ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
HARUS MOVE ON


__ADS_3

Tuk


Petikan jari tengah dan jempol itu membuyarkan angan Zee. Lagi-lagi Zee menoleh membuang wajah saat bulir itu kembali lolos. Ia menghapus dengan cepat bulir yang jatuh. Beberapa saat lalu Zee memang terbawa pada angan kejadian tiga tahun lalu yang menyesakkannya. Hari dimana ia tak pernah melihat Bias lagi setelahnya.


Zee menatap lagi wajah itu, memastikan kebenaran kehadiran Bias. Ada kelegaan di hati itu, Bias nyata dan bukan angan. Pria pemilik hatinya benar-benar sudah ia temukan. Zee secara spontan mengukir senyum di wajahnya, membuat pria yang sejak tadi heran dengan kediaman gadis di sampingnya semakin dibuat bingung.


"Lo baik-baik aja, kan?" lontar Bias.


"Eh, Ba-ik, Kak," jawab Zee.


"Oh ya, emang Siti mana?"


"Si-ti, siapa?"


"Lo nggak kenal? Oh iya gue lupa, lo kan baru gawe di sini, ya?" Zee mengangguk.


"Siti biasa yang duduk di tempat lo duduk sekarang, dia nemenin gue makan. Siti seneng cerita apa aja, mudah akrab dan selalu bikin gue terhibur. Beda sama lo yang banyak diem!" ucap Bias sambil sesekali melirik Zee dan kembali menatap nanar ke luar jendela lagi.


Ponsel di saku Bias tiba-tiba berbunyi, Bias meraihnya. Bias menggelengkan kepala sambil jarinya terus menggulirkan layar ponsel. Zee melihat sekilas foto-foto gadis yang sedang Bias lihat. Zee membuang wajahnya dengan sedih.


Kak Bias lagi ngeliat foto-foto perempuan cantik. Apa kak Bias sekarang playboy? Apa kak Bias sudah berubah? Dan Siti. Aku memang nggak seperti Siti. Jujur banyak hal yang mau aku tanyakan sama kakak, tapi aku bukan Zee yang dulu. Kakak akan heran kalau aku tiba-tiba bertanya banyak. Apa aku jujur saja kalau aku adalah Zee adik kelasnya.


*Tunggu! Tapi untuk apa? Toh kak Bias juga nggak pernah memandang kamu sebagai seorang wanita. Ingat Zee! dulu kak Bias emang pernah nyamperin kamu, tapi hanya untuk melengkapi kekurangan TIM basket putri, nggak ada alasan lain!


Ta-pi___ kak Bias kan udah minta maaf* ....


Tuk


Sebuah petikan dilakukan Bias lagi.


"Gue mau pulang! Lo lanjut gawe aja!" Zee yang masih kaget mengangguk lirih.


"Eh, sebentar!"


"I-ya, Kak?"


"Gak semua orang beruntung dan mudah memperoleh pekerjaan, serius kalau kerja dan jangan banyak bengong!" Zee tersenyum getir. Ada kesedihan ia rasa melihat bahu tegap itu perlahan menjauh.


Kak Bias, apa aku akan bertemu kakak lagi? Kak ... aku mau nomer ponsel kakak! Aku mau tau kabar kakak. Kakak Bias ...jangan pergi!




"Gue balik, Mas! Sorry ganggu karyawan lo!" Bias menepuk bahu Kemal.


"Santai, Mas Bias!"


"Oh iya, nih ada tips untuk karyawan baru itu!" Bias memang tak pernah tertinggal memberi tips untuk pegawai yang menemaninya sekedar duduk.

__ADS_1


Bias sudah melewati pintu keluar dan tampak terlihat dari kaca ia masuk ke sebuah mobil. Zee mendekati Kemal.


"Pak, ma-af___ saya dari tadi kerjanya hanya duduk-duduk," lirih kata itu terucap. Zee merasa tak enak hati.


"Dia anak Bu Dona pemilik Kafe ini, jadi cuma duduk menemani dia kamu sudah termasuk kerja!" Bibir Zee membulat. Zee melirik sebuah tulisan besar di atas bar 'My Dona Cafee'. Zee mengerti sekarang mengapa Kemal membiarkannya duduk-duduk saja sejak tadi.


"Oh ya Zee, ini ada titipan dari mas Bias!"


"I-ni?"


"Itu tips buat kamu udah nemenin mas Bias."


"Oh."


"Ayo ambil!"


"Hmm ... i-ni buat bagi-bagi sama karyawan lain aja, Pak!"


"Ambil. Tips yang diserahkan langsung khusus buat penerima. Kecuali tips yang di letakkan di meja kasir baru akan dibagi rata sama semua karyawan di shift itu."


"Ta-pi, Pak?"


"Rezeki jangan ditolak! Oh ya, habis ini kamu cek setiap meja yang baru ditinggalkan pastikan semua bersih dan langsung datangi tamu yang baru tiba jangan membiarkan mereka menunggu!"


"Baik, Pak."


_____________________


"Hai Sayang, sudah bersih-bersihnya?" ucap Dona yang sedang membaca majalah, ia seketika menoleh melihat raga putranya masuk. Tampak di kamar itu juga Dara tengah merebahkan diri memainkan ponselnya.


Bias mendekat sembari mengangguk. Ia langsung naik ke ranjang, menggeser tubuh Dara yang menghimpit Dona.


"Mas, ganggu aja sih!"


"Minggir! Gantian! Mas juga mau deket Mama!" Bias dengan santainya langsung berbaring di pangkuan Dona.


"Gimana, sudah dipilih belum foto yang Mama kirim? Cantik-cantik, kan? Mereka semua anak kuliahan lho!" Bukan menjawab, Bias malah menyembunyikan wajahnya di pangkuan Dona.


"Hei, hei! Bangun! Ingat! Kamu itu sudah mau 22 tahun loh. Jangan kayak bocah begini___


"Ayo duduk! Kita harus bicara!" Bias akhirnya bangkit dengan malas.


"Ma, Bias nggak akan datang ke acara itu!"


"Heii, kenapa? Itu artinya kamu kalah! Apa itu Ra namanya bahasa anak sekarang?"


"Gagal move on, Mama!"


"Nah itu! Tiga tahun loh, Bi! Kamu ganteng, pinter, bulan depan juga mulai masuk ke perusahaan papa. Menurut Mama nggak akan sulit kamu cari gadis pengganti Nasya!"

__ADS_1


"Ma, nggak bisa!"


"Nggak bisa karena kamu memang gak pernah buka hati kamu buat yang lain!"


"Nggak, Ma!"


Dona menangkup rahang putranya. "Bangkit! Laki-laki jangan kalah karena satu perempuan!" Bias bergeming. Dona melepaskan tangannya.


"Lagipula kamu lihat sendiri kan, Nasya begitu bahagia dengan pernikahannya bersama si Reno yang banyak tato itu. Ih jijik Mama kalau inget suami Nasya tangannya penuh gambar begitu."


"Itu tren loh, Ma!" sela Dara.


"Eh diem kamu nggak usah ikut nyahut! Awas aja kamu Ra kalau punya temen deket model begitu! Mama cincang kamu!"


"Ih, Mama sadis!"


"Ya, iya lah. Cari pasangan itu yang baik-baik! Memotivasi bukan yang suka karena fisik kita aja!"


"Mama mulai deh ceramah, aku mau mandi ahh___


"Eh ini anak kalau di kasih tau senengnya menghindar!"


Baru keluar kamar, tiba-tiba Dara masuk lagi. Ia berlari mendekati Dona. Dara mencium kening mamanya itu. "Dara tau Mama! Mama jangan khawatir!" bisik Dara.


"Terima kasih, Sayang!" Dona menangkup rahang Dara dan mencium sepasang pipi putrinya.


"Eh, tuh kan! Kenapa juga mama jadi bahas Dara."


"Bi! Mama serius! Buka hati, Nak! Oke kalau kamu nggak suka dengan gadis di foto-foto yang Mama kirim, tapi Mama mau kita sekeluarga datang ke acara tujuh bulanan Nasya nanti dan Mama harap kamu nggak datang sendiri!"


"Ma___


"Tante Utari ngundang Mama langsung loh, Bi. Nasya juga telfon Mama katanya dia udah chat kamu tapi belum dibuka!"


"Bias takut ada yang nggak suka kalau Bias dateng!"


"Reno?" Bias mengangguk. Dona sebaliknya tertawa.


"Nyari alasan kamu! Bilang aja hati kamu yang nggak siap lihat Nasya udah hamil lagi!" Bias menggeleng-geleng.


"Bias padahal serius loh, Ma! Ya, walau ucapan Mama nggak salah juga!" Dona kembali tersenyum.


"Makanya jangan datang sendiri! Buktikan kamu sudah move on!"


...________________________________________...


🥀Bab selanjutnya ada bang Jo.


🥀Happy reading😘😘

__ADS_1


🥀Aku tuh seneng kalau banyak yang komen. Jadi semangat nulisnya😁❤️❤️


__ADS_2