ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENGALIHKAN PRASANGKA


__ADS_3

..."Cinta itu rasa yang muncul sebab ketulusan, kejujuran dan usaha memberi bahagia. Cinta yang membuat kita menutup mata dari kesalahan orang tercinta adalah cinta yang bodoh!" (Bias)🥀...


..._______________________________________...


Ducati Panigale Sport Limited Edition itu sudah terparkir nyaman di singgasananya. Bias melirik Marcedes-Benz sudah terparkir pula di Bagasi menandakan papanya sudah berada di rumah.


Bias menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka handel berlapis emas yang menghiasi pintu berdominasi putih nan teduh. Baru saja menatap pintu menjulang itu, sesak sudah menguasai. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat ternyaman saat raga anak-anaknya pulang tak pernah dirasakan Bias. Justru kesedihan selalu memenuhi ruang rasa tatkala Bias membayangkan hal pilu apa yang mungkin akan terjadi di dalam nanti.


Jujur memasuki bangunan di hadapannya itu sangat berat untuk Bias, namun membayangkan senyum teduh Donna dan wajah berbinar Dara yang selalu menyambutnya pulang, Bias kembali bersemangat. Bias sadar ia adalah satu-satunya sosok laki-laki dalam rumah itu selain papanya dan Satyo si sopir. Pun Bias merasa memiliki tanggung jawab terhadap kebahagiaan mama dan adiknya itu.


Bias membuka pintu, keadaan rumah seperti biasa terlihat sepi dan hening. Bias terus masuk ke bagian dalam, terdengar sayup tawa dari arah ruang keluarga. Bias mempercepat langkah ingin mengetahui apa yang terjadi. Bias bergeming, ia melihat wajah orang-orang tercintanya yang sedang tertawa lepas. Sejujurnya Bias merasa janggal, tapi ia berusaha tenang. Bias mendekat.


"Sayang, kamu sudah pulang, Nak. Sini lihat apa yang Papa bawa untuk Mama!" Bias mendekat, tampak di meja beberapa kotak perhiasan mewah yang tampak indah dan cantik. Bias menatap pancaran bahagia mamanya baru melirik Libra sang papa setelahnya. Libra tersenyum menyeringai menatap Bias, sedang Bias terus berdecih dalam hati.


Pandai sekali Papa mengalihkan kesalahan dengan perhiasan. Setelah seminggu kemarin pergi tak ada kabar, kini kembali dengan rayuan materi. Mama, dan ma-ma! dengan bodohnya tertawa menerima semuanya. Hahh, keluarga apa ini!


"Papa kemarin darimana?"


"Bii ... Bii, pertanyaan apa itu, Sayang? Papa baru kembali, kenapa bicara seperti i-tu? Tentu Papa habis bekerja, Nak!"


"Bias hanya bertanya apa yang Bias ingin ketahui!! Sungguh Papa habis bekerja?"


"Heii ... heiii Sa-yang, kemarilah Bii! Sudahi membahas ini! Lebih baik kamu bantu pilih perhiasan mana yang paling cocok untuk Mama! Yang emas? Atau yang perak? Ahh Sayang ... semua bagus bagus, mama sangat bingung!" Donna terlihat berusaha keras mengalihkan perhatian Bias, tapi tentu Bias bukan anak yang bodoh. Bias justru merasa bersedih melihat Donna yang seolah bodoh dan mudah diiming-imingi.


"Jangan bingung, Ma, semua milikmu!" sela Libra dengan cepat. Donna langsung mengarahkan tatapannya pada Libra.


"Sa-yang, kamu memang terbaik!" Donna mendekati Libra dan keduanya tanpa malu saling bercumbu.


"Ma, Pa? Kalian! Di-sini ada Da-ra!" Kedua paruh baya itu bak anak ABG yang terbawa hasrat, terus saling bercumbu. Bias mendekati Dara dan menutup wajah adiknya itu. Libra menghentikan aktivitas Donna.


"Mama pasti sangat rindu Papa." Donna mengangguk, ia menghayati tiap sentuhan Libra. Ya, Libra terus mengusap-usap kepala Donna dengan sayang dan Donna tampak luluh, ia semakin merapatkan dekapannya.


"Pa, jawab tanya Bias! Papa darimana seminggu ini?"


"Ma, putra kita itu kenapa, ia sangat senang menyudutkan Papanya?" Bukan menjawab tanya Bias, Libra justru berbicara pada Donna, seolah mencari dukungan.

__ADS_1


"Bi, bukankah tadi sudah Mama jawab, Papa itu bekerja!"


"Ta-pi, Ma_____


"Oh ya, Ma, Papa sampai lupa, Papa punya satu hadiah lagi untuk Mama," ucap Libra lagi-lagi menyela ucapan Bias, Libra tak ingin mendengar ucapan Bias yang selalu terang-terangan melontarkan asumsinya di depan Donna.


"Oh ya, satu hadiah lagi? Ah Papa, Mama sangat penasaran."


"Satyo!" Mendengar teriakan Libra, Satyo seketika muncul dari arah dapur.


"I-ya, Pak?"


"Ambilkan gaun yang tergantung di dalam mobil!" Setelah mengangguk, Satyo bergegas melakukan titah majikannya.


Tak berselang lama Satyo muncul membawa sebuah hanger dengan gaun yang masih tertutup. Libra meminta Satyo mendekat dan menyerahkan gaun itu.


"Ini untuk Mama, Ma-ma harus pakai malam ini!" Libra menarik bahu Dona mendekatkan bibirnya ke telinga Dona, ia berbisik tapi Bias maupun Dara masih bisa mendengarnya. Bias menatap lekat wajah Libra.


Apa lagi yang Papa rencanakan? Memuakkan!


"Boleh Mama buka?"


Donna membuka penutup gaun dan terhenyak, ditutupnya bibir dengan sepasang jemari yang terbuka. Matanya seketika menatap Libra.


"Papa membuat Mama malu di depan anak-anak," bisik Donna yang lagi-lagi masih bisa didengar Bias dan Dara. Dara menunduk pura-pura tak mendengar, sedang Bias menggelengkan kepalanya mengalihkan tatapan dari gaun tidur transparan yang sejujurnya tak baik dilihat baik olehnya maupun Dara.


"Kenapa malu, anak-anak harus tahu hubungan orang tuanya baik-baik saja. I-ya, kan?" Donna mengangguk walau agak ragu.


"Dara kemari, Sayang!" Dengan langkah perlahan, gadis dengan nama panjang Andara Zalfira Samudra yang tampak cantik bak fotocopy Donna itu mendekat.


"Kenapa duduk di sana? Kemari duduk di dekat Papa! Papa juga punya hadiah untukmu, Sayang!" Dara menurut, ia duduk di samping Libra.


"Ini hadiah untukmu, semoga kamu suka!" Libra merapihkan rambut Dara ke belakang telinga dengan sangat lembut, seburuk apapun ia di luar, Libra tetap mencintai putrinya. Dara membuka kotak kecil yang disodorkan Libra padanya. Ia bergeming menatap kunci yang ada dalam kotak itu.


"Itu kunci matic, matic keluaran terbaru yang juga limited edition dengan berbagai kecanggihan Papa hadiahkan untukmu, Nak."

__ADS_1


"Pa-pa, terima ka-sih," lirih Dara berucap. Wajah itu tampak datar.


"Kenapa tidak ada senyum, hem?" imbuh Libra.


"Dara se-nang, tapi Dara belum bisa pakai, Dara belum memiliki Surat Izin Mengemudi!"


"Haa, kenapa begitu takut. Tidak ada yang bisa macam-macam padamu, pakailah kemanapun kamu mau."


"Sung-guh, Pa? Terima kasih, Pa." Wajah Dara merona menatap Libra, ia seketika memeluk papanya itu.


Bias yang sejak tadi menahan emosinya tak bisa menahan lagi. "Berikan lagi kunci itu pada Papa, Ra!" teriak Bias. Dara bingung.


"Bagaimana pun kamu belum cukup umur, jangan gunakan itu sampai kamu berusia 17 tahun dan bisa bertanggung jawab pada dirimu sendiri!" lugas Bias, Libra menoleh.


"Kamu itu kenapa Bii? Kamu tidak suka melihat adikmu bahagia?"


"Bukan masalah itu, Pa? kita orang yang lebih dewasa harus tau apa hal yang bisa diberi untuk anak seusia Dara atau tidak. Memberi kendaraan bermotor sama saja kita mendorong Dara ke tepi jurang. Bias tidak setuju Dara menggunakan kendaraan bermotor di usianya saat ini. Biarkan Satyo yang mengantar jemput Dara seperti biasa!"


"Dara dengar Mas, kan?" Bias menatap dan bicara pada Dara setelahnya. Dara mengangguk sambil menatap kemarahan kakaknya itu.


"Jangan-jangan kamu cemburu dengan adikmu, Bias? Tenang saja, Sayang. Papa juga sudah siapkan mobil sport terbaru untukmu, Papa baru sadar motormu itu sudah kuno!" Bias lagi-lagi menggelengkan kepala.


"Maaf Pa, Ducati Bias tidak ada masalah, jadi Bias tidak membutuhkan mobil apa pun!"


Bias yang muak dengan sikap Libra yang terlalu mudah menghamburkan uang, terlebih untuk mengalihkan kesalahannya memilih meninggalkan ruang kelurga itu.


"Bii ... mau kemana, Sayang?" panggil Donna.


"Bias letih mau istirahat, Ma!"


Di dalam kamar, Bias mengutuki hidupnya yang penuh kepura-puraan. Pura-pura harmonis dan baik-baik, padahal kenyataannya berbeda. Ia yang galau mencoba menghubungi ponsel Nasya, tapi ponsel Nasya selalu sibuk. Bias sedih, ingin berbagi cerita namun orang yang dipercaya tak merespon.


Yang, kamu itu sedang apa? Aku butuh kamu, Yang!


..._______________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


🥀 Ditunggu komennya selalu yaa❤️❤️


__ADS_2