ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
MENCARI GAUN YANG COCOK


__ADS_3

"Sudah lama sampai?"


Kenapa kak Bi-as di-sini?


Belum lagi Zee menjawab, pintu yang baru saja ditutup Bias kembali terbuka. Seorang wanita cantik berusia 29 tahun masuk.


"Sorry aku kejebak macet, Bii! kamu sudah dari tadi sampai?


"Aku juga baru sampai kok, Mbak!"


"Oh, bagus deh!"


"Heii, siapa ini?" Cindy sepupu Bias sang pemilik Butik kaget melihat seorang gadis cukup cantik duduk di hadapan mejanya.


"I-ni gadis yang aku ceritain kemarin, Mbak."


"Gadis yang mau kamu ajak ke acaranya Nasya itu?" Bias mengangguk.


"Bantu carikan gaun untuk dia ya, Mbak!"


"Oke, siap!


"Ikut aku yuk, Cantik!" Cindy meminta Zee mengikutinya. Zee bingung, bukan berdiri ia hanya memantung. Bias yang menangkap kebingungan Zee mendekat. "Lo ikut mbak gue dulu!"


"A-ku? Untuk a-pa, Kak?"


"Kemal belum ngasih tau lo?" Zee menggeleng.


"Oke, oke ... kalian bisa bicara dan berbincang dulu sambil mbak pilihkan gaun yang kira-kira cocok untuk teman kamu." Bias mengangguk, sedang Cindy beranjak dari ruang kerjanya. Bias menarik satu kursi dan duduk di hadapan Zee.


Bias menatap wajah cantik di hadapannya seksama, namun Zee terus mengalihkan wajahnya. "Lihat muka gue! Jangan lihat yang lain!"


"Hah?"


"Bukan hah! Lihat sini!" Zee yang risih masih kekeh terus menatap jendela saja.


"Lo masih mau kerja di Kafe, kan? Atau lo sudah bosan kerja? Kalo lo masih butuh kerja, hari ini lo harus nurut ucapan gue."


Zee menatap wajah itu akhirnya, ia masih bingung maksud ucapan Bias. "Nurut ucapan Kakak bagaimana? Apa Ka-kak lagi ngancem aku?" tanya Zee.


"Gue gak suka ngancem! Gue cuma lagi ngingetin kewajiban lo aja. Lo jangan lupa kalau hari ini bukan jatah libur lo. Lo tetep kerja cuma beda tempat aja!"


"Maksud, Ka-kak?"


"Khusus hari ini, malem ini tepatnya, kerja lo nemenin gue! Gue butuh bantuan lo!"


Kak Bias butuh bantuan aku?


Tuk,


Bias me-metikkan jari menyadarkan kebergemingan Zee.


"Mulai detik ini gue nggak mau lihat lo bengong-bengong kayak barusan! Jangan takut! Gue nggak akan macam-macam sama lo. Gue cuma butuh lo berdiri di samping gue!"


Berdiri di samping kak Bias? Kerja A-ku cuma nemenin berdiri?

__ADS_1


"Heii ...! Lo nggak denger ucapan gue! Jangan bengong!"


"Eh, iya, Kak."


"Berhubung lo udah tau tugas lo, ayo kita ke luar!"


"Ke-luar?"


"Iya, ayo!" Bias berjalan lebih dulu dan Zee mengikuti masih dengan rahut bingung.


"Sudah ngobrolnya? Sini deh, Bii. Coba kamu lihat gaun-gaun yang Mbak pilih ini. Kayaknya sih cocok buat temen kamu itu!"


"Bagus-bagus, kita langsung suruh temen aku coba aja, Mbak!"


"Boleh." Setelah menjawab ujaran Bias, Cindy memanggil salah satu karyawannya.


"Sita, kamu bantu dia mencoba gaun ini, ya!" Sita mengangguk. Zee menatap Bias sebelum beranjak. Bias mengangguk meminta Zee mengikuti Sita.


"Temen kamu cantik, Nasya pasti syok kamu bisa bawa wanita yang lebih dari dia!" Bias tersenyum getir.


"Dia cuma karyawan di Kafe, hubungan kerja. Aku juga nggak kenal dia."


"Kayaknya dia gadis baik, mbak doain kamu jadi beneran sama dia. Cocok kok kalian!" Bias lagi-lagi tersenyum getir.


"Eh, tuh dia udah keluar dari ruang ganti!"



Bias menoleh. Tatapan itu tak beranjak. Zee tampak sangat anggun dengan gaun yang dikenakan saat ini.


"Bagaimana? Kamu suka? Cantik ya dia?" Bias bergeming sesaat baru berucap.


"Yang bahunya lebih tertutup ada, Mbak?"


"Lho kenapa? Cantik lho ini, bahu teman kamu bagus. Tante Dona dan Om Libra gak akan nyangka kalian gak ada hubungan apa-apa!" Bias menggelengkan kepala.


"Coba yang lain dulu ya, Mbak!"


"Hmm, oke!" Cindy memberi isyarat pada Sita dan Sita langsung mengajak Zee masuk ke ruang ganti lagi.


"Mbak jadi curiga kamu mulai suka dia, kamu mulai protect! Mas El juga paling nggak suka Mbak pakai pakaian dengan bahu terbuka. Katanya pakai yang seperti itu saat di kamar aja. Protect gak tuh? Padahal kamu tau sendiri Mbak kan suka pakaian-pakaian seksi!"


"Nggak lah, Mbak! Sudah aku bilang, aku nggak kenal dia!"


"Kalau mau bawa dia ya harus kenal dong, Bi! Jangan-jangan kamu juga belum tau namanya? Eh, dia udah ganti gaun tuh, semoga yang kedua ini kamu suka!"


Nama ... kenapa aku bisa lupa tanya namanya. Bias, Bias! Lo mau bawa cewe yang namanya aja lo gak tau. Nanti deh gue tanya.


Bias menoleh setelah monolognya selesai dan lagi-lagi ia terkesima. Zee yang sudah cantik bertambah cantik dengan pakaian elegan yang dipilihkan Cindy.



"Gimana? Jangan bengong aja kamu!"


"Eh." Bias tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Cantik kan gaun kedua ini? Mewah!"


"Hmm____


"Mau alasan apa lagi, kamu!"


"Aku agak terganggu sama batu-batu di dada itu. Sorry, berlebihan kayaknya, Mbak. Kayak biduan jadinya!"


"Hah kamu tuh!"


"Sit, ganti lagi sama baju yang terakhir tadi, ya!" Sita mengangguk dan kembali masuk ke ruang ganti bersama Zee.


"Mbak yakin yang terakhir ini kamu pasti suka. Model simple tapi tetap elegan. Mbak pilihin model baju kesukaan mas El kalau kami pergi." Bias tersenyum.


"Semoga aja cocok."


"Kalau masih nggak cocok juga, kamu sendiri aja tuh yang obrak-abrik Butik Mbak. Silahkan cari sesuai yang kamu mau!" Bias tertawa.


"Mbak Cindy lucu juga ternyata!"


"Kamu sih, ngomongnya bukan siapa-siapa tapi milihin baju bingungnya udah kayak mau dikenalin jadi pasangan hidup aja ke tante Dona dan om Libra."


"Eh, Mbak mau bantuin aku makeup-in dia juga, kan?"


"Duh, apalagi yang mau di make over sih, Bii. Tuh cewe tuh udah cantik banget gitu, natural."


"Poles-poles lah sedikit, Mbak!"


"Hahh, kamu tuh. Anak orang itu lo. Tanyain juga dia udah ada cowo belum. Jangan sembarangan bawa-bawa cewe orang kamu! Kalau ketangkep basah bisa gawat! Eh, dia Ke luar tuh!"



"Pasti suka, kan?"


"Bagus tertutup. Gak berlebihan. Aku ambil ini aja!"


"Eh, gak nanya dulu sama dia-nya nyaman gak pakai baju itu?" Cindy menatap Bias.


"Udah kelihatan dari cara dia berdiri dia nyaman. Gak nunduk kayak tadi!"


"Oh, aku fikir kamu nggak merhatiin respon dia!"


"Merhatiin lah, Mbak!"


Cindy melirik Bias dan gadis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya duduk itu bergantian. Ia menangkap Zee dan Bias yang saling melirik bergantian di kejauhan.


...________________________________________...


šŸ„€Happy reading😘


šŸ„€All gift sudah dikirim yaa, big thanks for supportā¤ļøā¤ļø


šŸ„€Mampir juga yuk ke karya sahabat literasi BubušŸ˜


__ADS_1


__ADS_2