ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
HAL TAK TERBAYAR


__ADS_3

"Yang ... kenapa?" Bias bingung pagi itu Zee terus bolak-balik ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Gak tau, Yang ... mual!"


"Hari ini gak usah ke kampus ya! Kita ke Dokter!" ucap Bias dibalas anggukan Zee. Zee memang merasa tak nyaman dengan kondisi ini. Merasa memerlukan obat, agar kondisinya baik dan ia bisa kuliah dengan tenang.


Siang menjelang zuhur dua raga masuk ke ruang dokter umum sebuah Rumah Sakit besar di Jakarta. Dokter tampak memeriksa kondisi Zee seksama dan meminta Zee kembali duduk setelahnya.


"Boleh tau bagaimana frekuensi datang bulan Ibu Ziva?"


"Tidak teratur, Dok. Kadang maju kadang juga mundur," lirih Zee sambil menatap Bias, ia bingung mengapa Dokter menanyakan perihal itu.


"Bulan ini sudah datang bulan?"


"Hmm, be-lum Dok."


"Sudah telah berapa hari?" tanya Dokter lagi.


"Lima hari."


"Sudah coba di tespack?" Mendengar tanya Dokter eratan jemari keduanya semakin kuat, keduanya saling berpandangan dan menggeleng.


"Kenapa tidak di tes Bapak, Ibu?"

__ADS_1


"Karena sebelumnya istri saja juga sering telat, kami cek dan negatif. Jadi beberapa bulan ini kami putuskan tidak memakai alat cek itu," lugas Bias.


"Sudah berapa lama memang menikah?"


"Hampir 2 tahun, Dok, tapi fokus program 10 bulanan ini."


"Itu sih masih sebentar, kenapa takut di cek? Harus positif thinking ya Bapak Ibu!" ucap Dokter dengan santai. Ia tampak meminta suster mengambil sesuatu. Dokter meletakkan tespack yang diberikan suster di atas meja.


"Ini silahkan dicek di toilet dan nanti langsung saja masuk kembali ke dalam ruangan ini, itu opsi pertama. Opsi kedua Bapak Ibu bisa langsung memastikan ke poli kandungan dan melakukan USG karena dari pemeriksaan saya kemungkinan besar Ibu Ziva ini sedang mengandung." Baru mendengar perkiraan itu, air mata sudah menetes saja di sudut mata Zee, ia bahagia, sangat bahagia dengan kemungkinan itu. Bias seketika merangkul bahu Zee.


"Kami akan ke Poli kandungan, Dok!"


"Oke bagus!"




Masih terbaring di ranjang, Bias mencium kening Zee setelah mendengar penuturan Dokter Aira. Sedang Zee tampak menangis haru, ia sangat bahagia karena akhirnya dipercaya oleh Sang pencipta.


"Kamu dengar, Yang? Sudah ada Bias atau Zee kecil di rahim kamu! Kita akan jadi mama dan papa! Jadi orang tua, Yang!" lirih Bias ditanggapi anggukan dan derai air mata Zee. Bias kini mengarahkan wajahnya ke perut Zee. "Hai malaikat Papa, baik-baik dan tetap tumbuh sehat di dalam perut mama! We love you so much! We really can't wait to see you, Honey!" Tangis haru itu kini berubah menjadi senyum. Ya, Zee tak henti tersenyum melihat aktivitas Bias di perutnya. Zee yang bahagia terus mengusap-usap kepala Bias, hingga sebuah suara mengaburkan fokus mereka.


"Permisi! maaf Mas, bisa dibantu istrinya turun. Saya akan menjelaskan beberapa obat yang saya resepkan!" Bias membantu Zee turun. Keduanya duduk berhadapan dengan dokter Aira dan mendengar seksama setiap hal yang diucapkan dokter kandungan itu. Mengenai ada beberapa macam obat, diantaranya vitamin dan asam folat yang harus dikonsumsi Zee setiap hari , juga susu hamil. Zee juga diminta tidak terlalu lelah di tiga semester pertama.

__ADS_1


Karena Zee kerap mual, Dokter memberi obat mual dan meminta Zee untuk memaksakan diri makan demi perkembangan janinnya. Jika Zee Kesulitan makan, Dokter menyarankan mengisi nutrisi janin dengan aneka buah atau makanan apa saja yang bisa diterima perut Zee. Setelah paham dengan yang disampaikan, Zee dan Bias mengangguk dan undur diri untuk pulang.


__________________


Niat Zee untuk tetap fokus kuliah selama kehamilan patut diacungi jempol. Untuk memuluskan niatnya, Zee yang kerap mual saat memasukkan makanan berat, sudah membuat aneka jus sejak pagi. Ia akan sarapan dengan roti yang diberi margarine dan Ceres, serta membawa beberapa potong roti pula di dalam tas untuk ia makan saat lapar. Bersyukur terhadap roti dan jus perutnya bisa bekerjasama.


Bias yang memiliki niat besar pula menjadi papa tak ingin Zee merasakan kesulitan sendiri menghadapi kehamilannya. Bias begitu siaga mengantar Zee ke kampus hingga di jam pulang Bias sudah akan standbye menjemput.


Disebabkan selama mengandung Zee mendadak malas membaca, Bias sangat telaten membacakan setiap materi dalam buku Zee, Zee menyimak hingga ia paham apa maksud dari materi tersebut. Tak jarang setiap tugas Zee, Bias pula yang membantu mengerjakan karena Zee lebih sering ketiduran saat belajar. Bias memahami kondisi istrinya dan ia memegang ucapan yang pernah ia lontarkan. Bias siap sepenuh hati disusahkan dan itu terjadi.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, 7 bulan kini kehamilan Zee. Dona sangat antusias mengadakan pengajian untuk 7 bulan calon cucu pertama yang sesuai prediksi berjenis kelamin perempuan tersebut. Jenis kelamin yang awalnya membuat Zee kecewa, tapi Bias memberi pengertian bahwa apapun jenis kelamin adalah rizki yang diberikan Pencipta dan pasti terbaik. Bias sangat antusias menjalani hari-hari di semester akhir tersebut, berbagai pakaian bayi, box bayi dan keperluan lain mulai mereka beli. Atas luapan bahagianya, sebuah kamar bahkan sudah dipersiapkan Bias untuk menyambut sang princess yang akan segera lahir.


__________________


"Yang mana lagi yang pegal, hem?" tanya Bias dengan penuh kasih pada Zee yang mulai merasa berat membawa beban putri kecil di perut. Tak ayal setiap malam Zee pasti meminta dipijat kakinya oleh Bias. Bias senang melakukannya. Memijat kaki Zee sambil melihat pergerakan putri kecil yang mulai aktif membuat perut Zee terus berubah bentuk. Hal ajaib yang dijumpai Bias, sungguh hebat penciptaan Sang Kuasa. Semakin Bias berpikir, ia akan semakin membenarkan ke Maha besaran Penciptanya dan semakin besar pula rasa cintanya pada Zee.


Zee yang membiarkan masa mudanya dipenuhi banyak cerita bersamanya. Zee yang kini sedang mengandung calon anaknya, merasakan tubuhnya yang sudah tak seindah gadis seusianya, waktu dan otaknya yang terbagi banyak hal, kepayahan, rasa lelah, rasa tidak nyaman dan banyak hal yang Zee alami sungguh tak bisa dibayar apa pun. Bahkan Bias merasa cintanya saja masih belum cukup membayar yang Zee rasa.


Kini HPL persalinan itu semakin dekat. Zee mulai sulit tidur. Ke kanan, kiri membuatnya tidak nyaman. Di saat seperti itu Bias akan terus mengusap kepala istrinya itu sambil menyanyikan lagu-lagu cinta yang indah hingga Zee tertidur dalam dekapannya.


...______________________________________...


🥀Maaf bab hari ini penuh dengan narasi. Menjelang End dan gak bisa ditawar lagi yaaa😘😘

__ADS_1


🥀 Happy reading❤️❤️


__ADS_2