
"Assalamu'alaikum ...."
"Assalamu'alaikum ...."
Tidak ada sahutan dari salam pertama, dua gadis mengucapkan salamnya lagi.
"Sis, lo yakin ini bener alamat rumah Zee?"
"Sesuai alamat TU tadi bener kok!"
"Mana ya? Sepi, sih!" utar Ayu lagi.
"Iya, gue juga bingung."
"Coba panggil lagi!"
"Zee ... Assalamu'alaikum Zee ...."
Seorang tetangga yang mendengar nama anak tetangganya terus dipanggil langsung menghampiri. "Adek-adek cari siapa?" tanyanya.
"Ini benar rumah Zee, Buu?" Siska langsung melontarkan tanyanya.
"Oh, temen-temennya Zee, ya?? Benar ... benar."
"Tapi kok sepi ya, Bu? Kami panggil-panggil tapi nggak ada respon," tanya Ayu.
"Oh iya, satu jam lalu Zee pergi mau antar Farah ibunya ke klinik."
"Oh."
"Iya, yuk tunggu di rumah ibu aja!" Dengan baiknya tetangga Zee itu kembali berkata.
Setelah saling berhadapan beberapa saat, Siska menggeleng. "Kami tunggu di sini saja, Bu. Terima kasih sebelumnya."
"Hmm, begitu ya? Ya sudah, kalau begitu ibu kembali ke rumah, ya?"
"Iya, Bu," jawab ayu sambil tersenyum.
Keduanya tampak duduk di kursi rotan di muka rumah Zee sambil mengedar pandang. keduanya melihat kondisi rumah Zee yang sederhana namun nyaman.
"Eh Ayy, jujur gue deg-degan mau ketemu Zee. Lo inget nggak, waktu kita pendaftaran, kita ketemu cewe yang kita bilang waktu itu cantik banget kayak artis belesteran."
"Iya, dan ternyata cewe i-tu ja-di temen kita dalam rupa Zee yang hitam." Siska mengangguk.
"Pokoknya Zee harus jelasin semua ke kita!"
"Betul!"
"Eh, kalo dipikir ... coba aja Zee nggak nyamar jadi hitam pasti kak Bias suka," kata Ayu lagi.
"Iya, pasti tuh! Eh nggak deng, belakangan gue denger-denger kak Bias katanya cinta banget sama kak Nasya pacarnya yang anak IPS itu, kak Nasya kan juga cantik!"
"Tapi menurut gue cantikan Zee, lah. Zee itu tinggi, dia juga baik."
"Iya, sih. Kalau kak Nasya cantik tapi banget." Siska bicara sambil terkikik.
__ADS_1
"Eh lo parah! Iya kak Nasya nggak begitu tinggi, dia emang cantik, tapi mukanya jutek___ kayak sombong gitu!"
"Bener! Andai kita tau lebih awal kalau kak Bias udah ada cewek, kita pasti nggak ngisengin Zee!"
"Nggak tau, dulu kok kita jahat banget sih sama Zee! Gimana dong Sis, gue sering ngerasa bersalah banget gitu. Kita jujur aja, yuk! Biar tenang. Menurut lo gimana?"
"Gue juga sih, tapi gue nggak berani nyampein-nya."
"Sama."
"Nanti kalo nemu timing yang tepat kita harus minta maaf ya, Sis!"
"Iya, iya. Eh, ngomong-ngomong Zee masih belum pulang jg, gimana nih? Kita tetep mau tunggu atau pulang dulu, nanti sorean kita ke sini lagi?"
"Yaudah nanti sorean kita ke sini lagi." Baru kedua raga berbalik, netra keduanya menangkap 2 orang dewasa dan seorang bocah kecil datang.
"Itu Zee bukan sih?"
"Iya, kenapa gue jadi deg-degan gini. Jadi asing gitu sama Zee!"
"Sama."
"Ka-lian?"
Zee sudah berada sangat dekat, ia kaget dengan kehadiran 2 orang terdekatnya di sekolah itu. Ia bergeming bingung, pun Ayu dan Siska juga tampak terkesima melihat gadis cantik yang berdiri di hadapannya bak model. Ketiga masih sama-sama diam hingga Farah yang tidak kuat berdiri lama sudah meringis dibuatnya.
"Zee, ayo suruh ma-suk te-mannya!" lirih Farah.
"Eh, i-ya Bu."
"Zaa, temenin ibu dulu di kamar, ya!" ucap Zee dan langsung beranjak ke ruang tamu tempat kedua sahabatnya masih mematung memperhatikan setiap gerak Zee.
"Lo ber-dua udah lama? tanya itu terlontar. Ayu dan Siska langsung duduk mendekat ke arah Zee dan memperhatikan wajah itu seksama dan bergantian mengusap tangan Zee, memastikan yang dilihatnya.
"Zee, elo bener-bener Zee! Zee ... elo cantik!" Siska seketika langsung memeluk tubuh itu.
"Zee, kalau cantik begini kenapa harus ditutupin, sih?" Ayu tak kalah antusias, ia ikut merangkul bahu Zee.
"Udah, udah ...! Aku sudah napas nih," ucap Zee sembari tersenyum. Kedua sahabatnya melepaskan pelukannya.
"Zee, ceritain semua pokoknya kenapa lo harus bohong ke semua orang di sekolah!"
"Iya nanti aku ceritain, kalian nggak haus apa? Aku ambil minum dulu, ya!" Kedua sahabat itu mengangguk.
Beberapa saat setelahnya, mereka bertiga sudah berada di kamar Zee.
"Ya ampun Zee, segitunya elo! Tapi kita termasuk orang yang tulus temenan sama elo lho, Zee."
"Iya, iya ... kalian best deh pokoknya." Ayu mengerucutkan bibir menatap Siska.
"Kenapa sih lo lihat gue begitu?" ujar Siska ke arah Ayu.
__ADS_1
"Iya tulus, tapi kita ngarep jawaban PR dari Zee juga, kan?"
"Iya sih. Hee ... sorry ya Zee," lontar Siska.
"Iya iya gpp, gue ikhlas soal itu. Tapi, kalian juga harus belajar, aku cuma takut pas ada tes kalian nanti repot sendiri!"
"Hmm ... iya juga, sih. Kalo gitu lo yang sabar ajarin kita-kita ya, Zee!"
"Iya. Eh iya, aku juga mau bilang sorry udah bohong sama kalian tentang wajah aku!"
"Ihh Zee, besok lo ke sekolah begini aja, ya! Gue yakin deh tuh cowok-cowok di sekolah pada rebutan dapetin lo!" Zee tertawa mendengar ucapan Siska.
"Nggak ah, aku mau hitam aja di sekolah!"
"Yah, kok gitu sih Zee. Gue yakin kak Bias bakalan kaget lihat lo!"
"Maaf Ay, jangan bahas kak Bias ya!"
"Hee .... Sorry!"
"Zee, tapi gue setuju tuh sama Ayu, lo harus buktiin sama kakak itu kalau lo bisa move on dari dia," lirih Siska berucap. Zee menggeleng.
"Aku mau fokus belajar aja! Aku juga mau berhenti dari ekskul basket!"
"Zee ...."
"Lagian ibu aku udah kerja keras jahit untuk aku sama adik-adik. Nggak Ay ... Sis, banyak yang harus gue prioritaskan ketimbang ngurusin masalah hati yang cuma bikin nyesek."
"Zee, masalah surat itu kita mau____
"Ay!"
Belum lagi Ayu berucap, Siska sudah menyela. Mata Siska membulat membuat Ayu menghentikan seketika kalimatnya.
"Masalah surat apa? Kamu mau bicara apa, Ay?"
"Nggak jadi, nggak penting kok, Zee!"
"Oh."
Sejak hari itu Ayu dan Siska semakin akrab dengan keluarga Zee.
Waktu berlalu, sebulan berlalu sudah. Empat kali Zee sudah tidak datang latihan basket, Johan yang memahami kondisi Zee tak bisa berbuat apa-apa. Bias yang kelimpungan jika harus mencari pengganti Zee, akhirnya memutuskan menemui Zee.
Bias tahu Zee akan pulang setelah menunaikan ibadah zuhurnya, siang itu ia sudah berada di muka mushola menunggu Zee.
"Zee ...!" panggilan dari suara yang tak asing itu terdengar, Zee yang baru berjalan beberapa langkah berhenti. Perasaan di hati itu masih sama, jantung itu sudah berdetak cepat di dalam sana. Zee masih mematung, hingga wangi parfum itu mulai tercium inderanya, Bias sudah berdiri sangat dekat darinya.
...______________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Senin manis jangan lupa votenya ya❤️❤️
🥀Mampir ke karya sahabat literasi Bubu ini, yuk😍
__ADS_1