
"Eh ini siapa?"
"Istrinya Bias!" lugas Dona.
"Oalah, anakmu sudah nikah ternyata, pantesan aku tuh jarang lihat Bias beberapa bulan ini lho."
"Cantik! Mesti Bias takut ditinggal nikah lagi, ya?"
"Huss, yang sudah lewat jangan di bahas!" sanggah Dona.
"Siapa namamu, Nak?" tanya seorang teman Dona.
"Zi-vanya, Tante," lirih Zee malu sebab hampir 10 pasang mata sedang menatapnya saat ini.
"Kenal Bias darimana, Ziva?"
"Teman sekolah, Tante," jawab Zee.
"Oalah, cinlok to. Jadi inget masa sekolah aku tuh!"
"Sama! Ahh, indahnya kalau kita sampai menikah sama cinta pertama kita."
"Hus, hus ... inget umur, Jeng!"
Hee ....
Beberapa ibu-ibu seketika tertawa.
"Oh ya, Ziva Kuliah di mana?"
"Baru bulan depan mau mendaftar kuliah, maklum kemarin bantu bisnisnya Bias!" Melihat Zee sedang minum, Dona spontan langsung menjawab tanya itu.
"Eh iya, aku juga lihat tuh di media. Keren bisnis anakmu. Bisnis steak ya? Udah 3 cabang juga katanya lho, hebat Bias."
"Kalo aku fokus lihat temanya, beda Kafe anakmu, mengusung tema basket!"
"Iya, aku juga lihat," sela yang lain.
"Coba dulu Bias dijodohkan sama anakku!"
"Duh, sama anakku aja dong!"
"Bukan, yang paling pantes ya sama anakku!"
"Huss, kalian tuh! Yang paling pantes ya sama mantuku ini," ucap Dona menatap Zee. Zee tersenyum.
"Eh, kalau kamu narik arisan nanti tempatnya di Kafe Bias saja, Don! Katanya ada wahana anaknya, aku bisa bawa cucuku."
"Lho, memang iya ada wahana permainannya, aku juga setuju tuh di sana. Aku juga mau bawa cucuku!" ucap rekan Dona yang lain. Semua saling bersahutan membicarakan cucu-cucu mereka setelahnya. Dona kini hanya terdiam sesekali ikut tersenyum mendengar teman-temannya bercerita.
__ADS_1
"Don, tapi mantumu gak menunda kehamilan, kan? Suruh buruan cepet hamil. Asik lho punya cucu, rumah kita jadi ramai, gak boring karena ada hiburan!"
"Duh mantu secantik ini, kalau punya anak pasti cantik juga," seloroh yang lain.
"Kalau aku kayaknya masih nanti main-main sama cucunya, mantuku mau fokus kuliah dulu," ucap Dona dengan senyum getir.
"Lho kok ditunda sih, orang nikah ya biar punya keturunan dong!" ucap seorang ibu dengan nada tinggi. Dona yang mendengar biasa saja karena sudah hapal dengan suara temannya yang satu itu, tapi tidak dengan Zee seketika seolah tertampar. Ya memang Zee dan Bias menikah bukan untuk tujuan itu dulu.
"Kalian jangan lupa, dong! Bias memang sudah nikah, tapi usianya masih 22, ini mantuku juga baru mau 20. Banyak yang masih ingin mereka capai," lugas Dona.
"Oh iya, usia Bias kan memang di bawah anakku, ya!"
"Tapi gpp juga lho, Don. Misalnya mantumu itu hamil dan ngelahirin satu anak, terus baru deh dia kuliah dan berkarir. Kamu di rumah juga gak bosen bisa sambil momong cucu, anak dan menantumu biar berkarir deh."
"Nah, sekarang modelnya kebanyakan begitu! Lagipula kalau masih muda sudah KB bukannya nanti rahimnya malah kering, ya?"
Seorang wanita yang menjadi tuan rumah melihat Dona terus termenung akhirnya menyetop pembicaraan rekan-rekannya.
"Sudah sudah ahh, yuk kita makan dulu! Habis itu baru kita kocok siapa yang dapet arisan bulan depan."
"Yuk, yuk, yuk!"
Satu persatu raga itu mulai berdiri.
"Ayo, Sayang," lirih Dona mengajak Zee turut berdiri melihat rekannya yang lain sudah duduk memegang piring masing-masing. Zee menurut.
•
•
Lima menit berlalu mobil yang dikemudikan Dona sudah masuk ke pelataran. Setelah Dona menginjak pedal rem ia menatap Zee. Baru saja Zee meraih pembuka pintu Dona menahan.
"Tunggu, Sayang!"
"I-ya, Ma?" Zee menatap wajah Dona dengan perasaan bingung. Mamanya itu seakan hendak mengucapkan sesuatu tapi begitu sulit.
"Hmm ... Ziva sekarang KB?" Zee mengangguk.
"Hmm ... memang kamu gak mau kalau misalnya punya anak dulu, baru mulai kuliah?" Zee bergeming.
"Hmm ... sudah lupakan! Jangan dipikirkan, ya! Mama cuma bercanda aja kok! Sana masuk! Bias pasti sudah nunggu kamu!" Dona menepuk-nepuk pundak Zee. Zee ke luar setelahnya dari mobil dengan perasaan yang campur aduk.
Apa Mama sudah ingin memiliki cucu?
____________________
Zee yang baru saja masuk ke dalam kamar, tampak sedang malas bicara, otaknya sedang mencerna banyak hal. Kini ia hanya terdiam dan duduk di tepi ranjang. Bias yang sedang memainkan ponsel mendadak menghentikan aktivitasnya melihat istrinya sudah pulang. Secara perlahan-lahan ia menggeser posisi duduknya mendekat pada tubuh bagian belakang Zee dengan sebelah tangan langsung melingkar ke pinggang Zee, Bias berbisik setelahnya menggoda istrinya itu.
"Hai, istri Bias yang cantik! Kamu kenal Bias darimana? Kuliah di mana? Kok mau sih nikah muda? Suami kamu sering ganggu kamu, nggak?"
"Apa sih, Yang!" Zee menggerakkan bahu berharap Bias menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku cuma lagi ngulang pertanyaan teman-teman mama tadi di tempat arisan. Bener gak ucapan aku?"
"Sebagian benar. Tapi ada yang gak bisa kamu tebak!" ucap Zee.
"Apa! Teman-teman mama memang ngomong apa sama kamu sampai buat kamu jadi badmood begini, Hem?" Bias menahan bahu Zee dan memutarnya hingga Zee menghadap ke arahnya kini. Ia menantikan jawaban dari Zee.
"Aku pribadi biasa aja sih, Yang. Tapi kayaknya ucapan teman-teman Mama bikin mama jadi aneh, Mama jadi diem sepanjang jalan pulang tadi. Saat di parkiran juga, mendadak Mama nanya hal yang belum terbayang untuk aku." Netra Zee menatap ke arah Bias sayu.
"Teman-teman Mama bicara apa aja? Mama juga bicara apa ke kamu?" lirih Bias berucap. Zee tak menjawab tanya itu. Ia hanya menggeleng.
"Jawab, Sayang! Ingat! Apa saja harus kita bagi!" Bias menaikkan dagu Zee. Netra Zee terus menatap wajah Bias. Bias menaikkan alisnya, tak sabar menunggu jawaban Zee.
"Mereka bicara cucu!"
"Terus?"
"Ya Mama jadi kepikiran kayaknya!"
"Ucapan lainnya?"
"Tentang KB. Kalau di usia muda sudah KB rahimnya bisa kering, begitu kata teman-teman mama." Bias bergeming.
"Kalau yang mama tanya ke kamu?"
"Ya tentang itu juga!"
"Cucu dan KB?" Zee mengangguk.
"Mama bilang ke kamu udah pengen cucu gitu?"
"Nggak begitu juga, Yang. Mama tadi tanya apa aku KB, aku mengangguk. Terus mama tanya lagi, apa aku gak mau kalau misalnya punya anak dulu, baru mulai kuliah?"
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bingung jawab apa, kalau aku terang-terangan bilang belum mau punya anak, mama pasti sedih. Tapi kalau aku iya-in ucapan mama, semua bertentangan sama keinginan aku. Kamu kan tau aku masih mau kuliah, Yang!"
"Sini!" Bias menarik tubuh Zee masuk ke pelukannya. "Mama sejak awal juga tau kok mau kita apa. Aku udah pernah bilang. Mama aku itu baik, kamu jangan mikir macam-macam! Kalau tadi mama ngomong begitu, itu karena masih kebawa ucapan teman-temannya. Tapi aku kenal mama, mama akan jaga perasaan kamu dan jarang memaksa anaknya harus ini dan itu! Ya, kecuali kalau ada sangkut paut sama papa. Kamu sabar ya, Sayang!" bisik Bias. Ia terus mengusap-usap bahu Zee.
"Terima ka-sih, aku tenang, Yang!" Bias mengangguk.
"Udah ganti baju sana, sebentar lagi adzan Maghrib." Zee mengangguk.
"Oh ya, Yang ... nanti malem pak Alaric mau datang!"
...____________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Menjawab salah satu komen di bab kemarin mengenai mandi junub Bias apakah sah. padahal kakinya tidak kena air, mohon maaf sebelumnya jika ada kesalahan🙏🙏 sumber //google
__ADS_1