ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
WILL U BE MY MOM? (EPS:3)


__ADS_3


"Bu dokter ...." Dengan malu-malu Biv mendekati Aira yang sedang berdiri di tepi wahana bola memperhatikan seorang gadis kecil yang seusia dengan Biv.


"Hai Sayang, senang bertemu denganmu lagi," jawab Aira.


"Apa aku boleh ikut bermain dengan Bu Dokter?"


"Tentu saja, kenalkan keponakan Bu dokter, namanya Aisya. Usianya sepertimu, Sayang ...." Lagi-lagi dengan malu Biv mulai memperhatikan gadis manis yang seusia dengannya itu.


"Hai Aisya, aku Biv," lirih kata itu terucap.


"Hai Biv," ucap Aisya.



Keduanya mulai masuk ke wahana mandi bola lagi. Biv langsung main bersama Aisya dengan akrab. Sesekali Biv melambaikan tangan ke arah Aira Sang dokter. Aira pun membalas lambaian dan senyuman Biv. Ia yang pernah merasa bersalah di masa lalu merasa perlu menyayangi gadis kecil itu.


Seorang pelayan mendekati Aira. "Permisi Bu, ini pesanannya tadi," ucapnya.


"Oh ya, untuk nasi beef teriyaki berikan padaku, sedang sisanya tolong letakkan di meja itu," ucap Aira dengan lembut.


"Terima kasih," ucap Aira lagi sesaat sebelum pelayan meninggalkannya. Aira menghadapkan wajah ke arah Aisya setelahnya.


"Aisya, ke mari Sayang, kita main sambil makan, yuk!" Aira memanggil gadis kecil yang merupakan keponakannya dan menyodorkan sendok ke mulut Aisya. Aisya membuka lebar mulutnya, dia mengunyah dengan sangat lahap sembari kembali bermain dengan Biv.


Biv terus melihat aktivitas Aira yang dengan lembut menyuapi Aisya. Tanpa sadar saat Aira mengarahkan suapan kepada Aisya, Biv pun ikut membuka mulutnya. Aira yang tak sengaja melihat langsung memanggil Biv.


"Biv, sini! Apa kamu sudah makan?" tanya Aira lagi-lagi sangat lembut dan Biv dengan polosnya menggeleng. Bias memang baru menyuapi 2 sendok kepada Biv beberapa saat lalu dan itu menurut Biv belum makan sebab perutnya masih terasa lapar.


"Kalau begitu ayo buka mulut Biv, Bu Dokter akan menyuapi Biv juga!" Biv menurut. Ia langsung membuka lebar mulutnya, hal yang tertangkap oleh netra Dona dan Farah.


Empat raga paruh baya beserta Bias, Dara, Zaa dan Joy memang sedang duduk bersama dalam satu meja menyantap hidangan mereka. Mereka makan sambil sesekali bercengkrama. Sesekali bias melirik aktivitas Biv dan merasa semuanya aman. Bias pun melanjutkan makannya. Tak hanya Bias, nyatanya Farah dan Dona yang juga sesekali melirik aktivitas Biv yang sedang bermain, menangkap pemandangan itu, kenyamanan Biv.


Biv terlihat begitu ceria tertawa dan bercanda dengan seorang gadis kecil seusianya. Gadis kecil yang beberapa saat lalu datang bersama dokter yang mereka kenal. Dona dan Farah saling melempar pandang, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama. Mereka memang jarang melihat Biv berinteraksi dengan wanita dewasa selain anggota keluarganya. Kini Biv dengan nyaman terus berbicara, bahkan kini terlihat ia terus minta disuapi oleh sang Dokter.


Dona seketika meraih ponselnya, ia mengirim pesan kepada Farah. Ia merasa perlu berbincang mengenai sosok yang menarik hatinya.


"Dokter itu cantik, ya?" ketik Dona di layar ponselnya mengawali perbincangannya dengan Farah.


"Iya, Mbak. Biv juga sangat nyaman berinteraksi dengan dokter itu," balas Farah. Farah memang berusaha membuka dirinya. Jika ada wanita baik yang akan menyayangi Biv, kenapa tidak, itu menurut Farah.


"Iya aku juga melihatnya, tapi dia membawa anak, Mbak. Apa Jangan-jangan dia sudah menikah?"


"Tapi wajahnya masih sangat muda, bisa saja itu anggota keluarganya," ketik Farah lagi.


"Iya juga sih. Aku senang melihat caranya menyuapi Biv, terlihat dia wanita yang sabar," tulis Dona.


"Betul, saat di Rumah Sakit dia juga sabar melayani Pasiennya. Apa kamu sependapat denganku, Mbak?"

__ADS_1


"Sepertinya iya," balas Dona.


"Kalau begitu yang pertama harus kita lakukan adalah mencari tahu statusnya dahulu!" kata Farah.


"Setuju!" ketik Dona lagi.


"Ma, habiskan makannya jangan main HP terus!" gusar Libra melihat Dona yang sejak tadi diperhatikannya terus memainkan ponsel. Farah di hadapannya tersenyum.


Dua Oma itu sungguh tak main-main ingin mencari ibu untuk Biv. Seketika Dona pun melontarkan kata menghadap Bias.


"Bi, perhatikan Itu anakmu. Mama lihat sejak tadi Biv terus minta disuapi oleh bu dokter!" ucap Dona melancarkan rencananya. Farah di kejauhan menyimak.


"Benar kah?"


Bias langsung mengarahkan pandang pada Aira dan Biv. Mendapati ucapan mamanya benar, Bias berdiri menghampiri Biv. Ia memanggil Biv. Setelah Biv mendekat, Bias membungkukkan badan menyamakan tubuhnya dengan tinggi badan Biv.


"Sayang ... kenapa minta disuapi Bu Dokter?" tanya biasa dengan lembut.


"Biv lapar!" Tampak Aira lagi-lagi memasukkan suapan pada Biv setelah sebelumnya menyuapi Aisya. Setelah suapan masuk ke mulut, lagi-lagi Biv berlari menuju papan seluncur.


"Tidak apa-apa, Pak Bias. Saya senang melakukannya," ucap Aira tiba-tiba.


"Jangan begitu, nanti jatah makan anakmu jadi berkurang!" Mendengar kata yang diucap Bias, Aira sontak langsung menoleh. Ia kaget Bias menyangka Aisya adalah anaknya.


"Kenapa melihatku seperti itu, ada yang salah?"


"Eh, tidak apa-apa, Pak. Anak saya ini makannya juga tidak banyak kok, jadi masih bisa jika berbagi dengan Biv." Aira memilih mengikuti alur yang dibuat Bias.


"Tetap saja itu milik anakmu. Aku tidak suka Biv memakan atau menggunakan sesuatu yang bukan miliknya," lugas Bias.


"Anak-anak biasa melakukan hal seperti itu, bukan sesuatu yang aneh. Mereka saling berbagi dan senang melakukannya," balas Aira.


"Tapi putriku tidak akan begitu! Ia harus tahu jika mengambil milik orang lain itu salah."


"Tapi Biv tidak mengambil apa pun, aku yang memberinya!" kilah Aira.


"Tetap saja itu bukan milik Biv!" Aira melirik wajah Bias. Ia sungguh tidak menyangka laki-laki yang terlihat lembut di rumah sakit begitu keras kepala. Ia menggelengkan kepala tapi Bias tak menghiraukan. Ia lantas berdiri.


"Sayang ... sudah, yuk! Lihat itu opa dan oma sudah menunggu kamu, Nak!" ucap Bias berusaha membujuk Biv lagi.


"Tapi Biv senang bermain dengan Aisya dan Bu Dokter, Pa," teriak Biv di kejauhan.


"Ayolah, Sayang ... kamu lupa tadi bicara apa dengan Papa. Kamu bilang hanya akan main sebentar, bukan?" ucap Bias tak melepas tatapannya.


"Beri waktu Biv main sebentar lagi, Papa!" Biv seketika berputar, ia berlari dan menaiki papan seluncur mendarat ke bawah dan berlari lagi menuju undakan tangga dan meluncur kembali Iya terlihat sangat bahagia.


"Ayo Aisya, kamu harus cepat berlari kejar aku!"


"Iya, Biv tunggu Aku!" Keduanya asyik bercengkrama sambil terus bermain tak menyadari Bias mulai gusar.

__ADS_1


"Biv ...!"


"Iya, Ayah?"


"Sayang Papa, sudah Nak!" Bias berusaha menghentikan aktivitas Biv.


"Please just a minute, Papa!"


"Sayang ... bukannya kita akan menghabiskan waktu dengan Oma dan Opa? Ayo kita duduk di sana!" ucap Bias lagi.


"Aku akan ke sana, tapi ajak Bu Dokter dan Aisya juga boleh, Pa?" ucap Biv mulai menaiki tangga menuju papan seluncur lagi.


"Sayang, bu Dokter ingin menghabiskan waktu dengan putrinya. Jangan ganggu bu Dokter, oke!" Bias masih berusaha merayu Biv.


"Apa aku mengganggumu, Bu Dokter? Apa Biv tidak boleh bermain dengan Aisya?" Biv mengarahkan tatapannya kini pada Aira.


"Ke mari dulu, Nak!" pinta Aira. Seketika Biv mendekat.


Aira menundukkan tubuhnya sejajar Biv. "Nah, bicara dengan orang yang lebih tua itu sebaiknya seperti ini. Dekat dan tidak berteriak, Biv paham?" Biv terdiam beberapa saat dan mengangguk.


"Dengar Sayang! Tentu boleh Biv bermain dengan Bu Dokter dan Aisya, tapi ucapan orang tua tidak boleh kita bantah. Biv ikut papa Biv dulu, ya!"


"Tapi Biv mau main dengan Aisya!" Biv masih berkeras.


"Lain kali kita akan main bersama lagi, bagaimana?" Biv terdiam seolah berpikir.


"Lihat di sana! Anggota keluarga Biv sudah menunggu, kasihan loh jika mereka terus menunggu Biv, mereka akan sedih" utar Aira lagi.


"Apa Bu Dokter, setelah ini akan langsung pulang?" Biv mengamati wajah Aira seksama.


"Bu dokter akan makan di kursi itu." Aira menunjuk sebuah sofa berwarna hitam di samping tangga yang mengarah ke atas.


"Oke., Biv akan berkumpul dengan oma dan opa, tapi Bu Dokter jangan pulang dulu!"


"Kenapa?" tanya Aira. Bias yang melihat putrinya asik bercengkra dengan nyaman dengan Aira, kini mengeleng-geleng kan kepala.


"Karena Biv nanti akan tunjukkan kamar Biv di atas!"


"Kamar?"


"I-ya. Di atas ada kamar, Biv!" Aira menoleh ke arah Bias, ia tidak memahami yang Biv ucapkan. Bias berpura-pura tidak melihat. Belum lagi tanyanya terjawab suara dua Oma terdengar begitu dekat, keduanya menghampiri Bias dan Aira.


...______________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Aira


__ADS_1


__ADS_2