ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
AKU MENEMUKANMU


__ADS_3

Seminggu berlalu, walau Zee kerap tak ingin bertemu, baik Johan mau pun Bias tak pernah absen datang. Namun, Zee memilih fokus dengan bimbingan les matematikanya, untuk waktu lain ia gunakan untuk membuat surat lamaran pekerjaan dari email mau pun surat kabar yang ia beli, selebihnya ia pakai untuk membantu Farah menjahit.


Kondisi Farid memang membaik, tapi Farah masih tak membolehkan Farid menarik angkot dulu. Ia ingin memastikan dada itu tidak sesak kembali.


Hari mulai gelap, azan magrib sudah berkumandang. Setelah menjalankan ibadah Zee memutuskan berdiri di muka jendela melihat langit malam yang tampak indah bertabur bintang.


Sebuah ketukan terdengar dari balik kamar Zee. Zee membuka pintu hingga tampaklah Farah berdiri menatapnya. "Ada yang datang!" ucap Farah.


"Si-apa?"


"Johan! Ia ada di ruang tamu sekarang!"


"Kenapa ibu membiarkan bang Jo masuk? Zee nggak mau ketemu!"


"Adik-adik kamu senang Johan datang, ibu mana bisa melarang! Ayo keluar!" Zee menggeleng.


"Kalau tidak mau keluar, ayo masuk! Ibu mau bicara!" Zee mengekor Farah yang kini duduk di tepi ranjang. Ia ikut duduk.


"Sampai kapan kamu begini?" Zee bergeming sesaat baru berucap.


"Semua pria sama saja, menilai wanita hanya dari kecantikan!"


"Emang kamu baru tau itu? Kalau menurut ibu lumrah lelaki menyukai wanita cantik, di mana salahnya? Ibu juga suka ayah karena ayah tampan. Ya, memang cinta itu dari mata turun ke hati, jadi ya wajar! Tapi setelahnya ada hal juga yang mendasar mengapa hati memilih a atau b, entah sikap, perilaku, otak, kenyamanan, kesamaan dan banyak lagi."


"Berarti wajar juga kak Bias suka aku karena aku cantik?"


Farah menatap Zee. "Kamu jadi bahas Bias?" Zee bingung atas ucapan ibunya, ia menatap Farah.


"Maksud ibu itu Johan bukan Bias!"


"Berarti ibu nggak adil!"

__ADS_1


"Kalau kamu pilih Bias kamu juga gak adil sama Johan!"


"Berarti Zee jangan pilih keduanya?" ucap Zee seketika.


"Salah! Pilih yang paling tulus! Bukan yang paling kamu cinta!" Zee seketika menunduk.


"Johan tulus sama keluarga kita! Cinta kamu udah pasti, tapi dia juga sayang sama adik-adik kamu!"


"Kak Bias juga peduli sama keluarga kita! Waktu ayah sakit contohnya. Ya, memang secara waktu bang Jo lebih lama kenal dan dekat sama keluarga kita."


"Itu kamu tau. Udah ngobrolnya. Yuk keluar!" Zee masih menggeleng.


"Ahh, kamu tuh! Bilangnya marah sama keduanya, tapi hati condong sama Bias! Dengar ya, Zee! Ibu akan sedih kalau kamu nyakitin Johan! Johan itu sudah cukup baik sama kita! kalau kamu tetap milih Bias, mending kamu nggak usah nganggep ibu sama ayah aja!" Farah serta merta keluar dari kamar Zee. Zee bergeming. Ia memilih merebahkan diri di kasur, ia menangis.


Seminggu berlalu, tubuh Zee demam. Demam rindu. Hatinya memilih Bias tapi memikirkan ucapan Farah, ia juga tak tega pada Johan. Tak ingin ibunya marah juga. Semua pelik otak membuatnya tidak berselera makan, tubuh itu lemah. Seminggu ini Zee bahkan libur mengajar. Ia memilih mengurung diri di kamar. Ia hanya ingin menatap awan dari balik jendela dan menangis. Ia menangisi dirinya yang begitu lemah karena hati dan cintanya pada Bias.


Farah yang tak ingin memberi harapan Johan, kini melarang Johan datang. Dua sosok lelaki masih sering datang tapi hanya berdiri di muka rumah. Zee mengganti nomernya, sehingga Johan dan Bias tak bisa menghubungi. Diam-diam Farah dan Farid iba pada Zee, kasihan pada putrinya tapi sulit menerima Bias.


_________________


"Kemarin ayah mencari tahu ke kafe tempat Zee bekerja yang katanya milik ibu Bias."


"Lalu?"


"Ayah Bias benar bernama Libra." Farid menarik napasnya panjang. Ia yang sadar emosi akan tidak baik untuk jantungnya kini memilih menahan emosi itu dan tetap tenang.


"Ibu sebetulnya kasihan sama Zee. Ibu tau dia kangen Bias, dari dulu di hati anakmu itu cuma ada Bias! Cuma cinta Bias, nerima Johan juga karena gak enak. Ibu tau! Tapi gimana ... kasihan Johan juga___ ayah memang setuju kalau Zee menjalin hubungan sama anak Libra?" lirih Farah berucap. Farid bergeming sesaat.


"Libra itu bukan kawan yang baik, bukan gak mungkin anaknya juga menurun sifat ayahnya!"


"Ibu nggak tau, nggak terlalu kenal Bias. Tapi kayaknya sih dia baik."

__ADS_1


"Tentang Libra. Kalau boleh Ayah nggak mau berhubungan lagi sama dia. Ayah takut dendam kalau ketemu dia lagi. Tiga tahun Ayah di penjara karena jebakan Libra itu, Bu!" ucap Farid.


"Libra memang jahat, tapi ibu juga dengar di radio, kata Ustad kita lebih baik memaafkan, Yah."


"Bisa aja Ayah maafin, tapi kalau dia memang berani minta maaf ke ayah langsung!"


__________________


Senin siang hari itu. Walau tubuhnya agak lemas, Zee memaksakan mengajar. Berkali ia memfokuskan diri mengajar saat pandangannya mulai kabur. Satu jam setengah akhirnya berakhir. Zee seperti biasa pulang berjalan kaki.


Dua lelaki dalam kantor berbeda mendadak tak tenang. Bias memaksa keluar kantor mengenyampingkan semua tugasnya. Demikian juga Johan, ia izin keluar toko dan beruntung atasannya menyetujui.


Keduanya bergegas. Bias sudah sampai lebih dulu ke rumah Zee, menanyakan keberadaan Zee yang ditutupi Farah. Bias tak gentar, ia terus memohon pada Farah untuk memberitahu, Bias menyatakan keseriusannya dengan Zee, mengenai hatinya yang mulai sayang Zee. Bukan hanya perkara cantik, tapi Bias juga melontarkan kenyamanan berada di dekat Zee.


Farah yang tahu rasa Zee pada Bias akhirnya luluh. Ia memilih membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia pun memberitahu keberadaan Zee. Tak berselang lama Bias pergi, Johan datang dan Farah melakukan hal yang sama pada Johan. Membiarkan takdir mendekatkan sendiri putrinya dengan jodohnya.


Bias mengemudikan cepat Ducatinya hingga akhirnya ia sampai juga ke alamat yang ditujukan Farah, tapi sayangnya Zee sudah pulang. Sepanjang jalan ia mengedar pandang mencari keberadaan Zee, hingga di sebuah taman ia melihat gadis duduk. Ia mendekat. Jiwa dan hatinya bungah, itu Zee. Bias langsung mendekat memeluk raga itu.


"Aku menemukanmu, Zi-vanya ...!" lirih kata itu terucap. Zee mendangak dengan pandangan yang mulai samar.


"Ka-kak." Tangan itu baru hendak meraih wajah Bias tubuhnya sudah hilang keseimbangan. Zee pingsan. Bias memesan taxi online dan bergegas membawa Zee ke Klinik, ia membiarkan Ducatinya. Bias menelepon sopir di rumah dan memintanya mengambil Ducati itu.


Di kejauhan seorang pria terdiam, ia kalah cepat menemukan gadisnya.


...________________________________________...


🥀Happy reading😘


🥀Terima kasih yang masih mengikuti kehaluan Bubu. Bantu support karya ini dengan memberi like, komen dan vote yaa😍


🥀Makasih sayang-sayangku, big hug🤗🤗❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2