
"Yang ... ahhh, u-ddaahhh Yang!"
"I-yaa, tahan sebentar ya, Yang!" Seketika hentakan itu bertambah cepat, bersamaan rahang Bias yang semakin mengeras. Adrenalin Bias semakin terpacu melihat Zee yang terus mengerang dan mendesah.
"Oh ...."
"Grrrhh ....!" Olahraga pagi itu akhirnya berakhir dengan erangan Bias saat benihnya menghangat ke rahim Zee. Bias menjatuhkan badan setelahnya di atas tubuh Zee yang sudah ia hias dengan beberapa tanda buatannya.
"Terima kasih, Sa-yang!" lirih Bias mengecup kening yang masih dipenuhi keringat itu. Zee mengangguk. Bias menggulirkan badan ke samping dan mengusap-usap perut rata Zee.
"Akhirnya benih aku masuk ke tempat yang seharusnya, semoga berhasil jadi Bias atau Zee kecil."
"Aamiin."
"Kita tidur sebentar, ya! Nanti baru aku temenin kamu berenang! Jadi mau renang, kan?" Zee mengangguk.
"Aku juga mau main basket! Seperti biasa, aku yang oper, kamu tinggal shooting!" ucap Zee.
"Kalau main basket jangan dulu ya, Yang! Benih aku lagi menyesuaikan sama rumah barunya, kamu jangan loncat-loncatan atau banyak gerak dulu, o-ke!"
"Tapi aku akan bergerak pelan!" ucap Zee. Ya, Zee tetaplah Zee yang jika menurutnya benar, ia akan terus mempertahankan pendapatnya.
"Yang, please! Katanya mau cepat ada fotokopi kecil aku, hem?"
Terlihat Zee membuang napasnya kasar. "Humm, i-ya, kamu be-nar, Yang. Ma-af!" Zee melontar maaf, ia menyadari ucapan Bias benar.
"Iya iya, Sayang!" Bias tampak melihat jam analog di dinding setelahnya.
"Sudah tidur yuk, masih jam 6! Nanti jam 7 kita bangun!" Keduanya memang melakukan aktivitas penyatuan itu setelah menjalankan ibadah subuh.
___________________
Pukul 8 saat ini, satu jam sudah Zee berada dalam air tapi ia terus saja berbalik arah menggerakkan tangan dan kakinya bergantian dengan penuh semangat. Bias tak jauh dari kolam renang duduk menggunakan bathrobe setelah beberapa putaran ia berenang dan kini ia sedang mencari-cari lokasi untuk cabang ke-4 Kafenya.
Ya, Bias yang melihat kondisi ketiga Kafenya cukup terkontrol dengan baik dengan laba yang stabil merasa perlu melebarkan Kafenya itu lagi. Tidak di luar kota melainkan masih di kota Jakarta adalah pilihan Bias. Kota Jakarta adalah kota hidup, kota modern yang tidak bertitik pada satu lokasi, tapi setiap tempat adalah pusat kehidupan.
Penduduk Jakarta tak dipungkiri berisi mayoritas manusia modern yang senang memadati kantor, Mall, Resto dan sarana umum lainnya. Terlebih penduduk Jakarta di perkotaan entah laki-laki atau pun perempuan adalah pekerja. Tak sedikit mereka memiliki gaya hidup hedon, berpandangan bahwa tujuan utama dalam hidupnya adalah untuk kenikmatan serta kesenangan pribadinya.
Ya, karena memang mereka sudah letih dengan berbagai aktivitas kerja, mereka tak sungkan mengeluarkan rupiah untuk memberi kesenangan untuk dirinya. Baik kebutuhan primer, sekunder, bahkan lux mereka cukupi.
Salah satu kebutuhan primer adalah pangan dan banyak warga Jakarta memilih membeli makanan instan atau datang ke bakulan kuliner untuk memuaskan kebutuhan perut mereka. Hal yang dimanfaatkan oleh pengusaha kuliner termasuk Bias diantaranya.
Lokasi di Jalan Fatmawati bilangan Jakarta Selatan adalah pilihan final Bias, lokasinya yang dekat Rumah Sakit, perkantoran dan kampus menjadi alasan Bias.
Setengah jam berlalu, Bias yang sejak tadi sibuk dengan perencanaannya melupakan kehadiran Zee. Ia tampak mengedar pandang dan tak mendapati Zee di kolam renang. Bias yang bingung langsung berdiri. Ia kaget nyatanya istrinya sedang bermain basket di lapangan di samping kolam renang saat ini. Bias mendengus kecewa, Zee tak mendengarkannya.
"Yang!"
"Eh, sorry, Yang! Aku cuma main sebentar kok! Udah mulai panas masuk, yuk!" Bias bergeming mendengar ajakan Zee.
__ADS_1
"Yang, ke-napa?"
"Yang, jangan diam saja!" ucap Zee lagi melihat Bias tak bicara.
"Aku pikir kamu serius ingin anak dari aku! Tapi aku salah!" Bias berdecih dan segera masuk ke dalam rumah.
"Yang ... Yang ... tunggu! Aku kan sudah minta maaf tadi, Yang! Habis kamu sibuk terus nggak nemenin aku berenang, aku bosan! Aku juga main perlahan, aku hati-hati!"
"Itu bukan alasan!"
"Yang! Bener tadi aku main pelan-pelan dan santai aja kok. Nggak loncat-loncatan juga!"
"Ini bukan hanya masalah main basketnya aja, Yang! Tapi masalah kamu yang gak dengerin aku! Kamu anggap main-main ucapan aku! Padahal aku tuh melarang kamu ini itu juga untuk kamu! Untuk kita! Satu tahun lho, Yang! Aku menanti benih aku bisa masuk ke rahim kamu, tapi saat itu terjadi kamu gak benar-benar jaga!" Bias membuang wajahnya. Bias memang sangat berharap hasil penyatuan keduanya beberapa saat lalu membuahkan hasil. Ia terlalu senang dan percaya Zee, namun Zee mengabaikannya.
"Yang, please, maaf!"
"Hari ini kamu istrirahat aja nggak usah ikut ke Kafe!"
"Yang, kok gitu? Aku kan mau bantu-bantu kamu!"
"Aku mau sendiri dulu!" Tanpa menatap Zee, Bias menuju kamar.
"Marah saja! Kamu memang sepatutnya marah memiliki istri seperti aku! Aku memang masih senang berbuat sekehendak aku! Lagi-lagi aku mengabaikan ucapan kamu! Ya, aku memang belum pantas jadi istri, apalagi ibu! Kamu sebaiknya cari aja deh istri yang lebih baik dari aku!" Dengan cepat Zee masuk kamar melewati Bias yang berdiri mematung mendengar setiap kata Zee. Zee tampak mengambil dompet dan bergegas menuju pintu ke luar.
Baru sampai ruang keluarga, Zee menoleh. "Aku akan pulang ke rumah orang tua aku! Kamu jangan pernah datang menjemput!" tegas Zee lagi.
Sabar ... Sabar, Biass! ucap Bias dalam hati.
"Yang Sayang, tunggu! Jangan pergI, Yang! Oke aku salah! Aku minta maaf! Kita masuk, oke!" Zee melirik Bias sekilas.
"Tidak perlu panggil Sayang lagi! Awas! Aku mau pulang ke rumah orang tua a-ku!" Zee berusaha melepaskan tangan Bias yang menahannya.
"Sayang ... jangan begini! Ingat! Dalam keadaan marah kita dilarang ke luar dari rumah! Kita harus menyelesaikan masalah kita dahulu!! Di dalam rumah kita sendiri!"
"Aku bukan istri yang baik! Tidak perlu menahan aku! Biarkan saja aku per-gi!" lirih Zee sudah bercucur tangis saja.
"Nggak! Bukan kamu yang salah! Aku yang salah tadi cuekin kamu dan buat kamu bosen. Maaf, aku gak seharusnya berlebihan menyikapi usaha kita untuk punya anak. Mau kamu main basket kalau Pencipta menakdirkan benih aku jadi ya akan jadi. Aku salah! Please jangan pergi ke mana pun, aku cinta kamu, Yang!"
"Aku yang salah! Huuu ... Aku nggak dengerin ka-mu! Harusnya aku serius berupaya supaya benih kamu berhasil," lirih Zee mendengar kata maaf Bias bertambah sedih merasa bersalah.
"Iya, iya, sudah ya! Yuk kita masuk, tuh lihat, kamu juga masih pakai baju renang masa mau pergi ke luar!"
Zee seketika kaget. Ia baru sadar sejak tadi memang belum mengganti outfitnya. "Hah, oh i-ya!" Ia tersenyum malu.
"Kita masuk dan membersihkan diri, yuk!" Zee yang sudah melembut mengangguk.
"Nanti kamu ikut aku, ya! Aku mau cek lokasi untuk cabang Kafe kita yang baru!"
"Di daerah mana, Yang?" tanya Zee.
__ADS_1
"Fatmawati."
"Wah bagus tuh, Yang. aku dengar di sana ramai."
"Iya, banyak perkantoran, ada Rumah Sakit, juga Deket kampus. Seperti lokasi-lokasi Kafe kita yang sebelumnya." Keduanya tampak sudah berbaikan dan terus saja mengobrol sepanjang menuju kamar mandi, seolah pertikaian beberapa saat lalu tak pernah terjadi.
"Tapi kamu sudah tanya harga sewanya, Yang? Berarti kita harus merekrut karyawan lagi, dong?"
Bias berjalan menuju lemari mengambil handuk bersih karena handuk yang lama pagi tadi ia taruh di mesin cuci. "Harga sewa aku belum tanya, semoga aja gak jauh beda dari sewa tempat kita sebelumnya. Kalau karyawan ya pastinya kita akan rekrut, tapi sementara ini aku akan fokus untuk deal ruko dan mendekorasi ruko itu dulu." Bias menuntun Zee masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa kok meringis gitu sih mukanya?" tanya Bias sebelum menggantung handuk dan mengisi bathtup dengan air hangat.
"Gak tau nih, perut aku sakit, pinggang aku juga pegel!"
"Yaudah nanti habis mandi aku pijitin sebentar." Bias tampak sudah berdiri di hadapan Zee, menurunkan bagian bahu baju renang berwarna soft purple itu hingga ke lengan.
"Indah banget, Yang!"
"Kamu tuh!" Zee menjatuhkan wajahnya ke bahu Bias malu. Bias mengusak kepala itu.
"Gak usah malu, bahkan tiap incinya aku sudah hafal tubuh kamu," bisik Bias.
"Ahhh ...." Zee yang malu mencubit perut Bias. Bias tertawa. Ia tampak melanjutkan membuka baju renang yang di pakai Zee, hingga sampai di pinggul, Bias yang kesulitan sebab baju renang itu press di tubuh Zee menyamankan diri dengan membungkuk seperti hendak berlutut.
"Eh Yang, sudah! Biar aku yang lanjutin buka. Aku akan merasa bersalah kamu membungkuk di depan aku. Kurang sopan!"
"Gpp, kan aku yang mau!"
"Ja-ngan! Kamu buka baju kamu aja!" Bias tersenyum dan mengangguk.
"Astaga Yang! Maaf aku gak bisa mandi barengan di bathtup, Yang!" Wajah Zee panik.
"Ada apa?" Bias yang bingung mendekat.
"Eh kamu jangan lihat! Aku sudah tanda-tanda dateng bulan, Yang! Sorry!"
"Yah, gagal dong buat fotokopi akunya!"
"Iya maaf, Ya, Yang! Seminggu lagi kita langsung cus buat setelah aku selesai." Sesaat Bias kecewa, tapi ia mengangguk setelahnya.
Pantas aja kamu dari kemarin sensitif banget, Yang! Jadi ini alasannya, batin Bias.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Mohon maaf sampai akhir bulan ini up satu hari satu bab yaa🙏❤️❤️
__ADS_1