
"Jadi kalian benar mau pulang sekarang?" ucap Ratri sambil mengangkat badan dari pembaringan setelah sebelumnya secara perlahan Bias mengusap lembut bahu eyangnya tersebut berusaha membangunkan.
"Iya, Eyang," jawab Bias.
"Anggur yang kemarin kita petik kamu bawa, ya! Buat camilan Ziva di jalan."
"Nggak usah Eyang, buat Eyang saja," utar Zee.
"Eyang pribadi kurang suka anggur. Biasanya juga dipetikin mbak Nah untuk anaknya di rumah. Sudah bawa saja! Siapa yang mau makan di sini!"
"Oke oke makasih ya Eyangku yang cantik," lirih Bias menggoda Ratri.
"Nakal! Eyang keriput di bilang cantik. Memangnya Eyang gadis ABG apa," seloroh Ratri mencubit hidung Bias. Bias tertawa.
"Oh ya, kalian harus makan dulu lho sebelum pulang! Biar Eyang gak kepikiran!" ucap Eyang sambil berjalan ke luar kamar. Zee menggeleng lirih menghadap Bias.
"Sedikit aja ya, Yang. Biar Eyang seneng!"
"Tapi aku sudah kenyang."
"Sedikit! Kita nggak tau juga di jalan macet atau nggak nanti. Eyang benar, perut diisi dulu lebih baik!"
"Ya sudah."
•
•
"Padahal Eyang itu maunya kalian nginep seminggu gitu di sini supaya Eyang gak kesepian. Eh malah baru satu malam sudah pamit pulang," ujar Ratri sejak tadi terus saja bicara tak merasa lelah. Bias dan Zee yang sedang makan seolah sedang di Kafe, makan diiringi alunan musik keroncong tanpa jeda.
Acara makan itu akhirnya selesai tepat jam menunjuk pukul 7 malam. Bias kembali pamit dan keduanya tampak berjalan menuju teras. Mbak Nah dengan cekatan berjalan cepat dan memasukkan tas belanja berisi anggur ke jok belakang mobil.
"Terima kasih banyak ya, Eyang. Sehat selalu. Bias sayang Eyang!" Lirih Bias memeluk raga Ratri.
"Eyang juga sayang kamu. Hati-hati menyetirnya gak perlu ngebut, santai saja! Kabari Eyang kalau sudah sampai!" Bias mengangguk.
"Ziva pulang Eyang, rumah Eyang nyaman banget, Ziva senang. Eyang sehat terus, ya!"
"Kamu juga sehat-sehat dan akur terus sama anak nakal ini!" Bias memeluk dua raga beda usia di hadapannya, baru setelahnya ia masuk ke mobil.
Beberapa saat berlalu, dugaan eyang Ratri nyatanya benar, jalanan tol menuju Jakarta itu begitu padat merayap. Banyaknya kendaraan dari arah Bandung membuat mobil yang Bias kemudikan nyaris tak bisa bergerak. Zee mulai bosan, ia meraih tas belanja di jok tengah dan Zee terus mengemil anggur sepanjang perjalanan. Alunan lagu lawas Celline Dion, Shania Twain dan Whitney Houston menjadi pengiring keduanya menuju rumah bilangan Bintaro tersebut.
Jam analog di lengan Bias menunjuk Pukul 23:10 saat mobil Bias memasuki pelataran. Empat jam perjalanan kurang lebih mereka lalui yang tentunya membuat keduanya lelah. Melihat Zee yang tidur begitu pulas, Bias memilih menggendong tubuh istrinya ke dalam.
"Yang, apa kita sudah di rumah?" lirih Zee berucap masih dengan memejamkan mata saat tubuhnya mendarat ke ranjang, ia sangat mengantuk.
__ADS_1
"Iya, kita sudah sampai. Ganti baju dulu dengan yang lebih nyaman ya!" bisik Bias sambil mengusap kepala Zee, berusaha membangunkan Zee yang sudah terlelap lagi.
"Yang," panggil Bias lagi.
"Aku ngantuk, Yang!" jawab Zee singkat, jiwa itu sudah tak bergerak lagi setelahnya. Bias yang ingin istrinya nyaman akhirnya membuka perlahan setelah rok plisket sebetis berpadu sweater longgar dari tubuh Zee dan memakaikan dress rayon full kancing sebatas paha. Bias meletakkan selimut menutupi tubuh Zee setelahnya.
Bias kini keluar kamar memastikan seluruh pintu terkunci, baru ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Zee yang selalu menjadi candu untuknya.
___________________
📞Iya halo siapa ini?
Zee meraih telepon rumah yang sejak tadi terus berdering padahal ia masih melakukan sarapan bersama Bias.
📱Ihh masa lo lupa suara gue sih, Zee! Gue Siska!
📞Hah! Siapa ulangi?
📱Siska, Honeyyy
📞Serius? Ini Siska temen SMA aku?
📱Very serious! Gue semalem balik dari Amerika and miss you so much Zivanya Alkaridz! Gue mau kita ketemu!
📞Ahh Siska .... Pastilah aku mau ketemu kamu! Kamu apa kabar, Sis? Kayak ngilang gitu, sih? Kamu sudah jadi apa sekarang?
📞Eh, kok kamu tahu a-ku sama kak Bi-as?
📱Ini juga yang harus lo jelasin pas ketemu nanti! Bisa-bisanya lo nikah gak ngabarin gue, sama kak Bias pula. Oh My God, lo apain tuh kak Bias sampe bisa milih lo! Berani nikah muda pula!
📞Masalah i-tu____
📱Gak usah di ceritain sekarang! Nanti aja pas ketemu!! Yaudah gitu aja, ya! Gue harus ke Agency pagi ini!
📞Oh, iya.
Seketika panggilan terputus.
"Siapa, Yang?"
"Eh, kamu?" Zee kaget Bias tiba-tiba Bias sudah ada di belakangnya.
"Kamu serius banget ngobrolnya. Emang siapa, sih?" Bias menatap lekat Zee, ia benar-benar penasaran sebab setahunya Zee tak memiliki banyak teman.
"Siska, Yang."
__ADS_1
"Siska? Siapa dia?" Bias bertanya lagi.
"Dia temen saat aku SMA, satu sekolah sama kamu juga."
"Aku nggak kenal tuh!"
"Ya, memang dia gak suka ikut kegiatan sekolah, tapi dia teman sekelas aku," jelas Zee.
"Sedekat apa hubungan kalian?" tanya Bias menarik jemari Zee untuk berpindah duduk di sofa. Zee menurut.
"Dekat, Yang!"
"Tapi aku kok nggak pernah denger kamu cerita tentang dia?"
"Soalnya setelah lulus dia ngelanjutin kuliah ke luar negeri, kami loose kontak. Jadi nggak ada yang bisa aku ceritain ke kamu." Bias tampak terdiam.
"Hmm ... Jangan bilang dia i-tu teman yang bikin surat palsu atas nama aku dan ngasih ke kamu!" lugas Bias. Zee menatap wajah serius Bias sesaat dan mengangguk setelahnya.
Bias berdecak dan menggelengkan kepala. Ia terdiam beberapa saat baru bicara lagi.
"Aku tadi dengar dia mengajak kamu bertemu?" Zee mengangguk.
"Maaf, Yang ... tapi kamu terlalu baik! Ngapain juga orang begitu masih dijadikan teman?"
"Dia sudah minta maaf dan merasa bersalah, Yang! Aku lihat keseriusan itu! Dan aku merasa perlu memberi kesempatan untuk mereka memperbaiki diri!"
"Jangan terlalu baik, Yang! Aku memang gak kenal si Siska itu. Tapi kok aku kurang srek aja kamu deket dia."
"Yang, jangan negatif dong! Setiap orang pasti punya salah, tapi menyadari serta menyesali adalah hal terbaik." Bias membuang napasnya kasar.
"Memang dia ngajak bertemu kapan?"
"Nanti sore."
"Alamatnya?"
"Nanti dia akan kirim alamatnya ke aku."
"Kirim juga ke aku! Aku akan jemput kamu nanti, tapi maaf aku nggak bisa nganter," ucap Bias mengusap-usap jemari Zee dan menciumnya.
"Aku akan naik ojek online," ucap Zee.
"Jangan ojek, taxi saja!" Zee mengangguk.
..._____________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘
🥀Komen yang banyak dong😁❤️❤️