
"Menikah? Bicara apa kamu? Bekerja dulu dengan benar, baru menikah! Lagipula berapa usia kamu? 28, 30? Kenapa mau menikah? Sadar Bias, bahkan 22 saja belum genap! Kamu baru saja ingin mengembangkan bisnis Papa, kenapa juga tiba-tiba meminta menikah? Sudah merasa hebat kamu?"
Berbagai tanya bertubi-tubi di lontar Libra, ia tak suka dengan yang didengar. Untuknya belum saatnya Bias menikah, Bias masih harus menyelami kehidupan, belajar banyak hal dan pernikahan hanya akan membatasi dirinya. Ikatan, kecemburuan, salah paham, tuntutan. Semua hal yang akan menjadi penghambatnya dalam berkarir. Fokus itu akan pecah dan emosi Bias yang masih muda akan mendominasi. Libra tak ingin pekerjaan Bias akhirnya berantakan, bisnis yang belasan tahun sudah ia perjuangkan akan terbengkalai.
"Bias serius dengan kekasih Bias saat ini, Pa. Tidak ingin kehilangan lagi!"
"Hah, alasan saja! Sekali Papa bilang tidak tetap tidak! Belum saatnya kamu terikat! Hubungan rumah tangga akan mempersulit kamu berkarir! Kamu masih terlalu muda!" lugas Libra.
"Calon istri Bias orang yang dewasa, Pa. Dia pasti mendukung Bias!"
"Tau darimana? Belum jadi istri, kan? Menikah, punya anak semua akan membagi fokus kamu!" Bias bergeming.
"Hentikan pembicaraan ini. Sudah malam, cepat tidur! Ingat besok pagi kamu ada meeting!" Libra melangkah kaki ke luar ruang kerja.
"Bias tetap akan menikah, Pa!" teriak Bias seketika membuat langkah Libra terhenti dan ia berbalik.
"Tidak!"
__________________
Bias tidak bisa tidur, ingin menghubungi Zee khawatir Zee sudah tidur. Ia memilih duduk di sofa mengecek bahan meeting besok, mengalihkan perihal hatinya sejenak. Pertemuan besok cukup penting, beberapa investor baru akan mendengarkan presentasinya. Ia nampak serius di depan laptopnya saat ini.
Tiga puluh menit berlalu, baru ia keluar kamar mandi dilihatnya ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk. Ia langsung tersenyum terdapat foto Zee di sana.
"Belum tidur?" tanya Bias seketika.
"Baru selesai membuat soal tes untuk anak-anak. Apa aku mengganggu Kakak?"
"Aku belum tidur, baru selesai mengecek berkas juga."
"Oh."
__ADS_1
"Zee ...."
"Iya?"
"Tadi aku bicara pada Papa tentang keinginanku menikah."
"Terus?"
"Papa marah!"
"Maaf kalau keinginan ayah aku membebani Kakak! Aku juga bingung kenapa ayah meminta itu, padahal aku juga belum terfikir ke sana!"
"Ayah kamu ingin melihat keseriusan aku!"
"Kakak serius sama aku?"
"Kamu juga meragukan aku?"
"Nggak! Aku akan perjuangkan kamu, Zee! Cukup sekali aku merasa kehilangan."
"Tadi aku juga berbincang sama ibu," kata Zee lagi.
"Ibu kamu bicara apa?"
"Sesuai dengan perkiraan Kakak, ayah mau lihat keseriusan Kakak."
"Hmm, lalu?" lirih Bias.
"Kata ibu jangan terlalu rumit berfikir, aku dan Kakak tetap bisa menjalani rutinitas. Seperti Kakak tau, aku mengajar dan aku juga masih ingin kuliah. Kata ibu aku bisa melakukan aktivitas aku dan kakak menjalankan bisnis Kakak! Semua berjalan seperti biasa hanya status yang membedakan."
"Papa aku takut kehadiran istri dan anak memecahkan fokus aku bekerja!"
__ADS_1
"Kalau begitu kita jangan punya anak dan saling berjanji tidak memperumit hubungan kita. Kita harus saling mendukung!" Bias seketika tersenyum.
"Kak? Kakak masih di sana?" tanya Zee sebab tidak ada respon Bias. Bias langsung mematikan panggilannya dan menekan video call ke ponsel Zee.
"Kakak mematikan panggilan aku!"
"Mau lihat wajah kamu!" Zee tersenyum.
"Jadi bagaimana pendapat Kakak tentang pemikiranku?"
"Aku setuju! Aku tidak salah memilih, kamu pintar! Kita tidak perlu memperumit semua! Besok aku akan bicara dengan Papa lagi!"
"Terima kasih Kak, aku sayang Kakak, cinta Kakak!" Seperti biasa Zee terlintas antusias mengungkapkan rasanya. Bias tersenyum.
"Aku juga sayang kamu, terima kasih sudah hadir."
"Aku mau peluk Kakak!" Bias lagi-lagi tersenyum.
"Besok setelah meeting aku free. Aku akan jemput kamu."
"Yeaa. Kita mau jalan ke mana, Kak?"
"Kita lihat besok."
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Ada karya sahabat Bubu lagi nih, yuk intip-intip😍
Tak kenal maka tak sayang lhoo❤️❤️
__ADS_1