ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
STRIKER BANGUN


__ADS_3

"Yang!"


Mendengar panggilan Bias, Zee yang baru saja menjalankan ibadah langsung mendekat.


"Aku mau buang air, Yang!"


"Sebentar!"


Zee membuka kain sembahyang dengan cepat dan mengambil sebuah benda di bawah ranjang. Benda itu bernama pispot, bentuknya menyerupai WC tapi berbahan plastik. Digunakan biasanya oleh pasien yang diharuskan tetap di tempat tidur dan belum bisa banyak bergerak atau berjalan ke toilet. Baru Zee ingin mengangkat sedikit pinggul Bias. Bias berucap.


"Yang, kamu lupa? Aku sudah bisa ke toilet, Yang!"


"Eh, iya ...." Sesaat Zee lupa. Tiga bulan berlalu sudah, Bias memang sebelumnya melakukan segalanya diatas ranjang termasuk BAB dan BAK. Zee tampak telaten merawat Bias tak pernah merasa jijik. Bagi Zee lebih baik ia yang melihat kotoran suaminya dan membersihkannya setimbang ART yang tidak memiliki hubungan apapun dengan suaminya. Zee sangat menjaga privasi suaminya. Setiap pagi dan sore, Zee juga selalu rajin menyeka tubuh Bias. Walau sakit, Bias yang memang penyuka hal bersih ingin selalu tampil bersih dan harum.


Perlahan Bias memiringkan badan dan kini ia duduk. Secara perlahan Bias menggeser kakinya hingga ia duduk di tepi ranjang kini.


"Tongkat aku mana, Yang!" Zee menyerahkan tongkat Bias yang ia sandarkan di sisi nacash.


"Kamu pindahin tongkat aku, Yang? Taruh aja di samping ranjang ya, biar aku nggak perlu panggil kamu kalau butuh sesuatu!" ujar Bias. Bias memang selalu menginginkan tongkatnya selalu dekat dari ranjangnya, tapi Zee sering sengaja menjauhkannya. Pasalnya Bias yang sudah mulai belajar berjalan sering berusaha berdiri sendiri melakukan ini dan itu jika melihat tongkatnya, sedang Zee sangat khawatir Bias melakukan apa pun tanpa dirinya.


"Alhamdulillah," ucap Bias setelah menyelesaikan hajatnya. Zee tampak menutup pintu toilet.


"Aku mau ke sofa, Yang! Kamu gak perlu pegangin aku, biar aku belajar sendiri. Kalau kesulitan, aku akan panggil kamu." Zee menurut, tapi ia terus berjaga di sekitar Bias.


Bias duduk di sofa kini, ia langsung meraih laptop dan jarinya secara spontan terus bergerak menggulirkan kursor. Jika sudah berhadapan dengan laptopnya, Bias jadi serius dan tak menghiraukan hal sekitar. Ia tampak kini melakukan zoom dengan 3 orang yang ditunjuk menjadi Manager Kafe miliknya. Bias mendengar seksama satu persatu anak buahnya itu menjelaskan yang terjadi pada Kafe hari itu dan tindakan-tindakan apa saja yang Manager itu telah lakukan.



"Kamu bisa ke dapur atau melakukan apa aja yang kamu mau, Yang! Gak usah nungguin aku!" ucap Bias setelah aktivitas zoomnya selesai. Ia yang melihat Zee duduk di sampingnya tanpa melakukan apa pun takut Zee akan bosan.


"Aku seneng di deket kamu, Yang," lirih kata itu terucap. Zee dengan nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Bias.


"Kamu pasti capek ya Yang ngurusin aku," ucap Bias membuat Zee langsung menoleh dengan cepat.


"Aku nggak suka kamu ngomong begitu. Aku sayang kamu dan senang melakukannya." Zee mendekatkan wajahnya, ia mencium pipi Bias lembut setelah menyelesaikan kalimatnya. Bias menoleh.


"Terima kasih banyak! Aku juga sayang kamu, cinta kamu!" Bias merangkulkan lengan ke bahu Zee, membuat Zee semakin nyaman berada dalam dekapan Bias, sedang sebelah tangan Bias yang lain masih asik menggulir layar.

__ADS_1


"Yang ...."


"Hem?" jawab Zee.


"Kamu kan udah tau kalau papa aku yang jahatin ayah, apa kamu tetap mau kuliah mengambil hukum dan menjebloskan papa ke penjara?" Zee menoleh, ia menatap netra itu. Netra yang juga tengah menatapnya dengan pandangan tak biasa. Berkali Bias terlihat mengedipkan mata dengan sangat lambat dan perlahan. Zee menggeleng.


"Mak-sud kamu, kamu mau ambil ju-rusan lain?" ucap Bias berusaha menduga arti gelengan kepala Zee.


"Aku tetap mau ambil jurusan hukum, tapi bukan karena papa kamu lagi. Seenggaknya aku bisa membantu masyarakat menengah ke bawah yang mengalami ketidakadilan." Bias terdiam, ia tahu berat untuk Zee meluluhkan dendam dan melupakan kisah masa lalu itu, tapi Zee melakukannya. Zee juga punya niat mulia. Bias meletakkan laptop ke sofa, ia memiringkan sedikit badannya, menggeser perlahan kaki yang terjulur di atas sebuah kursi. Ia langsung memeluk Zee, membenamkan sesekali wajahnya ke bahu, menghirup aroma tubuh Zee sangat senang Bias lakukan.


"Aku bener-bener bangga sama kamu, kamu benar-benar gadis baik. Kamu mengenyampingkan ego pribadi demi aku, kamu juga punya cita-cita mulia!" Zee menunduk beberapa saat dan memaksa tersenyum setelahnya.


"Papa kamu jahat, tapi kamu, mama kamu dan Dara orang baik. Aku nggak bisa membuat kalian sedih, Yang," lirih Zee.


"Terima kasih banyak. Oh ya, belum ada jawaban beasiswa kamu? Kok lama banget, ya?"


"Belum. Gak tau juga, Yang. Katanya sih karena pesertanya dibatasi jadi lebih selektif," ucap Zee memberi jarak tubuh keduanya.


"Nanti kalau sampai akhir bulan masih gak ada kabar, kita daftar pakai jalur umum, gimana?" ucap Bias menatap lekat wajah Zee, serius dengan ucapannya.


"Nyusahin gimana? Uang hasil bisnis memang milik kita. Bukan punya aku sendiri. Please jangan nolak!" Zee terdiam.


"Mulai sekarang kamu coba browsing dan lihat-lihat kampus yang sekiranya kompeten dalam jurusan itu. Jadi nanti awal bulan kita bisa langsung daftar." Setelah menatap netra Bias beberapa saat Zee akhirnya mengangguk.


"Makasih banyak, Yang!" Zee memeluk kembali tubuh itu, lebih erat dan terus menyamankan diri hingga tiba-tiba____


"Aduh, Yang!"


"Eh, kenapa?"


Bias merangkum wajah Zee. "Striker bangun, Yang!" ucapnya lirih.


"Duh .... terus gimana?"


"Kipper bantu striker membobol gawang, ya?"


"Mak-sud-nya?"

__ADS_1


"Kamu ke sini! Kamu yang bergerak!" Bias menepuk pahanya dengan sorotan penuh harap.


"Emang ga-pa-pa? Nanti kaki kamu kegoyang-goyang. Nggak ah, Yang?"


"Jauh, Sayang, gak akan kena juga! A-yo! Udah 3 bulan Striker kasihan puasa terus, Yang!" Bias mengusap-usap bahu Zee. Zee melihat sorot mengiba itu luluh, ia pun beraksi dengan sangat hati-hati di atas tubuh Bias.


"Ahh, Yang ... terima kasih. Enak banget," ucap Bias setelah penyatuan keduanya selesai. Ia membiarkan tubuh Zee mendekap erat tubuhnya beberapa saat.


Setelahnya Zee membantu Bias mandi besar. Dua kursi memang sudah tersedia di kamar mandi. Satu untuk Bias duduk dan yang satu untuk kaki Bias. Zee menutup dahulu kaki Bias dengan perlak agar tidak terkena air.


"Yang, lagi, yuk!" Merasakan sentuhan Zee, hasrat itu muncul lagi.


"Kamu tuh lagi sakit tapi mesum, Yang!"


"Ayo dong, Yang! Kasihan ini Striker, Yang!"


"Ish, kamu___


Zee mengusap kepala Bias dan berposisi seperti sebelumnya, tak menunggu lama Zee terus bergerak kini.


"Mas Bias, mbak Ziva ... kalian di mana? Mama nyuruh makan siang bareng tuh! Mass ... Mbakk ...!"


"Dara, Yang!"


"Kok bisa masuk?"


"Aku lupa kunci pintu!"


"Duh tuh anak dari dulu kalau masuk kamar suka langsung nyelonong aja!"


"Mbak Ziva lagi bantu Mas mandi, Ra. Bilang Mama makan duluan aja nanti kami nyusul!"


...________________________________________...


🥀Happy reading,😘


🥀Jangan lupa like, komen, vote dan rate karya ini, yaa❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2