
"Kamu laper banget, Yang?"
"Iya, banget. Seharian ini aktivitas aku padat sampe lupa makan," ucap Bias lagi-lagi mengambil satu tusuk sate klatak, melahap nasi yang sudah dibasahi dengan kuah gulai dan menggigit sate itu setelahnya.
"Enak banget ini, Yang. Kamu yakin gak mau? Apa mau disuapin?" Bias begitu antusias dengan aktivitas makannya. Sangat jelas ia begitu lapar.
"Nggak ah, Yang. Aku tadi sore udah makan, masih kenyang."
"Itu kan sore. Yuk buka mulut, enak lho ini. Walau makanan pinggir jalan tapi rasanya gak kalah sama di resto-resto, harganya juga terjangkau," ucap Bias yang begitu menikmati sate khas yang berasal dari Bantul tersebut. Hal unik dari sate itu, yaitu penjaja menggunakan daging kambing muda yang ditusuk menggunakan jeruji.
"Yauda, tapi kalau ada yang kamu mau bilang, ya!" ucap Bias meletakkan tusukan sate yang sudah kosong dan meraih jemari Zee, ia mengarahkan jemari itu ke pipinya dan mengusap-usap jari Zee di sana. Zee mengangguk.
"Aku kangen banget sama kamu, Yang," ucap Bias menematkan senyum yang membuatnya kian manis.
"Aku juga!" Zee menarik jemari Bias kini ke bibirnya, ia berkali mengecupnya. Bias tertawa. "Udah dulu! aku lanjutin makan aku dulu, ya?" Keduanya kembali tertawa. Zee menarik gelas besar yang berisi teh manis hangat di tangan dan menyesapnya.
"Oh ya, Yang! Kondisi kaki kamu bener udah baik. Jangan-jangan kamu paksa untuk ke sini padahal belum dibolehin Dokter lagi?" Zee memindahkan tangan ke paha Bias, menekan-nekan paha itu, memijatnya.
"Alhamdulillah kata Dokter udah bagus kok. Tadi siang aku udah Rontgen juga, tapi ya gitu ... aku masih belum bisa lari dan main basket."
"Gpp, segini aku udah seneng. Lagian ngapain juga kamu lari-lari. Masalah main basket, sabar! Nanti ada waktunya kamu bisa main lagi," ucap Zee memberi semangat Bias, ada rasa sedih di hati Zee mengingat kecelakaan yang 8 bulan lalu itu suaminya alami, kecelakaan di saat kondisi dirinya dan Bias sedang kurang baik dan terlibat banyak kesalahpahaman.
"Heii, kok kamu jadi diem sih?"
"Gpp," jawab singkat Zee.
"Tapi aku ada kabar baik loh, Yang!" Wajah Bias seketika merona dengan senyum yang sulit diartikan.
"Oh ya, apa tuh?" Zee menyimak dengan serius, wajahnya ikut berbinar. Ia sudah siap merasa bahagia juga. Bias lagi-lagi meletakkan tusuk sate, kali ini sendok yang ia pakai diletakkan juga. kedua telapak tangan itu menangkup jemari Zee.
"Aku udah bisa main yang lain, Yang!" bisik Bias.
"Ihh kamu, Yang! Mesum!" balas Zee yang langsung paham maksud suaminya itu.
"Serius! Aku udah bisa mengendalikan permainan! Keeper cukup jaga gawang aja pokoknya!" Bukan diam Bias semakin menggoda Zee.
__ADS_1
"Yang, kamu ihh ngomongnya! Ini tempat umum loh, Yang!" Mata Zee terbelalak melihat perilaku Bias. Ia spontan menutup mulut Bias dengan telapak tangannya.
"Aku ngomong juga gak teriak-teriak, Sayang! Lagi pula mereka gak paham juga," bisik Bias lagi setelah membuka tangan Zee dari mulutnya.
"Kamu udah kan makannya, udahan yuk!" lontar Zee seketika mengalihkan ucapan Bias yang tak pantas diucapkan di depan umum, khawatir didengar yang lain.
"Kamu udah gak sabar, Yang?"
"Yang, kamu?" Netra Zee membulat tapi wajahnya memerah.
"Eh Yang, ke sana sebentar yuk!" Zee berucap lagi mengalihkan segalanya. Kini ia menatap lapangan luas dengan dua pohon beringin besar dan kereta odong-odong berlampu yang menjadikan suasana malam yang semarak dengan berbagai aktivitas manusia itu semakin berwarna.
"Tempat apa itu, Yang?" tanya Bias mulai penasaran.
"Alun-alun Kidul. Jujur aku juga belum pernah ke sana, tapi aku denger aja dari cerita temen-temen aku, Yang. Katanya tempat itu dulunya dipakai untuk berlatih para prajurit kerajaan, sekarang sudah bertransformasi menjadi ruang publik. Kalau sore hari kira-kira pukul lima, katanya anak-anak kecil seneng main di sini. Berlarian mengejar ratusan gelembung sabun yang ditiup penjajanya atau berteriak-teriak melambaikan tangan memanggil layang-layang aneka rupa di angkasa, katanya sih," terang Zee, Bias nampak mengangguk-angguk.
"Nah kalau beranjak malam, suasana berubah. Seperti sekarang, suasana semakin ramai. Sepeda tandem dan odong-odong berlampu menjadi favorit pengunjung. Kita bisa berkeliling alun-alun dengan menyewa sepeda tandem dan odong-odong penuh lampu. Katanya juga di pinggir-pinggir kawasan itu juga banyak penjaja makanan yang menggelar tikar, jadi sambil memesan kudapan, para pengunjung juga bisa duduk santai menikmati langit malam, pemandangan sekitar, juga merasakan semilir malam Jogya," terang Zee lagi.
"Iya, dan gak cuma itu. Ada juga sebuah mitos bahwa siapa yang dapat melewati dua pohon beringin besar di sana dengan mata tertutup maka cita-cita atau hajatnya akan terkabul. Nah, karena mitos itu, akhirnya banyak orang yang penasaran dan jadi ikut ingin membuktikan mitos tersebut," jelas Zee lagi.
"Hmm ... menarik! Oh ya, kamu bilang kan ada penjaja makanan di pinggir lapangan itu, ada makanan apa aja?" tanya Bias turut antusias melihat Zee yang menjelaskan dengan semangat.
"Katanya sih ada jagung bakar, roti bakar, wedang ronde, wedang bajigur, hmm ... apa lagi ya, aku lupa, Yang." Bias tampak tertawa kini melihat raut manja Zee yang sedang lupa.
"Kamu itu lucu banget sih, Yang! Eh, ngomong-ngomong kamu kan udah 3 bulanan lebih di sini kok gak gak main-main ke sana kalau memang tempatnya bagus?" Bias menarik alisnya bertanya pada Zee.
"Aku mau ke sana sama siapa? Risya susah di ajak ke luar malem. Mbak Lastri pernah sih ngajak aku, tapi bareng-bareng temen Mbak Lastri aku agak canggung, jadi aku memilih di kamar aja telfonan sama kamu."
"Pintar! Kamu memang sebaiknya gak banyak ke luar!" ujar Bias lagi sambil menyeruput teh hangatnya.
"Lho, kenapa?"
"Takut dilirik lelaki nakal!"
__ADS_1
"Ah itu sih yang ada kamu, tuh mata kamu ngeliat aku mesum!" Bias lagi-lagi tertawa. "Wajar lah, Yang! Biasanya aku tuh cuma lihat kamu di layar 6 in doang dan saat ini aku ngeliat kamu langsung. Aku kangen kamu, Yang!"
"Eh, kamu mau apa? Jangan peluk-peluk di muka umum!" Baru saja Bias meraih sepasang bahu Zee, istrinya itu sudah menahan.
"Ah kamu tuh, yaudah yuk cari penginapan!"
"Lho kita gak jadi ke-sana?" Zee menatap Alun-alun kidul sekitar 60 meter dari tempat mereka duduk.
"Aku masih seminggu di Jogya, Sayang. Lain kali gpp, ya? Aku ngantuk, Yang! Udah mau jam 10 juga nih. Kamu kuliah juga kan, besok?"
"Iya, besok aku ada kelas jam 9."
Bias tampak meraih ponsel dari saku, ia menekan-nekan tombol, hingga beberapa saat setelahnya wajah itu terlihat semringah.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu, Yang? Kamu lagi lihat apa?"
"Ini aku lagi cari penginapan dekat-dekat sini. Ternyata banyak pilihan dan harganya juga relatif murah. Lihat, Yang! Beberapa malahan harganya di bawah 100rb!" Zee tampak memperhatikan gambar-gambar di ponsel Bias seksama.
"Sekarang coba kita cek kalau harga hotel, ya____ Wow, Yang ... dengan harga 160 sampai 200 ribuan kita juga udah bisa masuk hotel, loh! Oke sekarang keputusan di kamu, kamu suka kita bermalam di tempat yang mana, hem?"
"Hmm ... aku suka ini!" Zee menunjuk losmen dengan harga dibawah 100rb permalam.
"Pasti karena murah, kan? Bukan sesuai hati kamu?" Bias menatap lekat netra Zee seksama. Istrinya itu memang terlalu irit dan sensitif mengenai uang.
"Bukan, emang aku gak suka yang terlalu besar, toh kita cuma berdua, cuma seminggu juga, kan?" Bias terdiam beberapa saat, ia meraih lagi ponselnya yang berada di tangan Zee, memperhatikan seksama gambar-gambar di sana.
"Oke fix kita ke tempat yang ini!"
"Lho ... kok ke sini, Yang?"
"Itu cocok gak terlalu besar sesuai ingin kamu dan yang penting bersih dan asri, aku suka!" ucap Bias, ia memperhatikan wajah Zee yang bergeming seakan berpikir.
"Yang .... Kenapa, sih? Murah juga kok ini, di atas harga pilihan kamu sedikit!" Setelah beberapa saat, Zee akhirnya mengangguk.
__ADS_1
🥀Happy reading 😘