ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
AKU MAU BICARA, KAK


__ADS_3

Minggu hari itu tampak cerah, Minggu kedua setelah pertandingan basket tempo hari. Dua Minggu yang begitu berat dirasa Zee. Hatinya tak pernah menghilangkan Bias sedetik pun. Cinta mulai menguasai otak itu. Walau orang di sekitar merasa Zee melalui hari dengan normal, tapi Zee pribadi merasa hampa. Hatinya membutuhkan kepastian dari sosok lelaki yang telah mengusiknya dengan ucapan suka dan permohonan balasan rasa yang tertulis dalam kertas berwarna pink nan manis itu.


Minggu itu berbalut jeans dan kaos oblong berwarna army Zee melangkahkan kaki ke luar rumah. Digamblok tas ransel berisi pakaian olahraga di bahunya. Zee berjalan dengan penuh semangat hari itu, sebab ia sudah berazam akan bicara dengan Bias setelah latihan nanti. Zee sudah mengenyampingkan malu. Untuknya kepastian rasa Bias itu penting untuk menormalkan hatinya yang berkecambuk 2 pekan itu tanpa kepastian. Masalah konsekuensi yang akan ia dapati dipikir setelahnya.


Zee turun dari angkot pukul 9 kurang 10 menit, di mana latihan rutin ekstrakulikuler diadakan pukul 9 pagi. Ia baru saja menyebrang saat sebuah Ducati melewati gerbang sekolahnya. Baru melihat sosok Bias di kejauhan dada itu sudah naik turun tak teratur dan Zee berusaha keras menetralkan kerja organ di dalamnya.


Zee melangkah masuk, terlihat beberapa rekan basketnya sudah siap di lapangan. Mata Zee seketika menatap wajah rupawan itu, Bias yang ia lihat beberapa saat lalu di muka gerbang tampak sudah siap dengan setelah olahraga melekat tubuh. Bias tak menyadari kedatangan Zee, Zee langsung bergegas ke ruang ganti pakaian.


Berhubung hari ini Johan sedang ada keperluan, ia tidak datang latihan. akhirnya Bias dan beberapa senior basket mengambil posisi menggantikan Johan. Jumlah anggota basket yang bertambah banyak setelah kemenangan yang diraih tempo hari, membuat Bias memutuskan mengumpulkan seluruh anak baru untuk dibagi menjadi beberapa kelompok. Seorang senior memegang setiap kelompok termasuk Bias.


Zee dikumpulkan bersama tim basket putri yang kemarin lomba. Mendengar isu bahwa sekolah MANDALA akan mengadakan lomba basket tim putri 2 bulan mendatang, Bias meminta Zee berlatih bersama tim putri di lapangan berbeda.

__ADS_1


Zee menurut walau hatinya sebetulnya ingin dekat dengan Bias. Hari Minggu yang ia tunggu dan berharap bisa berinteraksi lebih intens dengan Bias nyatanya nihil. Bias kini tampak sibuk dengan anggota baru rekan seangkatan Zee kelas 10 yang baru bergabung.


Tak terasa waktu menjelang zuhur artinya kegiatan ekstrakulikuler itu akan berakhir. Bias mengumpulkan kembali seluruh anggota dan mengucap prakata penutup dan doa sebelum akhirnya latihan hari itu diakhiri.


Seluruh anggota berganti pakaian dan berpencar setelahnya. Beberapa orang masih ada di sekolah bermain basket, ada yang memilih menjalankan ibadah dan ada yang langsung pulang. Tampak pula anggota ekstrakurikuler lain seperti PMR dan Paskibra yang sepekan lagi akan mengikuti lomba masih ada di sekolah dan sedang beristirahat.


Zee duduk di muka mushola menunggu Bias yang sedang menjalankan ibadah di dalam. Beberapa saat setelahnya ia memastikan keberadaan Bias, tapi Bias sudah tidak ada. Zee yang melihat Bias keluar dari pintu mushola yang lain menuju kantin segera mempercepat langkahnya. Penting untuk Zee bicara pada Bias hari itu. Ia butuh kepastian! Entah apa yang terjadi setelahnya tidak tergambar di otak Zee.


Zee sudah dikantin saat ini. Netranya mengedar pandang dan menangkap Bias yang sedang duduk bersama seorang gadis. Jantung itu seketika berdetak cepat. Zee berusaha tak terbawa fikir negatif otaknya. Zee yang merasa Bias memiliki rasa padanya dengan pedenya kini mendekat.


"Hai Zee. Lo belum pulang?" sapa balik Bias. Zee menggeleng.

__ADS_1


"Ini adik kelas kita yang kemarin menang lomba tim basket putri itu kan, Yang?" Nasya yang baru saja selesai ekskul dance melontar kata. Ya, siapa kini yang tak kenal Zee dengan keunikan dan prestasinya.


Dada Zee sesak, kata panggilan sang gadis yang merupakan kakak kelasnya terhadap Bias sontak membuat Zee kaget. Zee menatap marah ke arah Bias yang baru saja mengangguk. Netra itu sudah berkaca sangat sedih. Zee merasa Bias mempermainkannya.


"Oh ya Zee, kenalkan ini Nasya." Zee masih bergeming mencerna yang terjadi.


"Hai Zee, kamu murid pintar, senang kenal kamu. Kenalkan Nasya, pacar Bias!"


Bagaimana sakitnya hati itu sungguh tak bisa tergambar. Zee bahkan menghiraukan juluran tangan Nasya ke arahnya. Mata itu semakin memerah bersamaan dengan sesak yang semakin menyayat.


"Kak Bias aku mau bicara!" Dengan lantang akhirnya kata itu terucap.

__ADS_1


...________________________________________...


🥀Happy reading🤧


__ADS_2