ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
KULIAH?


__ADS_3

"Duhh, udahan yuk! Kak Bias udah di Kafe nih!" ucap Zee panik menatap layar ponsel yang lagi-lagi berdering. Ya, satu jam lalu Bias yang ingin menjemput di arahkan Zee ke Kafe di mana ia tiba pertama kali bertemu teman-temannya.


Zee sudah tak tenang, tapi Siska terus saja menarik tangan Zee masuk ke satu toko ke toko lain. "Sudah lah Zee, santai! Doi cinta lo, kan! Coba kita lihat bagaimana kesabaran dia nunggu lo!" ucap Siska.


"Iya Zee, udah lama juga kali kita gak jalan kayak begini. Masa buru-buru pulang, sih!" kata Ayu.


"Nah, lagian baru jam 8 juga, kok! Malam masih panjang, Honey!" ucap Siska.


"Masalahnya aku gak tega bayangin kak Bias nunggu sendirian. Dia pasti capek baru pulang gawe juga," lontar Zee.


"Duhh yang udah halal Kalau capek ya nanti pijitin, pijitin plus-plus," goda Siska sambil tertawa.


"Kok malah bercanda, aku serius loh!"


"Iya, iya Honey ... nanti habis dari Butik itu kita langsung ke Kafe!" Zee mengangguk.


"Eh ngomong-ngomong gue jadi penasaran tampang kak Bias sekarang, Gimana Zee?" tanya sambil memilah sebuah dress dalam butik yang mereka kunjungi.


"Gimana? Ya, gak jauh kayak dulu," jawab Zee duduk di kursi di depan cermin besar di mana Siska sedang bergaya menggunakan sebuah dress yang ia sukai.


"Ihh jadi tambah penasaran. Lo pasti seneng ya Zee akhirnya bisa nikah sama kak Bias?" tanya Siska.


"Seneng lah!"


"Ihh, dress yang lo pake keren, Sis. Kece nih buat acara party. Ada lagi gak? Mau ah gue." Ayu tampak mendekat ke arah Siska, ia memperhatikan gaun yang dipakai sahabatnya itu.


"Ada, ada tuh di sana! Eh tunggu deh, Zee lo ambil juga gih, biar kita punya baju kembaran bertiga. Tenang semua gue yang bayar!" lontar Siska penuh semangat.


"Ih serius. Yuk kita pilih Zee!" antusias Ayu.


Ketiganya akhirnya membeli dress kembar dari Butik itu dan menuju Kafe tempat Bias berada setelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil bercanda, hingga seketika langkah ketiganya terhenti. Belum lagi sampai ke Kafe tujuan, seorang pria dengan sweater hitam tampak berjalan mendekati ketiganya. Ya, itu adalah Bias. Bias yang bosan beranjak ke luar Kafe dan memilih menunggu Zee di tepi elevator. Zee yang melihat kehadiran Bias langsung mendekati suaminya meninggalkan dua sahabat yang berdiri mematung.


"Yang," lirih Zee saat jarak keduanya mengikis.


"Lama!" bisik Bias mendekatkan wajah keduanya. Jelas wajah itu terlihat kesal.


"Ma-af," lirih Zee menampilkan wajah merasa bersalah. Bias tersenyum menggelengkan wajah. Melihat wajah Zee seperti itu ia tak bisa marah.


"Jangan begitu mukanya!" Bias menarik hidung itu. "Ahh, sa-kit!" ucap Zee memberengut. Bias tertawa.



"Iya iya dimaafkan! Sudah selesai kan reuninya? Pulang yuk! Aku lapar!" kata Bias merangkul bahu Zee.


Dua meter dari keduanya, tampak Siska dan Ayu sejak tadi menonton aktivitas dua insan. Keduanya saling berbisik-bisik dan tersenyum.

__ADS_1


"Kak Bias," bisik Siska pada Ayu dengan wajah berbinar menatap lelaki yang telah menjadi suami sahabatnya tak berkedip.


"I-ya kak Bias." Ayu tak kalah antusias. "Kak Bias ganteng ba-nget, Sis," ucap Ayu lagi.


"Iya ganteng banget, tapi ingat dia punya sahabat kita!" balas Siska.


"I-ya. Eh, ke sana yuk!" Ayu langsung menarik lengan Siska mendekati dua insan. "Zee ...!" panggilnya. Zee seketika teringat ada dua sahabatnya di sana.


"Oh, iya Kak, ini temen-temen aku kenalkan, Siska dan Ayu," utar Zee dengan wajah merona. Zee tentu saja senang sahabat dan suaminya berada berdampingan di dekatnya.


"Siska," ucap Siska menjulurkan tangan ke arah Bias tanda perkenalan, tapi Bias tak menanggapi tangan itu.


"Bias," lugas Bias seketika sedikit mengangguk. Siska menarik lagi tangannya ke belakang.


Melihat uluran tangan Siska tak direspon, Ayu tak ingin mempermalukan diri. Ia hanya menyebutkan namanya saja sebagai perkenalan. "Aku Ayu," lontarnya. Bias lagi-lagi mengangguk. "Bias," ucapnya datar.


"Yuk pulang!" ajak Bias menahan Bahu Zee untuk berbalik.


"All, sorry aku pulang duluan, ya! Nanti kita lanjut di chat!" ucap Zee.


"Iya siap. Hati-hati ya, Zee!" Siska meraih tubuh Zee dan memeluknya hangat.


"Bye Zee____" seloroh Ayu ikut berbaur memeluk dua sahabatnya.


___________________


"Iya seneng banget, Yang! Oh ya makasih!" Zee mengusap-usap rahang Bias.


"Untuk?"


"Untuk sabar nunggu aku tadi!" lirih Zee.


"Yang ditunggu kan istri sendiri, sabar dong. Tapi lain kali kalau janjian sama dua temen kamu itu siang aja. Biar aku tenang. Lagipula statusnya kan sudah istri jadi pergi diatas maghribnya dikurangi kecuali perginya sama aku!" Zee mendengar seksama ucapan Bias, ia mengangguk paham.


"Sekarang cerita ngobrolin apa saja tadi!" tanya Bias menatap wajah cantik Zee tak berkedip, sesekali Bias mendaratkan kecupan di pipi istrinya itu.


"Cerita tentang keadaan kita masing-masing selama 4 tahun ini. Oh ya Yang, si Siska itu sekarang udah jadi artis, bintang iklan. Dia ke Indonesia untuk sign jadi model produk makanan, bentar lagi wajah dia bakal sering muncul di televisi. Keren ya, Yang! Bangga ihh aku jadi temennya."


"Biasa saja tuh!" ucap Bias sembari menarik gemas pipi Zee yang bicara sangat antusias.


"Yahh, kok biasa aja sih. Eh Yang, sedang Ayu teman aku yang satu lagi, dia calon dokter, Yang! Keren banget ya, Yang. Rencananya dia mau lanjut kuliah di Indonesia karena ayahnya sakit."


"Oh ya, seneng dong kamu teman -teman kamu menetap di Indonesia?" tanya Bias setelahnya.


"Seneng banget, Yang! Kamu gpp kan Yang kalau aku sering ketemu mereka? Atau sesekali mereka main ke rumah kita?"

__ADS_1


"Boleh saja, kenapa nggak? Semua yang bikin kamu happy lakukan! Yang penting kamu senang, gak bosen dan gak stress juga. Kalau calon mamanya bahagia insyaAllah anak kita yang akan terbentuk juga bahagia.Tapi ya itu ... kamu harus selalu ingat status dan tanggung jawab kamu di rumah!" terang Bias. Zee tersenyum, ia seketika memeluk tubuh itu. "In Syaa Allah, Sayangku! Kamu terbaik!" Sebuah kecupan di daratkan di pipi Bias. Bias tersenyum.


Semenjak keduanya fokus ingin memiliki anak memang Bias sering meminta Zee beristirahat di rumah saja, tapi Zee yang merasa bosan sering tiba-tiba datang ke Kafe atau main ke rumah orang tuanya. Walau demikian, Bias memahami dan tidak mempermasalahkan. Bias hanya ingin Zee enjoy dan merasa bahagia


"Oh ya, Yang! Tadi Siska sama Ayu bingung kenapa kita bisa sampe nikah muda, mereka kaget dan gak nyangka kamu jadi suami aku, mereka juga mikir kalau aku hamil duluan. Duh amit-amit deh," ucap Zee dengan antusias. Bias hanya tersenyum.


"Ayu dan Siska juga tanya tentang kuliah aku, kenapa gak dilanjut. Kata mereka wanita modern harus bermanfaat untuk orang banyak. Mereka juga___" Sesaat Zee terdiam.


"Kenapa diam? Lanjutkan ceritanya!"


"Hmm ... mereka ngingetin a-ku tentang cita- cita aku dulu." Zee melirik Bias sekilas dan menunduk. Bias sudah tau arah bicara Zee.


"Kamu mau kuliah?"


"Hah?" Zee tidak menyangka Bias akan melontar tanya itu.


"Yang a-ku_____


"Kamu boleh kuliah."


"Hah?" Zee kembali kaget, ia menatap Bias.


"Kamu bisa kuliah, tapi aku mau kita tetap berupaya punya anak!"


"Kamu se-rius?"


"Yang ... kapan aku pernah melarang kamu melanjutkan pendidikan. Boleh, aku malah sering tawarin kamu itu dulu, kan?" Sesaat Zee terdiam dan mengangguk setelahnya. Ia membenarkan ucapan Bias. Bias memang tidak pernah melarangnya. Bahkan dia sendiri yang mengambil keputusan untuk menunda kuliah untuk fokus memiliki anak. Namun nyatanya memang sampai detik ini keinginan keduanya belum terwujud.


"Jadi mau kuliah di mana?" tanya Bias lagi memecahkan keheningan sebab Zee sesaat lalu diam tak bersuara.


"Kalau saat kuliah aku hamil?" Bukan menjawab Zee melontar tanya yang tiba-tiba muncul di otaknya.


"Bagus! Anak kita pasti cerdas karena ia ikut mamanya yang belajar." Jawaban Bias lagi-lagi di luar ekspektasi Zee. Senyum itu seketika tergambar.


"Jadi kamu mau kuliah?" Zee mengangguk dengan cepat.


"Yang, tapi kalau aku hamil dan mengalami morning sickness, aku pasti akan banyak menyusahkan kamu!" Khayalan Zee bahkan sudah jauh membuat Bias tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Kok kamu malah senyum-senyum, Yang?"


"Hahh mau bagaimana lagi. Aku siap direpotkan, Sayang!" Seketika tubuh tegap itu sudah berada di atas tubuh Zee.


"Yang ...."


"Besok kita lihat kampus yang cocok sama kamu! Tapi malam ini aku mau buat Zee atau Bias kecil yang akan menyusahkan aku!"

__ADS_1


...______________________________________...


🥀 Happy reading😘😘


__ADS_2