
Hari mulai malam. Jam dinding menunjuk pukul 7 namun pengunjung yang tiba masih hitungan jari. Zee melihat ada rahut kecewa di wajah Bias mendekat dan menarik lengan itu ke wahana permainan anak.
"Apa, Yang?"
"Ini pegang!" Sebuah bola diberikan Zee ke tangan Bias.
"Ayo kita adu poin terbanyak! Yang sedikit harus teraktir es krim!" Bias masih bergeming.
"Yang ... ayo dong! Jangan-jangan kamu mulai takut lawan aku, ya!" ucap Zee sambil tersenyum. Bias menatap Zee tanpa kata.
"Yang, kok diem aja sih? Ayo, hitungan 3 kita mulai, ya!" Zee memasukkan koin ke dua mesin berbeda.
"1-2-3!"
Zee mulai memasukkan bola, tapi tidak dengan Bias. Bias hanya menatap Zee tak berkedip.
"Yang, kamu kok cuma lihat aku aja sih? Aku cantik, ya?" Zee masih mengajak Bias bercanda, namun Bias justru berbalik dan menuju ke lantai atas. Pak Andi chef yang bertugas tampak mematung melihat Bias dan Zee.
"Pak Andi, sambil menunggu pengunjung datang Bapak bisa duduk di depan dulu, ya!" kata Zee sebelum kembali mengejar Bias. Pak Andi sangat paham dengan kondisi pengusaha pemula seperti Bias, ia menurut.
"Yang, ada apa?" lirih Zee bertanya.
Bias menatap Zee. "Kok kamu bisa santai gini, sih?"
"Lho, emang kenapa?" Zee tahu maksud Bias tapi memilih pura-pura tidak paham.
"Masih nanya juga? Lihat! Kafe kita sepi, Yang!" ucap Bias menaikkan nada suaranya.
__ADS_1
"Memang kenapa kalau sepi?" tandas Zee.
"Nanya lagi! Ya, aku makin gak enak sama ayah kamu! Aku mau nikahin kamu tapi pekerjaan aku masih kayak gini! Belum kelihatan hasil!"
"Ayah aku nggak pernah bilang masalah hasil, kan! Yang penting kamu udah kerja, Yang!"
"Ya ampun, kamu nggak ngerti, ya! Aku akan jadi kepala keluarga! Kita gak bisa ngandelin cuma dari tabungan! Aku juga pengen biayain kuliah kamu, sekolah adik-adik kamu, juga bantu keluarga kamu! Tapi baru dibuka aja pembelinya sedikit! Gimana ngumpulin uangnya!" Mata itu sedih. Zee menangkup rahang itu.
"Kamu kumat! Gak konsisten! Siapa yang pernah bilang ke aku kalau setiap hal ada resikonya? Udah lupa? Masalah hari ini, ini hari pertama, Yang! Wajarlah pengunjung kita gak sebanyak pengunjung Kafe sebelah! Mereka belum ngerasain menu kita!" Bias menatap wajah Zee tanpa kata.
"Sabar, Yang! Aku aja yakin Kafe kita tuh oke! Beda! Steak kita juga enak, masalah waktu aja!" lirih Zee.
Bias menarik napasnya panjang. Ia menatap Zee dan mengangguk akhirnya.
"Udahan ya bad moodnya!" ucap Zee. Bias lagi-lagi mengangguk.
"Kamu ganteng banget kalau senyum kayak tadi!" Bias menggelengkan kepala.
"Aku ke bawah duluan ya! Kamu ganti baju dulu!" Bias mengangguk.
Di bawah Zee dibantu pak Andi menutup Kafe. Setelah semua beres, Pak Andi meninggalkan Kafe. Tak berselang lama, Zee yang melihat Bias menuruni anak tangga tampak tersenyum, Bias terlihat berbeda. Ya, kondisi mood-nya sudah lebih baik.
"Yuk kita berangkat sekarang!"
"Eh tunggu tunggu!"
__ADS_1
"Ke-napa? Aku kucel, ya?" ucap Zee sadar Bias memperhatikan wajahnya.
"Kamu kelihatan cape banget, nggak usah jalan, aku anter kamu pulang aja!"
"Aku nggak capek kok!"
"Kamu nggak bisa bohong, Yang! Kita udah kurang tidur dari kemarin. Pulang aja, ya!" kata Bias lagi. Zee menahan lengan Bias.
"Yang, dengerin aku dong!" Bias kembali bicara.
"Hem, iya. Tapi aku mau makan es krim dulu!" Bias menatap Zee, ia mengangguk.
"Sebentar!"
"A-pa lagi?"
"Ini buka aja, ya!" Bias melepas kaca mata yang digunakan Zee. Zee yang memiliki minus memang sedang ingin memakai kaca matanya hari itu. Bias merapihkan rambut Zee setelahnya.
"Apa aku udah cantik?" Bias tersenyum.
Keduanya meninggalkan Kafe setelahnya.
...______________________________________...
🥀Isi babnya kok sedikit sih? Iya, habis komen kalian juga sedikit, sih🤧😇
__ADS_1
🥀Happy reading😘