ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE
CEMBURU


__ADS_3

"Hmm ... Di-a ba-ng J-o, Yang!"


"Hah? Ba-ng Jo?" Zee mengangguk lirih.


Otak itu tak tenang. Sangat tak tenang. Lelaki yang dengan semringahnya ingin mendengar cerita wanitanya kini tercekat. Ia tak mampu berucap sepersekian detik, diam seribu bahasa. Kaget, bingung, resah, khawatir dan gusar setelah Zee wanitanya menyebut satu nama yang membuat otaknya bergemuruh.


Bagaimana mungkin ia di sana?


Mengapa ia bisa di sana?


Mengapa keduanya harus bertemu lagi?


Bagiamana ini!


Apa yang harus aku lakukan?


Bagaimana jika keduanya sering bertemu?


Bagaimana jika rasa bang Jo masih ada dan Zee yang kesepian akhirnya luluh!


Tidak! Tidak mungkin!


Tunggu! Bukankah tidak ada yang tidak mungkin?


"YANG!"


"Eh!"


"Kok kamu bengong sih, Yang? Aku manggil-manggil kamu dari tadi loh, Yang!"


"Sorry! Tadi kamu ketemu siapa? Ba-ng J-o?" Bias masih meyakinkan ulang apa yang didengar. Berharap yang ia dengar sebelumnya salah. Namun ia seketika menarik napas kasar saat dilihatnya Zee mengangguk. Wanitanya mengiyakan ucapannya. Kini ia merasa harus melontar setiap tanya yang memenuhi otaknya, tak ingin jiwa buruk menguasai setiap prasangka yang ada.


"Ka-lian ketemu di-mana?"


"MayMidi Mart. Tempat aku belanja ta-di, Yang." Bias lagi-lagi terdiam sejenak, baru bertanya lagi.


"Bagaimana kalian bisa bertemu di sana?"


"Bang Jo ternyata bekerja di Toko itu, bertanggung jawab sama Toko itu, Yang!" Bias bergeming. Kata-kata Johan bekerja di sana artinya jarak keduanya kini sangat dekat. Bias sungguh semakin diliputi kegelisahan. Rasa takut miliknya direbut kembali itu besar.


"Te-rus ... kalian ngapain aja?" tanya itu akhirnya lolos, Bias menatap lekat wajah Zee, tak sabar mendengar jawab.


"Bang Jo ajak aku ngobrol sebentar di Ka-fe nggak jauh dari toko."


"Kok gak izin?"


"Hah?" Zee bingung mendengar tanya Bias. Ia bahkan tak terpikir meminta izin.


Apa sekedar menerima ajakan seseorang ngobrol harus minta izin? batin Zee.


Keduanya memang sebelumnya tak pernah jauh. Aktivitas Zee selain di rumah ya di kafe bersama Bias. Tak pernah merasakan berjauhan, semua dilakukan bersama setelah menikah. Perpindahan Zee ke Jogya adalah kali pertama keduanya berjauhan. Zee baru tahu jika sekedar menerima ajakan mengobrol seseorang harus meminta izin Bias, kini ia kaget.


"Yang, aku lagi ngomong sama kamu! Kenapa kamu nggak minta izin atau ngabarin aku diajak ke Kafe sama bang Jo saat di sana tadi?"


"Maaf Yang, tapi aku nggak bawa hp." Zee tidak berbohong, ini yang terjadi. Ia memang tidak membawa ponsel, tapi kalau pun membawa ponsel apa ia harus memberitahu Bias saat itu juga? gemuruh tanya di otak Zee.

__ADS_1


"Lain kali hp jangan pernah ditinggal ya, Yang!"


"Oh, i-ya."


"Kalian tadi ngobrol cuma berdua?" Otak Bias masih belum puas, ia masih mempertanyakan pertemuan Zee dan Johan. Bias, lelaki muda yang berjauhan dari istrinya itu sudah membayangkan banyak hal terjadi.


"Ng-gak! Kami bertiga! Kamu lupa ada Risya! Dia juga ikut ke Kafe itu" terang Zee berucap apa adanya menatap lelakinya yang sejak tadi masih menatap dengan pandangan yang sulit dipahami.


Sesaat Bias tenang sebab ada Risya diantara Zee dan Johan. Ia masih menatap wajah cantik istrinya itu dan mulai bertanya lagi. Nyatanya kelegaan itu hanya bentuk kecil. Bongkahan kegelisahan masih lebih besar di hati Bias.


"Terus kalian ngobrolin apa aja di sana?" tanya Bias, ia berusaha tenang, tak ingin Zee merasa ia tidak mempercayainya.


"Bang Jo tanya apa aku jadi kuliah, apa aku ngekos di Jogya, terus_____


Zee terus mengingat-ingat ucapan Johan di Kafe beberapa saat lalu.


"Oh iya, bang Jo ngucapin selamat sama pernikahan kita, dia tanya apa kamu juga di Jogya," ucap Zee antusias. Ia ingin Bias tenang karena bang Jo sudah tau keduanya sudah menikah.


"Kamu jawab apa?"


"Ya, aku jawab terima kasih. Perihal kamu ... aku bilang apa adanya ya kamu nggak di sini."


Bias terlihat lagi-lagi bergeming. "Te-rus?"


"Hmm ... bang Jo juga tanya tentang ayah dan ibu, ter-akhir dia minta aku jaga diri!"


Bias terdiam. Ia mencerna setiap kalimat dari bibir Zee. Johan jelas masih peduli dengan Zee. Rasa cemburu itu ada, terlebih Johan berada di sekitar Zee.


"YANG ...!" Panggilan Zee menyadarkan lagi lamun dan seluruh fikir di otak Bias.


"Eh iya?"


"Ma-af ... i-ya, aku percaya kamu!"


"Thanks, Yang ... Love you! Really really love you!"


"Cieee, udah pinter bahasa Inggris kamu sekarang." Bias tersenyum.


"Kan kamu yang ngajarin!" Bias lagi-lagi tersenyum.


"Ihh, kamu kok senyum-senyum terus sih, Yang! Kamu lagi ngeledek aku? Tau gak, muka kamu begitu bikin aku gemes. aku jadi pengen peluk kamu, Yang ...."


Bias yang sudah rindu, mendengar Zee berucap ingin memeluk dirinya desiran itu muncul. "Tabung dulu pelukan ka-mu. Kalau kita ketemu, aku akan minta tabungan peluk itu!" lirih Bias, Zee tersenyum.


___________________


"Maaf Mas, saya mau belajar!"


TOK TOK ....


"Mas, udah saya bilang kan, saya mau sendiri, mau belajar!"


"Malem Minggu lho, Dek! Masa kamu belajar terus! Ngobrol yuk!"


"Maaf Mas, saya nggak mau ngobrol!" Pintu seketika ditutup sang lelaki bertambah geram terlebih tak jauh dari posisinya beberapa rekan lelaki di kamar yang bersebelahan dari kamar si gadis tampak terus tertawa dan meledek.

__ADS_1


Haaa ... playboy ditolak cewek!


Mesakne temen koe Lur!


Mana nih pesona playboymu, sama anak ingusan aja kalah!


Maju terus, Lur!


Siap-siap bakal ada yang kalah taruhan nih ....


Tampak tawa para pemuda terdengar melengkir di kontrakan bercat kuning yang tampak riuh di malam Minggu begini.


Jiwa pemuda yang kini masih berdiri di muka kamar seorang gadis yang baru memulai semester satu dan 3 bulan ini sering ia perhatikan mendadak terbakar. Ia merasa harus mendapatkan gadis manis penghuni kamar di sebelah kamarnya itu. Lelaki perantauan yang keseharian kuliah jurusan teknik dan menyambi bekerja di bengkel mobil itu akhirnya mengetuk pintu itu lagi. Tak ingin juga ia kalah dari taruhan bersama teman-temannya.


TOK TOK ....


Tak ada sahutan.


TOK TOK ....


Lebih keras lagi dan berulang-ulang. Tak ingin penghuni kossan merasa terganggu akhirnya gadis manis itu membuka pintu kamarnya.


"Apalagi sih, Mas! Gak dengar saya bilang mau belajar!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


HAP ....


Dengan cepat sebuah lengan mencengkram lengan sang gadis. "Kamu sombong banget sih, Dek!" ucap lelaki dengan mata membulat. Sang gadis merasa takut tentu saja.


"Mas le-pas!"


"Pasti aku lepas! Tapi aku mau ngobrol!"


"I-ya, ta-pi lepasin dulu!" Sang pria melepaskan tangan sang gadis. Sang gadis yang ketakutan tak ada pilihan, ia membuka lebar pintu kamarnya membiarkan sang lelaki duduk di tepi pintu.


"Nah, kalau dari tadi begini kan enak. Nama kamu siapa, Dek?"


"Ris-ya."


...______________________________________...


šŸ„€Happy reading😘


šŸ„€Promosi karya sahabat literasi Bubu, yuk mampir dan ikut baca karya ini, ikut mensupport karya author lain juga yukā¤ļøā¤ļø


Author : Santi Suki


Judul : Ayu sang Penakluk


Blurb:


Ayu gadis belia yang suka rebahan dan menonton anime sambil ngemil. Kurangnya gerak membuat tubuh Ayu menjadi gendut. Karena tubuhnya yang besar dia dijuluki "Baby Hui". Saat menghadiri pesta ulang tahun Aries–orang yang disukainya, Ayu dipermalukan di sana, sehingga berjanji akan membalas dendam kepada semua orang yang suka membully dan menghinanya.


Dengan bantuan dan dukungan dari Aprilio, hanya dalam waktu dua Minggu berat badan Ayu turun dari 80kg menjadi 45kg. Penampilan Ayu pun berubah menjadi cantik, langsing dan singset. Membuatnya menjadi incaran para kaum Adam.


Leo salah satu Pangeran Kampus menjadi panik karena kini banyak laki-laki yang suka kepada Ayu. Maka dia pun berbagai cara untuk mendapatkan cinta Ayu.

__ADS_1


Setelah berhasil membalas kepada orang yang sudah membully dan menghinanya dahulu, kini Ayu memutuskan untuk mencari cinta sejatinya. Dia dilema harus memilih antara Aries si cinta pertamanya, Leo si Pengagum Rahasia, atau Aprilio yang selalu bersamanya sejak kecil di saat suka maupun duka.


Pilihan Ayu ternyata membuatnya harus banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan. Siapakah yang dipilih oleh Ayu?


__ADS_2