaki bajingan! Lepasin aku! Jangan sentuh aku pakai tangan kotor itu!"


"Yang ...." Bias berusaha berdiri mendekat.


"Duh duh, lelaki cacat mulai jadi pahlawan lagi!"


"Ahhh!!" Bowo yang sibuk perhatikan Bias mendapat tendangan kuat di pusat kelemahannya dari Zee. Ia kini meringis kesakitan.


"Yang!" Zee langsung memeluk Bias yang sudah dipenuhi luka disekujur tubuhnya dan berjalan tertatih.


"Me-reka sakiti kamu, Yang!" lirih Bias menatap bibir Zee membiru serta pakaian Zee yang koyak dan tidak tertutup jaket seluruhnya. Netra Bias berkaca, jelas ia sangat sedih merasa jadi lelaki yang lemah tak bisa melindungi istrinya.


"Aku gpp, Ya-ng! Kamu yang jadi terluka begini karena a-ku! Ma-af!" Zee mengusap luka di wajah Bias sembari menangis. Ia merasa menjadi penyebab kemarahan Bowo. Bias bahkan tidak tahu apa-apa dan tidak mengenal Bowo cs.


Keduanya saling berpelukan setelahnya. Bowo yang sebelumnya merasa kesakitan akibat tendangan Zee semakin merasa geram. Ia yang melihat pecahan kaca segera mengambilnya. Ia mengarahkan pecahan kaca itu kepada Zee.


Bias kaget tiba-tiba Bowo berlari mengarahkan sesuatu pada Zee, ia dengan cepat membalik badan Zee dan____


Jlep.


Bias seketika terjatuh. "Yang ... Yang! Bang Jo, tolong bang Jo!"


...______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


🥀Jangan lupa Bubu selalu tunggu komen kalian❤️❤️


__ADS_2