
"Kamu senyum-senyum terus sih, Yang? Jangan-jangan karena habis dikasih kiss sama mantan," seloroh Zee yang melihat raut wajah Bias yang tak henti tersenyum.
"Kamu cemburu?"
"Nggak!"
"Really?" kata Bias sambil meraih jemari Zee. Ia senang menggoda Zee.
"Yang ihh, tangannya! Kamu lagi nyetir nggak usah pegang-pegang deh! Bahaya!" ucap Zee lagi.
Senyum itu semakin melebar, Bias melepas jemari Zee. "Makasih ya Yang, aku seneng banget lihat kamu sama Nasya akur," ucap Bias. Zee kini tersenyum, ia menatap Bias sesaat dan mengangguk.
"Aku lihat dari jauh Nasya bisikin kamu sesuatu, ngomong apa dia?"
"Kamu kepo, Yang. Maaf tapi ini rahasia."
"Duh udah punya rahasia berdua pula, tapi gpp selama kamu seneng nggak badmood kayak di dalam rumah tadi," ucap Bias, Zee kini terdiam.
"Papa kamu kapan ya Yang bisa sayang sama aku!" ucap Zee tiba-tiba. Bias tersenyum getir mendengar ucapan Zee, ia mengusap-usap bahu Zee dan menariknya hingga tubuh Zee kini bersandar ke bahu miliknya.
"Sabar ya, Yang!" lirih Bias mengecup puncak kepala istrinya itu. Setelahnya Zee mangangkat badan kembali pada tempatnya. Ia menatap ke luar jendela di mana rintik hujan mulai membasahi bumi.
Dalam diam Zee terus terngiang pembicaraan Dara dan mama Dona. Zee menyadari satu hal, mama Dona nyatanya mengharapkan anak dari dia dan Bias walau di mulut ia menyangkalnya. Terselip haru di hati Zee, ibu dari suaminya itu berusaha memahami posisinya, keinginannya, tidak menekan dan justru iba padanya yang memilih belum melanjutkan kuliah karena fokus membantu Bias.
Zee sedih mengapa mama Dona merasa jika ia kesulitan dan lelah seolah Bias beban, padahal Zee tak merasa hal itu sedikit pun. Kini Zee menatap Bias di kejauhan, lelaki yang sedang menyetir itu adalah suaminya. Suami yang sejak kecelakaan memang belum pulih sepenuhnya dan mungkin selamanya akan mengalami keterbatasan gerak tertentu. Lelaki yang nyatanya begitu ia cintai dan sebaliknya juga mencintainya. Ia sedih jika melakukan yang terbaik untuk suaminya itu di anggap sebuah beban oleh ibu mertuanya. Mengapa mama Dona bisa berpikir seperti itu. Hal yang kini membuat Zee sedih.
"Yang ... kenapa?" tanya Bias menyadari Zee menatapnya pilu.
"Eh, gpp kok," jawab Zee kembali menghadapkan badan ke jendela. Kini Zee kembali berpikir ucapan Nasya. Tentang Bias yang pernah melontar ingin memiliki banyak anak saat bersama Nasya dulu. Hal yang tidak pernah Bias ucapkan padanya saat ini. Ada kegetiran di rasa Zee. Awalnya Zee mulai berasumsi jangan-jangan Bias tak ingin memiliki anak darinya. Hal yang langsung ditepis otaknya mengingat Bias sering melontar mencintainya.
__ADS_1
Lalu apa alasannya?
Tanya yang kembali memenuhi otak dan jawaban perih seketika muncul. Tentang Bias yang tak ingin merusak mimpinya, mimpi seorang Zee. Bias yang mengenyampingkan mimpinya dalam sebuah hubungan dan mengutamakan ingin seorang Zee. Ia yang belakangan selalu meminta Zee segera mendaftar kuliah dan meminta Zee membiarkannya menjalani aktivitasnya sendiri.
Kini satu persatu bulir entah mengapa terus memaksa keluar dari sudut mata Zee. Ia sedih karena nyatanya orang-orang di sekitarnya mengambil keputusan sendiri tanpa bicara padanya.
Apa sifatku begitu keras, hingga tak bisa membicarakan semua denganku? Aku juga bisa mendengar, aku juga punya hati yang bukan tak mungkin akan luluh. Mengapa aku tidak diajak berbicara, berdiskusi, berkompromi serta ikut membuat keputusan. Apa begitu egoisnya aku di mata yang lain, hingga mereka anggota keluargaku sendiri seolah begitu berat melontarkan keinginannya.
Air mata semakin membanjiri pipi Zee, Zee memiringkan tubuh tak ingin Bias melihat ia menangis, perlahan ia menghapus bulir itu. Zee berusaha memejamkan mata setelahnya, berharap saat bangun ia akan lebih baik.
•
•
"Yang!" Zee kaget saat terbangun bukan berada dalam mobil. Ia mengedar pandang mencari Bias. Nyatanya Bias sedang menjalankan ibadah di sisi ranjang yang ia tiduri. Zee pun baru menyadari ia sudah berada di kamarnya.
"Kamu sudah bangun, Yang?" ucap Bias lagi-lagi menangkap Zee termenung menatapnya.
"Oh ya Yang, siapa yang bawa aku ke kamar kita?" tanya Zee setelahnya.
"Kamu tuh aneh. Ya siapa lagi kalau bukan aku!" ucap Bias mengambil laptopnya dari dalam tas dan membawanya ke sofa.
"Kamu sholat dan tidur aja duluan, Yang! Aku masih ada yang harus diselesaiin," ucap Bias sedikit berteriak karena jarak dari sofa ke ranjang agak jauh. Zee mengangguk lirih dan langsung melakukan titah suaminya.
•
•
Satu jam berlalu Bias masih berkutat dengan layar 16 in di hadapannya. Zee yang juga belum mengantuk tampak asik dengan ponsel di tangan. Entah mengapa Zee sedang ingin mencari-cari artikel mengenai kehamilan, keutamaan wanita menjadi ibu, melihat gambar-gambar bayi, menonton video menakjubkan bayi-bayi yang baru saja dilahirkan, juga berkhayal mengenai nama-nama bayi yang indah yang mungkin akan menjadi nama anaknya kelak.
__ADS_1
Zee kini tak berhenti tersenyum, otaknya seakan tak ingin berhenti mencari, ia beralih dari artikel satu ke artikel lain mengenai tema yang sedang ingin ia baca, beralih ke foto dan video bayi. Baru melihat dan membayangkan saja Zee merasa sangat bahagia, kini ia mulai membayangkan reaksi Bias saat memiliki anak, reaksi kebahagiaan mama Dona dan papa Libra, juga antusiasme ibu dan ayahnya.
Zee kembali teringat pula lontaran Nasya bahwa Bias pernah bermimpi ingin memiliki banyak anak. Zee menatap di kejauhan wajah Bias, wajah tampan suaminya. Ia mulai berkhayal lagi mengenai beberapa anak yang akan setampan Bias dan meramaikan rumahnya, hal yang seketika begitu menyenangkan dan membahagiakan melebihi bayangan kebahagiaan saat ia mendapat gelar lulusan terbaik dari sebuah perguruan tinggi.
Zee memejamkan mata setelahnya, ia merasa yakin akan suatu hal. Sebuah keputusan yang akan ia ambil. Keputusan yang akan memberi bahagia dirinya dan banyak orang di sekitarnya. Zee yang sedang begitu bersemangat tampak mendekat ke arah di mana Bias berada.
"Yang ...," lirih Zee mulai memeluk raga Bias.
Bias menoleh. "Belum tidur, sih? Sudah aku bilang kan tidur duluan, hem!"
"Aku gak bisa tidur sendiri," ucap Zee dengan manja. Bias tersenyum.
"Kamu tuh, gemes banget tau gak!" seloroh Bias mencium singkat pipi Zee dan kembali memusatkan perhatian pada laptopnya lagi.
"Yang, udahan dong kerjanya!" ucap Zee lagi.
"Sayang, kamu duluan ya tidurnya! Nanti aku pasti langsung peluk kamu," kata Bias.
"Aku nggak mau nanti, mau peluknya sekarang!"
"Yang, kamu sehat kan? Tumben sih!" Bias mengarahkan tangan ke dahi Zee, ia tampak bingung sebab sangat jarang Zee mengganggunya saat sedang bekerja.
"Ihh kamu jahat banget sih, Yang. Ya aku sehatlah!" pungkas Zee merapatkan tubuhnya ke punggung Bias, ia memeluk Bias dari belakang dan menggesek-gesekkan tubuhnya menggoda Bias.
"Huhh .... Yang, kamu tuh nakal bgt ganggu aku. Kamu kayaknya minta aku hukum!"
"Haaa ... udah Yang ... udah, ampuun!!" Bias terus mengelitiki Zee saat ini, terus dan terus, hingga tiba-tiba jemari Bias menyusup ke bawah kaki Zee dan menggendong tubuh itu ala bridal sampai ke ranjang.
...____________________________________...
__ADS_1
🥀Happy reading😘😘
🥀Tadinya mau satu bab hari ini hamil, melahirkan dan End, berhubung takut di Demo emak-emak. Kita Buat pelan-pelan tiap kejadian sampel akhir bulan😁😁🤗🤗❤️❤️