
"Sudah sudah! Kalian itu berisik! Punya anak itu ya kalau istrinya Bias mau punya anak! Papa permisi mau istirahat!" Tak menunggu lama raga tegap itu sudah tak terlihat. Bias dengan cepat meraih jemari Zee dan menggeleng lirih. Bias tidak mau Zee memasukkan dalam hati ucapan papanya.
"Mama, ayo sekarang giliran Dara dapat suapan dari mama!" Dara tampak membuka mulutnya lebar. Gadis SMA itu tidak sadar beberapa saat lalu baru saja memicu guru hara. Huru hara batin yang kini di rasa Zee. Papa dari suaminya nyatanya tampak terang terangan menyindirnya, bukan dua mata tapi banyak mata, bahkan di hadapan Nasya yang nyatanya adalah orang asing dalam rumah itu. Mood Zee seketika berubah, wajah itu datar, dada itu sesak. Bayangan kata egois kembali memenuhi otak. Dirinya yang begitu egois.
"Apa aku begitu egois? Anak! Apa mama Dona sungguh berharap itu dariku? Kenapa papa Libra lagi-lagi berkata yang begitu menyakitkan!" monolog Zee.
"Tidak ada suap-menyuap lagi. Dara ikut Mama sebentar! Nasya, potong kue sendiri untuk Nayna dan Nico ya, Sayang." Nasya mengangguk. Dona tampak masuk ke sebuah kamar setelahnya diikuti Dara.
"Yang?" sapa Bias melihat Zee hanya terdiam. Zee sungguh merasa sedih, ia rasanya ingin menangis saja jika tidak malu ada Nasya di sana.
"Yang, aku mau ke toilet," lirih kata itu terucap dari bibir Zee.
"Kamu baik-baik aja kan, Yang!"
"Iya."
•
•
"Mama marah sama kamu, Ra! Kamu sadar ucapan kamu tadi menyakiti mbakmu! Mama melihat masmu dan mbak Ziva rukun sudah bahagia, untuk apa juga kamu membahas sesuatu yang kita tahu bersama mbakmu itu masih mau kuliah dulu!"
Melihat kemarahan Dona bahkan di hari bahagianya membuat Dara merasa bersalah. "Ma, ma-af. Dara tadi spontan, Ma! Niat Dara hanya lucu-lucuan saja!"
"Tapi itu sama sekali nggak lucu, Ra!"
"Ma, please jangan marah. Lagi pula memang benar kan Mama sudah ingin punya cucu dari kak Bias?"
"Jangan asal bicara kamu!" Dona tampak mengalihkan tatapannya.
"Maaf Ma, tapi Dara dengar saat Mama bicara di telfon dengan eyang Ratri. Saat itu Mama bilang mama juga ingin seperti teman-teman Mama yang ditemani cucunya di rumah, membawa anak kak Bias jalan-jalan ke Mall dan ke tempat arisan. Mama bilang Mama bosan terus berkutik dengan Kafe dan santai-santai saja di rumah. Ayo Mama jangan bohong, Mama pernah bilang begitu kan sama eyang?"
"I-tu ... ahh, kamu tuh! Itu kan saat Masmu belum jatuh dari motor. Tapi sekarang situasinya beda, mbakmu itu sudah capek hari-harinya merawat mas Bias, bantu mengurus Kafe, belum kerjaan di rumah. Sekarang saja dia belum mulai kuliahnya, masih gak tega melihat mas Bias melakukan ini itu sendiri. Apa kamu nggak mikir itu! Kalaupun mbakmu Hamil, ya kasihan dia dong, bertambah lagi bebannya." Dona berkata sangat lirih, ia sungguh-sungguh merasa kasihan pada Zee.
"Tapi Dara lihat mas Bias sudah bisa jalan cepet tuh! Mas Bias aja manja ada mbak Ziva!"
"Hus, kamu tuh kalo ngomong! Ya biarin kalau mas Bias manja, manjanya juga sama istrinya!"
__ADS_1
"Berarti bisa dong harusnya mereka punya anak!"
"Masih bahas ini lagi nih anak, Mama gemes kayaknya mau nguncir bibir kamu! Jangan ngomongin tentang anak! Mbakmu itu wanita modern, punya cita-cita dan gak sekedar ingin jadi istri dan punya anak aja! Lagi pula mereka masih muda, biarin aja mereka melakukan apapun yang positif yang penting keduanya rukun!"
"Tapi Mama nanti keburu tua nggak punya cucu juga!" celetuk Dara lagi.
"Eh, nih anak emang bener-bener provokator ya! Jangan ngomong yang enggak-enggak lagi! Mama nggak mau mbakmu sedih. Kemarin dia sudah mau ninggalin kuliahnya di Jogya demi Masmu, hari-harinya jadi repot. Jangan bahas anak pokoknya!" lugas Dona.
"Tapi kalau mbak Ziva tau-tau hamil Mama seneng nggak?"
"Pinter menghayal kamu! Mana bisa hamil kalau mbakmu belum mau!"
"Ihh Mama ngomongnya kayak Papa!"
"Ahh ... kamu tuh! Udah buruan ke luar sama. Jangan sampai mbak dan masmu bingung!" Baru saja Dara ingin ke luar Dona memanggil lagi.
"Eh, Ra!"
"Duh Mama apalagi sih?"
"Sini kamu, ada satu lagi yang ingin mama tanyakan! Nasya! Kamu yang undang dia datang?"
"Kalau bukan kamu yang undang, kok bisa tiba-tiba dia dateng ke sini di pas ultah Mama? Denger ya Ra, bagaimana pun dia pernah punya hubungan sama masmu, adanya dia pasti bikin mbakmu nggak nyaman! Jangan lagi suruh-suruh dia ke rumah kita!"
"Sudah Dara bilang bukan Dara, Ma! Namanya juga pernah mau jadi calon menantu, jadi tanggal ultah Mama dia sudah hafal di otak!" Dara seketika melenggang pergi.
Eh nih anak, tapi hmm ... apa mungkin begitu, ya? Sya, Sya, semoga niat kamu memang cuma sebatas silaturahmi, monolog Dona. Ia ikut ke luar setelahnya.
Tak berselang lama, Zee keluar dari balik pilar. Ia yang hendak ke toilet mendadak langkahnya terhenti mendengar suara dari balik kamar yang menyebut namanya, ia mematung dan menyimak semua pembicaraan mama dan adiknya tersebut.
"Eh Sayang dari mana?" tanya Dona melihat Zee datang dari arah dapur.
"Dari toilet, Ma!"
"Oh."
"Kok lama sih, Yang?"
__ADS_1
"Iya mendadak perut aku mules," ucap Zee memaksa tersenyum.
"Iya, Beib? Hahh ... kamu udah di rumah? Oke oke sorry. Iya aku pulang. see you, Beib!"
"Ada apa, Sya?" tanya Dona melihat Nasya dengan cepat memasukkan ponsel dan langsung memasukkan Nico ke gendongan depan.
"Bang Reno udah pulang, Tante. Aku pamit ya, Te! Oh iya ini hadiah dari aku sama titipan dari mama. Tante sehat-sehat, ya!" Nasya mencium pipi Dona.
"Ah kalian tuh repot-repot segala! Salam buat mama kamu, sama Reno juga. Kalian rukun-rukun ya, Sayang!" ucap Dona mencium balik Dona, ada rasa lega di hati itu karena nyatanya hubungan Nasya dan Reno baik-baik saja. Ia juga senang baik Nasya atau mamanya masih ingat ulang tahunnya bahkan menyempatkan memberi hadiah pula.
"Bii, aku pulang!" Nasya dengan santainya menyatukan pipinya dan Bias, baru setelahnya ia mendekati Zee.
"Bahagia selalu untuk kamu dan Bias! Maaf kalau ada kata-kata atau perilaku aku yang kurang berkenan. Aku cuma mau jaga hubungan baik sama Bias. Karena Bias pernah jadi orang yang begitu spesial untuk aku!" Nasya menatap Bias dan Bias tersenyum. Zee dan Nasya saling berpelukan setelahnya. Ada rasa bersalah di hati Zee karena beberapa saat lalu sempat berpikir buruk mengenai Nasya. Kedua wanita tampak beriringan ke pelataran, Zee beberapa kali mencium Nico. Nasya tersenyum melihatnya.
"Buruan kasih Bias anak, nanti kamu akan tahu begitu menakjubkannya menjadi ibu, bahkan bisa membuat kita menyingkirkan mimpi pribadi. Tapi itu sih aku! Karena aku memang bukan seperti kamu atau Bias! Aku kurang suka sekolah!" Nasya terus bicara sambil tertawa semringah.
"Aku pikir-pikir kamu sama Bias itu cocok lho, sama-sama sosok yang pintar dan hobi belajar, nggak kayak aku! Kalau punya anak pasti anak kalian pintar juga. Oh ya aku mau kasih tau kamu sesuatu!" Nasya menghentikan langkah, ia berjinjit mendekatkan bibirnya pada telinga Zee karena memang Zee jauh lebih tinggi dari Nasya.
"Bias itu sebetulnya suka anak-anak! Dulu dia pernah bilang mau punya anak yang banyak sama aku! Ta-pi sayangnya kami nggak berjodoh." Nasya berbisik dengan lirih. Zee menangkap ada kesedihan dari kata-kata itu. Zee menatap Nasya ingin memastikan yang ia rasa, namun Nasya sudah menampilkan wajah tersenyum.
"Nay, ayo buruan jalannya! Papa udah nunggu di rumah nih!" teriak Nasya pada Nasya yang dengan santainya berjalan sambil mengayunkan tangan Bias dan Dona di sisi kanan dan kirinya.
"Nay nggak mau pulang, Ma!" sahut Nayna.
"Eh, nggak boleh begitu. Besok kan kamu ada les. Yuk pulang, nanti lain kali kita main lagi!" ucap Nasya.
"Main ke rumah kami, Kak!" seloroh Zee.
"Sungguh kamu undang aku? Inget lho Zee, aku mantan terindah suami kamu!" lirih Nasya.
"Serius, Kak! Kak Bias memang punya mantan terindah, tapi ia juga punya masa depan yang jauh lebih indah dan itu sama aku!"
"Ahh kamu, iya aku bercanda kok. Kamu pemenangnya!"
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘😘
__ADS_1
🥀END enaknya nunggu akhir bulan atau besok aja ya😃❤️❤️