ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MIMPI BARU


__ADS_3

"Haaa ... udah Yang ... udah, ampuun!!" Bias terus mengelitiki Zee saat ini, terus dan terus, hingga tiba-tiba jemari Bias menyusup ke bawah kaki Zee dan menggendong tubuh itu ala bridal sampai ke ranjang.


"Sekarang bilang apa yang lagi kamu pikirin dan buat kamu gak bisa tidur?" tanya Bias membelai wajah itu.


"Aku lagi ingin sesuatu!"


Bias menatap wajah Zee intens. "Boleh aku tebak?" Zee mengangguk.


"Kamu pasti mau mulai kuli-ah ka-n?" ucap Bias lirih. Ia seakan berat melontar kalimat itu, hari-harinya 2 bulan ini yang selalu dihabiskan bersama membuat Bias berpikir akan kehilangan Zee dan kebersamaan keduanya. Ia yang beberapa waktu lalu merasa senang saat menawari Zee untuk mulai kuliah dan Zee menolak karena ingin mendampinginya kini rasa itu hilang. Namun Bias sadar ia tidak boleh egois, dua bulan cukup, Zee memiliki mimpi dan ia sudah berjanji akan selalu men-support apa pun yang ingin dilakukan istrinya itu. Ya, termasuk yang kini akan Zee minta sesuai prediksi Bias, melanjutkan kuliah.


"Bu-kan, bukan i-tu," lirih Zee menatap seksama wajah Bias. Lelakinya itu masih berpikir mimpi dirinya, mimpi keegoisan dirinya, hal yang beberapa saat lalu ia putuskan untuk menyingkirkannya sesaat. Zee manatap Bias membulatkan matanya seakan tak menyangka asumsinya salah. Ia terlihat mulai berpikir lagi.


"Sudah jangan menebak lagi, aku akan beritahu," ucap Zee membuat Bias mengangguk dengan wajah penasaran yang tinggi.


Zee menaikkan sedikit tubuhnya mendekati wajah Bias. "A-ku mau Bias kecil!" Alis Bias terangkat, ia semakin bingung dan tak ingin menduga maksud Zee.


"Mak-sud kamu?"


"A-nak! Aku mau anak. A-ku mau ada bias kecil di perut aku," ucap Zee. Bias menghela napas panjang dan mengangkat tubuh, duduk bersandar head board ranjang. Zee mengikuti.


"Jangan minta itu," lugas Bias.


"Lho, kenapa?"


"Pasti kamu terpengaruh dengan ucapan papa, kan? Atau Dara, atau juga Nasya? Nggak Yang, aku nggak mau kamu terpaksa meminta ini! Aku tau cita-cita dan mimpi kamu. Kamu nggak perlu begini untuk menyenangkan keluarga aku!" Bias yang beberapa saat lalu berat jika Zee ingin melanjutkan kuliah, kini justru sebaliknya ia meminta Zee menggapai mimpinya. Bias sungguh tak ingin Zee mengambil keputusan bukan karena hatinya, inginnya sendiri.


"Tapi aku benar ma-u, Yang!" ucap Zee.


"Nggak! Kamu bisa berbohong di depan orang lain tapi bukan sama aku! Ini bukan kamu! Kamu adalah Zee yang akan gigih menggapai setiap plan dan mimpinya. Please gak perlu meminta ini!" lugas Bias lagi.

__ADS_1


"Tapi aku cinta kamu dan ingin ada anak kamu di rahim aku!"


"Yang, stop! Don't make me sad because you sacrificed your dream for me! ( Jangan buat aku sedih karena kamu mengorbankan mimpi kamu untuk aku). Bias baru saja ingin berdiri namun Zee menahan.


"Tapi sekarang ini jadi mimpi aku! Aku serius! Kamu harus percaya a-ku," lirih Zee berucap membuat Bias melunak, ia kembali pada posisi duduknya.


"Aku nggak terpaksa, Yang! Melahirkan anak-anak kamu adalah cita-cita utama aku saat i-ni. I'm serious, very serious! Please be-lieve me!" (Zee sudah bisa bahasa Inggris ya sekarang) Ucapan lirih kembali didengar Bias, ia menatap wajah Zee memastikan yang diucapkan istrinya itu. Zee mengangguk dengan netra memancarkan kesungguhan.


"Aku tuh marah sebetulnya sama kamu, Yang! Kamu bisa bilang ke Nasya ingin punya banyak anak sama dia, tapi kamu sedikit pun gak pernah membahas masalah anak sama aku!" Netra kesungguhan sebelumnya kini berubah penuh kepiluan.


"Apa aku begitu keras dan egoisnya sampai kamu gak ingin membagi mimpi kamu! Aku juga punya hati, Yang! Aku juga mau buat kamu bahagia, keluarga kamu bahagia! Bukan melulu ingin aku yang kamu prioritaskan!" Air mata itu sudah bercucur deras. Hati Bias tersentuh tak menyangka dengan pemikiran istrinya, istrinya sudah berubah, ia yang biasanya selalu bicara mimpi dan cita-cita dengan menggebu kini seakan menjadi Zee berbeda.


Bias memang tidak pernah membicarakan masalah anak pada Zee karena semua bertentangan dengan mimpi Zee, ia tak ingin fokus Zee terbagi. Bersama Zee sudah membuatnya bahagia, tidak ingin menambah beban Zee dengan pintanya, terlebih setelah kecelakaan ia sadar dengan kondisinya. Kini Bias yang tercekat atas setiap kata-kata Zee menarik raga itu masuk dalam dekapnya, membiarkan pakaiannya menjadi menyapu air mata Zee yang menganak sungai.


"Jangan menangis la-gi, Sa-yang! Aku percaya! Terima kasih atas mimpi baru kamu yang begitu indah." Zee terus menganggukkan kepalanya di dada Bias. Dekapan itu bertambah kuat, setelah beberapa saat Zee mengangkat wajahnya. "I love you so much."


"I love you too."


"Kamu nggak mau buat Bias kecil sekarang?"


"Jangan sekarang, kamu pasti lelah!" Zee terdiam sesaat dan membenarkan ucapan Bias. Ia mengangguk.




"Yang!"


"Kamu belum tidur juga?" Bias berpikir Zee tak bergerak sudah terlelap, tapi justru ia kembali mendengar Zee memanggilnya.

__ADS_1


"Kalau kita punya anak lelaki pasti tampan seperti kamu!" Bias yersenyum mengetahui istrinya itu masih memikirkan perihal anak.


"Iya, kalau perempuan akan cantik kayak kamu," balas Bias.


"Udah malem tidur ya, Sayang!" lirih Bias kembali sambil mengusap-usap kepala Zee.


"Yang ...."


"Hem?"


"Kalau kita punya anak akan kita beri nama siapa?"


"Kalau aku hamil dan ngidam macam-macam apa kamu akan penuhi?"


"Kalau aku melahirkan apa kamu akan dampingi aku?


"Melahirkan sakit nggak ya, Yang?"


"Kira-kira anak kita nanti akan suka basket juga gak ya seperti kita?"


"Papa kamu suka cucu laki-laki atau perempuan?"


"Kamu mau punya anak berapa______


Dan banyak lagi tanya yang dilontarkan Zee malam itu, hingga akhirnya ia terpejam juga. Bias tersenyum senang, ia tak berhenti sejak tadi menciumi istrinya, istrinya yang kini berubah, ia yang bisa meluluhkan egonya. Bias sangat bahagia. Ia merasa harus lebih gigih untuk sembuh atau paling tidak melakukan maksimal yang ia bisa. Ia harus menjadi suami lebih baik, lebih siaga, lebih kuat dan tidak mudah down karena jika semesta mengizinkan segera ia akan menjadi papa. Papa Bias.


Senyum itu semakin semringah, ia mengeratkan dekapannya dan perlahan netranya yang sejak tadi menahan kantuk kini tertutup sempurna.


...___________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


🥀Makasih untuk kalian semua yang masih ada sampai bab ini, big love pokoknya untuk kalian🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2