ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
ASUMSI FARAH


__ADS_3

..."Tugas ibu itu menjaga mawarnya yang sedang merekah tak terjamah!" (Farah)🥀...


...______________________________________...


Langit mulai semakin gelap saat matahari mulai malu bersapa rembulan. Ia memilih menepi dan membiarkan rembulan menjadi satu-satunya yang terindah menghias langit. Matahari begitu memahami sang rembulan sebagaimana rembulan memahaminya pula dengan menjadikannya satu-satunya ratu di siang hari.


Bias keluar dari gerbang dengan motor besarnya setelah melihat sekolah mulai sepi. Bahkan Johan yang biasanya keluar bersamanya sudah menghilang saja. Bias mengambil stir ke kiri dan kaget melihat sesuatu.


Gadis dengan celana olah raga berpadu kaos oblong navy tertangkap netranya berjalan di trotoar menjauh dari sekolah. Bukan hanya kehadiran gadis itu saja yang membuat netra Bias membulat, tapi sesuatu di belakang celana sang gadis yang membuat Bias seketika mempercepat laju motornya.


"Zee ... Zee ...." Bias terus memanggil gadis yang masih tak merespon panggilannya, hingga beberapa saat setelahnya Zee menoleh.


"Ka-kak kenapa iku-tin aku la-gi. A-ku pulang sendiri a-ja, Ka-k," lontar Zee spontan.


"Zee, i-tu!"


Zee bergeming, ia agak bingung maksud ucapan Bias.


"Celana lo, Zee!"


"Hahh?" Zee yang sadar seharian ini perutnya sedang tidak baik dan sepertinya ada yang memang memaksa keluar sejak tadi dan disangkanya hanya keputihan kini ia memiringkan wajah melihat bagian belakang celana olah raganya. Zee seketika berbalik, ia malu noda merah yang tembus itu terlihat oleh Bias.


"Ka-k, ba-gaimana i-ni?" lirih Zee setelahnya dengan wajah panik.


"Yaudah ayo naik gue anter!"


"Ng-gak, Kak!"


"Lho kok nggak, lo mau semua orang ngeliatin lo?"


"Nan-ti jok mo-tor Ka-kak ko-tor."


Bias menggeleng, ternyata Zee memikirkan motornya.


"Gampang nanti tinggal dibersihin! Ayo naik!" Zee masih menggeleng.


"Ayo jangan keras kepala, rumah lo itu masih jauh. Ayo buruan naik!"


"Ta-pi, Ka-kk?"


"Zee!"


Mendengar nada suara Bias yang meninggi, akhirnya Zee menurut, perlahan ia menaiki motor dengan jok belakang tinggi itu.


"Sudah siap?"


"Su-dah, Kak." Melihat kondisi Zee seperti itu, Bias memutuskan melewati masjid tempat biasa ia mampir menjalankan ibadah magribnya, ia ingin membuat Zee cepat sampai di rumah. Bias sadar kondisi seperti itu pasti tidak nyaman untuk Zee.


Baru setengah perjalanan, Bias merasakan sesuatu yang terus membentur helm yang ia kenakan, hingga ia menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Zee ... Zee ...."


"Hmm?"


"Zee, lo ngantuk ya?" Bias terus berteriak, suaranya memang terdengar samar kalah dengan hembusan angin yang menyapa.


"I-ya, Ka-k."


"Sadar! Jangan ngantuk, bahaya tidur di motor!" teriak Bias lagi.


"I-ya, Kak." Zee menontar iya, tapi lagi-lagi Bias merasakan benturan di helmnya.


Hah ni anak, bisa-bisanya dia ngantuk, klo terjadi apa-apa kan gue juga yang repot.


"Zee ... Zee ...!" Bias mencoba memanggil Zee lagi tak ada respon, bahkan benturan di helmnya semakin sering.


Huhh ...


Bias membuang napas kasar baru setelahnya mengarahkan satu tangannya ke belakang, ia mencari tangan Zee dan menarik tangan itu hingga mendekap tubuhnya, Bias menarik satu tangan lainnya pula. Kini sepasang tangan Zee ditahan Bias di perutnya yang terbalut kaos putih itu.


Zee ... Zee ... lo ngerepotin banget sih, kalo bukan lo salah satu peserta lomba gue mikir dua kali ngalakuin ini.


Sorry Yang, gue terpaksa biarin tubuh gue dipeluk cewe lain.


Beberapa saat berlalu, Bias tenang akhirnya sampai di wilayah pemukiman rumah Zee. Kawasan rumah Zee memang terlihat sepi setelah Maghrib, setiap keluarga lebih banyak mengisi aktivitas di dalam rumah bersama anak-anak mereka. Pemuda yang nongkrong juga dialihkan ketua RT mengikuti kegiatan pencak silat, alhasil kondisi pemukiman itu tampak nyaman dan hening, sangat cocok sebagai tempat beristirahat.


Bias masih mengedar pandang hendak menghentikan laju motornya saat sebuah teriakan mengarah padanya.


"Kamu siapa? Kenapa putri saja sama kamu? Dan i-ni ... kenapa Zee anak saya nggak sadar begini? Turun! Turun! Kamu sudah apakan anak saya!" Farah tidak terkendali melihat Zee yang tidak sadar dan dengan nyaman mendekap pria di hadapannya Farah spontan berfikir negatif. Ia terus memukul-mukul bahu Bias.



"Tante ... tahan Tante, semua nggak seperti yang tante pikir!"


"Kurang ajar, sudah tertangkap basah masih ngelak kamu! Zee bangun Zee, sadar, Nak!" Farah menggoyang-goyangkankan bahu Zee hingga mata itu perlahan terbuka.


"I-bu ... Eh ...." Zee bingung dengan yang terjadi.


Kenapa ada ibu? Aku di mana? Kak Bias? Lho kenapa aku peluk kak Bias?


Zee seketika memundurkan tubuhnya, ia menatap netra Farah yang mengarah padanya dengan marah.


"Nah, sekarang anak saya sudah sadar, nggak bisa berkilah lagi kamu. Buka itu helm! Jangan bisanya ngumpet kamu."


Bias menggeleng pelan, ia membuka helm setelahnya. Selain Bias menghargai wanita yang lebih tua di hadapannya, ia juga ingin menjelaskan duduk perkara sebetulnya. Farah terhenyak sekilas melihat wajah tampan yang bersama putrinya, namun ia segera mengalihkan pandang, Farah tak ingin membuat Bias besar kepala.


Setelah bicara dengan Bias, Farah menghadap ke arah Zee.


"Kamu juga kenapa diem aja Zee, buruan turun!"

__ADS_1


"Eh i-ya, Buu." Dengan cepat Zee turun dari motor besar Bias, ia yang teringat noda di celananya langsung memperhatikan jok yang baru saja ia turuni.


"Ka-k, bener-kan jok Ka-kak ja-di ko-tor."


"Sudah gue bilang gpp!"


"Kalian berdua lagi ngobrolin apa? Zee, jawab ibu, kamu dibawa kemana aja sama dia tadi? Apa dia macem-macem sama kamu?" gusar Farah.


"Apa sih i-bu, Zee g-pp kok. Ini kak Bi-as kakak Basket, Zee, dia tadi tolongin Zee, Buu. Zee tadi tembus dan kak Bias anter Zee biar nggak ma-lu di jalan." Zee berusaha menjelaskan.


"Terus kenapa pakai acara peluk-peluk di motor?" Farah menatap wajah Zee dan Bias bergantian.


"I-tu aku juga ng-gak ta-u, Buu!"


"Lho kok gak tahu?" Farah kini menatap Bias.


"Lo ngantuk di motor tadi, Zee. Sorry gue narik tangan lo tadi, semua cuma biar lo nggak jatuh aja!"


"Bener kamu nggak cari kesempatan sama anak saya?" Farah membulatkan matanya bertanya pada Bias.


"Nggak, Buu," lugas Bias. Farah menatap Bias kini dari atas ke bawah.


Kelihatannya dia jujur, tampilannya juga seperti anak baik-baik, ganteng pula wajahnya.


"Baik, karena Zee sudah sampai, saya permisi, Buu!"


"Eh mau ke mana?" sela Farah, agaknya Farah menyadari Zee sejak tadi mencuri pandang pada pria di hadapannya.


"Pamit pulang, Buu. saya harus ngejar sholat Maghrib."


"Kamu belum sholat?" Bias menggeleng.


"Duhh gimana sih, 10 menit lagi adzan isya lho, ayo sholat di rumah Zee aja!"


"Eh, ja-ngan, Buu," lirih Zee dengan cepat.


"Lho kamu kenapa Zee. Ibu kan yang undang dia. Ayo sholat di rumah, Nak!"


"Nggak usah, Tante. Lain kali aja."


Farah melihat motor Bias sekilas dan berasumsi sendiri. "Iya sih, memang rumah kami sederhana. Pasti kamu sungkan mampir ke gubuk kami."


"Eh, bukan begitu, Buu_____


"Kalau nggak begitu, kamu mau dong mampir ke rumah Zee?"


Ihh ... ibu, apaan sih??


..._________________________________________...

__ADS_1


🥀Happy reading😘


🥀Thanks for support❤️❤️


__ADS_2