ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
SAH


__ADS_3

"Hai Sayang, kamu ngapain aja hari ini?" Zee bertanya dengan antusias.


"Nakal, lupa kata ibu kita nggak boleh komunikasi sampe halal!"


"Gpp kali, Yang. Sebentar aja! Gak video call juga, cuma denger suara," lirih Zee. Bias tersenyum.


"Kamu kangen banget sama aku, ya?"


"Iya, emang kamu enggak? Dua hari kemarin aku tahan-tahan loh Yang nggak mencet tombol hijau. Hii." Zee tersenyum setelah katanya selesai.


"Kangen lah, sama. Aku juga tahan-tahan, eh ada yang gak bisa tahan akhirnya!"


"Hu, tapi kamu seneng kan aku telfon?"


"Iya. Eh, ibu sama ayah emang gak ada, kok kamu berani telfon aku?" tanya Bias.


"Lagi ke rumah pak RT, nggak tau ada yang mau dibicarain untuk acara besok. Yang, ayo dong kamu cerita ngapain aja seharian ini!" rengek Zee.


"Hmm, gimana kalau kamu aja yang cerita! Aku lagi pengen denger suara kamu!"


"Gitu, ya? Hem, tadi ibu ngajak aku ke salon, facial dan pijat, katanya kamu yang nyuruh. Ah, Yang ... padahal gak usah begitu juga! Kamu jadi ngeluarin uang banyak kan buat aku?" Bias tertawa.


"Duhh, Yang, kenapa sih kamu bahasannya gak jauh dari materi, takut uang aku habis terus. Kalau kamu selalu nolak yang aku kasih, mending aku tutup aja deh Kafe kita!"


"Lho kok gitu?"


"Buat apa aku ngumpulin uang kalau kamu nggak mau make uangnya! Hayo jawab!"


"Ya ditabung, dong!" lugas Zee.


"Yang, denger ya! refresing diri itu penting! Jalan-jalan, memanjakan diri! Ngapain uang cuma dilihatin saldonya tapi hidup nggak bahagia, hem?"


"Nggak begitu juga! Cara bahagia kan nggak harus ngabisin uang! Dengan kebersamaan, nonton bareng, kumpul keluarga, itu juga membahagiakan loh!"


"Tapi bosen dong itu-itu terus! Kalau aku tuh maunya tiap weekend kita liburan, minimal puncak lah! Makan bareng keluarga ke restoran, jalan-jalan dan belanja!" ucap Bias penuh semangat.


"Duh boros dong, Yang! Weekend liburan boleh deh kita nginep di rumah ibu, makan juga bareng di rumah ibu, terus____


"Jalan-jalan di sekitar rumah ibu, yang terakhir belanjanya di warung deket rumah ibu, gitu?" sela Bias.


"Ih kamu emang pinter, Yang. Iya begitu!" ucap Zee, Bias mencebik.


"Pokoknya aku nggak mau disanggah! Setiap akhir pekan aku mau kita ke puncak, titik!" lugas Bias.


"Lho, kok kamu ngegas sih, Yang!"


"Ngegas? Aku santai aja, kok," ucap Bias.

__ADS_1


"Kamu gak sadar tadi ngomong keras ke aku? Kok kamu begitu sih, Yang. Aku kaget lho!"


"Duh Yang, siapa yang ngomong keras sih?"


"Aku gak mau ngomong! Males sama kamu!'


"Yang ... kok marah sih? Tuh, bener-kan kata ibu kamu mending kita gak usah komunikasi sampe halal, di detik akhir begini rawan menimbulkan kericuhan!"


"Ngeles! Kamu mau nyalahin aku udah telfon kamu duluan, kan?"


"Duh Yang, kok tambah ngaco sih! Maksud aku gak begitu!" Bias mulai bingung Zee marah.


"Yang, maaf ya! Aku sayang kamu! Besok kita mau nikah lho, Yang! Udahan marahnya, ya!" Zee masih tak bicara. Ia seketika mematikan ponselnya.


Wah dimatiin lagi!




Tok ... Tok ...


Jam 11 malam saat itu, terdengar ketukan di jendela kamar Zee. Zee yang baru memejamkan mata dibuat kaget. Ia langsung mendekat ke jendela memastikan suara yang di dengarnya.


Kak Bias


Zee membaca gerak bibir itu dan membuka jendela perlahan. Bias dengan cepat memanjat dan masuk.


"Yang, kamu___" Tanpa menjawab, Bias langsung memeluk tubuh itu.


"Maafin aku, Sayang! Ma-af!" lirih kata itu terucap. Bias merangkum wajah Zee setelahnya. "Jangan marah please! Aku sayang kamu!" Zee menatap Bias tanpa kata.


"Iya iya aku maafin, duh Yang pakai ke sini kamu lewat mana tadi? Di luar banyak orang, 'kan?"


"Aku minta bantuan Deo. Kamu bener udah gak marah?" Zee menggeleng.


"Lho, kok cepet banget sih gak marahnya, tadi kayak marah banget, tiba-tiba matiin panggilan telefon juga!"


"Tadi aku matiin karena ibu manggil. Masalah marah, iya tadi aku emang kesel sama kamu, tapi aku bukan tipikal yang suka lama-lama kalau marah kok," lirih Zee tak ingin orang rumahnya bangun.


"Jadi bener udah gak marah?"


"Iya, udah sana kamu pulang! Bandel ih!"


"Yang, gak mau dikasih kiss nih sebelum pulang?"


"Besok ya kalau udah halal!"

__ADS_1


"Yang, ayo dong!" Bias menarik pinggul itu merapat.


DUK


Tubuh Zee menabrak sebuah barang dan jatuh. "Yang ihh!"


"Zee! Kamu lagi ngapain? Kamu belum tidur!"


"Lagi minum, Bu!"


"Buruan tidur biar wajah kamu cerah besok!"


"Yang ...! Berhenti gak!" lirih Zee saat Bias mencium wajahnya.


"Iya, Buu."


"Yang, udah sana buruan pulang!"


"Muka kamu habis facial tambah halus!"


"Yang, udah atau aku marah nih!"


"Duh serem banget sih, Yang. Oke-oke aku balik!"


Zee melihat Bias yang sudah ke luar dari jendelanya. Hati itu was-was juga kalau sampai Bias tertangkap keluarganya.


___________________


Saya terima nikah dan kawinnya Zivanya Alkaridz dengan mas kawin yang tersebut di atas tunai!


Kalimat akad itu terlontar dengan mantap pagi menjelang siang itu. Semua raga terharu. Pernikahan tanpa satu pun keluarga dari pihak lelaki sungguh membuat siapa saja terenyuh. Bias yang sejak kemarin santai, merasa ada yang kosong juga. Rasa pilu yang dengan cepat ia singkirkan sebab ia tak ingin pilu itu tertangkap oleh gadis tercinta yang kini telah sah menjadi istri.


Bias menoleh, ditatap gadis ayu yang sedang membubuhkan tanda tangan pada sebuah buku nikah. Gadis dengan riasan yang berbeda tidak seperti biasanya. Zee terlihat cantik dan semakin memukau dengan kebaya putih yang dikenakan.


Kini keduanya mencium tangan Farid dan Farah baru setelahnya keduanya digiring mengganti kostum. keduanya bersiap dipajang. Acara resepsi sederhana digelar Farid dan Farah. Bagaimana pun Zee anak pertama mereka, mereka perlu mengumumkan pada warga tentang pernikahan keduanya agar tidak terjadi fitnah.


Tamu acara itu tak disangka membludak, bukan hanya warga, tapi rekan-rekan sekolah, rekan kuliah Bias, orang tua murid les Zee, juga langganan Kafe bahkan ada yang menyempatkan datang memberi doa.


Seharian itu senyum keduanya terus merekah, beberapa kali mereka mengganti kostum, bergantian pula teman kuliah Bias tak sungkan menyanyi dalam acara itu, hingga jam menunjuk pukul 5 sore acara selesai.


Zee dan Bias membersihkan diri, mereka berkumpul dengan keluarga besar Farid dan Farah. Zee mengenalkan keluarga ayah dan ibunya kepada Bias. Mereka dengan ramah menerima Bias. Seluruh raga dalam rumah itu saling bercengkrama hingga malam, karena esok paginya mereka sudah harus kembali ke kota masing-masing. Mereka memiliki aktivitas pula tentunya.


Hari semakin malam, dua insan sudah berada di kamar yang dihias cantik dengan warna pink nan lembut dengan hiasan-hiasan vas mawar di setiap sudut kamar. Zee masuk ke kamar mandi seperti biasa menggosok gigi sebelum tidur. Hingga Zee keluar dan Bias dibuat kaget dengan pakaian yang Zee pakai.


...______________________________________...


🥀Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2