ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
NGGAK GRATIS


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ...."


"Yeaa ... kakak sudah pulang? Apa Kakak menang tadi lombanya?" Zaa yang melihat Zee masuk ke dalam rumah langsung mendekat.


"Zaa, dijawab dulu salamnya kakak dong!"


"Hee, iya. Wa'alaikumsalam Kak."


"Nah, baru pinter anak ibu." Farah datang dari arah dapur menuju ruang tamu dan mendekat ke arah Zee.


"Ibu," sapa Zee. Ia langsung mencium tangan Farah.


"Jadi gimana, hem?"


"Zee bermain sangat bagus Bunda, keren! Putri Bunda ini seperti seorang pemain basket handal di lapangan tadi."


Belum lagi Zee menjawab tanya Farah, suara seorang lelaki sudah menjawab semua tanya Farah. Netra Farah membulat menatap lelaki yang tampak macho dengan otot-otot di lengannya itu. Farah berkali menarik alisnya menghadap Zee, otak ibu yang seketika mendapat panggilan bunda itu dipenuhi tanya.


"I-ni si-apa?" tanya Farah.


"Kak Zee pacarnya udah ganti lagi!" celoteh spontan itu terucap dari bibir mungil Zaa membuat mata Zee langsung melotot dan jemari itu langsung membekap mulut adiknya yang seperti biasa senang bicara sesuai asumsi matanya saja.


"Ahh Kakak sakit!"


"Sudah, sudah ... ayo disuruh duduk temannya, Zee!" ucap Farah. Tak lama semua orang dalam ruangan itu duduk di ruang tamu minimalis namun sangat nyaman itu.


"Kenalkan saya Johan, Bunda. Saya senior basket Zee di sekolah." Belum juga ditanya lagi-lagi Johan dengan sikap santai apa adanya sudah memperkenalkan diri.


"Oh kakak kelas Zee. Temennya temen kamu yang kemarin itu juga dong, siapa itu kemarin namanya, hemm___


"Kak Bias," sahut Zaa.


"Oh iya betul Bias. Gimana kabar temen kamu itu, Zee? Kok dia nggak pernah main lagi sih?"


"Ibu, Zaa ... kalian ih, kak Bias bukan siapa-siapa Zee! Dan i-ni___ kak Jo ini pelatih basket Zee!"


"Kamu aja yang sensi, ibu cuma nanya aja kok. Oh ini pelatih Zee, masih muda ya. Eh iya sampai lupa, kamu mau minum apa?"


Sesaat Johan seakan melihat sebuah drama TV di hadapannya. Ia senang, merasa terhibur dan merasa hangat berada di tengah keluarga Zee, namun ia jadi tau satu hal, Bias juga pernah ke rumah itu sebelumnya.


"Aku minum apa aja boleh Bunda asal jangan air keran." Jawaban Johan sontak membuat seluruh orang di ruangan itu tertawa. Farah menuju dapur setelahnya sambil terus menggelengkan kepala dan melirik Johan.


Di ruang tamu kini hanya ada Zee, Zaa dan Johan. Johan yang senang dengan kepolosan Zaa terus memperhatikan gerak bocah kecil itu.


"Hai cantik, nama kamu siapa?" tanya Johan.


"Zaa, Kakak."


"Oh Zaa. Zaa kelas berapa?"


"TK." Johan mengangguk sambil tersenyum dan menoleh ke arah Zee setelahnya.


"Katanya lo punya dua adek, kenapa yang gue lihat cuma satu. Apa yang satunya emang nggak terlihat?" ucap Johan lagi-lagi berguyon.


"Kakak nggak jelas! Ada satu lagi adik aku. Hmm mana ya dia___ " ucap Zee sambil mengedar pandang.


"Kak Joy lagi main." Zaa menjawab.


"Main ke mana? Tumben main malem-malem."

__ADS_1


"Tadi disamper abang Raihan. Kak Joy katanya mau lihat____


"Assalamu'alaikum ...." Panjang umur, anak yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul, ia langsung masuk ke dalam rumah setelah melontarkan salam.


"Wa'alaikumsalam ...."


"Kak Zee udah pulang. Kakak menang nggak tadi main basketnya?"


"Menang dong."


"Ada tamu, siapa dia Kak?"


"Hai ... kamu pasti Joy?" kata Johan yang beberapa saat lalu mendengar Zaa menyebut nama itu. Joy mengangguk.


"Kakak temen kak Zee? Bukan orang jahat kan?"


"Joy, kok ngomongnya begitu sih? Kakak ini yang ngajarin basket di sekolah Kakak!"


"Oh, kakak pinter dong main basket? Aku mau dong diajarin!"


"Jangan Kak, ibu nggak punya uang untuk bayar!" timpal Zaa.


"Eh nggak gitu. Kamu bener mau belajar basket? Kakak akan mengajari, gratis kok!"


"Ati-ati kalau kakak itu kasih gratis nanti dia gangguin kak Zee kita!" Zaa berbisik pada Joy tapi suaranya nyatanya terdengar oleh semua orang dalam ruang tamu. Johan yang mendengar tersenyum.


"Kakak janji nggak akan ganggu kakak kalian kok!" kata Johan.


"Adik aku benar, aku curiga kakak baik-baikin aku pasti Kakak pasti suka kak Zee, kan?"


"Iya betul. Kakak Zee kami kan cantik!" Zaa ikut menimpali ucapan Joy lagi.


"Memang kakak kalian cantik? Kak Jo lihat kakak kalian biasa aja!"


"Kalian berdua temani kak Jo dulu, Kakak mau mandi____


🥀FLASHBACK


"Apa tujuan lo sebenernya begini, hem?"


"Semua nggak seperti yang bang Jo fikir!"


"Masih berkelak juga sih! Jujur sama gue dan gue akan tutup rapat semua rahasia lo. Gimana?" Zee bergeming.


Haruskah aku jujur? Tapi bang Jo udah lihat kulit aku, kalau aku bohong aku akan semakin gak dipercaya. Gimana yaa____


Setelah beberapa saat terdiam, Zee akhirnya bicara. "Bang Jo, ma-af!"


"Kok lo minta maaf ke gue?"


"A-ku bohong tentang jati diri aku!"


"Ja-di?" tanya Jo.


"Yang benar ... iya ini bu-kan warna kulit a-ku yang sebenarnya."


"Hah, Zee ... akhirnya kecurigaan gue terjawab."


"Mak-sud bang Jo?"

__ADS_1


"Iya dari yang pas nganter lo pakai rok sekolah itu gue mulai curiga waktu lo nutupin kaki lo. Dan sorry gue diem-diem merhatiin aktivitas lo lewat spion."


"Jadi Bang Jo memang udah curi___


"Iya gue udah curiga. Sekarang bilang, kenapa lo lakuin ini?"


"A-ku cuma mau cari o-rang yang tulus berteman dan nggak mandang fisik semata."


"Harus nyamar gitu?"


"Nggak tau, tiba-tiba aku terlintas i-tu."


"Apa yang lo dapet sekarang?"


"Aku senang dilihat sebagai Zee yang pintar, bukan Zee yang cantik."


"Lo ngomong diri lo pinter aja udah termasuk sombong, plus lo pede juga ya dengan kecantikan lo?"


"Ma-af, Bang." Zee menunduk setelah mengucapkan maaf.


"Ngapain lo minta maaf ke gue?"


"Te-rus?"


"Minta maaf sama Pencipta kita lah, karena lo udah sombong dengan kepintaran dan kecantikan lo." Zee lagi-lagi menunduk dan kini lebih dalam dari sebelumnya.


"Menurut gue cara mencari jati diri dengan kebohongan juga nggak baik, karena nggak ada kebohongan yang sejatinya benar!"


"Dengan menutupi yang Pencipta kasih, lo juga seolah nggak bersyukur, be your self lah, mau orang nganggep lo bagaimana yang penting diri lo sendiri yang tau seperti apa elo! Pusing amat mikirin orang. Kita baik mereka balas jahat, ya urusan mereka dengan kejahatan mereka, yang penting ... baiknya lo udah kecatet malaikat. Cukup!"


Dalam hati Zee membenarkan setiap ucapan Johan. Ia merasa salah.


"Udah jangan bengong aja, yuk pulang!"


"Bang!"


"Apa?"


"Tolong jaga rahasia ini!"


"Sampe kapan?"


"Sampe aku nemuin waktu yang pas untuk buka kebenarannya." Johan menatap wajah tulus itu seksama, baru setelahnya ia mengangguk.


"Tapi ini titah besar, nggak gratis!"


"Maksud bang Jo?"


"Gue bakalan pura-pura nggak tau tentang lo. Ta-pi___


"Tapi a-pa?"


"Gue mau lihat diri lo yang sebenarnya tanpa hitam-hitam itu!"


...__________________________________________...


🥀Happy reading 😘😘


🥀Semoga kalian masih selalu menanti kelanjutannya❤️❤️😁

__ADS_1



🥀Zee


__ADS_2