
Pukul 2 siang saat itu, ketika di lapangan sekolah GENTA BUANA pertandingan final basket putri antara sekolah DUTA BANGSA dan sekolah CAKRAWALA berlangsung sengit.
Ya, beberapa saat lalu sekolah NEGERI BUDIMAN yang lebih unggul dari sekolah MANDALA akhirnya bertanding melawan sekolah DUTA BANGSA dan dimenangkan dengan sekolah DUTA BANGSA.
Di lapangan berbeda sekolah CAKRAWALA yang menang melawan sekolah INSAN ROBBANI akhirnya ditandingkan ulang melawan sekolah PANCA TIRTA dan hasil akhir sekolah CAKRAWALA berhasil masuk ke babak final.
hampir menjelang detik-detik akhir kini, di mana setelah sebelumnya nilai saling mengejar, kini Zee terlihat memegang kendali bola di tangannya. Zee yang lincah berhasil mengecoh anggota tim lawan hingga kini Zee siap mengoper bola pada Dinda dan Dinda lah yang akan melakukan tembakan ke dalam keranjang untuk yang terakhir. Zee melempar dengan mantap bola itu dan Dinda menangkap secara jeli, melihat waktu hampir berakhir Dinda segera mengatur posisi badan dan segera mengarahkan bola itu. Dan ____
"Yeaa .... Akhirnya tim sekolah DUTA BANGSA untuk pertama kalinya mampu menjadi pemenang dan dapat dipastikan akan membawa piala kebanggaan untuk sekolah mereka. Good team untuk SMA DUTA BANGSA."
Seorang MC berbicara dengan lantang menggunakan mic. Disusul setelahnya sorak-sorai dari seluruh anggota team DUTA BANGSA, mereka yang bahagia dan tak menyangka mampu mengharumkan nama sekolah kini saling berpeluk di lapangan. Bias dan Johan saling merangkul di sisi lapangan turut terbawa atmosfer kebahagiaan pula.
Seluruh team berkumpul setelahnya, baik Johan maupun Bias bergantian memberi prakata kebanggaan keduanya pada tim basket yang baru pertama mengikuti ajang lomba itu.
Pukul 16:30 saat penutupan sekaligus penyerahan piala sang juara diberikan. Setelahnya Bias mengajak seluruh tim menjalankan ibadah dan makan di sebuah restoran yang cukup ternama sebagai perayaan kebahagiaan mereka.
Seluruh anggota telah duduk dengan menu terhampar di meja. Mereka tak henti saling bercerita mengenai pengalaman lomba dan seluruh hal yang terjadi di lapangan yang tak semua orang tau. Mereka tertawa dan sangat bahagia.
Bias kini mengedar pandang, ia mencari gadis yang sangat berperan dalam pertandingan yang belum lama berlangsung tadi, ia bingung dan mulai berjalan menjauh mencari sosok gadis gadis hitam yang telah ia pilih dan mampu menjaga kepercayaannya. Bias mencari ke setiap sudut tempat dan mulai lelah. Ia baru saja ingin berbalik, namun sebuah pintu toilet terbuka, gadis yang Bias cari nyatanya muncul dan seketika tersenyum menatap ke arahnya. Bias mendekat.
Sepasang tangan Bias langsung menahan dua bahu Zee. "Thanks! Gue bangga sama lo, Zee," ucapnya.
"Ka-kak ..."
__ADS_1
Jangankan di sentuh, membayangkan sosoknya ada saja detak itu sudah tak karuan. Kini Bias berada sangat dekat di hadapan sambil menyentuhnya pula, sesak di rasa Zee, tapi ia sangat bahagia. Ia berusaha keras memaksa tersenyum dan mengangguk.
Melihat gelagat Zee yang selalu panik di hadapannya Bias spontan tersenyum. "Zee, bisa nggak sih lo nyantai aja kalo di dekat gue?"
"Hah?" Zee kaget mendengar penuturan Bias yang selama ini nyatanya menyadari salah tingkah Zee.
"Iya, nyantai aja jangan grogi sampe bicara terbata gitu. Gue sama kayak Johan dan yang lain. Nggak gigit!" Lagi-lagi Zee memaksa tersenyum.
"Yaudah yuk, gabung sama yang lain!"
"Eh, Kak!"
"Lo panggil gue?" Bias yang berjalan di depan Zee seketika menoleh mendengar panggilan Zee.
Zee memasukkan jarinya ke dalam tas selempang yang dipakainya.Tangan itu tampak merogoh, berusaha meraih sesuatu dari dalam sana. Ya, Zee merasa semesta sedang memberinya waktu dan Zee berpikir menggunakan kesempatan itu untuk menyerahkan surat balasan rasanya untuk Bias.
"Ka-k, i-ni!"
"Apa ini?" ucap Bias memperhatikan sebuah amplop berwarna biru cerah yang disodorkan Zee.
"Un-tuk Ka-kak!"
"Buat gu-e?"
__ADS_1
"Iya, Ka-k."
Bias mengangguk-anggukkan kepala.
"Gue harus baca sekarang atau nanti?"
"Nanti a-ja, Kak. Di ru-mah aja Ka-kak ba-canya!" Wajah Zee sudah bersemu betapa malu ia saat itu, terlebih jika Bias sampai membaca di hadapannya, mau disembunyikan kemana wajahnya.
"Oh oke thanks, nanti pasti gue baca di rumah," ucap Bias sambil tersenyum. Ia memasukkan amplop itu ke saku celana setelahnya. Zee yang malu kini hanya menunduk.
"Zee, lo baik-baik aja, 'kan? Lo kenapa?" Bias menaikkan dagu itu.
"Ka-kak aku gpp!" ucap Zee menjawab dengan cepat, ia merusaha menahan wajahnya yang ingin terus tersenyum membayangkan kedekatannya dengan Bias yang akan tercipta di kemudian hari jika keduanya telah sama-sama tau rasa masing-masing. Beberapa saat kemudian, keduanya telah sampai dan berbaur dengan yang lain.
Bias sudah berada di depan meja, baru saja ia akan menyantap hidangan namun ponselnya terus berdering. Melihat panggilan itu dari seorang pelayan di rumah Nasya, Bias segera menghentikan aktivitas dan menerima panggilan itu.
"A-pa? Oke saya segera ke sana, Bik!"
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Maaf anak Bubu lagi kurang sehat, sedikit hari ini yaa❤️🙏🙏
__ADS_1
🥀Senin manis jangan lupa votenya untuk Bias dan Zee😍