
"Jaga kelakuan kamu Libra!" Sebuah suara tiba-tiba terdengar memenuhi seantero rumah. Libra menoleh.
"Ka-mu?"
"Ayahh ...." Zaa yang takut setelah Libra tidak sengaja menjatuhkan Joy kini berlari mendekati Farid.
"Apa ini? Bagaimana kamu bisa berada di rumah Bias?"
"Bias menantu kami!" Suara wanita terdengar memekik. Libra mencari arah suara.
"Ka-mu juga? Kalian? Menantu? Apa maksud semua ini?"
"Joy, bawa Zaa masuk ke kamar tamu!"
"Iya, Ayah." Joy menurut.
"Terangkan dengan jelas, ada apa ini. Dan kamu! Bukankah kamu ada di penjara!" Farid tertawa.
"Kamu pintar tapi ternyata pikun. Aku tentu sudah lama keluar dari sana. Tiga tahun tak ada artinya untukku. Semua berjalan cepat dan aku sudah berkumpul dengan anak dan istriku kini!" Libra terlihat mendengus kesal.
"Sekarang terangkan mengapa kamu ada di sini!"
"Ternyata kamu tetap sosok yang selalu gegabah. Tidak bisakah kamu bicara dengan baik? Berbincang sambil meminum segelas teh. Teh tanpa campuran obat tentunya!" Mata Farid membulat. Libra berusaha kelas menelan salivanya.
"Jawab saja, kenapa kamu ada di rumah putraku?"
"Semua sudah dijawab istriku dan harusnya kamu paham. Bias sudah menikahi Zee putri kami. Jadi dia menantu kami!"
"Tidak! Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Lihat foto itu! Itu putramu, bukan? Agar kamu tahu, gadis di samping anakmu itu adalah putriku! Keduanya sudah resmi menikah dan kini hidup sangat bahagia!"
"Tidak! Semua tidak boleh terjadi! Selamanya aku tidak akan setuju putrimu yang menjadi menantuku!" pekik Libra.
"Tapi semua yang sudah terjadi tidak bisa dirubah!" Farah ikut bicara.
"Tunggu tunggu! Aku jadi curiga! Bias dan putri kalian! Tunggu! Oke oke, aku baru paham sekarang! Sejak awal semua adalah ide licik kalian, bukan? Membuat putraku melawan papanya dan pergi dari rumah! Membuat ia menikahi putri kalian! Cih, akal busuk!"
"Diam! Aku bukan kamu! Tidak ada seperti itu!"
"Kamu fikir aku orang bodoh! Licik! Kamu ternyata licik Farid!"
"Bukan a-ku yang licik, tapi ka____
Ahhh .... Ahhhh ....
Farid terus menyentuh dadanya, ragaitu gontai.
"Ayah ... Ayah ... Joy ... Joyyy!"
Libra kaget. Ia yang tidak mau disalahkan dan berfikir Farid akan mati dengan cepat pergi dari tempat itu.
___________________
__ADS_1
"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?"
"Apa pasien pernah mengalami serangan jantung sebelumnya?"
"Pernah beberapa bulan lalu."
"Kondisi pasien sudah ditangani. Saya harap hanya satu orang yang menunggu di dalam kamar. Pasien harus benar-benar tenang!"
"Ba-ik, Dok!"
"Anak-anak, kalian tunggu di luar, ya! Sebentar lagi mas Bias dan kak Zee datang!"
"Apa ayah baik-baik saja, Bu? Kenapa ada televisi di samping ayah?" lirih Zaa.
"Itu untuk memonitor jantung ayah. Kita doakan ayah cepat sadar ya, Sayang!" Farah mencium kening Zaa dengan wajah tegar sebelum Joy membawa Zaa Ke ruang tunggu.
•
•
"Kenapa kalian di luar? Bagaimana kondisi Ayah?" tanya Zee panik.
"Sayang, tenang!" ucap Bias mengusap bahu itu.
"Ayah di dalam kamar itu sama ibu, Kak!" ucap Zaa.
"Hanya satu orang yang boleh menemani ayah kata dokter, jadi kami diminta ke luar," terang Joy.
"Sayang ...."
"Ibu, mengapa ayah mengalami serangan jantung lagi! Apa yang terjadi pada ayah, Bu?" Zee memeluk tubuh Farah erat. Farah menatap ke arah Bias. Netra Bias dan Farah bertemu. Bias bingung arti tatapan Farah.
"Zee ... Zee dengar! Zee ingin bertemu ayah?" tanya Farah.
"Mau, Bu!"
"Ayah butuh ketenangan jadi hanya boleh satu orang di dalam. Zee masuk dulu, nanti menyusul Bias. Tapi ingat Sayang, jangan mengganggu ayah! Ayah baru saja sadar, jangan mengajak ayah bicara dan bertanya macam-macam! Itu akan membuat kondisi ayah memburuk. Jangan juga menangis di depan ayah! Paham!" Zee mangangguk.
"Sekarang tarik napas dan kamu harus tenang dulu baru boleh masuk!" Zee menarik napasnya beberapa kali baru membuka pintu itu.
"Bu, apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah di rumah Bias?"
"Kita bicara di sana!"
•
•
•
"Begitu ceritanya, Nak!"
"Jadi Papa ke rumah? Farah mengangguk.
__ADS_1
"Lalu bagaimana jantung ayah bisa colap? Apa yang dilakukan Papa?"
"Begini, Bi. Sebetulnya ayah dan papamu memiliki sebuah kisah masa lalu yang buruk!" Wajah itu datar. Sesaat kebencian mewarnai wajah Farah, tapi ia berusaha tenang.
"Kisah buruk? Ja-di ayah dan papa saling kenal?"
"Betul."
"Kisah buruk seperti apa?"
"Begini. Ayah dan mamamu Dona bersahabat sejak kecil. Walau pun sudah menikah, mamamu tetap saja kerap manja pada ayah. Jujur awalnya ibu pun risih, tapi ayah meyakinkan memang sifat Dona seperti itu dan mereka murni bersahabat. Ibu pun tidak mempermasalahkan itu. Tapi tidak untuk Libra papamu. Ia selalu cemburu pada kedekatan ayah dan mamamu, terlebih ayah dan papa satu perusahaan dan Dona kerap datang ke kantor mengantar makan siang Libra." Farah menatap Bias sejenak, baru melanjutkan ceritanya lagi.
"Ma-af, entah mamamu saat ini seperti apa, tapi ia dulu bukan wanita peka. Ia biasa saja bermanja dengan ayah padahal ada papamu juga. Singkat cerita kecemburuan papamu tak terbendung. Ia sangat membenci ayah. Suatu kejadian membuat ayah tak sadar, belakangan menurut cerita ayah, Libra memberinya teh sebelum ia hilang kesadaran. Dalam ketidaksadaran ayah, Libra meminta ayah menandatangani kertas. Belakangan polisi datang dan mengatakan ayah bertanggung jawab atas penggelapan uang perusahaan dan pencucian uang. Harta kami habis digunakan untuk membayar ganti rugi perusahaan dan ayah dijebloskan ke penjara. Ayah berusaha membela diri, tapi kami tidak memiliki cukup bukti, semua sudah diatur papamu dengan baik. Ah, Libra sangat licik!"
Bias menarik napasnya panjang. Ia tak menyangka dengan perilaku papanya.
"Papa bersikap memalukan!"
"Dan tadi ... papamu terus bicara tidak akan menerima Zee sebagai menantu. Ia menuduh kami sengaja membuatmu meninggalkan rumah! Ayah tidak terima akan tuduhan papamu yang menyebutnya licik, karena ayah tahu justru papamu lah yang licik. Saat itu jantung ayah mulai bereaksi____
Dug
Dua raga menoleh saat suara benda terjatuh terdengar.
"Zee?"
Zee terus menggeleng-geleng. Ia seketika berlari menjauh.
"Bu, apa Zee?" Sesaat Bias teringat kisah kelam yang pernah sekilas dilontar Zee, hal yang mendasari Zee mengambil jurusan Hukum. Seketika hati Bias sesak. Zee ingin mencari orang yang menjebloskan ayahnya ke penjara, sedang orang itu adalah papanya sendiri.
"Maaf Bias! Ibu tidak tahu ada Zee. Zee selama ini selalu membenci orang yang membuat ayahnya di penjara, bahkan tidak hanya Zee, Joy juga dan ibu selalu merahasiakannya tapi sekarang. Ahh___ Ma-af Bias, masalah ini pasti akan berpengaruh pada hubungan kalian. Semua pasti tidak akan mudah untuk Zee."
..._______________________________________...
🥀Happy reading😘😘
🥀Senin manis jangan lupa votenya untuk Zee❤️
🥀Mampir ke sahabat literasi Bubu ini, yuk😍 Genrenya seperti Zee remaja juga. Kisahnya juga mengharu biru lho❤️❤️
JUDUL : HATIKU PADAMU, KAK
PENULIS : ALVIESHA
"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.
"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"
"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.
"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"
(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)
__ADS_1