
..."Yakinlah penyesalan selalu datang beriring dengan kesempatan. Ya, kesempatan menjadi diri lebih baik sebab kesalahan telah mengajarkan."🥀...
..._______________________________________...
Harusnya aku sadar kak Bias nggak mungkin suka sama aku yang jelek! Tapi bukan a-ku Ka-k .... Aku nggak pernah buat drama. Aku benar-benar nggak tau surat itu darimana, selama ini aku hanya berpikir surat itu dari kakak. Ta-pi nyatanya bu-kan___ dan menyedihkannya selama ini a-ku mencintai sendirian!
Entah sudah berapa kali Zee membalik badan namun matanya tak juga dapat terpejam. Bayangan kejadian siang itu masih begitu nyata, sesak itu tak ingin pergi. Rasa sedih, sakit, malu bercampur menjadi satu. Zee terus membodohi dirinya yang mudah percaya pada surat itu, mudah terbawa rasa pada sosok Bias.
Air mata itu rasanya ingin terus menetes, cinta pertama yang tak ingin ia ingat seumur hidup rasanya. Rasa yang harusnya begitu indah, telah terbingkai kebohongan besar yang Zee sendiri tak tau siapa pelakunya. Pelaku yang begitu tega mempermainkan hatinya.
Jahat! Mengapa ada orang seperti itu? Mengapa harus aku? Karena aku jelek kah? Atau kerena aku miskin? Tapi siapapun aku, mereka tak berhak menyakitiku!
Menjadi jelek____ Hal yang kulakukan dengan harapan mendapat ketulusan hubungan, justru menjadikan alasan orang lain menyakitiku. Ibu, kak Jo___ semua benar. Kebohongan itu nyatanya tidak baik! Lalu aku harus bagaimana ke depan? jika bertemu kak Bias____ aku harus bagaimana? Melihat bayangnya di kejauhan saja kini aku malu! Aku Zee yang bodoh!
Kak Nasya____ kak Bias nyatanya mencintai wanita itu. Ya tentu kak Nasya memang cantik, tapi kata-katanya tajam bak pisau. Sangat menyakitkan!
Zee masih bermonolog dalam diam saat sebuah ketukan terus berbunyi dari pintu kayu kamarnya.
"Zee ...."
"Iya, Bu."
"Ada Johan di luar."
"Suruh pulang aja, Bu. Aku lagi males keluar "
"Kenapa? Buka pintunya!"
"Zee gpp, kok. Cuma mau istirahat aja."
"Buka dulu pintunya, ibu mau bicara."
Zee paling tidak bisa menolak ingin Farah. Ia bangkit dan membuka pintu. Farah seketika masuk dan duduk di tepi ranjang. Bukannya Zee langsung menghampiri Farah, ia justru menuju jendela dan berdiri di depan jendela.
"Zee, sini duduk!" pinta Farah sambil tangannya melipat selimut yang menutupi ranjang.
"Ibu mau bicara apa, bicara saja. Zee sedang lihat awan."
Farah menggelengkan kepala, ia sudah sangat hapal kebiasaan Zee jika sedang sedih yang selalu berdiri di tepi jendela menghindari wajahnya dari Farah. Farah mendekat dan menyapu bahu putri cantiknya yang berpostur tinggi bahkan melebihi tinggi tubuhnya.
"Kalau ada masalah bicara, jangan suka memendam semuanya sendiri!"
__ADS_1
"Zee baik-baik aja, kok!"
"Kalau baik kenapa tidak mau menatap ibu?" Zee bergeming. Farah membalik perlahan tubuh Zee yang beruntungnya tanpa penolakan. Ia mengangkat dagu Zee yang terus menunduk.
"Mata kamu bengkak, habis nangis?" Zee tak menjawab.
"Ada masalah apa?" Zee menggeleng.
"Bias?"
"I-bu?"
"Jadi bener?" Zee menunduk.
"Yang membuat sakit jangan diingat. Ayo keluar, Johan ngajak kamu ke lapangan tuh sama Zaa dan Joy juga. Sana ikut Johan aja, kayaknya dia anak baik."
"I-bu?"
"Kalau ibu jadi kamu, ibu lebih senang dicintai daripada mencintai. Kamu masih muda, katanya mau jadi pengacara. Kenapa gara-gara masalah hati udah down begini? Cari cowok yang sayang kamu dan support cita-cita kamu, bukan buat kamu sedih!"
"I-bu?"
"Gak usah iba ibu aja, sana keluar!" Zee menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar ikut berbaur bersama Johan, Zaa dan Joy. Bersama Johan yang telah mengetahui wajahnya, Zee merasa menjadi dirinya sendiri ia senang tanpa takut kebohongannya terbongkar.
_________________
Sontak Bias di hadapannya tak berhenti terus menggeleng kaget melihat perilaku kekasihnya.
"Yang ...."
"Hem?"
"Tumben makan kamu banyak sih?"
"Aku tuh lagi kesel sama Zee itu, jelas banget dia suka kamu, Yang. Dan dia tuh nekat banget. Kamu pokoknya harus jaga jarak dari dia loh, Yang!" Bias menggeleng sembari tersenyum.
"Masa kamu cemburu sama dia, sih?"
"Cemburu lah. Kamu kalau ada yang deketin aku cemburu nggak?"
"Ya cemburu."
__ADS_1
"Nah aku juga begitu. Pokoknya aku nggak mau kamu deket-deket dia titik!"
"Iya, udah lanjutin makannya."
__________________
Hari berikutnya, setelah menguatkan diri jika di sekolah nanti ia akan bertemu Bias atau Nasya yang telah menghinanya. Zee berjalan kini seolah tak ada masalah. Sakit itu tentu masih ada, masih jelas bahkan, tapi Zee sadar ia seorang siswa yang memiliki kewajiban menuntut ilmu, pun ia juga memiliki cita-cita yang ingin dicapai untuk meninggikan keluarganya.
Zee masuk ke pelataran sekolah. Ia agak bingung melihat beberapa orang seolah berbisik -bisik saat melihatnya. Ia terus berjalan dan mengabaikan para siswa yang semakin banyak sedang menatapnya. Hingga sampai di kelas pemandangan yang sama lagi-lagi tertangkap netra Zee. Teman-temannya berbisik-bisik melihatnya. Di sisi lain Ayu dan Siska yang melihat Zee datang langsung mendekat dan meminta Zee duduk.
"Zee, jadi lo bales su-rat i-tu?" tanya Ayu seketika.
Dada Zee langsung sesak. Hal yang ia ingin lupakan kedua sahabatnya justru menanyakannya.
"Surat?" Zee berpura tidak tau.
"Iya, lo ngasih surat buat kak Bias?" Siska memperjelas.
"Kalian tau darimana?"
"Bukan hanya kita Zee, satu sekolah udah tau kayaknya!"
"Hah? Ta-pi tau darimana?" Berusaha keras tanya itu terlontar, Zee malas membahas itu tapi ia juga penasaran.
"Nggak tau juga, pas gue dateng yang lain udah pada bisik-bisik. Zee, kenapa lo bales surat itu sih, Zee!"
Zee bergeming, ia sedih dan mata itu sudah berkaca saja.
"Zee, jangan nangis ...."
"Ada yang jahatin aku, itu bukan surat da-ri kak Bi-as! Aku bo-doh!" Air mata itu mulai keluar dan Zee segera menghapusnya.
"Zee, nggak! Lo itu anak cerdas!" ucap Ayu.
"Semua diam! Di kelas ini nggak boleh ada orang yang bisik-bisik tentang Zee. Zee kita anak baik dan nggak akan bisa buat rencana kotor kayak rumor yang beredar! Diam!" Siska yang sifatnya keras berteriak melihat Siswa di kelasnya masih terus berdecih dan bergunjing terlebih melihat Zee yang menangis. Ia yang sejujurnya merasa bersalah tak ingin Zee jadi bulan-bulanan siswa lain.
"Udah aku nggak mau bahas ini, please jangan tanya-tanya aku dulu, ya!" Zee membalik badan dan memilih menatap jendela. Ia melihat Bias, rasa itu masih ada tapi terbingkai kesedihan. Kata-kata Bias masih terekam kuat di otak Zee. Bias meragukannya, ia sudah berprasangka sangat buruk. Zee yang sadar dia sedang di sekolah dan tangisan akan membuat orang berasumsi semakin buruk padanya kini memilih bersikap seolah tegar.
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Sayang kalian semua❤️❤️