
Hari berganti. Sabtu ini Bias bertemu lagi dengan klien yang kemarin mendengarkan presentasinya. Restoran di bilangan Jakarta Utara milik Libra sendiri yang dipegang Bias menjadi tempat bertemu mereka.
Cuaca hari itu sejuk, sesejuk otak Bias yang bungah sebab presentasinya kemarin di terima. Kepiawaian Bias menyampaikan perihal restorannya, visi dan misi jangka pendek dan panjang dalam pengembangan restoran yang di miliki ayahnya itu sungguh membuat dua klien tertarik menanamkan modalnya ke perusahaan Libra. Kini Bias yang diamanahi Libra tampak menandatangani beberapa dokumen kerjasama yang telah di tandatangani para investor tersebut.
Pertemuan selesai bersamaan adzan Zuhur yang berkumandang. Bias masih berada di restoran. Ia menjalankan ibadah zuhur dan setelahnya memastikan ruang VIP dalam restorannya itu telah siap.
Semalam setelah ujarannya yang membuat kedua orang tua dan adiknya kaget. Libra masih berkeras. Ia mengancam Bias jika berani melakukan hal terlarang itu dan berkeras menikahi Zee untuk keluar dari rumah dan Libra tidak akan menganggap Bias anak.
Hal sebaliknya datang dari Dona. Dona mendatangi kamar Bias, ia mengutarakan ingin mengenal lebih dekat Zee. Dona ingin bertemu Zee. Awalnya kafe Dona menjadi pilihan, tapi belakangan Bias mengganti tempat pertemuan ibu dan wanita yang mulai ia sayang dan diketahui sangat mencintai dirinya itu ke restoran yang ia handle. Ya, Bias tak ingin kehadiran Zee di kafe Dona yang kini menjadi kekasihnya menjadi perbincangan karyawan di kafe itu. Bagaimana pun Zee pernah bekerja di sana.
Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Ponsel di sakunya bergetar, Zee mengirim pesan ia sudah di muka restoran. Bias seketika menuju ke depan menjemput Zee. Dikarenakan waktunya sempit jika harus menjemput Zee, Bias meminta seorang sopir menjemput Zee ke rumah beberapa saat lalu.
"Tadi macet gak, Yang?" tanya Bias menautkan pipi keduanya.
"Sedikit, mama kamu sudah sampai?"
"Sudah dekat sih katanya. Yuk masuk!" Zee berjalan beriringan dengan Bias. Ia menunduk agak malu masuk ke restoran mewah dan dilirik karyawan-karyawan karena Bias terang-terangan meletakkan lengannya ke bahu Zee.
"Apa ini nggak berlebihan, Yang?" ucap Zee menematkan panggilan spesial itu. Kedua netra Zee tampak kaget melihat meja bundar di ruangan yang sangat rapi dan indah dengan bunga-bunga mawar putih itu dipenuhi berbagai menu masakan.
"Nggak. Semua yang ada di sini kesukaan mama, kok."
"Oh ...," decak Zee.
Zee baru saja duduk saat pintu ruangan berdominasi cream itu terbuka. Baik Zee mau pun Bias berdiri, Bias langsung mencium tangan Dona dan mencium pipi wanita yang melahirkannya tersebut.
"I-ni?"
"Ini pacar Bias, Ma."
"Ini Ziva yang waktu itu, 'kan? Ahh, nakal kamu, waktu itu bilangnya hanya karyawan di kafe ternyata dia benar pacar kamu!" Dona mencubit perut Bias, Bias meringis.
"Saat itu memang kami belum punya hubungan, Ma!"
"Oh."
"Mama datang sendiri saja?" tanya Bias sambil mengarahkan Dona duduk.
"Sama Dara."
"Bias nggak lihat Dara!"
__ADS_1
"Lagi telfon di luar dulu." Setelah bercakap dengan Bias. Dona mengarahkan pandangannya pada Zee.
"Hai, Sayang ...."
"Tante," ucap Zee sambil tersenyum.
"Kita mengobrol sambil makan, ya!" Zee mengangguk. Bias ikut duduk di sisi Zee.
"Kamu kenapa ikut duduk? Kerja saja sana!" utar Dona.
"Suasana restoran aman, Ma."
"Kamu tuh!" Dona menjewer Bias yang terus melirik Zee.
"Kalian sudah lama jadian?" tanya Dona sambil meletakkan daging-daging ke pemanggang.
"Gak lama dari pesta Nasya," jawab Bias mendekatkan chicken mushroom salad ke dekat Zee. Diam-diam Zee memperhatikan Bias, ia senang Bias tampak biasa menyebut nama Nasya kini.
"Belum lama dong. Kenapa kalian mau buru-buru nikah, hem?" Dona memasukkan daging asap ke mulut.
"humm .... So delicious, Bii. Kasih ke Ziva, Sayang! Biar dia ketagihan juga!"
Belum lagi tanyanya dijawab Dona sudah bicara lagi. Bias melaksanakan yang diucap Dona, mengambil daging dengan sumpit dan mengarahkan ke mulut Zee. Zee mengunyah perlahan menikmati sensasi daging itu di mulutnya.
"Tapi menikah itu banyak bumbunya, ujiannya! Apa lagi kalian masih muda. Kok Mama lebih senang kalau kalian saling support berkarir dulu sih!" Daging sebelumnya sudah habis, Dona meletakkan lagi potongan daging ke pemanggang dengan memberi beberapa bumbu.
"Kami berkomitmen nggak akan saling memperumit hubungan pernikahan kami kok, Ma! Zee bisa kuliah dan Bias berkarir."
"Ziva mau kuliah? Bagus itu! Gimana kalau Ziva kuliah sampai lulus baru nikah sama Bias. Mama suka dan setuju kamu sama Ziva, kok." Dona melontarkan apa yang ada di otaknya. Ia ingin semuanya berjalan baik antara Libra dan Bias.
"Ma! Please cukup Papa yang menentang Bias! Mama dukung Bias dong, Ma!" Mata Bias mengiba. Dona mengalihkan pandangannya ke Zee.
"Dari tadi Bias terus yang jawab, sekarang kamu diam Bi! Mama mau dengar Ziva bicara!" Bias bergeming.
"Kamu memang sudah siap jadi istri, hem?" lugas Dona seketika ke arah Zee.
"In Syaa Allah, Ma," lirih Zee.
"Kamu kan mau kuliah, kalau kamu hamil bagaimana?"
"A-ku sama Bias komitmen menunda punya anak." Di kejauhan Bias mengangguk. Dona terdiam.
__ADS_1
"Permisi ...." Suara lembut tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
"Lo dari mana? Lama bener masuk!" Bias mencecar tanya pada Dara yang langsung mencebik.
"Aku ada urusan!"
"Telfon dari pacar, ya?"
"Ih, mas Bias kepo!"
"Sudah-sudah berisik. Sini Ra, ini Ziva pacar mas kamu!" Dara memperhatikan Zee seksama.
"Kita pernah ketemu sebelumnya nggak sih, Mbak? Aku kok kayak gak asing lihat Mbak gitu!" ucap Dara.
"Hu, mulai deh sok kenal! Pacar Mas emang cantik kayak bintang film di TV, paling yang kamu lihat itu tuh!"
"Tunggu deh Yang, aku juga kayaknya gak asing sama adik kamu!"
"Oh ya?"
"Oh iya, Mbak. Mbak inget nggak dulu aku pernah nabrak Mbak di Mall?" Zee mengingat-ingat.
"Oh iya betul, waktu itu kamu masih pakai rok biru, ya?" Dara tersenyum dan mengangguk.
"Tuh denger Mas! Mbak Ziva aja kenal aku!"
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk dan seorang pelayan masuk langsung mendekati Bias. Ia berbisik dan sesaat kemudian Bias izin ke luar ruangan. Semua dalam ruangan itu mengangguk.
Setelah Bias tak terlihat, Dona seketika menghentikan makannya dan menatap Zee serius. "Ziva, kamu benar-benar cinta Bias?" tanya itu terlontar dengan tegas.
"I-ya, Tante." Jawaban Zee terbata melihat suasana seketika menegang.
"Supaya kamu tahu, Papa Bias nggak setuju sama rencana pernikahan kalian!" Zee mengangguk.
"Tentu kamu sudah tau, ya! Tapi ada yang pasti kamu belum tau!" Netra Zee membulat.
"Maaf Tante bicara ini! Semalam Papanya Bias marah besar karena Bias berkeras dengan inginnya walau kami nggak setuju. Dan kamu tahu yang Papa Bias ucapkan? Bias akan diusir dari rumah jika tetap mau menikah sama kamu! Papa Bias nggak akan menganggap Bias lagi! Padahal Bias adalah penerus bisnis kami! Kamu senang hubungan Bias dan Papanya merenggang karena kamu? Jangan egois Ziva! Seperti yang Tante lontarkan, Tante suka kamu. Jadi please ... kalau kamu cinta Bias, Tante minta kamu bujuk Bias untuk mengurungkan pernikahan kalian!" Zee bergeming. Ada kesedihan di hati itu.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
__ADS_1
🥀Makasih yang masih rajin memberi like, komen dan vote karya ini❤️❤️